Shen Qingyue adalah istri pertama keluarga Marquis Yong'an yang dikenal kejam dan pencemburu. Ditinggalkan suami di malam pernikahan, ia mati setelah meminum semangkuk "sup penenang" yang diracun.
Tapi takdir berkata lain.
Ketika Lin Xiao, seorang direktur pemasaran modern yang mati kelelahan, terbangun di tubuh Shen Qingyue, ia mendapati dirinya berada di tengah-tengah keluarga bangsawan yang penuh intrik. Suami yang dingin, selir yang licik, dan ibu mertua yang kejam—semua orang ingin melihatnya jatuh.
Namun Lin Xiao bukanlah Shen Qingyue yang lemah. Dengan kecerdasan verbal dan logika modernnya, ia bertekad untuk bertahan hidup dengan martabat. Satu per satu, jebakan dibongkar, musuh dipermalukan, dan rahasia gelap keluarga Marquis mulai terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Permen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Delapan Belas
"Qingxing, siapa saja anggota keluarga Mama Zhang?"
Qingxing berpikir lagi.
"Suaminya sudah lama meninggal. Dia punya seorang putra yang sekarang membuka usaha kecil di luar. Katanya putranya sudah menikah dan punya anak."
"Oh, benar. Tahun lalu cucunya sakit parah dan membutuhkan banyak uang. Kudengar Mama Zhang mengambil sejumlah uang dari rumah ini untuk biaya pengobatan."
"Berapa banyak?"
"Hamba tidak tahu, tapi kabarnya... jumlahnya cukup besar."
Lin Xiao mengangguk.
"Ada satu hal lagi." Qingxing melanjutkan. "Beberapa hari lalu, hamba mendengar orang dapur bilang kalau Mama Zhang akhir-akhir ini sering mendatangi bagian pembukuan. Dia bisa menghabiskan lebih dari setengah jam di sana. Padahal sebelumnya dia tidak pernah berurusan dengan mereka."
Jari Lin Xiao berhenti mengetuk.
Mama Zhang dekat dengan bagian pembukuan.
Ia teringat catatan tentang lima tael perak yang digunakan untuk "memperbaiki tembok belakang" Paviliun Timur.
Alasannya tidak jelas.
Ke mana uang itu pergi juga tidak jelas.
Kalau Mama Zhang memang punya hubungan dengan orang-orang di bagian pembukuan, maka tujuan sebenarnya dari uang itu patut dipertanyakan.
"Qingxing."
"Ya."
"Besok pagi, pergilah ke bagian pembukuan dan cari tahu satu hal."
"Apa itu?"
"Dengan alasan apa uang yang diambil Mama Zhang tahun lalu dicatat."
Wajah Qingxing langsung pucat.
"Nyonya... orang-orang bagian pembukuan terkenal sangat tertutup. Hamba takut tidak akan mendapat jawaban."
"Kau tidak perlu bertanya."
Lin Xiao berkata tenang,
"Temui pelayan laki-laki yang bertugas membeli kebutuhan rumah. Yang beberapa hari lalu mengantar jatah bulanan."
"Dia takut padaku. Kau hanya perlu mengatakan, 'Nyonya ingin tahu alasan Mama Zhang mengambil uang tahun lalu.'"
"Dia akan panik."
"Saat panik, dia akan pergi mencari orang-orang bagian pembukuan."
"Dan ketika mereka ikut panik, mereka akan memperlihatkan kelemahan mereka."
Qingxing mengedipkan mata, lalu perlahan memahami maksudnya.
"Nyonya... jadi Anda sengaja memancing ular keluar dari sarangnya?"
Lin Xiao berdiri.
"Kalau ularnya tidak bergerak, aku tidak akan tahu di mana ia bersembunyi."
Keesokan paginya, Qingxing melakukan persis seperti yang diperintahkan.
Ia menemui pelayan laki-laki itu dan hanya mengucapkan satu kalimat:
"Nyonya ingin tahu alasan Mama Zhang mengambil uang tahun lalu."
Wajah pemuda itu seketika berubah.
Dengan terbata-bata, ia berkata bahwa ia akan mencari tahu, lalu buru-buru berlari pergi.
Ketika Qingxing kembali melapor, matanya berbinar.
"Nyonya, tebakan Anda tepat sekali! Begitu mendengar kalimat itu, wajahnya langsung pucat. Dia lari lebih cepat daripada kelinci!"
"Dia pergi menemui siapa?"
"Ke bagian pembukuan."
Lin Xiao mengangguk tanpa berkata apa-apa.
Ia duduk di dekat jendela, menunggu ular itu mulai bergerak.
Tak lama setelah tengah hari, Mama Zhang datang.
Kali ini, ia tidak membawa semangkuk obat atau menyampaikan pesan apa pun.
Ia berdiri dengan tangan kosong di depan gerbang Paviliun Timur dan membungkuk hormat.
"Nyonya, Nyonya Tua mengundang Anda minum teh di aula belakang."
Lin Xiao memandangnya tanpa bergerak.
Minum teh di aula belakang.
Biasanya, Nyonya Tua tidak pernah mengundangnya. Hari ini tiba-tiba ia mengirim undangan, dan orang yang datang menyampaikan pesan bukan pelayan biasa, melainkan Mama Zhang sendiri.
"Mama Zhang, mengapa Nyonya Tua tiba-tiba ingin minum teh denganku hari ini?"
Mama Zhang tersenyum.
"Nyonya Tua bilang kue osmanthus yang Anda buat kemarin enak. Kalau Nyonya sedang senggang hari ini, beliau ingin mengobrol sebentar."
Alasannya terdengar masuk akal.
Nyonya Tua memang menyukai makanan manis.
Tetapi Lin Xiao tahu, ia tidak bisa menolak undangan ini.
"Baik."
Ia berdiri.
"Aku akan pergi sekarang."
Qingxing hendak ikut, tetapi Mama Zhang segera menghentikannya.
"Nyonya Tua hanya mengundang Nyonya seorang."
Qingxing menoleh cemas kepada Lin Xiao.
Lin Xiao hanya mengangguk kecil, memberi isyarat agar ia tidak khawatir, lalu mengikuti Mama Zhang keluar.
Sepanjang perjalanan menuju aula belakang, Mama Zhang berjalan di depan dengan punggung tegak dan langkah tenang.
Lin Xiao berjalan di belakang sambil mengamati.
Langkah Mama Zhang terlalu stabil.
Terlalu stabil untuk seseorang yang menyimpan rasa bersalah.
Kalau hari ini memang ada sesuatu yang akan terjadi, berarti semuanya telah dipersiapkan sejak lama.
Aula belakang adalah tempat pribadi Nyonya Tua menerima tamu.
Ruangannya jauh lebih kecil daripada aula utama, tetapi ditata dengan elegan.
Di dekat jendela terdapat pot anggrek.
Di dinding tergantung lukisan pemandangan.
Di tengah ruangan berdiri meja teh dari kayu huanghuali, lengkap dengan seperangkat peralatan teh porselen hijau kebiruan.
Nyonya Tua sudah duduk di sana.
Di hadapannya ada teko berisi teh yang baru diseduh, mengepulkan asap putih tipis.
"Kau sudah datang? Duduklah."
Lin Xiao memberi salam dan duduk di hadapan Nyonya Tua.
Nyonya Tua menuangkan secangkir teh dan mendorongnya ke depan.
"Cobalah."
"Teh baru dari Jiangnan."
Air tehnya jernih berwarna hijau muda, sementara aroma segarnya memenuhi ruangan.
Lin Xiao menatap cangkir itu tanpa segera menyentuhnya.
"Ada apa?"
Nyonya Tua berkata datar.
"Takut ada racunnya?"
Lin Xiao mengangkat kepala dan menatap mata wanita tua itu.
Mata yang sudah menua, tetapi tetap tajam dan jernih.
Saat ini, mata itu sedang menunggunya menjawab.
Tanpa ragu, Lin Xiao mengangkat cangkir dan menyesapnya.
Tehnya panas.
Rasa pahit menyebar lebih dulu, lalu berganti manis yang tertinggal lama di lidah.
Ia meletakkan cangkir itu kembali.
"Teh yang bagus."
Tatapan Nyonya Tua sedikit melunak.
"Kau tidak takut aku meracunimu?"
"Takut."
Lin Xiao menjawab jujur.
"Tetapi kalau Nyonya Tua benar-benar ingin membunuhku, kesempatan itu sudah ada sejak tiga tahun lalu."
Nyonya Tua tidak menjawab.
Ia mengangkat cangkirnya sendiri, menyesap teh, lalu meletakkannya kembali.
"Qingyue, aku ingin bertanya sesuatu."
"Silakan, Nyonya Tua."
"Sejak kapan kau berhenti menjadi Shen Qingyue yang dulu?"
Ruangan itu mendadak sunyi.
Jari Lin Xiao yang memegang cangkir sedikit menegang, tetapi ekspresinya tetap tenang.
"Maksud Nyonya Tua..."
"Aku tidak percaya omong kosong tentang kerasukan."
Nyonya Tua memotong ucapannya.
"Tetapi aku juga tahu, seseorang tidak mungkin berubah total hanya dalam semalam."
"Kecuali memang sejak awal ia menyembunyikan wajah yang lain."
Tatapannya kini jauh lebih tajam dibanding sebelumnya.
"Sejak kapan kau berpura-pura?"
"Atau..."
Nyonya Tua berhenti sejenak.
"...jangan-jangan kau memang bukan menantuku yang dulu?"
Lin Xiao terdiam beberapa saat.
Jadi, inilah tujuan teh itu.
Nyonya Tua memanggilnya, menuangkan teh dengan tangannya sendiri, melihatnya meminumnya, lalu mengajukan pertanyaan ini.
Ini bukan interogasi.
Ini ujian.
Kalau Lin Xiao benar-benar "siluman", ia tidak akan berani menyentuh teh itu.
Tetapi ia meminumnya.
Dan meminumnya dengan tenang.
"Nyonya Tua."
Lin Xiao perlahan meletakkan cangkirnya.
"Aku adalah Shen Qingyue, tetapi juga bukan Shen Qingyue."
Alis Nyonya Tua sedikit terangkat.
"Tubuh ini memang milik Shen Qingyue. Itu tidak salah."
"Tetapi orang yang ada di dalamnya bukan lagi Shen Qingyue yang dulu."
Lin Xiao menatap mata Nyonya Tua dan berkata dengan jelas:
"Shen Qingyue yang dulu sudah terlalu lelah."
"Selama tiga tahun, dia bertahan sekuat tenaga."
"Tetapi dia sudah tidak sanggup lagi."
"Jadi..."
"Aku menggantikannya."
Ruangan kembali hening.
Angin dari luar menggoyangkan daun anggrek, menimbulkan suara gemerisik yang pelan.
Nyonya Tua menatapnya lama sekali.
Kemudian, ia mengangkat teko dan menuangkan secangkir teh lagi untuk Lin Xiao.
"Kalau begitu, bertahanlah dengan baik."
"Jangan membuatku kecewa."
Lin Xiao menatap teh yang baru ditambahkan itu.
Tiba-tiba tenggorokannya terasa sesak.
Ia tidak menjawab "baik".
Ia juga tidak berjanji apa pun.
Ia hanya mengangkat cangkir itu, meminum seteguk lagi, lalu berkata,
"Teh Nyonya Tua memang sangat enak."
Sudut bibir Nyonya Tua bergerak sedikit, entah tersenyum atau tidak.
Ia melambaikan tangan.
"Pergilah."
"Besok kau tidak perlu datang memberi salam. Datanglah lusa."
Lin Xiao berdiri dan membungkuk hormat.
Saat ia sampai di ambang pintu, terdengar suara Nyonya Tua dari belakang.
Sangat pelan.
Nyaris seperti berbicara kepada dirinya sendiri.
"Setidaknya, sekarang ada seseorang di rumah ini yang bisa diajak bicara."
Langkah Lin Xiao sempat terhenti.
Namun, ia tidak menoleh.
Ia melangkah keluar menuju cahaya matahari siang.