SINYAL TERAKHIR
Sinopsis
Tahun 2487.
Persemakmuran Persatuan Manusia (PPM) telah berkembang menjadi peradaban antarbintang yang menguasai ratusan sistem bintang. Dengan bantuan jaringan gerbang antarbintang dan kecerdasan buatan AURA, manusia berhasil membangun koloni di berbagai penjuru galaksi. Meski teknologi berkembang pesat, satu pertanyaan besar belum pernah terjawab: apakah manusia benar-benar sendirian di alam semesta?
Semuanya berubah ketika jaringan observatorium PPM menangkap sebuah sinyal misterius dari Galaksi Asterion, sebuah galaksi yang tidak pernah tercatat dalam jalur eksplorasi resmi. Sinyal itu memiliki pola yang tidak mungkin dihasilkan oleh fenomena alam dan terus berubah seolah merespons sesuatu.
Untuk menyelidikinya, Dewan PPM membentuk ekspedisi rahasia menggunakan kapal eksplorasi tercanggih, ESS Horizon. Misi tersebut dipimpin oleh Kapten Idris, didampingi Wakil Kapten Kael, bersama sepuluh anggota lain yang dipilih langsung dari berbagai bidang keahlian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 – Warisan Elias
Semua orang memandang Kapten Idris.
Panel itu masih menyala.
Tulisan di permukaannya tidak berubah.
"Selamat datang kembali, Direktur."
Reza menjadi orang pertama yang berbicara.
"Kapten..."
"...kau yakin tidak pernah ke tempat ini sebelumnya?"
"Tidak pernah."
Jawaban Idris singkat dan tegas.
Lyra juga memperhatikan ekspresi Idris.
Tidak ada tanda-tanda ia menyembunyikan sesuatu.
Yang terlihat hanya kebingungan.
---
Adrian mendekati panel.
Ia mencoba menyentuhnya.
Tidak terjadi apa-apa.
Panel tetap mengabaikannya.
Kemudian Sofia mencoba.
Hasilnya sama.
AURA memberikan laporan.
"Sistem hanya merespons Kapten Idris."
Kael menghela napas pelan.
"Sepertinya kita memang harus mencari tahu."
---
Kapten Idris akhirnya melangkah mendekat.
"AURA."
"Ya."
"Rekam semua yang terjadi."
"Perintah diterima."
Idris mengangkat tangannya.
Jarinya menyentuh permukaan panel.
Dalam sekejap...
seluruh ruangan menjadi gelap.
Menara hitam di tengah Zona Inti memancarkan cahaya putih.
Lalu muncul puluhan garis cahaya yang menghubungkan menara dengan dinding.
Sistem Pos Observasi kembali aktif.
---
Suara yang tenang terdengar dari seluruh ruangan.
"Verifikasi selesai."
"Pengguna diterima."
Semua menunggu.
Beberapa detik kemudian suara itu melanjutkan.
"Mode Omega dibuka."
Sebuah bagian lantai bergeser.
Tangga logam perlahan muncul dari bawah.
Tangga itu mengarah ke ruangan yang sebelumnya tidak ada.
Hana yang memantau melalui peta tiga dimensi langsung berseru.
"Itu ruang kosong yang kutemukan."
"Dua kilometer di bawah kita."
---
Reza melihat ke arah tangga.
"Jadi selama ini jalannya memang disembunyikan."
Adrian mengangguk pelan.
"Aku tidak pernah tahu pintu ini ada."
Sofia menambahkan,
"Begitu juga denganku."
Kael menatap Idris.
"Sepertinya hanya kau yang bisa membukanya."
Idris tidak menjawab.
Ia sendiri belum mengerti alasannya.
---
Sebelum mereka turun...
AURA kembali berbicara.
"Perhatian."
"Terjadi perubahan pada ESS Horizon."
Darius segera menjawab.
"Kapal baik-baik saja."
"Lalu apa?"
"Beberapa sistem kapal baru saja memperoleh akses."
"Akses ke mana?"
"Basis data Pos Observasi Tujuh."
Leo langsung membuka layar utama.
Puluhan berkas mulai tersalin secara otomatis.
"Ini luar biasa..."
"Semua arsip penelitian."
"Peta."
"Catatan ekspedisi."
"Bahkan log pemeliharaan."
Rina tersenyum.
"Setidaknya kita tidak perlu menyalin semuanya satu per satu."
---
Di sisi lain, Owen menemukan sesuatu yang lebih mengejutkan.
"Kapten."
"Ada apa lagi?"
"Ada daftar ekspedisi."
"Ekspedisi yang mana?"
"Dua puluh empat ekspedisi."
Kael langsung menoleh.
"Dua puluh empat?"
Owen mengangguk.
"Ekspedisi pertama."
"Kedua."
"Ketiga."
"..."
"Semuanya tercatat."
Rina memperbesar layar.
Nama-nama kapal mulai muncul.
Sebagian besar berstatus...
"Hilang."
Namun ada satu yang berbeda.
Ekspedisi ke-24.
ESS Horizon.
Statusnya belum terisi.
Masih kosong.
---
Kapten Idris berdiri di depan tangga yang baru terbuka.
Ia memandang ke bawah.
Gelap.
Tidak terlihat ujungnya.
Adrian berdiri di sampingnya.
"Aku tidak bisa ikut."
"Kenapa?"
"Pengguna Omega hanya mengizinkan empat orang."
Kael melihat panel kecil di sisi tangga.
Benar.
Di sana tertulis:
Batas personel: Empat.
Lyra menghela napas.
"Berarti sama seperti ruang pertemuan."
Sofia berkata pelan,
"Aku juga harus tetap di sini."
"Kalau penghalang kembali tidak stabil..."
"...seseorang harus mengawasinya."
---
Kapten Idris menatap anggota timnya.
"Kael."
"Siap."
"Lyra."
"Siap."
"Reza."
"Siap."
"Kalian ikut denganku."
Keempatnya menyalakan lampu di pakaian masing-masing.
Tangga logam itu terasa dingin.
Mereka mulai menuruninya perlahan.
Sepuluh meter.
Dua puluh meter.
Lima puluh meter.
Seratus meter.
Tangga itu seolah tidak berujung.
Tidak ada suara selain langkah kaki mereka.
---
Setelah hampir lima menit berjalan turun...
mereka akhirnya tiba di sebuah pintu bundar raksasa.
Pintunya jauh lebih besar daripada semua pintu yang telah mereka lihat.
Tidak ada panel.
Tidak ada tombol.
Hanya sebuah lambang berbentuk lingkaran dengan pola yang sama seperti simbol pada sinyal misterius.
Begitu Kapten Idris mendekat...
lambang itu mulai bersinar.
Pintu perlahan terbuka.
Udara dingin mengalir keluar dari dalam ruangan.
Keempatnya melangkah masuk.
Senter mereka menyapu kegelapan.
Lalu semuanya membeku.
Di tengah ruangan...
berdiri sebuah pesawat antariksa berwarna hitam.
Bentuknya tidak menyerupai desain kapal mana pun yang pernah dibuat manusia.
Dan yang paling aneh...
kapal itu tampak baru.
Seolah-olah baru saja selesai dibuat kemarin.