NovelToon NovelToon
AKU DIANTARA KAU DAN DIA

AKU DIANTARA KAU DAN DIA

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:379.2k
Nilai: 4.8
Nama Author: Fifie

Kisah cinta segitiga antara Dika, Ranti dan Vika. Semua berawal dari ketidaksengajaan hingga menjadi cerita cinta yang cukup pelik. Menguras airmata dan juga emosi Ranti yang akhirnya mengetahuinya setelah hubungan rumah tangganya dengan Dika telah menginjak tahun kelima dengan dikaruniai buah hati cantik berusia 2 tahun. Sementara Vika adalah sahabat baiknya semasa SMA. Semua rasa dihatinya bercampur aduk, bergejolak membuatnya dilema antara menjaga keutuhan rumahtangganya dan juga mempertahankan harga dirinya sebagai wanita yang selalu menjunjung tinggi cinta dan kesetiaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fifie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTEMUANKU DENGANNYA LAGI

Vika terkejut melihatku yang membukakan pintu. Tak kusangka akhirnya ia datang juga kerumah kami setelah Ranti mengabarinya kalau hari ini kami mengadakan syukuran untuk ayah dan bapak. Ini pertemuanku dengannya lagi setelah kejadian 5 hari yang lalu.

Ditangannya ada bungkusan besar. Ranti langsung memeluk Vika cipika-cipiki menanyakan kabar kemana saja ia selama ini. Mereka berlalu masuk kedalam rumah tanpa mempedulikanku. Aku hanya menunduk sedih.

Kuperhatikan Vika makin terlihat cantik dan elegan. Sepertinya ia mulai rutin perawatan wajah dan tubuhnya. Terlihat sekali perbedaannya.

Kami kembali sibuk dengan tugas masing-masing. Acara masih akan berlangsung kurang lebih 4 jam lagi. Semua punya tugas termasuk aku yang harus beberes menghamparkan karpet permadani bersama adik Ranti, Hardi.

Ranti, Gina istri Hardi dibantu Vika mengurus konsumsi dan camilan untuk acara nanti. Sementara ayah dan bapak mertuaku sibuk menyusun dus kotak menu makan siang yang baru datang dari katering tempat Ranti memesan.

Sesekali kulirik kumpulan para perempuan hanya untuk melihat wajah Vika. Mereka terlihat begitu riang dengan canda tawa diantara obrolan ringan mereka.

"Ran... gimana kalo suatu saat mas Dika meminta izin menikah lagi? Gimana reaksimu?" tiba-tiba Vika bertanya pada Ranti membuatku tersedak kaget.

"Hahaha....itu perbuatan gila!" Ranti tertawa dengan pertanyaan Vika.

"Seandainya. Secara mas Dika lumayan ganteng, keren, pekerja keras. Who knows bila ada cewe yang tiba-tiba menyukainya. Iya khan?"

"Aku sejujurnya ga pernah terlintas mikirin itu karena selama ini mas Dika adalah suami yang sempurna bagi aku. Tapi andaikan itu terjadi, sebenarnya aku sudah siap jauh-jauh hari."

"Maksudnya, Ran?"

"Asal kamu tau, semua harta benda kami seperti rumah, mobil, motor,...itu atas namaku. Dan mas Dika sama sekali tidak mempersoalkan itu. Sebenarnya itu kulakukan untuk jaga-jaga. Bila terjadi sesuatu atau benar seperti katamu tadi, ada wanita lain dihati mas Dika,... aku tidak akan menahannya. Aku mempersilahkan ia memilih. Aku atau dia. Jika mas Dika pilih dia, silahkan ceraikan aku. Dan dia boleh pergi meninggalkanku. Tapi dengan catatan... Jingga milikku seutuhnya. Dan juga harta kami, tak mau kubagi menjadi gono-gini."

Aku memerah. Wajahku pucat dan telingaku panas. Jawaban Ranti seolah menamparku tepat diulu hati.

Kudengar Gina tertawa sambil mengacungkan dua jempol pada kakak iparnya seraya memuji Ranti dengan kata-kata keren.

Vika hanya senyum-senyum menanggapi jawaban Ranti.

"Kamu dengan tegas menolak, Ran?"tanyanya lagi.

"Iya lah! Aku ga akan bisa menerima jika mas Dika membagi hati dan jiwanya pada wanita lain! No way, sori-menyori untuk yang satu itu.Aku menolak keras poligami. Tidak ada manfaatnya, justru lebih banyak mudhoratnya."

Mereka terdiam terutama Vika. Tapi suasana kembali ceria setelah Vika mengganti topik pembicaraannya.

"Oiya, mas Dika! Ada yang mau aku omongin." celetuk Vika menoleh padaku yang agak mendekat untuk menguping pembicaraan mereka.

"Iya? Ada apa?" jawabku agak gugup karena kaget.

"Aku mau beli kendaraan roda empat. Udah ada yang cocok. Second memang, tapi masih bagus dan layak pakai. Harganya 90 masih bisa nego. Alhamdulillah ada teman yang tau banyak tentang kendaraan. Juga untuk sopirnya, aku juga udah punya. InsyaAllah mereka bisa bantu aku mas!"

"Oke, besok siang aku ke bank. Kirim ke rekening tabunganmu 200 juta. Cukup?"

"Itu kebanyakan mas! Tapi ya udah, ga apa-apa deh. Aku juga harus membayar cicilan rumah akhir bulan ini. Makasih ya mas! Maaf udah ngerepotin mas!" Aku hanya mengangguk. Kembali berpura-pura sibuk dengan pekerjaanku.

Ranti tersenyum menggapai tangan Vika. Berusaha membuatnya mengerti kalau sikap kasarku sebenarnya hanya luarnya saja. Vika membalas senyum Ranti seraya mengangkat bahu. Mereka ternyata memiliki bahasa tubuh rahasia menandakan chamistry diantara dua sahabat itu begitu baik.

Sementara hatiku berdebar-debar mengingat kata-katanya yang ingin membeli kendaraan. Hebat! Dalam beberapa hari ia sudah bisa mendapat teman tempat berbagi pendapat untuk hal-hal yang cukup berat. Dan dia sama sekali tidak menanyakan pendapatku. Hebat sekali wanita cantik yang satu ini!

Aku tenggelam dengan kekecewaan. Betapa singkatnya rasa cintanya padaku sesingkat umur tanaman jagung. Tidak, lebih singkat dari itu sepertinya. Hhh....

Berkali-kali aku menarik nafas panjang membuat ayahku menoleh dan menyuruhku istirahat bila sudah lelah. Aku menurut. Mendatangi Jingga yang dalam pangkuan mbok Sur, menciuminya yang tertawa terbahak-bahak dengan gembira. Lalu aku pergi masuk kamar. Rebahan sejenak.

Badan dan hati ini terasa penat. Kupejamkan mata ini. Bukan mengantuk. Hanya ingin sekedar melepaskan rasa yang tak karuan bergejolak dalam dadaku. Aku tak mengerti dengan diriku. Sakitkah aku? Kuraba dahiku. Sepertinya suhu panasnya normal-normal saja.

Kubayangkan suara manja Vika yang dulu-dulu. Yang mendayu dengan merdunya merayu dan membuaiku hingga setinggi awan. Menarik perhatianku dengan begitu banyak gaya dan cerita. Kini semua perlahan berlalu tanpa kata. Aku sedih.

Memikirkan semua itu membuat kepalaku berdenyut. Sakit. Vika! Aku rindu manjamu yang dulu, Vika! Aku kangen mesramu padaku seperti dulu. Yang cuek tak peduli meski aku selalu memasang wajah jutek dan melontarkan kata kasar padamu. Aku kangen debatan-debatan kita yang selalu berakhir dengan debaran kencang karena kita akhirnya berpelukan. Aku rindu sentuhan halusmu Vika!

Aku tak berani membayangkan bila kini kau beralih sayang pada pria lain. Dan kamu perlahan menjauhiku karena pria itu. Bagaimana dengan aku? Dengan rasa ini yang juga kadung tertanam dalam hatiku seperti kata-katamu dulu?

Kenapa dengan aku? Ini semua jadi berbalik padaku? Apa yang kamu rasakan dulu seperti inikah? Dan dulu aku begitu kejamnya menjatuhkan martabatmu dengan mengomentari rasamu padaku. Ternyata sesakit inikah Vika? Rasa ingin memiliki tetapi tak bisa. Rasa ingin selalu bersamamu tetapi tak boleh. Aku punya Ranti dan Jingga. Sedangkan kamu punya siapa? Bagaimana kalau kamu kembali salah memilih pria untuk yang kesekian kalinya. Apakah hatimu masih siap untuk terluka? Vika....

Hhh.... Aku terlalu banyak berfikir tentang Vika.

Acara syukuran berlangsung khusu' dan hikmat. Kulirik Vika yang tampak begitu manis dengan gaun putih panjang berlengan panjang dengan kerudung putih berenda. Sepertinya ia membawa baju ganti. Kurasa Vika begitu menyukai warna putih. Hampir baju-bajunya kebanyakan warna putih. Dan memang ia terlihat lebih menawan dengan warna putih.

Aku, Ranti dan Jingga memakai baju seragam. Batik Jawa berwarna coklat susu, membuat kami tampil elegan hari ini. Para tamu berbincang sebentar sebelum pamitan seusai acara pengajian selesai. Kami memang tidak menyiapkan acara makan bersama, hanya kue-kue dan minuman. Karena aku tak ingin Ranti terlalu sibuk dan kelelahan. Untuk itu aku menyarankannya memesan masakan dari katering saja. Jadi setiap tamu mendapatkan bingkisan berupa nasi box dan kotak camilan sebelum pulang.

Rumah kami kembali tenang setelah para tamu pulang. Tinggal kami beserta keluarga besar masih berbincang santai. Sementara para wanita sibuk merapikan piring-piring dan gelas bekas acara.

Vika pamit pulang pada kami. Membuatku terkejut memandangnya. Ranti juga tidak menyuruhku mengantarkan Vika seperti biasa. Hhh... !! Lagi-lagi aku menarik nafas.

"Biar aku antar!" kataku bergegas mengambil kunci mobil.

"Ga usah, mas! Aku bisa naik taxi online." tolak Vika membuatku meradang.

"Waaah, hebatnya nona Vika sekarang! Sepertinya sudah punya cowok baru nih, makanya ga lagi suka dengan bantuanku!" kata-kata sinis spontan terlontar dari bibirku. Membuat semua yang ada disitu menoleh kearahku.

"Mas! Kamu becandanya kelewatan deh. Hehehe...." Ranti seperti berusaha mengalihkan perhatian.

"Baiklah! Aku minta tolong mas Dika antar aku ya Ran?"ujar Vika menggenggam tangan Ranti.

"Iya. Hati-hati dijalan ya, Vik? Muacht... Kalo mulai santai, main-main kesini lah!"

"Pastilah! Aku sekarang lagi belajar. Punya minat dibidang konveksi dan butik. Dari seminar-seminar yang kuikuti semuanya memberiku inspirasi dan pencerahan. Setelah itu baru planning kita kedepan terealisasi, Ran! Dukung aku terus ya?"

"So pasti, Vik! Semangat ya? Apalagi para pebisnis muda yang ikut seminar juga ganteng-ganteng ya?" goda Ranti membuat Vika tertawa menutup bibirnya.

"Husss... itu bonusnya ikut seminar, Ran!" bisiknya pada istriku.

"Udah, ngomongin yang gantengnya?" potongku pada Ranti dan Vika membuat keduanya tersipu malu.

Aku memanaskan mobil sebentar. Melirik Vika yang duduk manis di jok mobil samping duduk aku. Tangannya melambai-lambai pada ayah, Ranti, bapak, juga Gina dan Hardi.

"Nanti lusa ikut antar ke bandara yaaa?" kata ayahku pada Vika.

"InsyaAllah ayah, Vika usahakan! Bye-bye, assalamualaikuum..."

Kami meluncur keluar garasi. Menyusuri jalan raya yang belum begitu macet karena belum jam pulang kerja. Aku memang sengaja membuat acara dihari jam kerja. Hingga aku bisa ambil cuti dari kantor.

Vika anteng duduk diam. Tangannya sibuk dengan handphonenya. Sesekali terlihat bibirnya tersenyum menatap layar hp lalu mengetik sesuatu. Ia sedang chattingan sepertinya. Hhh...

"Apa pria itu begitu hebat dalam merayu? Membuat kamu senyum-senyum sendiri seperti orang gila?" tanyaku menggerutu.

Yang ditanya hanya diam tak menjawab. Vika terlalu fokus pada hpnya membuatku geram. Kuambil handphone dari tangannya.

"Apa sih, mas? Aku lagi chatting sama temen-temen seminar aku! Sini, hpnya!"

Aku memelototinya.

"Bukan cowok! Itu grup ibu-ibu mas! Liat sendiri kalo ga percaya! Kamu cemburu? Aku ga nyimpan nomor lelaki dikontakku. Silahkan kamu cek!"

Aku menuruti kata-katanya. Memarkir mobil kepinggir jalan yang kurasa cukup sepi dan aman. Membuka kontak hapenya dan mengamatinya satu persatu. Hanya sedikit nomor kontak dihpnya. Itu pun nama perempuan semua. Kubuka kotak what'appnya. Ada grup seminar srikandi. Dan sepertinya Vika sedang berbincang di grup itu.

Aku menatapnya lega. Mengembalikan hpnya kembali. Lalu tersenyum malu seraya mengucapkan kata maaf.

"Hanya maaf?" tanya Vika dengan ketus.

Aku menunduk malu.

"Apa yang mau mas katakan? Bilang aja. Luapkan semua amarah mas sama aku! Aku akan diam dan menyimak!" kata Vika membuatku memegang jemarinya.

Vika menolak sentuhanku membuatku berdebar. Vika tak seperti biasanya. Aku jadi takut. Takut benar-benar akan kehilangan dirinya.

"Mas pikir aku sebinal itu mas? Dengan mudahnya kesana-kemari cari pria lain setelah apa yang kita lakukan tempo hari. Mas pikir aku segampangan itu? Dengan cepat mendapat pria lain yang bisa kubawa keranjang tidur untuk memuaskan nafsuku?"

"Bukan begitu maksudku, Vika!"

"Aku tahu maksudmu, mas! Aku bisa baca fikiranmu! Aku memang wanita tanpa status sekarang. Aku bukan janda tapi juga tak bersuami. Itu sudah kulewati hampir 4 bulan ini. Tapi bukan berarti aku harus merendahkan diriku kepada semua laki-laki untuk mendapatkan perhatian dan belai kasih sayang. Tidak mas! Mungkin aku murahan dimatamu, mas! Tapi aku tak sudi dipandang rendahan oleh kaum lelaki."

Vika menangis histeris. Membuatku panik dan menarik tubuhnya ketubuhku. Kudekap wajahnya kedadaku. Tumpah semua airmatanya. Ia menangis sejadi-jadinya.

"Kamu jahat, mas! Kamu jahat! Setelah apa yang kita lakukan, kamu hanya mengirimiku pesan untuk tidak memikirkan peristiwa itu. Kamu bilang kekhilafan itu yang pertama dan terakhir, dan harus aku lupakan begitu saja. Apakah kamu sendiri bisa melupakan semua itu dengan mudahnya, mas?"

Vika terus menangis dan memakiku. Ia terluka dalam karenaku. Dan aku hanya diam memeluknya. Mengusap-usap rambutnya. Berusaha memberinya pengertian lewat sentuhanku.

"Aku harus bagaimana, mas?" rintihnya memegang jemariku. Meremasnya membagi kecemasan hatinya padaku. Dan aku pun cemas hingga tak mampu berkata-kata. Hatiku dan hatinya telah terpaut. Salah memang. Dan kini sudah bukan masanya lagi untuk saling menyalahkan.

Kuhapus airmata dipipinya. Mengecup keningnya pelan. Kubiarkan tubuhnya bersandar dibahuku. Mungkin ini bisa meredam rasa tak karuan diantara kami. Hanya hati kami saja yang bicara. Karena kata-kata tak lagi bermakna bagi kami. Sesekali kuusap bahunya berusaha memberi kenyamanan dan keamanan untuknya.

"Katakan, kalau kamu juga cinta aku mas!" katanya mendesakku. Aku menelan ludah. Kelu. Tapi hati ini berulang-ulang mengucapkan cinta padanya.

"Kamu tak tahu, betapa hatiku sudah terpaut Vika! Aku bukan pria yang mudah ucapkan kata cinta. Aku juga bukan pria yang pandai berkata mesra. Kamu tau itu! Kamu sudah mengenal aku!"

"Alaaah, mas ini! Kenapa sama Cecil kedengerannya kata-katamu manis!" kata Vika membuatku tertawa.

"Cecil? Emang kata-kataku gimana sama Cecil?Hahahaha...manis gimana?"

"Iya, cecil itu anak baik. Manis, penurut sama orang tua! Bla bla bla.."

"Lho itu kenyataannya koq! Hahaha memang Cecil itu anak baik!"

"Nyebelin banget! Bikin aku panas telinga denger pujian kamu ke Cecil!"

Aku merangkul Vika, menciumnya gemas sambil tertawa.

"Giliran aku, boro-boro dipuji. Malah dimaki-dimaki. Dipelototin, dibentak-bentak. Dibilang bodoh, dikatain gila!"

"Sudah, sudah. Jangan ngomong lagi, kalo engga' aku cium bibir bawel kamu itu!" ancamku pura-pura.

Vika terus nyerocos memancingku melakukan sesuatu seperti ancamanku tadi. Kupeluk Vika lalu mengecup bibir merahnya yang menggoda. Biarlah aku membuatnya bahagia kali ini. Memberinya sedikit perhatianku yang tidak seharusnya.

Bersambung-

1
Nanik Ismawati
Ranti yg skrg tambh bijak Krn didewasakan oleh pengalaman dan keadaan...skrg Dika yg tambh menyesal
YuWie
yaelahhh..malah salah2 an. laki2 mah klo zina istri yg di salahkan..yg sdh gak seksi lah, yg sdh gak perhatian lah, yg gak dilayani lah... apalagi lg merasa diri mapan..beuhhh
YuWie
dika kie nangisan ough
YuWie
trus klo Vika muncul ntar goyah lagi kamu Dika
YuWie
lagi membayangkan 2 laki2 dewasa yg gagah perkasa menangis...ya opo kuwi suasanane..
ika
byk pelajaran dari crita ini...
hidup bkn hny melulu seneng, tp jg ada sedihnya...
smoga Dika tenang disisiNya...
ika
rasain...
jd laki koq gitu amat...
sapa coba yg g sakit hatinya...
dari awal baca udah greget ma sikap Dika..
ika
karyanya bagus
ika
sakit rasanya...
Cusrita Bachri
sukurin deh...kesel sm laki² model bgini
Rani Ummi
krrennn ranti
‼️n
Walah....pelakot....njengkelke.....nghrrhetke😡😡😡😡
Dep queen
Bom like kU meluncur bubun🥰🥰👏👏👏👏👏👏👏👏👏👏
Beast Writer
tamat
Fira Ummu Arfi
lanjuttttttt
Fira Ummu Arfi
semangatttt
Kd Aswini Putra
biar Ranti balikan sama mantan suaminya ,demi jingga thor
Kd Aswini Putra
biar Ranti balikan sama mantan suaminya ,demi jingga thor
Kd Aswini Putra
biar Ranti balikan sama mantan suaminya ,demi jingga thor
Kd Aswini Putra
biar Ranti balikan sama mantan suaminya ,demi jingga thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!