Kisah seru sepasang sahabat dari Masa Sekolah, Kuliah, hingga bekerja saat ini, Tidak ada yang tau jodoh seseorang, hingga akhirnya mereka di satukan dalam ikatan perjodohan oleh kedua orang tuanya
Munculah kisah-kisah seru dan kocak di perjalanan hidup keduanya, setelah liku-liku percintaan yang kandas di tengah jalan, Teman dan sahabat yang saling mendukung dengan semua kehebohanya hingga akhirnya keduanya bersatu dalam sebuah ikatan
Percikan Asmara dan cinta akhirnya tumbuh diantara keduanya, namun mampukah mereka menghadapi badai ujian yang datang menghantam hubungan yang di jalaninya sampai ke pelaminan?
Yuk ikuti Cerita selanjutnya
Kisah ini merupakan lanjutan dari karya Author yang pertama yaitu "POWER OF WOMAN"
Salam dari Sinho
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20 (Tuduhan)
Satria segera keluar dari Apartemen nya dan melajukan mobilnya menuju Apartemen Ira, Satria memencet bel pintu Apartemen namun tidak ada tanggapan dari Ira, akhirnya Satria yang sudah tau kode pintu Apartemen Ira langsung masuk tanpa permisi ke dalam, ternyata apartemen Ira sudah kosong
"Sia*lan, sudah berangkat rupanya si Ira" ucap lirih Satria yang tampak jengkel dan khawatir, sesaat kemudian dirinya kembali menghubungi Ira, namun Satria sangat terkejut ketika terdengar olehnya deringan telepon Ira yang tertinggal di atas meja makannya
"Sh*it, kenapa Ira lupa bawa Handphone nya sih, dasar sembrono" batin Satria semakin gusar, satria kembali keluar kamar dan membawa handphone Ira balik ke Apartemen nya
Sampai di Apartemen Satria sangat kaget ternyata sudah ada Imelda yang tersenyum manis di depan pintu Apartemennya
"Mel, ngapain kamu disini?"
"Kebetulan aku lewat area sini tadi habis dari rumah teman, jadi aku mampir"
"Oh, aku kira ada apa"
"Kamu sudah makan?"
"Belum, ini mau masak dulu buat makan"
"Nih aku sudah bawakan, kita makan bareng ya, bolehkan aku makan di apartemen kamu Sat"
"Hah, boleh, yok masuk"
Akhirnya mereka masuk ke dalam apartemen dan Imelda segera membantu Satria menyiapkan makanan yang sudah dia bawa untuk di siapkan di meja makan, setelah siap mereka berdua makan malam bersama dengan berbincang ringan sambil bercanda
*
Sementara itu Ronald dan Ira sudah sampai di kediaman Agam Wijaya, mereka segera turun untuk masuk ke dalam, rupanya sang tuan rumah sudah menyambut kedatangan mereka berdua, semuanya merasa senang dengan makan malamnya yang makin seru dengan celotehan kedua keponakan Ronald
"Tante Ira nginep sini saja ya, sekali-kali"
"Iya nemani kita main sama bercerita, kami suka Tante Ira kalau bercerita lucu loh om Ronald"
"Oh ya, wah seneng dong, kapan-kapan om juga mau di kasih cerita sama Tante Ira"
"Kalian ini, sudah makan dulu, nanti di lanjut ngomongnya habis makan" sahut Ira mengingatkan
Selesai makan kini mereka berpindah keruang tengah dan berbincang, sementara Ira lebih sibuk bermain dengan kedua anak sang bos yang sangat senang dengan kehadirannya
"Lihat Ira Ron, cantik ya, lembut dan suka sama anak kecil, ponakan kamu aja pada lengket gitu" ucap Agam
"Hem, aku juga menyukai nya kak"
"Kejar dong, perjuangkan!"
"Telat kak, dia udah Tunangan"
"Apa!, Benarkah?"
"Sama pengusaha Satria Adi Jaya"
"Loh, bukannya mereka hanya sahabatan?"
"Orang tua mereka menjodohkan, dan mereka masih mencoba untuk mencintai sebelum sampai ke jenjang pernikahan"
"Oh, gitu ya, terus kamu nyerah gitu aja?"
"Nggak tau kak, aku gak pengen merusak jodoh seseorang, jadi biarkan saja mereka, aku hanya akan memberikan perhatian seperlunya"
"Hemh, sabar Ron, kalau jodoh gak akan lari kemana"
"Iya kak"
Hingga akhirnya sudah pukul 9 malam, Ronald iseng mengirim Pesan ke handphone Ira untuk mengajaknya pulang
"Hai cantik, pulang yok, udah malam ini, kapan-kapan kita lanjut lagi permainannya, malam ini kamu sangat cantik Ira, pakek dulu bajumu"
Begitulah isi pesan WhatsApp yang dikirim ke handphone Ira, tanpa di sadari oleh Ronald kalau ternyata Ira tidak membawa handphone nya, tak lama kemudian Ronald merasa aneh ketika Ira masih terus bermain dengan keponakannya dan tidak ada bunyi suara handphone dari Ira
"Ir, aku kirim pesan ke handphone kamu lo, coba kamu lihat"
"Sorry, handphone ku ketinggalan di Apartemen, hehe'
"Elah, mangkanya kamu anteng aja dari tadi, yok pulang, dah jam sembilan malam tu"
"Hah, iya-iya, sorry, keenakan main sama mereka ni"
Kemudian keduanya Langsung pamit ke Agam dan istrinya untuk segera pulang dan mengantar Ira ke Apartemen nya, diperjalanan Ira menyandarkan kepalanya ke kursi mobil
"Ngantuk?" Tanya Ronald
"Dikit, eh iya, tadi kirim pesan apa?"
"Nanti kamu baca sendirilah"
"Hehe, Iya ,sorry ya Ron, aku suka kelupaan bawa handphone kalau pas keburu kayak tadi"
"Gak papa, tapi lain kali harus diingat, handphone itu penting saat kamu bepergian"
"Okey, siap"
Tak berapa lama kemudian, Ira sudah berada di depan pintu Apartemennya, Ronald mengantarkan sampai di depan pintu kemudian tersenyum dan mengucapkan selamat malam, Ira membalas senyumnya kemudian segera masuk ke dalam Apartemennya, kini yang dituju pertama oleh Ira adalah keberadaan handphonenya yang ketinggalan, Sampai sesaat kemudian terlihat secarik kertas di atas meja makan yang di tulis oleh Satria, dimana mengatakan bahwa handphone miliknya di bawa oleh Satria
"Sialan Satria, kenapa bawa Handphone ku segala sih, kira-kira apa yang dikirim oleh Ronald tadi, kalau kata-katanya aneh, bisa salah paham itu Satria" ucap Ira lirih kemudian segera keluar dari Apartemen nya lagi dan menuju mobilnya untuk mengambil handphone di Apartemen Satria
*
Sementara itu Satria sedang berbincang dengan Ira seputar dunia bisnis yang ingin di pelajari oleh Imelda, sesaat kemudian perbincangan segera berhenti saat handphone Ira berbunyi dan sebuah pesan Watshap masuk, Satria Yang sudah tau kode handphone Ira langsung membukanya
Betapa terkejut Satria saat melihat isi pesan dari Ronald, alam pikiran Satria langsung semrawut, dugaan yang tidak-tidak Langsung bergentayangan dan melayang-layang di benaknya
"Sialan, apa maksut pesannya ini, apa yang sedang di lakukan oleh mereka, kenapa menyuruh Ira memakai baju dan mengatakan kalau malam ini Ira sangat Cantik, apa mereka sedang_?"
"Akh!, Bre*ngsek!"
Umpat Satria agak keras hingga membuat Imelda kaget
"Ada apa Sat?"
"Gak ada" ucap Satria terdiam sesaat kemudian dan segera duduk di dekat Imelda kembali
"Kita lanjut nonton aja yok, nanggung ini loh, nanti selesai film ini aku akan segera pulang" ucap Imelda
"Iya" ucap Satria malas
Namun tiba-tiba saja Imelda menyandarkan tubuhnya manja di dada Satria, sontak Satria terdiam masih kaget dengan apa yang dilakukan oleh Imelda
Di saat itu juga pintu Apartemennya terbuka dan seseorang sudah berdiri disana sambil melebarkan matanya tak percaya dengan apa yang tengah dilakukan oleh Satria dan Imelda
"IRA?!"
Ucap Satria sangat terkejut melihat keberadaan Ira yang sudah ada di depan pintu Apartemen
Ira berusaha menahan sesak yang ada di dalam dadanya, dia tidak ingin terlihat kaget, lemah dan lari dari kenyataan, dengan langkah yang di buat setenang mungkin, Ira berjalan masuk mendekat ke arah Satria yang sudah berdiri di dekat Imelda
"Ir, aku bisa jelaskan ini" ucap Satria
"Gak perlu, aku cuma mau ambil Handphone ku, mana?!"
"Tapi Ir, ini tidak seperti yang kau lihat, aku dan Imelda_"
"Aku gak perduli apa yang kalian lakukan" ucap Ira sambil berjalan menuju ke sebuah meja dimana dia melihat handphone nya tergeletak di sana, dengan cepat Ira menyahut handphone kemudian berjalan cepat keluar dari Apartemen, tanpa menoleh ke arah Satria dan Imelda
"Ir, Ira!" Teriak Satria mengejar Ira keluar Apartemen, hingga kemudian menghadang jalan Ira
"Tunggu Ir, sungguh, aku dan Imelda tidak ada apa-apa, kami hanya menonton film dan ngobrol saja tadi"
"Sudah ngomongnya?, Aku gak tanya dan aku gak perduli Sat, aku sudah capek dan mau pulang, ngantuk"
"Capek, ngantuk?, Memang apa yang sudah kamu lakukan Sama Ronald itu?"
"Jangan ngaco ngomongnya, minggir!" Ucap Ira
"Jawab dulu, apa yang kalian lakukan?, Dia mengajakmu pulang dan memakai baju dulu di pesan Watshap nya, apa yang kalian lakukan, katakan Ira!"
"Jangan berbicara keras di depanku Satria!, Apa yang aku lakukan itu urusanku, dan apa yang kamu lakukan aku juga tidak ingin ikut campur, jadi, minggir!"
"Katakan, apa kau sudah tidur dengan Ronald, katakan!"
"Apa kau bilang?, Jadi kau menuduhku tidur dengan Ronald, setelah kau sendiri berpelukan mesra dengan Imelda di depan mataku?"
"Jawab dulu pertanyaan ku Ira!"
"Iya, memangnya kenapa kalau aku tidur dengan Ronald, apa peduli mu!"
"Bang*sat, jadi kalian selingkuh di belakangku, tega kamu melakukan itu Ir, tega kamu!"
"Tega mana denganmu yang sudah menuduhku tidur dengan Ronald, sementara dirimu sedang asik berpelukan dengan mantanmu itu"
"Jangan membalikkan fakta, kalau kamu sendiri yang sudah berbuat bejat di belakang ku!"
PLAK
Ira memukul dengan keras wajah Satria hingga membuatnya terdiam dan sangat terkejut
Bersambung
Kisah ini kelanjutan dari Karya Author yang pertama "POWER OF WOMAN"
Masih bisa Up sekali sehari 1 Episode
Jangan lupa berikan dukungan Author
LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMEN KOMEN KOMEN
FAVORIT FAVORIT FAVORIT
HADIAH HADIAH HADIAH
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE
Imanmu setipis kulit bawang di belah 1000 bang Sat.. 🤦🏻♀️🤦🏻♀️
Pantes mereka cocok karena karakternya sama!
Sama2 ngga bisa tegas ke perempuan!
Satria yang paling fatal!
Ntar klo sampe kehilangan perusahaan n Ira baru nyesel..
Makanya jadi laki2 kudu punya sikap!
Katanya pemilik perusahaan tapi ngga ada bijak2nya! 🤦🏻♀️
Menurutku Satria ini kurang tegas sebagai laki2 apalagi laki2 yg sudah punya istri
Tapi dari awal sebelum nikah pun Satria ini terlalu baik hingga lupaa batasan dg mantan
Bahkan setelah nikah pun masih ajaa ngga tegas.. seolah masih ngasu harapan dan mauu ajaa di bego2in sama Imelda
Harusnya sebagai laki2 yg sudah punya istri bisa ngasi batasan tegas sama Imelda 😤🤦🏻♀️