Terlahir dengan nama Ulyana Zahra Fitriangsih, orang tuanya berharap anak mereka tumbuh elok seperti namanya.
Namun, itu semua hanyalah angan semata. Masa lalu mengantarkannya untuk menapaki dunia hitam yang tak seharusnya ia jamah. Bahkan, ia yang memegang kendali atas semuanya.
Satu nama yang tersamarkan di publik, nama yang memuat banyak rahasia. Tidak ada yang tahu apa yang ada di balik punggungnya, tapi ketidaktahuan itu lebih baik dari pada membawa petaka.
Darel Ario Kusuma, seorang kakak yang sangat menyayangi Zahra. Gadis itu segalanya, hidupnya.
Lantas, bagaimana cara Rio menjaga Zahra tanpa kehadiran kedua orangtuanya?
****
Simak terus cerita ini, jangan lupa dukungannya dengan vote, like dan komen.
Terimakasih 🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Manusia Hina
...⚠️ WARNING!!⚠️...
...PART INI AKAN MEMBUAT OTAK KALIAN TRAVELING SEDIKIT. SO, HAPPY READING....
...****...
“Kumpulin semua anak-anak di depan aula belakang, gue ke sana lima menit lagi. Ambil aja senjata secukupnya, bawa anaknya ga usah banyak-banyak, secukupnya. Ambil dari yang semester 1 sampai 6. Paham?"
“Kenapa? Bukannya, biasanya juga langsung ke jalan belakang?”
"Ga usah banyak tanya, lakuin aja yang gue minta!"
Jaka menunduk, mengembuskan napas pelan. "Siap, Ra!" Pemuda itu melenggang pergi meninggalkan yang lain, Zahra melirik sekilas.
Gadis itu bernapas gusar, kepalanya menggeleng ke kanan-kiri. Ada-ada aja, pikirnya. Zahra kembali duduk, segera menghabiskan makanan yang terhidang di depannya.
Ia berdiri, menggendong tas serutnya. "Put, Van, gue titip absen," setelah berkata demikian gadis itu segera pergi sebelum teman-temannya melontarkan protes.
...****...
Zahra memberikan sabit pada mahasiswa yang berada di sampingnya. Senjata gagang kayu berbentuk melengkung dengan pisau tajam, yang menjadi senjatanya. Zahra menatap rival di depannya tajam. Bukannya menyerah karena banyak teman-teman yang telah gugur, ia malah menantang.
Pihak Zahra, hanya beberapa yang terluka berat, karena yang lainnya hanya tergores ringan. Mereka yang terluka berat dibawa oleh teman mereka kembali, lalu diantarkan ke rumah sakit. Zahra sendiri, gadis itu memperoleh pukulan tongkat baseball di punggungnya dan goresan sedalam 3cm di bagian lengan bawahnya. Benar, darahnya masih mengalir dari dinding lukanya yang terbuka.
Tak peduli pada siapa pun, bahkan anak buahnya—pemimpin Ganesha tetap bersikeras menantang Zahra adu kecepatan dan skill di arena balap. Mahasiswa Ganesha banyak yang terluka berat, beberapa dari mereka ada yang tergeletak di jalanan.
Gio, pemimpin Ganesha sendiri juga tak peduli pada keadaannya, darah mengalir di sisi kiri pelipisnya. Ia terkena lemparan batu lancip oleh anak Merpati Putih. Lengannya juga tersambit cambuk, bekas merah di lengannya sangat jelas. Guratan sepanjang 10cm itu diperoleh dari Jaka.
Gio dan Zahra memang tidak bertarung sewaktu tawuran berlangsung, Gio ngeri sendiri melihat bahu dan pinggang temannya yang dibabat oleh Zahra. Oleh sebab itu ia menghantam anak Merpati Putih lainnya ketimbang menghantam Zahra. Memang fisik mereka tidak berkurang, tapi lukanya sangat dalam. Luka berat yang mereka dapat merupakan hadiah kecil yang diberikan Zahra karena sudah berani mengacaukan harinya.
Zahra menatap pemuda di depannya dengan senyuman miring. "Perbaiki diri lo sebelum nantang gue, yakin banget bisa ngalahin gue!"
Gio juga menatap Zahra tak kalah remeh. "Sombong banget lo, kayak lo yang bakal menang aja."
Zahra terkekeh renyah. "Ini aja lo kalah ngelawan Merpati Putih, apalagi kalau lawan gue. Udah dipastikan kalau lo kalah telak."
"Lagian jadi cowok pengecut amat, beraninya nantangin cewek," cibir Andrean, mahasiswa yang berada di kiri Zahra.
"Ga tau diri! Leader lo juga cewek kali!"
Zahra menipiskan bibirnya, membuka mulut dengan perlahan. "Terus apa salahnya kalau gue cewek?"
"Udahlah, ga usah bac*t. Nanti malam gue tunggu di Cibubur!"
Gio berbalik bersama pasukannya, mereka tidak peduli pada kawanan mereka yang tergeletak di jalanan.
"Songong gitu bisa jadi leader, bakal musnah tuh orang. Sama temennya aja ga peduli, padahal dalam komunitas kayak gini solidaritasnya tinggi," ucap Zahra sambil menatap pasukan Gio yang perlahan menjauh dari lokasi.
"Bener, Ra, yang kayak gitu harus dimusnahkan. Ngerusak tatanan sama citra kampus aja," balas Jaka.
Zahra menyuruh Geno dan Andrean untuk mengecek nadi sepuluh pemuda Ganesha yang ditinggalkan Gio dan kawan-kawan.
"Lapor, Ra. Enam anak mengalami luka berat, sementara tiga anak tewas di tempat dan satu anak nadinya lemah."
"Laporan diterima. Kalau gitu kalian bawa mereka ke rumah sakit."
Mereka mengangguk lalu bahu-membahu mengangkat mereka yang tak sadarkan diri. Sementara sebagian membersihkan lokasi, agar tidak ada yang tahu jika telah terjadi tawuran.
"Romeo, Geno!"
Dua orang adik tingkat Zahra itu mendekat. "Kenapa, Ra?"
"Kalian cari data mereka, lalu laporkan ke Ganesha."
"Siap, Ndan!" sahut Romeo.
Zahra menyuruh mereka karena mereka mempunyai banyak kenalan di Universitas Ganesha. Umumnya, anak yang telah tergabung dalam Gretak akan sulit mempunyai teman di Universitas lain.
Zahra melihat kanan kiri, setelah dipastikan bersih semuanya, gadis dengan jaket kulit itu melihat tangan kirinya yang dilingkari arloji. Ya, Zahra mengganti kardigannya dengan jaket kulit yang masih tersimpan di rektorat.
Zahra berjalan masuk ke aula belakang lewat jalan rahasia, jalan itu biasa digunakan untuk bolos jika sedang tidak berkendara. Zahra berencana akan pergi mencari Raisha ke alamat yang telah dikirimkan Xavier.
Gadis itu tidak tahu saja jika sedari tadi seseorang telah mengintainya.
“Permainan yang sebenarnya akan dimulai little sister,” gumam orang yang mengawasi Zahra, tak lupa ia menampilkan smirk andalannya.
Saat akan memasuki jalan rahasia, seseorang membekapnya dari belakang, orang itu melingkarkan tangannya di perut Zahra, mengunci pergerakan gadis itu.
Zahra berontak tapi usahanya sia-sia. Ini kedua kalinya ia lemah dan merasa tak bertenaga di depan orang lain. Butuh waktu 5 menit agar efek Chlorophyll bekerja, Zahra lelah dari pemberontakannya. Anak Gretak tidak bisa mendengar suaranya yang terbenam sapu tangan dan jarak aula dengan jalan rahasia lumayan jauh
Gadis itu pingsan dalam dekapan orang misterius. Orang itu membopong tubuh pingsan Zahra masuk ke dalam mobilnya, membawa Zahra bersamanya.
...****...
Pria dengan kaus abu-abu dan boxer merahnya meraih gagang pintu, kemudian membuka ruang itu perlahan. Kamar bernuansa santai dengan cat biru laut. Di dalamnya seorang gadis terbaring di atas ranjangnya, ya, kamar itu memang miliknya.
Langkah kaki menuntunnya mendekati ranjang, ia duduk di samping gadis yang matanya masih terpejam itu. Jam menunjukkan pukul 11 siang, yang artinya gadis itu telah tidur selama 3 jam. Ia melepaskan jaket kulit yang dikenakan gadis di hadapannya, kemudian melepas cepolannya, juga semua pakaian atasnya.
Ia membuang pakaian itu di lantai. Ah, ia ingin melihat bagaimana reaksi gadis itu saat ditelanjangi seperti ini, meskipun hanya pakaian atasnya yang menyisakan sport bra.
Tangannya bergerak menepuk-nepuk pipi sang gadis, setelahnya bibirnya bergerilya di bibir gadis yang masih terpejam.
Gadis itu menggerakkan matanya, mengerjab pelan, terlihat wajah seseorang yang buram saat pertama membuka mata. Ia mengerjab lagi, menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Perlahan, wajah yang buram itu menjadi jelas, wajah yang kemarin mengacaukan harinya. Ia kembali melihat wajah itu.
Kenapa dengan dirinya, ia merasa lemah sekarang, tenaganya terasa tak bersisa. Ia membuka mata kerena orang di hadapannya menjejali mulutnya. Ah, lebih tepatnya kembali melahap habis bibirnya. Matanya sangat berat untuk kembali terbuka, ia merasakan kantuk yang berlebih. Ada apa dengan dirinya?
Orang di hadapannya bergerak membenamkan wajah di perutnya, tentu saja lidahnya juga menyapu perut datarnya. Ia ingin menepis kepala dan tangan orang itu, tapi kenapa lengannya sulit terangkat? Ia merasakan kulitnya bersentuhan dengan kulit orang itu. Ia hanya sanggup mengerjab, tidak bisa melakukan apapun. Ia benci dengan ini.
"Jang–ann," ia merintih lirih saat sepasang tangan kekar ingin melepaskan celana jeansnya.
Sudah, semua terbuka. Pria itu tersenyum dengan menatap lapar setiap inci tubuh dihadapannya. Tubuh ideal yang mulus tanpa cacat sedikitpun, benar-benar tipenya.
Bukannya tidak tahu, tapi tidak peduli. Luka di tangannya dibiarkan terbuka dan ia sangat ingat jika gadis itu menerima 3 pukulan pada punggungnya. Dengan membuatnya seperti ini, bukankah ia akan membuat gadis dihadapannya semakin kesakitan?
Senang? Iya, dia senang. Kesenangannya pasti akan bertambah kala mengetahui gadis yang terbaring di ranjangnya mengandung anaknya. Ho-ho, ia tak sabar menantikan saat itu. Hari pembalasan untuk membalaskan rasa sakit yang diterima ibunya pada gadis ini. Gadis yang merupakan anak dari pria brengsek yang memaksa ibunya berhubungan, padahal mereka tak memiliki ikatan.
Ia menatap miris pada gadis yang menatapnya sendu, dengan mengerjabkan matanya berkali-kali. Ia paham, tentu kantuk yang ditahan gadis dihadapannya tak terbendung. Gadis itu hanya sanggup menggeleng dan mengerjab. Salahkan pada tangannya yang menyemprotkan Chlorophyll berlebih di sapu tangannya.
Mata gadis itu berkaca-kaca saat ia merengkuh tubuhnya. Beberapa pemanasan ringan telah ia lakukan. Ini saat terbesarnya.
Bagian inti tubuhnya melesak kuat ke dalam inti gadis di hadapannya. Lagi, ia mel*mat kasar bibir pink tipis yang telah ia nodai itu.
Matanya tak sanggup lagi terbuka lebih lama, ia sangat jelas merasakan seseorang bergerak di atasnya sambil sesekali bergerilya di setiap lekuk tubuhnya. Kantuk itu menyerang, ia pasrah dengan keadaannya. Menerima apa yang pria di depannya lakukan pada tubuhnya. Matanya kembali terpejam dengan inti tubuh yang masih diterobos brutal oleh seseorang.
...****...
Zahra keluar dari sebuah mansion yang ternyata tempat prostitusi. Tempat yang sempat dicarinya di dark web, buka dari jam 6 sore hingga 4 pagi. Ia berangkat pada pukul 4 sore dan sampai pada pukul setengah tujuh, perjalanan dari mansion menuju tempat prostitusi membutuhkan waktu 2,5 jam.
Setelah Zahra keluar dari tempat biad*b yang merenggut keperawanannya secara paksa, ia keluar dengan mata sembab. Gadis itu menelepon anak buahnya untuk membawanya ke mansion pribadi. Untuk keluar dari rumah itu, ia harus berpegang pada benda-benda di sekitarnya, tubuhnya masih lemah akibat obat bius ditambah perlakuan seseorang tadi. Zahra tidak mau beresiko karena memesan taxi.
Rumah tadi menuju mansion pribadinya membutuhkan waktu tempuh 2 jam. Ia masuk ke kamarnya dengan di gandeng dua maid. Makan siangnya pun juga diantar, sebelumnya gadis itu telah mempersiapkan Sitrulin untuk memulihkan tenaganya. Selain itu dia juga meminum after morning pill dan membawa pulang beberapa testpack yang sudah dibelikan anak buahnya saat perjalanan pulang. Ia tidak ingin benih itu tumbuh dan besar di rahimnya. Setelah itu ia tidur kembali selama 2 jam.
Sebenarnya berapa lama pria itu memasukinya, bagian inti tubuhnya masih berkedut hingga kini. Ngilunya pun masih terasa, rasa dan bagaimana inti itu bergerak dalam tubuhnya pun juga masih terasa.
Ah, kenapa rasa bersalah ini melingkupinya? Dia sudah mengambil mahkotanya, pantas jika ia membalas demikian. Ia marah, tentu saja. Siapa yang akan senang dan bangga jika harta terbesarnya dimiliki oleh orang yang tak berhak memilikinya?
Pikirannya bercabang, antara merasa hina dan bersalah. Ia memang hina, ia mengakui itu. Hina dalam aspek yang berbeda, hina karena miras dan melakukan tindak kejahatan. Tapi ia tidak ingin hina dengan seperti ini. Lantas, kenapa kini ia yang dihinggapi rasa bersalah? Lagi, Zahra memejamkan mata. Ia butuh pelampiasan.
Wanita pemilik tempat prostitusi itu mengejeknya lantaran cara jalannya yang aneh, ditambah rambut Zahra yang sedikit tersingkap hingga membuat beberapa kiss mark buatan pria itu terlihat. Saat mencoba menyangkal kenyataan, wanita itu malah menamparnya.
Makian juga keluar dari mulut wanita yang sejatinya ialah rivalnya, mantan seorang Putra Rastungo Mahendra.
Matanya kembali berkaca-kaca, makian yang terlontar itu membuat hatinya berdesir. Bahkan cap lima jari masih membekas di pipinya. Wanita itu, terlihat sangat membenci keadaannya yang seperti ini. Meskipun Naysha rivalnya, tapi ia tak pernah punya masalah dengan Naysha. Tapi kali ini, kilat marah di mata wanita itu sangat menyala. Mencercanya dengan segala kalimat hina.
Mengingat itu, kembali membuat rongga dadanya menyempit. Beberapa kali Zahra menghela dan mengembuskan napas kasar. Ia tidak tahu efek kemarahan Naysha akan bereaksi seperti ini padanya. Padahal, Zahra berharap banyak akan menemukan Raisha di tempat itu. Gadis itu berpikir ulang. Untuk apa Raisha ke tempat seperti itu? Ia tidak pernah mau menginjakkan kaki di tempat prostitusi jika tidak ingin memastikan sesuatu.
HP di saku bergetar, Revan mengiriminya pesan untuk ke markas. Ia segera memasuki mobil dan melajukannya ke markas.
***
Jujur, apa yang akan kalian lakukan jika di posisi Zahra sekarang?
TBC!!
See you ❤️