NovelToon NovelToon
Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Perjodohan / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 4.8
Nama Author: Kim O

Kehidupan Zenaya berubah menyenangkan saat Reagen, teman satu kelas yang disukainya sejak dulu, tiba-tiba meminta gadis itu untuk menjadi kekasihnya.

Ia pikir, Reagen adalah pria terbaik yang datang mengisi hidupnya. Namun, ternyata tidak demikian.

Bagi Reagen, perasaan Zenaya tak lebih dari seonggok sampah tak berarti. Dia dengan tega mempermainkan hati Zenaya dan menginjak-injak harga dirinya dalam sebuah pertaruhan konyol.

Luka yang diberikan Reagen membuat Zenaya berbalik membencinya. Rasa trauma yang diberikan pria itu membuat Zenaya bersumpah untuk tak pernah lagi membuka hatinya pada seorang pria mana pun.

Lalu, apa jadinya bila Zenaya tiba-tiba dipertemukan kembali dengan Reagen setelah 10 tahun berpisah? Terlebih, sebuah peristiwa pahit membuat dirinya terpaksa harus menerima pinangan pria itu, demi menjaga nama baik keluarga.

(REVISI BERTAHAP)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim O, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 : Malapetaka (2)

Kondisi tampak sangat sepi ketika mobil mewah Reagen membelah jalanan kota. Tanpa memerdulikan teriakan Zenaya, pria itu terus menekan pedal gasnya menuju suatu tempat.

"Hentikan mobilnya, Brengsek!" maki Zenaya sambil berusaha membuka seatbelt yang membelit tubuhnya. Namun, Reagen dengan cepat menahan tautan seatbelt tersebut menggunakan satu tangannya, agar gadis itu tidak melepaskan diri.

"Lepaskan aku! Aku mau pulang!" teriak Zenaya lagi. Air matanya tumpah. Berbagai macam ketakutan mulai muncul di benaknya, terlebih ketika mendapati sorot mata Reagen yang kini tampak berbeda.

Pria itu tak lagi terlihat sama seperti sebelumnya. Ada hal lain yang dirasakan Zenaya selain kemarahan dan kekecewaan.

"Diam!" bentak Reagen sembari terus mempercepat laju mobilnya, Meski beberapa kali sempat oleng, Reagen berusaha mengemudikan mobilnya dengan benar agar tidak terjadi kecelakaan.

Mendapat bentakan dari pria mabuk tersebut, Zenaya sontak bungkam. Dengan suara pelan dan gemetaran ia meminta Reagen untuk mengantarnya kembali ke rumah. "Aku hanya ingin pulang. Antar aku pulang dan kita akan bicara baik-baik di rumahku."

Mendengar hal tersebut Reagen tersenyum sinis. "Kamu pikir, apa yang aku lakukan kemarin?"

Zenaya terdiam. Tanpa disadari olehnya, mobil Reagen kini telah memasuki basement di sebuah gedung apartemen mewah.

Zenaya terkesiap. "Tempat apa ini? Kenapa kamu membawaku ke sini?" tanyanya dengan nada mendesak.

Alih-alih menjawab pertanyaan Zenaya, Reagen justru memarkirkan mobilnya dengan sembarang dan langsung menarik kasar lengan gadis itu agar keluar dari mobil.

"Lepaskan, Bajingan! Jangan macam-macam atau aku akan melaporkanmu ke polisi!" ancam Zenaya sembari berpegangan pada pintu mobil. Pikiran buruk tiba-tiba berkecamuk. Raut wajahnya bahkan sudah tampak pucat pasi.

Apa yang akan Reagen lakukan padanya? Mengapa pria itu membawanya ke sebuah apartemen?

"Ikut aku!" pekik Reagen.

"Tidak mau!" Zenaya membalas teriakan Reagen, walau suaranya terdengar lebih bergetar.

"Ikut!" Dengan tenaga yang ia miliki, Reagen berhasil menyeret gadis itu sampai ke depan pintu lift miliknya. Namun, Zenaya dengan cepat melepaskan cengkeramannya dan berlari menjauh.

Sayangnya, Reagen berhasil memeluk tubuh ramping Zenaya dari belakang dan langsung memanggul gadis itu agar tidak kabur.

Begitu pintu lift terbuka, Reagen masuk ke dalamnya dan baru menurunkan tubuh Zenaya.

Satu tamparan keras pun sontak dilayangkan gadis itu ke pipi kiri Reagen. "Bajingan!" umpat Zenaya. "Apa maksudmu dengan membawaku ke sini? Jangan berani macam-macam kalau tidak mau kuadukan kepada tunanganmu!" ancamnya kemudian.

"Siapa tunanganku?" tanya Reagen datar.

Zenaya mendecih. "Jangan pura-pura bodoh! Aku tahu, kamu dan Natalie telah bertunangan, tapi kamu dengan seenaknya malah mendatangiku terus! Apa kamu bilang saat itu? Cinta? Kamu memang benar-benar brengsek, Rey!"

Reagen terdiam. Hatinya berdenyut sakit tiap kali mendengar hinaan yang telrontar dari mulut Zenaya. "Natalie bohong, aku dan dia sama sekali tidak bertunangan. Aku bahkan sudah menjelaskannya pada Grace."

"Jangan bawa-bawa nama Grace!" sentak Zenaya. "Mau benar atau salah, aku tidak peduli, karena yang aku pedulikan adalah kedatanganmu yang sangat mengganggu!" sambungnya.

"Aku hanya ingin bicara padamu." Sorot mata Reagen berubah sendu.

"Tidak ada yang perlu dibicarakan! Aku hanya ingin hidup tenangdan itu sudah kudapatkan sebelum kamu datang kembali!" seru Zenaya dingin.

Reagen bergerak mendekati Zenaya. "Kamu bahkan sama sekali tidak tahu apa maksudku. Beri aku kesempatan untuk menjelaskan semua," ujarnya.

Zenaya mengangkat sebelah alisnya sambil sinis Reagan. "Apa yang perlu dijelaskan? Semua yang kamu lakukan dulu sudah cukup jelas, atau kamu menipuku lagi?" Zenaya tertawa sinis. "Jangan repot-repot melakukannya karena aku bukan lagi gadis bodoh seperti dulu. Sekarang lepaskan aku!"

"Zen," ucap Reagen sembari berusaha memegang tangan Zenaya. Namun, Zenaya dengan cepat menghentaknya kasar.

"Berhenti menyentuhku, Brengsek! Aku bukan wanita murahan yang biasa kamu bawa ke apartemenmu!"

Reagen sontak terkejut mendengar perkataan tajam Zenaya. "Apa maksudmu?"

"Aku bukan orang bodoh, Rey. Begitu mudahnya kamu membawaku ke sini, berarti kamu sudah terbiasa melakukannya dengan wanita lain, kan? Benar-benar pria menjijikan!" Dengan tatapan sedemikian rupa, Zenaya memperlihatkan seberapa besar raut jijiknya pada Reagen.

Reagen jelas tersinggung, sebab ia sama sekali tidak pernah membawa wanita manapun ke dalam apartemennya.

Dengan penuh amarah, Reagen mencengkeram erat kedua tangan Zenaya dan memojokkannya ke dinding lift. Niat pria itu untuk mengajak Zenaya bicara empat mata di sana mendadak sirna. Reagen memilih mewujudkan perkataan gadis tersebut.

Mata Zenaya sontak terbelalak saat Reagen dengan kurang ajar menciumi leher jenjangnya. Pria itu bahkan mulai menggigit-gigit kecil dan menghisap leher Zenaya sampai meninggalkan bekas kemerahan.

Mendapat perlakuan demikian, Zenaya berteriak dan memberontak. Namun, Reagen dengan sigap menahan tangan gadis itu agar tidak bergerak.

Begitu pintu lift terbuka Reagen segera menggendong Zenaya dan membantingnya ke atas ranjang besar yang berada di ujung ruangan. "Kamu bilang aku menjijikan? Kalau begitu akan kubuktikan, seberapa menjijikannya aku!"

Bulu kuduk Zenaya meremang seketika. Tubuhnya menggigil ketakutan. Ia tahu benar apa maksud dari perkataan Reagen barusan.

Dengan mata menyalang, Zenaya menelisik sekeliling ruangan guna menemukan benda-benda yang bisa ia gunakan untuk menghajar pria mabuk tersebut. Namun, nihil, apartemen tanpa sekat itu tampak begitu kosong dan sunyi. Hanya ada perabot dasar saja yang mengisi apartemen Reagen.

Zenaya mencoba bangkit dari ranjang, tetapi Reagen langsung menindih tubuhnya.

Ketika Zenaya kembali menampar bibir Reagen hingga berdarah, Reagen justru membalasnya dengan merobek pakaian gadis itu dan mencium bibirnya kasar.

"Hentikan, brengsek!" Zenaya berteriak-teriak sambil bersimbah air mata. Ia meronta dan berusaha menendang tubuh Reagen yang berada di atasnya. Namun, semua itu sia-sia. Kekuatan Reagen terasa ratusan kali lipat lebih besar darinya.

Bak orang kesetanan, Reagen mulai melucuti pakaian Zenaya dan menjelajahi tubuh putih mulusnya dengan hisapan-hisapan penuh nafsu.

Mata Zenaya terbelalak tanpa suara. Suaranya tak lagi mampu keluar karena terlalu banyak berteriak. Pandangan matanya pun mulai mengabur ketika hentakan-hentakan kuat dari Reagen mendominasi, hingga membuat gadis itu tak sadarkan diri seketika.

...***...

"Cut!" titah Adryan kepada seorang perawat yang kemudian menggunting benang jahit yang baru saja diikat pria itu.

Adryan lalu kembali menusukkan jarumnya pada kulit kepala sang pasien. "Cut!" katanya lagi.

Sang perawat kembali menggunting benang tersebut. Namun, saat Adryan hendak mengulangi jahitannya lagi, entah mengapa tangan pria itu tiba-tiba bergetar hebat. Needle holder yang berada di tangannya pun terhempas ke lantai seketika.

Dokter dan para perawat yang ada di sana kontan terdiam sejenak. Dokter Marcell yang menjadi tangan kedua Adryan bergegas menyuruh perawat lain untuk mengambil needle holder yang baru.

"Anda sudah terlalu lelah, Dok, biar saya saja yang selesaikan," tawarnya kemudian. Maklum saja, selama hampir 24 jam ini Adryan harus menangani tiga operasi besar sekaligus.

Adryan menghela napasnya. "Maafkan saya." Pria itu memundurkan tubuhnya lalu menyerahkan tugas tersebut pada Dokter Marcell. Sebenarnya menjahit luka bisa saja diselesaikan oleh dokter kedua atau perawat lain, tetapi Adryan terbiasa melakukannya sampai selesai.

"Terima kasih atas kerja kerasnya, Dok!" Para perawat dan dokter yang berada di sana serempak memberi salam pada Adryan, begitu pula sebaliknya.

Selepas keluar dari ruang operasi, Adryan menggerak-gerakkan kedua telapak tangannya yang masih sedikit gemetar. Batinnya mendadak gelisah. Entah mengapa, pikirannya tiba-tiba tertuju pada sang adik.

"Aku harus menghubunginya," kata Adryan dalam hati.

...***...

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima pagi ketika Zenaya tersadar dari pingsannya.

Gadis itu terkesiap begitu mendapati Reagen terduduk tepat di sebelahnya dengan raut wajah frustrasi. Tubuh pria itu sama sekali tidak berpakaian selain hanya selembar bed cover saja yang menutupi tubuh bagian bawahnya.

Melihat hal tersebut, Zenaya refleks menatap tubuhnya sendiri. Pakaian yang sebelumnya melekat rapi kini tercecer di lantai dalam keadaan mengenaskan. Sesuatu yang amat sakit bahkan dirasakan gadis itu, ketika ia mencoba bergerak.

"A–apa yang kamu lakukan padaku?" tanya Zenaya seraya menatap horor Reagen. Bulu kuduknya meremang seketika. Darah seolah tersedot habis dari wajah wanita itu.

Reagen menatap Zenaya dengan pandangan menyesal. Pria itu sepertinya telah sadar dari pengaruh alkohol.

"Zen, a–aku–" Belum selesai Reagen bicara, Zenaya sudah berteriak histeris.

Reagen, pria yang pernah ia cintai sepuluh tahun lalu, lagi-lagi menghancurkan harga dirinya. Bahkan, ia kini juga menghancurkan hidup Zenaya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Note:

Needle *h**older* *merupakan i**nstrument bedah yang digunakan untuk menjepit atau memegang needle hecting (jarum jahit) saat menjahit luka robek, atau operasi*.

1
Erna Rusdianti
cerita bagus,tp bacanya sambil nagis 😍😍
Zaichik Rania
apa yg membuat reygan setuju...... bukannya dia menolak mentah² taruhan itu
Mario
🥰🥰
Riya Hairi
cerita yang seru
Rahma Sari
awal baca ceritanya emosi oas mau ending gak kuat aku mewek...
Mei Saroha
loh. bukannya zenaya anak kelas 1 ? koq sebulan pacaran lgs kelulusan??
Hiatus: pelan coba ka diulang bacanya😊
total 1 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
lah udh tamat aja padahal belum lahiran.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
kenapa selalu maen rahasia²an segala sh, kalau mau gitu lbh baik ga usah menikah drpd terbuka jg takut krn alasan menyakiti itu konyol justru krn rahasia kamu nanti bakal jd semua orang lbh trsakiti rey bahkan mgkn saling menyalahkan... ini bkn hanya tntg hidupmu sendiri tp jg istri n jg klwrgamu yg harus kamu pikirkan..
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
aduuhh thor baru jg bahagia kok malah ditambah lg ujiannya baru sedikit brnafas lega padahal kehidupan zen, rey
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
akhirnya kebahagiaan datang lg pd kalian berdua, semoga langgeng trs jdkan pelajaran kedepannya utk lbh waspada n saling terbuka.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙙𝙪𝙪𝙝𝙝𝙝 𝙠𝙖𝙣𝙙𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙯𝙚𝙣 𝙜𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙩𝙪𝙝 𝙙𝙞 𝙩𝙞𝙢𝙥𝙖 𝙩𝙧𝙨 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙟𝙙 𝙠𝙖𝙨𝙞𝙖𝙣... 𝙢𝙜 𝙖𝙟𝙖 𝙜𝙖 𝙖𝙥𝙖2
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙨𝙚𝙩𝙪𝙟𝙪 𝙠𝙖𝙩𝙖 𝙯𝙚𝙣𝙖𝙮𝙖, 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙧𝙚𝙮 𝙜𝙖 𝙙𝙞𝙖𝙢 𝙨𝙟 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙚𝙣𝙩𝙪𝙝𝙖𝙣 𝙙𝙜𝙣 𝙡𝙚𝙖 𝙙𝙜𝙣 𝙖𝙡𝙖𝙨𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙖𝙣𝙘𝙖𝙢 𝙠𝙧𝙣 𝙩𝙖𝙠𝙪𝙩 𝙠𝙚𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙞𝙗𝙤𝙣𝙜𝙠𝙖𝙧 𝙩𝙥 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙟𝙪𝙨𝙩𝙧𝙪 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙢𝙗𝙖𝙝 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙗𝙚𝙨𝙖𝙧 𝙙𝙜𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙚𝙧𝙞𝙢𝙖 𝙗𝙚𝙜𝙞𝙩𝙪 𝙨𝙟 𝙙𝙞 𝙨𝙚𝙣𝙩𝙪𝙝 𝙛𝙞𝙨𝙞𝙠 𝙨𝙢 𝙡𝙚𝙖 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙤𝙡𝙖𝙠 𝙠𝙧𝙣 𝙨𝙖𝙩𝙪 𝙠𝙚𝙖𝙖𝙡𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙩𝙥 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙩𝙧𝙨 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙢𝙗𝙖𝙝 𝙠𝙚𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙞𝙣 𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙜𝙣 𝙞𝙖𝙩𝙧𝙞𝙢𝙪 𝙠𝙢 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙪𝙝 𝙨𝙜𝙣 𝙖𝙡𝙖𝙨𝙖𝙣 𝙧𝙨 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙜𝙖 𝙢𝙖𝙪 𝙣𝙮𝙚𝙣𝙩𝙪𝙝 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙚𝙣𝙩𝙖𝙠𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙖𝙣 𝙜𝙖 𝙢𝙖𝙨𝙪𝙠 𝙖𝙠𝙖𝙡 𝙖𝙡𝙖𝙨𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙝𝙖𝙙𝙚𝙪𝙪𝙝𝙝 𝙗𝙖𝙧𝙪 𝙟𝙜 𝙗𝙖𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙡𝙚𝙣𝙖 𝙟𝙚𝙗𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙡𝙚𝙖 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙧𝙚𝙮
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙬𝙖𝙙𝙪𝙪𝙝𝙝 𝙠𝙖𝙮𝙖𝙠𝙣𝙮𝙖 𝙡𝙚𝙖 𝙗𝙞𝙠𝙞𝙣 𝙪𝙡𝙖𝙝 𝙙𝙚𝙝 𝙙𝙜𝙣 𝙨𝙚𝙣𝙜𝙖𝙟𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙚𝙗𝙖𝙠 𝙧𝙬𝙖𝙜𝙚𝙣 𝙩𝙙𝙧 𝙢𝙜𝙠𝙣🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙝𝙢𝙢𝙢 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙣𝙜 𝙛𝙧𝙖𝙣𝙨 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙪 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙖𝙞𝙠.👍
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙖𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙞𝙩𝙪 𝙮𝙜 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙟𝙙 𝙟𝙤𝙙𝙤𝙝𝙣𝙮𝙖 𝙛𝙧𝙖𝙣𝙨.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙖𝙮𝙤𝙤 𝙛𝙧𝙖𝙣𝙨 𝙗𝙚𝙧𝙟𝙪𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙠𝙖𝙗𝙪𝙧 𝙗𝙞𝙖𝙧 𝙗𝙨 𝙣𝙜𝙪𝙣𝙜𝙠𝙖𝙥𝙞𝙣 𝙟𝙜 𝙨𝙞𝙖𝙥𝙖 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙯𝙚𝙣𝙖𝙮𝙖 𝙠𝙚𝙗𝙞𝙖𝙨𝙖𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙩𝙖𝙪 𝙙𝙡𝙢 𝙣𝙖𝙝𝙖𝙮𝙖 𝙢𝙨𝙝 𝙗𝙨 𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙟𝙜𝙣 𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙩𝙖𝙪 𝙨𝙪𝙖𝙢𝙞𝙢𝙪 𝙮𝙜 𝙗𝙣𝙧 𝙨𝙟 𝙯𝙚𝙣 𝙠𝙚𝙨𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙢𝙪 𝙙𝙡𝙢 𝙗𝙖𝙝𝙖𝙮𝙖
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙣𝙖𝙝 𝙠𝙖𝙣 𝙜𝙖𝙧𝙖2 𝙠𝙚 𝙚𝙜𝙤𝙞𝙨𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙧𝙚𝙮, 𝙯𝙚𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙮𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙟𝙙 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙗𝙖𝙝𝙖𝙮𝙖 𝙠𝙧𝙣 𝙨𝙩𝙚𝙧𝙨𝙨
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙡𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙙𝙧 𝙖𝙬𝙖𝙡 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙩𝙚𝙧𝙗𝙪𝙡𝙖 𝙨𝙢 𝙧𝙚𝙮, 𝙯𝙚𝙣 𝙖𝙥𝙖 𝙡𝙜 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙞𝙝𝙖𝙠 𝙠𝙚𝙩𝙞𝙜𝙖 𝙮𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙤𝙗𝙨𝙚𝙨𝙞 𝙥𝙖𝙙𝙖𝙢𝙞
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!