Terbiasa hidup dijaga oleh pengawal pribadinya yang tampan, membuat Ellena diam-diam menaruh hati pada pria itu. Namanya Marco, dan usianya jauh lebih matang dari Ellena.
Saat tahu pengawalnya sudah dijodohkan, Ellena menyusun rencana licik untuk menjebak Marco agar menikahinya. Akankah Ellena berhasil menjerat Marco dengan tali pernikahan impiannya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itta Haruka07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MSP # Bab 20
Ellena bergeming. Tidak ada satu pun kata yang keluar dari bibirnya usai mendapat bentakan dari sang suami yang begitu menyayat hatinya. Niat wanita itu untuk meminta maaf dan menjelaskan semua tampaknya tidak ditanggapi dengan baik oleh Marco.
Setitik air perlahan keluar dari mata bening yang sudah berkaca-kaca itu. Sorot mata Ellena hanya mampu memandang sang suami yang tetap berdiri tegak dalam kekecewaannya. Ellena tidak sanggup berucap lagi, hatinya begitu rapuh hanya karena dibentak saja dia langsung retak.
Melihat sang istri menangis, Marco berusaha mengatur napas agar emosinya turut terjaga. Sayangnya, rasa kecewanya sudah terlanjur mendominasi. Hingga tidak ada niatan untuk menghapus air mata pertama yang dijatuhkan Ellena untuknya.
“Oke,” ucap Ellena dengan begitu lirih setelah berhasil menguasai diri.
Tanpa banyak berkata lagi, Ellena langsung berbalik badan meninggalkan sang suami yang tetap berdiri di depan kamar rawat mantan tunangannya. Wanita itu pergi dengan luka menganga yang telah ditorehkan Marco, suaminya sendiri. Baru sekali ini dia dibentak dan rasanya benar-benar sakit.
Sementara itu, Marco memandangi punggung sang istri yang berjalan lemas sambil menundukkan kepala. “Maaf, El. Aku nggak bermaksud kasar, tapi aku nggak suka dengan keegoisan kamu itu! Semoga kamu bisa introspeksi diri, aku akan pulang setelah ini!” ucap Marco.
Di tempat yang sama dari sudut pandang yang berbeda, ayah Ellena yaitu Tuan Aland melihat semua yang terjadi. Sejak Marco keluar dari ruang perawatan itu menemui putrinya, Tuan Aland sudah melihat semuanya.
Hati ayahnya jauh lebih sakit dari yang Ellena rasakan saat ini. Laki-laki itu mengepalkan tangan tanpa bisa ikut campur urusan rumah tangga putrinya. Dia kecewa pada dirinya sendiri karena telah mempercayakan putri satu-satunya pada laki-laki arogan yang dengan tega membentak Ellena. Sebagai seorang ayah, Tuan Aland menyesal karena membiarkan putrinya jatuh cinta dengan orang yang salah, apalagi jelas-jelas Marco mengusir putrinya demi perempuan lain dari masa lalunya.
Ellena tidak pulang ke rumah yang dia tinggali bersama Marco. Wanita itu memilih untuk bersembunyi di taman hijau yang dikelilingi tanaman setinggi pundak orang dewasa. Dia melamun di atas ayunan dengan tatapan kosong, benar-benar menyedihkan.
Karena tidak tega melihat putrinya bersedih karena patah hati, Tuan Aland menghampiri Ellena. Laki-laki itu berjalan pelan mendekati Ellena yang masih belum menyadari kehadirannya.
“Wah, ini Ellena anak papa atau cuma halusinasi papa aja ya,” ucap Tuan Aland sambil memiringkan kepala, seolah dia tidak sengaja bertemu dengan sang putri di taman ini.
Mendengar suara yang sangat familier itu, Ellena menoleh pada ayahnya yang masih menatapnya tanpa berkedip. “Papa!” Cepat-cepat wanita menghapus air mata yang sudah terlanjur membanjiri wajahnya.
“Loh, papa pikir tadi halusinasi. Kamu kenapa ada di sini, El?” tanya Tuan Aland yang akhirnya duduk di ayunan sebelah Ellena.
Ellena mengulum senyum tipis dan menghindari sorot mata ayahnya, tak ingin Tuan Aland sampai tahu masalah rumah tangganya. “Cuma main saja, Pa. Bosan di rumah! Papa sendiri ngapain ke sini?”
“Papa lagi kangen masa kecil kamu, El. Dulu kalau libur kamu suka ke sini, tapi sekarang taman ini sepi ya!”
Ellena berpura tertawa. “Papa kangen Mama ya? Kan ada Ellena, kata Papa El mirip banget sama Mama,” ocehnya berusaha terlihat baik-baik saja di hadapan sang ayah yang sebenarnya tahu semuanya.
Tuan Aland menatap wajah sang putri lekat-lekat dan semakin sakit hati saat melihat senyuman palsu di wajah Ellena itu. “Ya, kamu persis seperti mamamu! Berusaha tertawa meskipun hatimu sedang menangis,” balas Tuan Aland dengan mengepalkan tangan.
Ellena terkesiap. Dia memperbaiki raut wajahnya dan tidak ingin papanya itu curiga. “Papa ada-ada saja, mana bisa orang nangis tapi ketawa, Pa!”
“Ada kok. Ini di depan Papa.”
Tatapan mata Tuan Aland sudah berhasil mengintimidasi sang putri. Sementara Ellena terus mengukir senyum palsu karena takut ayahnya tahu apa yang saat ini sedang ia rasakan.
“Papa tahu semua, El. Papa lihat kamu dibentak sama Marco. Hati Papa rasanya sakit sekali, El!” Tuan Aland menepuk dadanya yang memang terasa sesak dan menyakitkan.
Mata Ellena kembali berkaca-kaca. “Papa tahu ... Papa tahu dari mana?”
“Papa lihat dan dengar semua yang dikatakan oleh suamimu itu, Ellena. Papa tahu semuanya,” jawab sang ayah yang kian membuat Ellena menangis.
“Aku yang salah, Pa. Aku sudah jahat dan licik. Aku yang jebak Kak Marco, makanya Kak Marco marah banget,” ungkap Ellena masih membela suaminya.
“Ellena. Walaupun kamu salah, tapi Marco nggak seharusnya bentak kamu! Papa nggak pernah bentak-bentak kamu. Papa yang besarin kamu saja nggak pernah tega bentak kamu, kenapa dia yang baru nikahin kamu beberapa bulan saja sudah seperti itu? Memangnya dia pikir dia itu siapa?”
“Dia suamiku, Pa.”
“Ellena!” Tuan Aland tahu putrinya keras kepala dalam urusan Marco, tapi perlakuan Marco juga sudah membuatnya sangat kecewa. “Papa tanya sama kamu, apa Marco pernah berusaha mencintai kamu setelah semua pengorbanan yang sudah kamu lakukan?”
Papa Ellena itu tentu saja tahu apa yang dialami Ellena selama menikah dengan Marco. Tuan Aland tahu putrinya sudah berusaha keras untuk menjadi istri yang terbaik, bahkan dia membuang jauh-jauh kebiasaan hidup mewahnya demi hidup sederhana dengan Marco.
Ditanya seperti itu oleh sang ayah, Ellena terdiam dan mencoba mengingat apa saja yang sudah Marco lakukan untuknya.
“Papa yakin nggak ada. Sekarang dia ada di rumah sakit bersama wanita lain, sedangkan kamu diusir untuk menjauhinya. Iya kan?”
Lagi-lagi Ellena tidak mampu membantah sang ayah karena menang yang dikatakan ayahnya itu adalah kebenaran.
“Kamu sudah disuruh pergi, El. Papa yang akan membawamu pergi darinya. Kita akan ke London ke rumah kakaknya mamamu sekaligus berlibur untuk menenangkan pikiranmu, El. Biar suamimu itu juga bisa mikir, seperti apa dia tanpa kamu!”
***
Ikut dong El, aku juga butuh liburan wkkk
Kembang kopinya jangan lupa ya gaess 💋💋
sana sama Otor aja... pasti mau dia...