NovelToon NovelToon
Kontrak Hamil Anak Bos

Kontrak Hamil Anak Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Sinopsis

Sarah Lestari, seorang personal assistant, menerima tawaran kontrak untuk mengandung anak bosnya, Samudra Grayson, CEO muda pemilik berbagai perusahaan di Eropa. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan, tetapi seiring waktu benih cinta tumbuh di antara keduanya. Saat kontrak berakhir, mereka harus memilih antara menepati perjanjian atau memperjuangkan cinta yang tak pernah direncanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Belanja di Supermarket Italia

Makan siang di taman villa berlangsung dengan tenang. Samudra telah memesan hidangan ringan berupa salad segar, sandwich dengan daging panggang, dan semangkuk buah-buahan musiman. Mereka duduk di meja taman, di bawah naungan pohon zaitun, ditemani suara deburan ombak dan kicauan burung.

Sarah menikmati makanannya dengan lahap. Setelah makan siang, Samudra memeriksa ponselnya. Jalanan sudah dilaporkan bersih dan aman untuk dilewati. Tidak ada lagi longsor.

"Kita bisa pulang sekarang," ujar Samudra. "Aku sudah minta tim kebersihan merapikan villa."

Sarah mengangguk. "Baik, Pak. Terima kasih untuk semuanya."

Mereka berdua berjalan menuju garasi, masuk ke dalam mobil, dan memulai perjalanan pulang ke Milan. Suasana di dalam mobil terasa tenang. Samudra fokus menyetir, sedangkan Sarah memilih menatap pemandangan luar. Sesekali, ia melirik Samudra dari sudut matanya, tapi segera mengalihkan pandangan.

Perjalanan berjalan lancar, hingga sekitar 30 menit kemudian, Samudra justru memutar kemudi meninggalkan jalan raya menuju pusat kota. Sarah mengerutkan kening. Ia melihat peta di layar mobil, dan rute ini tidak menuju ke arah apartemennya.

"Pak, ini mau ke mana?" tanya Sarah, sedikit bingung.

Samudra tidak menjawab langsung. Ia hanya melajukan mobilnya beberapa menit lagi, lalu berhenti di depan sebuah bangunan besar. Sarah menatap ke luar. Matanya membelalak. Ternyata Samudra membawanya ke sebuah supermarket besar di pinggiran Milan, sebuah tempat perbelanjaan mewah yang menjual bahan-bahan makanan organik.

"Pak... kita ke supermarket?" tanya Sarah tidak percaya.

Samudra mematikan mesin dan menatap Sarah. "Felix sedang dalam perjalanan dinas ke London. Dia tidak bisa mengantarkan makanan untukmu selama seminggu ke depan. Jadi, aku memutuskan untuk membeli sendiri keperluanmu."

Sarah mengerutkan kening. "Tapi Pak, saya bisa membelinya sendiri. Bapak tidak perlu repot-repot."

Samudra menggeleng. "Kamu tidak tahu mana makanan organik yang baik dan mana yang hanya klaim. Aku sudah biasa memilih bahan makanan sehat untuk diriku sendiri. Ayo, lebih baik kita selesaikan ini cepat."

Sarah ingin menolak, tapi melihat wajah datar Samudra yang sudah mengambil keputusan, ia tidak punya pilihan. Ia menghela napas, lalu membuka pintu mobil dan turun.

Mereka berdua masuk ke dalam supermarket. Tempat itu sangat besar dan rapi. Lampu berwarna putih terang menerangi rak-rak yang dipenuhi dengan berbagai macam bahan makanan. Ada bagian sayuran organik, daging segar, produk susu, hingga makanan beku. Semuanya tertata rapi, dengan label harga yang cukup mahal.

Samudra mengambil sebuah keranjang belanja, lalu berjalan masuk. Sarah mengikutinya dari belakang, seperti anak kecil yang mengikuti ayahnya.

"Kamu suka sayur apa?" tanya Samudra, berhenti di depan rak sayuran.

Sarah menatap rak yang penuh dengan brokoli, bayam, dan zukini. "Saya suka bayam dan brokoli, Pak."

Samudra mengambil dua ikat bayam organik dan beberapa bonggol brokoli. Ia memasukkannya ke dalam keranjang dengan hati-hati. "Bayam bagus untuk zat besi. Kamu butuh zat besi selama kehamilan."

Sarah hanya bisa mengangguk. Samudra melanjutkan perjalanannya. Ia berjalan menuju bagian buah, memilih beberapa apel, pir, dan anggur merah. Sarah masih tetap mengikutinya, tangannya kosong, tidak berani mengambil apa pun.

"Kenapa kamu tidak mengambil apa-apa?" tanya Samudra, berhenti dan menatap Sarah.

"Pak, saya masih canggung. Ini bukan kebiasaan saya," jawab Sarah jujur. "Melihat bos saya sendiri berbelanja untuk saya... rasanya aneh."

Samudra menghela napas. "Anggap saja ini bagian dari kontrak, Sarah. Aku bertanggung jawab penuh atas gizi dan kesehatanmu. Felix tidak ada, jadi aku yang melakukannya. Jangan terlalu dipikirkan."

Sarah mendengar kata-kata itu. "Anggap saja bagian dari kontrak." Ah, kata-kata itu membuatnya sedikit sedih. Tapi ia mencoba mengabaikannya.

Mereka melanjutkan belanja. Samudra berjalan ke bagian susu, mengambil susu almond dan yogurt probiotik. Kemudian, ia menuju ke bagian daging, memilih beberapa potong ayam organik dan ikan salmon segar. Semuanya dipilih dengan sangat teliti.

Sarah memperhatikan Samudra. Meskipun wajahnya datar dan terkesan dingin, ia sangat teliti memilih bahan makanan. Ia memeriksa tanggal kadaluwarsa, memilih sayur yang paling segar, dan bahkan menekan-nekan daging untuk memastikan teksturnya.

"Dia benar-benar menjaga pola makannya," batin Sarah. "Tapi kenapa dia juga repot-repot menjaga makananku?"

Samudra berbelok ke lorong cemilan. Ia mengambil beberapa biskuit gandum, kacang almond, dan sebotol madu organik.

"Ini cemilan sehat. Kalau kamu lapar di sela-sela waktu makan, kamu bisa makan ini. Jangan makan makanan ringan yang mengandung pengawet," ujar Samudra, memberikan sebotol madu pada Sarah untuk dipegang.

Sarah menerima botol madu itu. Tangannya sedikit bersentuhan dengan tangan Samudra, dan Sarah langsung menarik tangannya dengan cepat, merasa gugup.

"Maaf, Pak," ujar Sarah cepat.

Samudra menatap Sarah, melihat sedikit warna merah di pipinya. Tanpa sadar, ia tersenyum tipis. "Tidak apa-apa."

Mereka melanjutkan belanja hingga keranjang Samudra sudah penuh. Ada sayuran, buah-buahan, daging, susu, dan cemilan sehat. Samudra membawa semuanya ke kasir, dan dengan tenang, ia mengeluarkan kartu kredit dan membayar semua barang tersebut.

Sarah berdiri di belakang Samudra, melihat pria itu dengan santai membayar puluhan barang yang semuanya untuknya. Ada perasaan hangat yang tidak bisa ia jelaskan. Di satu sisi, ia ingin mengatakan "Pak, saya bisa beli sendiri," tapi di sisi lain, ia menikmati perhatian ini.

Setelah selesai, Samudra membawa dua kantung besar belanjaan ke mobil. Ia memasukkannya ke bagasi, lalu menatap Sarah.

"Sudah. Sekarang, aku antar kamu pulang."

Sarah mengangguk. "Terima kasih, Pak."

Mereka kembali masuk ke mobil. Sepanjang perjalanan menuju apartemen Sarah, suasana terasa lebih hangat. Samudra sesekali melirik Sarah, dan Sarah juga melirik Samudra. Tidak ada yang berbicara, tapi ada sebuah keheningan yang nyaman.

Sesampainya di apartemen, Samudra membantu Sarah membawa kantung belanjaan hingga ke depan pintu.

"Kalau ada kebutuhan lain, hubungi aku. Felix mungkin baru kembali minggu depan," ujar Samudra.

Sarah menatap Samudra. "Pak... saya sungguh tidak tahu bagaimana harus berterima kasih."

Samudra tersenyum tipis. "Kamu tidak perlu berterima kasih. Nikmati saja makanannya. Dan jangan lupa istirahat."

Samudra berbalik, berjalan menuju lift. Sarah menatap punggungnya yang tegap, dan ia tersenyum.

"Mungkin dia memang hanya karena kontrak," batin Sarah. "Tapi... aku mulai menikmati perhatian ini."

Sarah masuk ke dalam apartemennya, membuka kantong belanjaan, dan mulai merapikan bahan makanan di kulkas. Ada rasa hangat di hatinya. Dan untuk pertama kalinya, ia berharap kontrak ini tidak akan berakhir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!