Selama dua puluh tahun, Aisha mengira dia adalah gadis paling beruntung karena diadopsi oleh keluarga kaya. Namun, segalanya berubah saat anak kandung keluarga tersebut, Clara, yang sempat hilang, akhirnya ditemukan. Seketika, posisi Aisha bergeser menjadi "pembantu" tak kasat mata.
Puncaknya terjadi ketika Clara terjerat hutang miliaran rupiah pada jaringan mafia kejam akibat gaya hidupnya yang liar. Enggan mengorbankan putri kandung mereka, orang tua angkat Aisha tega menumbalkannya. Aisha dipaksa menikah dengan Devan Alister, putra mahkota dari keluarga mafia terbesar sekaligus CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.
Aisha mengira hidupnya akan berakhir di neraka. Devan menyambutnya dengan tatapan tajam dan peringatan keras agar Aisha tidak berharap lebih dari pernikahan kontrak ini. Namun, di balik sikap galak dan dinding es yang dibangun Devan, perlahan Aisha menemukan sisi lain dari sang CEO, kepedulian diam-diam yang mulai mengikis luka di hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arraziq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jawaban Anggun Aisha
Ruang makan privat di lantai 57 itu mendadak hening total. Tatapan Victor Lim dan Catherine tertuju sepenuhnya pada Aisha yang kini duduk tegap dengan wibawa yang sangat tenang.
Aisha meletakkan serbet kainnya di meja dengan gerakan halus, lalu menatap Victor Lim tanpa ada keraguan sedikit pun di matanya.
"Tuan Lim," Kata Aisha, suaranya yang lembut sangat jernih di udara malam.
"Saya sangat menghormati reputasi Anda sebagai pebisnis senior. Namun, bicara soal 'ikatan strategis' dan 'penyesuaian pernikahan', saya rasa Anda sedikit keliru menilai fondasi Alister Group di bawah kepemimpinan suami saya."
Catherine menyipitkan matanya, sementara Victor Lim memiringkan kepala, mendengarkan dengan raut wajah yang tak lagi bisa meremehkan.
"Pernikahan saya dan Devan bukan sekadar transaksi di atas kertas yang bisa ditarik ulur demi beberapa persen saham," Lanjut Aisha tegas, suaranya penuh dengan martabat seorang Nyonya Alister.
"Jika Alister Group membutuhkan ancaman perjodohan atau manipulasi posisi eksekutif hanya untuk mengeksekusi proyek pelabuhan ini, maka yang dipertanyakan bukanlah nilai investasinya, melainkan profesionalisme dari mitra bisnisnya sendiri."
Kata-kata Aisha menusuk tepat di dadanya. Halus, sopan, namun mematahkan harga diri Victor Lim tepat di jantungnya.
Sebelum Victor Lim sempat menyusun kata-kata untuk membalas, Devan berdiri dari kursinya. Aura dominasi yang sangat dingin memancar kuat dari tubuh tinggi tegap pria itu. Mata elangnya menatap Victor Lim seolah pria tua itu tak lebih dari sekadar kerikil kecil.
"Ucapkan satu kata lagi yang merendahkan istriku, Victor." Suara bariton Devan terdengar sangat rendah, bernada ancaman mematikan yang membekukan darah.
"maka malam ini juga, seluruh kerja sama Alister Group dengan Lim Corporation dibatalkan. Dan aku akan memastikan tidak akan ada satu pun perusahaan di Asia Tenggara yang berani berinvestasi di proyekmu."
Wajah Victor Lim seketika pucat pasi. Pria tua yang tadinya begitu percaya diri itu kini menyadari bahwa dia telah melangkah terlalu jauh. Dia lupa bahwa Devan Alister bukanlah pengusaha biasa yang bisa ditekan dengan ancaman modal. Devan adalah penguasa tunggal yang sanggup meruntuhkan dinasti bisnis Lim dalam hitungan hari.
Catherine panik melihat perubahan raut wajah ayahnya.
"Devan, tunggu! Ayahku tidak bermaksud—"
"Arya," Potong Devan tanpa memandang Catherine sedikit pun.
Asisten Arya yang sejak tadi berdiri di dekat pintu langsung melangkah cepat mendekat.
"Saya, Tuan Devan."
"Siapkan draf pembatalan kontrak jika Tuan Lim tidak menandatangani berkas utama tanpa syarat besok pagi pukul delapan di perusahaan." Perintah Devan dingin.
Devan lalu berbalik, mengulurkan tangannya pada Aisha dengan begitu lembut, berbeda dengan yang baru saja ia lakukan.
"Mari pulang, Sayang. Udara di sini terlalu beracun untukmu."
Aisha tersenyum tulus, menyambut uluran tangan hangat Devan dan berdiri dengan anggun.
"Selamat malam, Tuan Lim. Nona Catherine."
Tanpa berpaling lagi, Devan menuntun Aisha melangkah meninggalkan meja makan privat tersebut, meninggalkan Victor Lim yang terduduk kaku dan Catherine yang meremas gaun mahalnya dengan rasa malu serta penyesalan yang mendalam.
Keesokan harinya, pukul delapan pagi tepat.
Di ruang konferensi Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura, Victor Lim terpaksa menandatangani berkas kerja sama investasi pelabuhan senilai tiga triliun rupiah tersebut tanpa syarat tambahan apa pun. Pria tua itu tidak punya pilihan lain selain menyerah sepenuhnya pada syarat ketat yang diajukan Devan demi menyelamatkan proyek raksasa keluarganya.
Catherine hanya bisa berdiri kaku di sudut ruangan, menyaksikan Devan membubuhkan tanda tangannya di samping dokumen resmi tersebut.
Setelah acara penandatanganan selesai, puluhan wartawan media bisnis internasional dari Singapura dan Indonesia yang memadati aula utama langsung menyerbu Devan untuk melakukan sesi wawancara mendadak.
"Tuan Devan Alister! Bagaimana tanggapan Anda mengenai suksesnya kesepakatan investasi terbesar tahun ini?" Tanya seorang wartawan dengan mikrofon terulur.
Devan yang berdiri di depan mimbar media menatap kamera-kamera yang menyorotnya. Untuk pertama kalinya di hadapan publik internasional, Devan mengulurkan tangan kirinya, merangkul pinggang Aisha yang berdiri di sampingnya dengan gaun putih gading yang sangat anggun.
"Kesuksesan proyek ini adalah bentuk komitmen Alister Group," jawab Devan dengan suara baritonnya yang menggelegear dan menggema di seluruh ruangan.
"Dan hari ini, saya juga ingin menegaskan kepada seluruh mitra bisnis internasional..."
Devan berhenti sejenak, menoleh menatap Aisha dengan sorot mata yang sangat dalam dan penuh kebanggaan.
"...bahwa wanita di samping saya ini, Aisha Dirgantara Alister, adalah satu-satunya Nyonya Alister dan satu-satunya pendamping hidup saya. Siapa pun yang mencoba mengusik posisinya, artinya memilih untuk menjadi musuh utama dari Alister Group."
Ceklek!
Ceklek!
Ceklek!
Kilatan lampu kilat dari kamera para wartawan memenuhi ruangan. Berita pernyataan terbuka dari sang CEO dingin Alister Group itu dalam hitungan menit langsung menjadi headline utama di berbagai media cetak dan digital Asia.
Aisha menahan napasnya, dadanya berdesir hebat oleh rasa haru yang luar biasa. Di depan ratusan kamera dan lingkaran elit dunia bisnis, Devan telah mengunci namanya dengan pengakuan yang paling megah.
Catherine yang menyaksikan pemandangan itu dari kejauhan akhirnya menundukkan kepala. Ambisinya runtuh sepenuhnya. Dia tahu, tidak akan pernah ada celah sekecil apa pun baginya untuk masuk di antara Devan dan Aisha.
*****
Sore harinya, jet pribadi Alister Group mendarat kembali di Jakarta.
Setelah membelah kemacetan ibu kota, sedan hitam Devan meluncur masuk ke pelataran mansion. Namun, begitu mobil berhenti di depan pintu utama, Asisten Arya yang sudah menunggu di luar langsung menyambut mereka dengan ekspresi serba salah.
"Selamat datang kembali, Tuan Devan, Nona Aisha," Sapa Arya.
Devan merangkul bahu Aisha saat turun dari mobil.
"Ada perkembangan soal sidang persidangan Hendra minggu depan, Arya?"
"Soal persidangan sudah siap sepenuhnya, Tuan," jawab Arya. Pria itu lalu menurunkan suaranya.
"Namun, ada seseorang yang menunggu di ruang tamu sejak dua jam lalu."
Alis Devan bertaut tipis. "Siapa?"
"Nona Clara," jawab Arya pelan.
"Dia berhasil keluar dengan jaminan penangguhan penahanan sementara karena kondisi kesehatannya. Beliau memohon sambil menangis di depan gerbang untuk bertemu dengan Nona Aisha."
Aisha tersentak pelan. Nama Clara, saudara angkatnya yang dulu begitu kejam dan selalu menindasnya, kembali terdengar.
Devan seketika mengepalkan tangannya, mata elangnya berkilat berbahaya.
"Usir dia sekarang juga."
"Tunggu, Devan," Cegah Aisha halus, menahan tangan suaminya. Aisha menarik napas panjang, tatapannya kini penuh kedewasaan, tenang dan tanpa rasa takut.
"Biarkan aku menemuinya. Ini saatnya aku menyelesaikan sisa bayang-bayang masa lalu itu sepenuhnya."