NovelToon NovelToon
Pembantu Kesayangan Tuan Abian

Pembantu Kesayangan Tuan Abian

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:2.1M
Nilai: 4.5
Nama Author: Titin

Rara Depina atau biasa di panggil Rara, terpaksa menggantikan ibunya yang sedang sakit sebagai Art di ruamah tuan muda Abian Abraham.

Rara bekerja tanpa sepengetahuan tuan muda Abian. Abian yang pergi kerja saat Art belum datang dan pulang saat Art sudah pergi membuat Rara bisa bekerja tanpa di ketahui Abian.

Apa jadinya saat tak sengaja Abian memergoki Rara tengah berada di apartemennya.

Dilema mulai muncul saat diam-diam Abian mulai jatuh cinta pada pembantu cantiknya itu, dan di tentang oleh keluarga besarnya yang telah memilihkan calon buat Abian.


Akankah Abian mampu mempertahankan Rara di sisinya, cuus baca kelanjutannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari pertama jadi istri

Ara mematut pantulan dirinya di cermin cantik, sangat cantik bahkan, tentu saja dia harus tampil cantik hari ini adalah hari pernikahannya dengan Bian, lelaki kaya begelar CEO dan sangat tampan.

Harusnya Ara senang dengan pernikahan ini, bukankah suaminya begitu sempurna? Benar Andai saja pernikahan ini atas dasar saling suka, tapi ini hanya demi tanggung jawab yang tak seharusnya.

"Ra cepatlah, mobil tuan Bian udah datang menjemput," ujar Ibu dengan suara cemprengnya.

"Iya sebentar bu."

Ara tak pergi sendiri, ada ibu dan Rt di perumahan mereka yang di minta sebagai saksi pernikahan mereka oleh Bian.

Mobil melaju ke kantor KUA di daerah tempat tingal mereka. Disana ternyata sudah menunggu Abian dan dua orang lainnya.

Ijab Kabul tak memakan waktu lama, Orang sekelas Bian takkan mengalami kesulitan mengucapkan kalimat Akad.

Seperti kata Abian pada Ara tempo hari, akan ada sesi foto untuk dokumentasi, tak banyak foto yang di ambil, cuma tiga kali, mereka berdua dan dengan seluruh pendamping nikah.

Sejenak Ara terpukau oleh pesona suaminya, saat dengan mesrah Bian memeluk pinggangnya, menatapnya dengan tatapan penuh kelembutan, walau hanya di saat pengambilan gambar.

Aroma tubuhnya yang khas membuat jantung Ara berdegup kencang, menghipnotis pikiran Ara, apa lagi saat Bian dengan begitu sopan mengajak ibunya bicara, duuh Bian kenapa tiba-tiba pesonan mu bisa keluar dan menghipnotis Ara.

"Bagaimana Ara kau setuju?" Tanya Bian tiba-tiba. Mengejutkan Ara yang tengah menghayalkan dirinya.

"Eh Iya," sahut Ara dengan senyum manis yang dia punya.

"Ya udah kalau gitu ibu pulang dulu, baik-baik jadi istri, tuan Bian imammu sekarang, perintahnya wajib di turuti, dengar ndok," ujar ibu memberi nasehat sembari memberi usapan lembut pada pundak anak sulungnya.

"Iya buk." Ara menatap haru wajah ibu, ada sesal di hatinya telah mengecewakan ibu dengan kejadian ini.

"Ya udah ibu pulang dulu ya." Sekali lagi ibu memeluk Ara sebelum kemudian melepas pelukannya dan berlalu pergi meninggalkan Ara.

"Tuan aku pulang dulu," ujar Ara seraya mengikuti langkah ibu.

"Loh, kamu sama tuan Bian Ra!" seru ibu seraya menghentikan langkah kakinya.

"Maksudnya?"

"Kamu pulang ke apartement bareng aku, bukannya kamu tadi sudah bilang iya." Bian bicara dengan menaikkan sebelah alisnya menatap Ara dengan intens.

"Aku, kapan?"

"Ihh anak ini, udah ikut suamimu sana ibu pulang," ujar ibu sembari memukul lengan Ara pelan.

Ara terpaksa mengangguk setuju. Ibu dan pak RT pulang diantar mobil Bian, sementara Ara dan sekertarisnya masuk mobil duluan beberapa saat kemudian barulah Bian menyusul mereka. Dia takut ada yang melihatnya di sini bareng Ara.

Sesampai di apartement Ara dan sekretaris Bian masuk apartemen terlebih dahulu sementara Bian menunggu di mobil. Untung saja tak banyak orang berkeliaran di sekitar apartement jadi Ara yang pakai kebaya tak jadi perhatian. langkah Ara terhenti tepat saat pintu lift yang terbuka, dia yang berniat masuk lift mengurungkan niatnya.

"Ra..."

Rendra menatap Ara dengan tatapan penuh, ada apa? Kenapa Rara berkebaya? Tapi Rendra tak punya kesabaran yang cukup menunggu penjelasan Rara, dengan kasar dia menyentak pergelangan tangan Ara membawanya masuk lift lalu dengan sigap menekan tombol dan pintu lift tertutup meninggalkan sekretaris Bian di luar.

"Siapa pria tadi, kenapa kau berpakaian seperti ini?" Rendra bertanya dengan napas memburu, pertanda emosinya sedang tak srtabil. Ara cuma tertunduk memainkan jemarinya satu sama lain.

"Ada apa, apa ada yang terlewat dari pantauanku? katakan Ra!" Sentak Rendra tak sabar, juga takut apa yang keluar dari bibir Ara bukan sesuatu yang dia inginkan.

"Dia sekretaris suamiku, maaf kak." Rendra melepas cekalannya pada tangan Ara, bukankah pria tadi sekretaris Bian, jadi Ara kini istri dari Abian Abraham?

"Apa yang terjadi Ra, sesuatu terjadi dan memaksamu harus menikahi Abian bukan? jawab Ra!" Rendra menyentuh pundah Rara menguncang tubuh itu pelan, Rara mengangguk ada bulir bening mengalir disudut mata Ara.

"Sial!" Bentak Rendra geram, dia sudah menduganya selama ini, tapi bodohnya dia terlalu santai menghadapi Bian.

"Lepaskan tanganmu!" Suara dingin dan dalam menyentak Rendra dan Ara seketika. Ara lepleks menjauhi Rendra.

"Ini kelakuanmu Ara! Kau lupa kau bukan lagi wanita lajang!" ucap Bian meninggi.

"Maaf tuan, sebaiknya kita masuk, tuan ingin kita jadi perhatian penghuni apartemen," ujar Rara berusaha menengahi, Bian menatapnya dengan tatapan yang tak bisa dia artikan. Lalu menarik pergelangan tangannya meninggalkan Rendra yang tak bisa berbuat banyak.

Bian Melepas genggamnya dengan kasar, jantungnya terasa mau meledak sekarang, hatinya panas membara, melihat Rendra seenaknya menyentuh bahu istrinya, dia tak terima.

"Mandilah bersihkan dirimu, ingat membersihkan rumah masih menjadi tugasmu! Aku mau kembali kekantor, kalau lapar kau kau bisa pesan online, jangan tinggalkan rumah tanpa izin ku!" Bian meletakkan uang merah seratus ribuan sebanyak lima lembar di meja, lalu pergi meninggalkan Ara yang hanya diam tanpa kata.

"Terserah padamu tuan Bian, asal tidak menggangu sekolah ku dan kau membiayai hidup it's okey." gumam Ara berusaha enjoy dengan hidupnya, selama ini berjuang mencari nafkah bukanlah hal yang mudah bagi keluarganya.

Seperti perintah Bian, dia mandi dan berganti baju dengan baju dinasnya, celana pendek di atas lutut dan baju kaos oblong, lalu mulai menjalankan peran sebagai babu suaminya.

Menjelang makan Siang Ara memesan makanan via antar tempat, seperti perintah Bian. Apapun itu, lima lembar uang merah tadi sudah mampu mendamaikan hatinya.

Drrtt!

Drrrtt!

Getar ponsel Ara mengusik kosentrasinya yang sedang nonton Drakor di saluran TV pavoritnya.

"Ra...!" Ara menjauhkan ponselnya dari telinga, teriakan Kiki membuat telinganya berdenging seketika.

"Apaan sih, teriak-teriak bikin sakit telinga tau gak!" Sungut Ara.

"Haaa biar denger!"

"Gak pake teriak juga dengar Ki," sahut Ara dengan bibir mengerucut.

"Fathan ngajak nonton Bioskop pergi yok," ujar Kiki bersemangat. Ara menatap uang yang masih beada di meja. pergi gak ya?

"Tapi aku lagi kerja Ki." Ara tak ingin menolak tapi tak berani pergi, pergi berarti melanggar perintah suaminya yang baru saja menukahinya beberapa jam yang lalu.

"Gak apa kami tunggu!"

"Baiklah."

Kalu hanya nonton sama Kiki dan fathan mungkin tuan Bian tak kan melarang, kecuali dengan Rendra yang memang musuh bebuyutan Bian, Ara bermonolok, mencari pembenaran atas tindakannya nanti.

Tepat pukul lima Sore, Ara tengah bersiap di kamarnya, mematut dirinya di cermin. dengan celana jeans hitam kemeja putih transparan Ara terlihat cantik.

Ara meraih tas hitam dan sepatu pansus berwarna hitam tanpa tumit di atas nakas, lalu bergegas keluar dari kamarnya. Langkahnya mendadak berhenti saat melewati ruang tengah, manik hitamnya menagkap bayangan Abian tengah duduk bersilang kaki menatap tajam kearahnya.

"Duduk," ujar Bian dengan suara yang begitu tenang.

"Tapi aku mau pergi tuan..."

"Duduk!" Intonasi yang berdeda terdengar di sana.

Tak ada pilihan lain selain mengikuti kemauan Bian, duduk manis di depannya.

"Kau lupa aku bilang apa? jangan pergi tanpa izinku! Tapi lihat apa yang kau lakukan, kau berniat pergi tanpa meminta izin dari ku, bukan begitu Ara?" Bian menatap istrinya tak berkedip, gadis putih abu-abu ini terlihat sangat dewasa dengan apa yang dia kenakan, segala yang melekat pada tubuhnya Bian sungguh menyukainya.

"Aku hanya ingin nonton dengan temanku, buaknkah keterlaluan kalau tuan menguringku di rumah, sedang tuan sendiri berkeliaran di luar," rengek Ara dengan mimik manja, dia tak perduli dengan ekspresi Bian yang terlihat kaget dengan ulah Ara. Dia bahkan berniat menjaili suaminya.

"Diamlah dirumah Ara!" kalimat tegas Dari Bian tak menghentikan niat Ara. Dia beranjak mendekat, duduk di samping Bian dengan paha saling menempel, Bian terperanjat kaget.

"Sedang apa kau!"

"Menurut tuan? apa yang bisa di lakukan bila hanya berdua saja seperti ini," ujar Ara dengan suara manja dan sangat menggoda. Kini Ara bahkan menempelkan tubuhnya lekat ke Bian, Bian benar-benar kelabakan di buat Ara dan Ara tak perduli, bukankah mereka sudah sah suami istri.

"Ara hentikan!" Sentak Bian seraya beringsut menjauh. Tapi arah mengikuti gerakannya dia beringsut mendekat.

"Gak akan! sebelum tuan memberiku izin nonton bareng temen ku," ujar Ara dengan suara mendayu diakhir kalimatnya. Jemari lentiknya menyentuh kancing kemeja Bian dan tuss.. satu kancing sukses terbuka.

"Hentikan Ra! pergilah dengan temanmu..." ujar Bian gusar. Ara tersenyum tipis.

"Eemm, terimakasih suamiku sayang," desah Ara seraya memberinya kecupan di udara yang mengarah kebibir Bian. Walau tak tersentuh tapi kecupan itu mampu membuat jantung Bian berpacu.

Dengan gerakan cepat Ara memakai sepatu pansusnya dan beranjak pergi.

"Ara tunggu!"

"Apa lagi?"

"Pakai ini," Bian memberikan salah satu card miliknya.

"Aku gak pandai memakainya, uang yang tuan kasih tadi masih cukup kalau hanya untuk nonton dan makan," ujar Ara dengan senyum, lalu beranjak pergi meninggalkan Bian, yang masih terpaku di tempatnya.

Happy reading.

Hay readers emak, kalau udah mampir tingalin jejaknya ya 🥰🥰🥰🙏🙏🙏

1
Baiq Belva
luar biasa
juwita
mampir
Umi Syafaah
semoga ceritanya menarik ya ,aku nyimak dulu
Dewi Siahaan
Kecewa
Dewi Siahaan
Buruk
Ai Siti
Biasa
Ruli Ana
Kecewa
Ruli Ana
Buruk
Farani Masykur
coba mampir thor
💟노르 아스마💟
Luar biasa
Christina Dariyem
Kecewa
Christina Dariyem
Buruk
yuni_nuraeni
Rika Fitria
keren ceritanya
Siti Zubaedah
Luar biasa
sherly
novel yg bagus, tq Thor...
sherly
ya jelas donk, situ siapa ngarep dilembutin bian... ngaca mbak
sherly
aku tu sebenarnya sebel dgn sikap araa.. masih aja ngk mudeng kalo si bian tu sayang, cintaaaaa banget Ama dia... . emang sih si bian tu posesif tp itu menunjukkan kalo dia sayang banget lagian boleh pergi tp TDK boleh ada teman laki yg ikut kalo menurutku itu hal yg wajar
sherly
netizennya plinplan...
sherly
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!