Bagi dunia luar, Justin Devano Ardiansyah adalah perwujudan dari malaikat maut. Sebagai pemimpin tertinggi The Ardiansyah Syndicate, dia adalah pria berdarah dingin yang menguasai dunia bawah tanah ibu kota dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan darah, pengkhianatan, dan kemewahan yang hampa. Namun, sebuah konspirasi besar dan pengkhianatan anak buahnya membuat Justin terdesak, terluka parah, dan terdampar di sebuah desa terpencil yang jauh dari peradaban kota.
Di sanalah ia merangkak ke sebuah gubuk bambu milik Kimberly seorang gadis desa yatim piatu yang hidup sederhana sebagai penjual jamu tradisional keliling.
Kimberly tidak tahu siapa pria bertato naga yang sekarat di dapurnya. Yang dia tahu, pria itu membutuhkan pertolongan. Dengan ketulusan dan keberanian yang murni, Kimberly merawat sang mafia, menjahit lukanya dengan alat seadanya, dan memberikan ketenangan yang belum pernah Justin rasakan sepanjang hidupnya. Mata polos dan ketulusan Kimberly berhasil mencairkan gunun
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vinna naa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Sumpah Di Bawah Langit Malam
Penerimaan Kimberly terhadap masa lalu Justin membawa kedamaian baru yang lebih kokoh di dalam mansion.
Ketakutan tersembunyi bahwa Kimberly akan hancur seperti ibunya kini telah sirna dari benak sang mafia, digantikan oleh rasa percaya dan cinta yang kian mengakar.
Justin kini tak lagi ragu untuk membiarkan Kimberly menyentuh sisi-sisi paling personal dalam hidupnya.
Sore itu, setelah menyelesaikan pertemuan bisnis di pusat kota, Justin tidak langsung pulang ke mansion.
Dia mengirim pesan singkat kepada Kimberly melalui Marco, memintanya untuk bersiap-siap karena dia ingin membawa sang istri ke suatu tempat yang istimewa.
Pukul tujuh malam, limosin hitam Justin berhenti di pekarangan rumah, Kimberly melangkah keluar dengan gaun kasual berwarna biru muda yang sederhana, namun memancarkan keanggunan alami yang murni.
Rambut hitamnya dikuncir kuda, menyisakan beberapa anak rambut di pelipisnya.
Justin turun dari mobil, kali ini tanpa setelan jas formal yang kaku, dia hanya mengenakan celana kain hitam dan kemeja kasual berwarna senada dengan lengan yang digulung rapi.
"Kita mau ke mana, Justin?" tanya Kimberly saat Justin membukakan pintu mobil untuknya.
"Sebuah tempat di mana aku biasa menghabiskan waktu sendirian sebelum mengenalmu," jawab Justin dengan senyuman misterius yang membuat wajah tampannya terlihat jauh lebih muda dan lepas.
Mobil melaju menaiki kawasan perbukitan di pinggiran kota yang jarang dilalui kendaraan umum.
Jalanan menanjak dan berliku itu dikelilingi oleh pepohonan rimbun, mengingatkan Kimberly pada jalur menuju desanya, meskipun udara di sini tetap menyiratkan bau khas kota besar.
Setelah tiga puluh menit perjalanan, mobil berhenti di sebuah area puncak tebing terisolasi yang dibatasi oleh pagar pembatas kayu yang kokoh.
Tempat itu adalah properti pribadi milik keluarga Ardiansyah, sebuah lahan terbuka yang menghadap langsung ke arah hamparan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian.
Begitu melangkah keluar dari mobil, angin malam yang sejuk langsung menerpa wajah Kimberly, matanya berbinar menatap pemandangan di depannya.
Di bawah sana, jutaan lampu kota berkelap-kelip seperti hamparan berlian yang berserakan di atas kain hitam.
Langit malam di atas mereka begitu bersih, memperlihatkan beberapa bintang yang bersinar terang.
"Indah sekali, Justin..." bisik Kimberly takjub, berjalan mendekati pagar pembatas, Justin berjalan di sampingnya, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Setiap kali aku selesai melakukan... hal-hal kotor di bawah sana, atau saat kepalaku rasanya mau pecah karena pengkhianatan anak buahku, aku selalu datang ke sini sendirian. Menatap kota dari atas sini membuatku sadar betapa kecilnya semua masalah dan ambisi manusia." Kimberly menoleh, menatap profil samping wajah suaminya yang tegas diterangi cahaya bulan.
"Lalu sekarang, kenapa kamu membawaku ke sini? Bukankah ini tempat pelarian pribadimu?"
Justin membalikkan tubuhnya menghadap Kimberly, dia meraih kedua tangan istrinya, menggenggamnya erat di atas pagar kayu.
"Karena mulai hari ini, aku tidak butuh tempat pelarian lagi, Kim. Aku membawamu ke sini untuk menunjukkan duniaku yang sebenarnya dari sudut pandang yang berbeda. Aku ingin kau tahu bahwa di atas semua kekuasaan gelap yang kupunya di bawah sana, kau adalah satu-satunya pencapaian tertinggi dalam hidupku."
Justin merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil yang berbeda dari sebelumnya.
Ketika dia membukanya, sebuah cincin perak dengan berlian tunggal bermata safir biru berkilau indah di bawah sinar bulan.
Cincin itu terlihat sangat anggun, tidak berlebihan, namun memancarkan kemewahan yang berkelas.
"Di desa, aku membawamu dengan paksa tanpa persetujuanmu. Pernikahan kita terdaftar secara hukum karena kekuasaanku," ucap Justin, suaranya terdengar sangat rendah dan penuh kesungguhan.
"Malam ini, di bawah langit malam yang disaksikan bintang-bintang, aku ingin melamarmu secara resmi sebagai seorang pria yang mencintaimu, bukan sebagai Tuan Besar Mafia." Justin menatap lurus ke dalam manik mata Kimberly yang mulai berkaca-kaca karena haru.
"Kimberly, maukah kau dengan sukarela tetap berada di sampingku, menjadi kompas bagi jiwaku yang tersesat, dan membangun rumah tangga yang sesungguhnya bersamaku?"
Air mata kebahagiaan lolos dari sudut mata Kimberly, dia tidak pernah menyangka seorang pria yang begitu dominan dan angkuh bisa bersikap serendah hati ini demi mendapatkan ketulusan hatinya.
Segala keraguan yang tersisa di dalam dadanya menguap sepenuhnya.
"Iya, Justin. Aku mau," jawab Kimberly dengan suara bergetar namun penuh keyakinan.
Justin tersenyum lebar sebuah senyuman tulus yang sangat langka, dia mengambil cincin itu dan menyematkannya perlahan ke jari manis tangan kiri Kimberly, bersanding dengan gelang berlian yang sudah lebih dulu melingkar di pergelangan tangannya.
Setelah itu, Justin membawa tangan Kimberly ke bibirnya, mengecup punggung tangan istrinya dengan penuh takzim.
Kimberly menghambur ke dalam pelukan Justin, memeluk leher suaminya erat-erat, Justin membalas dekapan itu, mengangkat tubuh kecil Kimberly sedikit dari tanah dan memutarnya perlahan di bawah siraman cahaya bulan.
Udara malam yang dingin terasa hangat oleh getaran cinta yang menyelimuti kedua insan yang kini telah resmi menyatu dalam jiwa dan raga.
Saat mereka sedang menikmati keheningan yang damai dalam dekapan masing-masing, suara dering telepon genggam khusus milik Justin memecah keheningan.
Justin mengernyitkan dahi, merasa terganggu karena momen sakralnya terusik, dia mengeluarkan ponselnya dan melihat nama Marco tertera di layar, Justin mengangkatnya dengan nada dingin.
"Ada apa, Marco? Kupikir aku sudah bilang jangan menggangguku malam ini."
"Maaf mengganggu momen Anda, Tuan Besar," suara Marco di seberang telepon terdengar sangat mendesak dan penuh kewaspadaan.
"Informan kita di perbatasan barat baru saja melaporkan bahwa sisa-sisa kelompok luar yang terafiliasi dengan musuh lama ayah Anda mulai bergerak masuk ke pusat kota. Mereka tampaknya mencium adanya celah setelah pembersihan faksi Bramasta kemarin."
Mata Justin seketika menggelap, aura membunuhnya yang sempat meredup kini kembali bangkit dalam sekejap.
"Berapa banyak dari mereka?"
"Sekitar dua puluh orang bersenjata, Tuan. Mereka bergerak secara terpisah agar tidak memancing perhatian radar kita. Tapi target mereka jelas: kediaman utama Anda."
"Bodoh," desis Justin kejam.
"Mereka mengira singa sedang tertidur hanya karena aku sedang menata rumahku."
Justin mematikan sambungan telepon, dia menatap Kimberly yang menatapnya dengan pandangan cemas.
Kimberly bisa merasakan perubahan instan dari atmosfer tubuh Justin; suaminya telah kembali menjadi sang pemangsa.
"Ada masalah, Justin?" tanya Kimberly lembut, mencoba menenangkan suaminya dengan mengelus lengannya.
Justin menggenggam tangan Kimberly, menuntunnya kembali ke arah mobil dengan langkah yang cepat namun tetap protektif.
"Hanya beberapa tikus tanah yang mencoba mencari mati, Kim. Kita harus kembali ke mansion sekarang. Marco dan tim utama sudah bersiap."
Kimberly tidak panik seperti dulu, dia menggenggam balik tangan Justin dengan kuat saat mereka masuk ke dalam kabin mobil.
Cincin safir di jarinya berkilau, seolah menjadi simbol kekuatannya yang baru, badai di dunia bawah tanah mungkin tidak akan pernah benar-benar berhenti, namun malam ini, dengan sumpah suci yang telah terikat di bawah langit malam,
Kimberly tahu bahwa dia tidak akan pernah lagi menghadapi badai itu sendirian, bersama suaminya, sang Tuan Mafia, dia siap mempertahankan rumah tangga mereka dari ancaman apa pun yang mencoba merusaknya.