Berawal dari bermusuhan kemudian menjadi teman dekat. Rahma Dewanti dan teman-temannya memutuskan melanjutkan kuliah ke ibu kota setelah lulus SMA. Untuk meraih mimpi mereka.
Setelah sampai di ibu kota, ternyata Rahma tidak sengaja bertemu dengan ayah kandungnya. Selain itu dia juga menjadi korban pemerkosaan oleh teman dekat sendiri.
Kisah ini dibumbui dengan kisah cinta anak muda yang menguras emosi dan air mata.
Sanggupkah Rahma menjalani hidupnya setelah terjadi pemerkosaan? Akankah dia bisa menggapai mimpinya untuk menjadi orang sukses? Yuk baca kisah selengkapnya di Menggapai Mimpi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AYi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Tiara yang melihat Rahma dan Frans berjalan menjauh, langsung mengikuti keduanya. Dia hanya melihat dari kejauhan, bila mendekat tidak ada tempat untuk bersembunyi.
Tiara melihat Frans dan Rahma bersalaman tanpa bisa mendengar percakapan mereka menjadi penasaran dan salah sangka. Apalagi tampak juga oleh penglihatannya keduanya sama-sama tersenyum tanpa melepaskan genggaman mereka untuk waktu yang lama.
Tiara yang salah paham pun menjadi marah. Dia merasa Rahma mengkhianatinya.
"Kenapa kamu nggak terus terang saja, jika kamu juga mencintai Frans aku akan menjauh. Tapi kamu menusukku dari belakang! Apa ini yang dinamakan persahabatan?" ucap Tiara dengan emosi yang tinggi.
Rahma terkejut mendengar amarah sahabatnya itu, dia tidak tahu apa maksud Tiara berkata seperti itu.
"Kamu salah Tiara! Aku tidak pernah menusuk kamu dari belakang. Apapun yang terjadi padaku, aku selalu cerita dengan kamu. Apa yang kamu lihat tidak seperti apa yang kamu pikirkan!" jawab Rahma menjelaskan.
"Halah! Munafik kamu!" ucap Tiara ketus.
Air mata Rahma langsung bercucuran saat sahabat terbaiknya mengatakan dirinya munafik.
Melihat pertengkaran dua orang bersahabat itu, Frans pun melerai dan menjelaskan kenapa mereka menjauh dan ngobrol berdua saja tadi. Dari pertengkaran itu Frans jadi tahu jika Tiara menyukainya. Frans semakin merasa sulit untuk mendapatkan Rahma.
"Gue nggak belain Rahma, kami memang hanya sebatas ngobrol biasa. Kami tidak pacaran. Gue tadi mengajak Rahma ke sini karena Gue ingin minta maaf sama Dia. Selama ini Gue selalu membully Rahma, jadi sebelum kita pisah Gue tidak ingin merasa bersalah telah menyakiti perasaan orang lain. Bukan hanya ke Rahma saja yang Gue minta maaf, ke semua teman yang Gue ada salah!" jelas Frans panjang kali lebar.
"Gue minta maaf juga ke Lo kalau Gue banyak salah ke Lo. Gue juga minta Lo percaya ke sahabat Lo sendiri!" imbuh Frans.
Tiara merasa sangat malu sekali karena marah tanpa tahu kejadian yang sebenarnya. Tiara langsung meminta maaf pada Rahma telah salah paham.
"Maafin aku ya!" ucap Tiara sambil memeluk Rahma dengan air mata bercucuran. Mereka berdua saling berpelukan dengan air mata berderai.
Akhirnya mereka berbaikan kembali kemudian pulang setelah Tiara menyelesaikan semua pembayaran. Awalnya Frans sebelum pergi ingin membayar semuanya tapi dia takut ketahuan jika dia menaruh hati pada Rahma. Dia tidak ingin merusak persahabatan antara Rahma dan Tiara. Walau bagaimanapun juga hanya Tiara yang mau berteman dengan Rahma.
*
*
*
Rahma sampai di rumah saat hari sudah sore. Setelah menurunkan semua barang milik Rahma, Tiara langsung pulang karena takut kemalaman sampai rumah.
Rumah Tiara sebenarnya tidak satu arah perjalanan. Akan tetapi Tiara merasa bertanggung jawab untuk mengantarkan Rahma pulang karena dia yang mengajak Rahma mengadakan acara syukuran ulang tahun dan kelulusan.
"Makasih ya, Tiara! Hati-hati di jalan!" ucap Rahma sambil melambaikan tangannya.
Setelah mobil Tiara sudah jauh meninggalkannya, Rahma masuk ke rumahnya. Dia kesulitan membuka pintu rumah karena barang bawaannya. Akhirnya Rahma meletakkan barang bawaannya di kursi teras sebelum membuka pintu rumahnya.
"Bu! Rahma pulang!" teriak Rahma sambil membuka pintu lebar-lebar.
"Iya! Kenapa jam segini baru pulang, hmm?" tanya bu Sarifah mendekati anak perempuan satu-satunya.
Rahma mencium punggung tangan ibunya kemudian meletakkan tasnya di kursi ruang tamu. Rahma keluar rumah untuk mengambil kotak kado dan buket bunga yang dibawanya tadi dari sekolahan.
"Itu apa, Rahma?" tanya bu Sarifah penasaran dengan kotak yang dibawa Rahma.
"Rahma juga tidak tahu apa isinya, Bu!" Jawa Rahma meletakkan kotak itu di meja.
"Kado dari siapa itu?" tanya bu Sarifah lagi.
"Teman, Bu!" jawab Rahma dengan bibir sedikit tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu! Ibu mau lanjut memasak dulu, kamu lekas mandi! Sebentar lagi malam." kata bu Sarifah meninggalkan Rahma.
Setelah melepaskan sepatunya, Rahma membawa masuk tas dan kadonya. Tidak lupa buket bunga mawar. Setelah menyimpan semuanya di kamar, Rahma pun ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Malam harinya usai makan malam bersama ibunya, Rahma pun masuk ke kamarnya. Dia penasaran dengan isi kotak tadi.
"Apa ya isinya? Jangan-jangan pengirimnya sama ke tahun-tahun sebelumnya!" monolog Rahma sambil meletakkan telunjuk jari kanannya ke dagu.
Rahma menggaruk dagunya yang tidak gatal, kemudian mengetuknya pelan. Setelah itu dia mulai mengeksekusi kotak tersebut.
Rahma membukanya dengan hati-hati. Ini kali ketiganya dia membuka kado ulang tahun dari penggemar misteriusnya. Kedua kado tahun lalu masih terbungkus rapi, dia juga berniat membukanya sekarang.
Rahma mengeluarkan isi kotak itu, kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi. Sebuah jaket warna abu-abu, warna kesukaannya. Tak sengaja matanya menangkap tulisan di bagian da da sebelah kiri. Frahma.
Rahma mulai memakai jaket itu.
"Bagus banget! Kok dia tahu warna kesukaan aku sih? Sebenarnya siapa sih dia?" gumam Rahma.
Rahma pun akhirnya membuka semua kado yang telah diterimanya sejak dua tahun yang lalu untuk mengetahui siapa pengirimnya.