NovelToon NovelToon
BANDHANA

BANDHANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:185
Nilai: 5
Nama Author: Beatt

Bandhana memiliki makna hubungan yang mengikat satu hal dengan hal lainnya. Disini Anindita Paramitha memiliki hubungan yang sangat rumit dengan Zaverio Kusuma yang merupakan mantannya namun sekarang jadi kakak iparnya.
Vyan Syailendra, merupakan sahabat Anindita namun permusuhan dua keluarga membuat mereka saling membenci. Namun, hubungan mereka tidak pernah putus. mereka saling melindungi, meskipun membenci.
Dan waktu kelam itu terjadi, Anindita tewas ditangan keluarga suaminya sendiri. Vyan yang berusaha melindungi sahabatnya pun tewas. Zaverio pun membalas keluarganya sendiri dengan cara sadis dan saat semuanya selesai, dia berniat mengakhiri diri sendiri. Namun, dia malah terlempar ke tempat dimana dia bertemu dengan Anindita kecil yang berusia 5 tahun. Akankah, takdir Anindita Paramitha dapat diubah oleh Zaverio? Dan akankah rahasia kelam dapat terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

"HARDANA!" teriaknya, suaranya serak karena menangis. "APA YANG KAU LAKUKAN?!"

Tapi sebelum dia sampai di altar, dua bodyguard besar menghalangi jalannya, mencengkeram lengannya dengan kasar.

"Lepaskan Nyonya Kusuma!" Kirana berkata dengan nada yang lebih seperti perintah daripada permintaan.

"LEPAS!" Anindita meronta, mencoba melepaskan diri. "LEPASKAN AKU! HARDANA! LIHAT AKU!"

Tapi Hardana hanya berdiri di sana, menatapnya dengan ekspresi yang... kosong. Tidak ada penyesalan. Tidak ada rasa bersalah. Tidak ada cinta yang biasanya Anindita lihat di mata itu.

Seolah Anindita adalah orang asing.

"HARDANA KUSUMA! BAJINGAN! LIHAT AKU!" Anindita berteriak, suaranya pecah. "KUMOHON... LIHAT AKU..."

Seseorang melangkah mendekatinya—Lastri Kusuma, ibu mertua yang dulu selalu bersikap manis padanya.

"Ma..." Suara Anindita berubah menjadi isak tangis. "Ma, apa ini? Aku... aku menantumu. Aku istri Hardana. Aku—"

"Anindita Paramitha Kusuma." Lastri memanggil namanya dengan nada dingin yang membuat darah Anindita membeku. "CEO Paramitha Corp. Wanita yang hampir sempurna."

"Hampir," dia menekankan kata itu, matanya menatap Anindita dengan penuh kebencian yang tersembunyi di balik senyum palsu. "Tapi sayangnya, Dita... kau tidak bisa memberikan keturunan untuk keluarga Kusuma. Untuk apa kau dipertahankan?"

Seperti disambar petir. Anindita tidak bisa bernafas.

"Lihat adikmu itu." Lastri menunjuk Savitha yang tersenyum lebar, tangannya menggenggam tangan Hardana dengan posesif. "Savitha Paramitha. Dia sudah memberikan anak untuk putraku. Hardana. Gadis kecil yang cantik itu—Indira Kusuma. Anak mereka."

"A... apa?" Anindita menggeleng, dunianya berputar. "Tidak mungkin. Hardana bilang Indira itu anak sahabatnya, Eldrian dan Rania. Dia bilang—"

"Hardana berbohong." Lastri mengatakan itu dengan santai, seolah berbohong pada istri adalah hal yang wajar. "Rania hanyalah asisten. Eldrian memang sahabat Hardana, tapi dia tidak pernah menikah, tidak pernah punya anak. Semua itu cerita yang kami buat agar kau tidak curiga."

Lutut Anindita lemas. Dia hampir jatuh, tapi bodyguard yang mencengkeramnya menahannya tetap berdiri—bukan untuk membantunya, tapi untuk memastikan dia tetap melihat semua ini.

"Jadi..." Anindita menatap Hardana dengan mata yang hancur total. "Selama ini... selama lima tahun kita menikah... kau sudah punya wanita lain? Anak lain?"

Hardana tidak menjawab. Dia hanya menatapnya dengan tatapan kosong.

"JAWAB AKU!" Anindita berteriak dengan seluruh kekuatannya. "KITA MENIKAH LIMA TAHUN! LIMA TAHUN AKU JADI ISTRIMU! LIMA TAHUN AKU SETIA PADAMU! DAN KAU... KAU SUDAH PUNYA KELUARGA LAIN?!"

"Bawa dia keluar," kata Bramantara Kusuma—ayah mertua Anindita—dengan suara datar dan dingin. "Jangan biarkan dia mengganggu upacara putraku."

"TIDAK! JANGAN!" Anindita meronta saat bodyguard mulai menyeretnya. "HARDANA! KUMOHON! KITA BISA BICARA! APA SALAHKU?! APA YANG SALAH DENGAN KITA?!"

Di sudut ruangan, Kirana mencoba menolong. Tapi tiga bodyguard lain langsung menangkapnya, mengikat tangannya, dan menyeretnya ke ruangan gelap di belakang ballroom.

"LEPASKAN KIRANA!" teriak Anindita. "DIA TIDAK ADA HUBUNGAN DENGAN INI!"

"Pikirkan tentang dirimu sendiri, menantuku." Lastri tersenyum—senyum termanis yang paling kejam. "Atau... lebih tepatnya, mantan menantuku. Karena setelah ini, kau akan menandatangani surat perceraian."

"TIDAK! AKU TIDAK AKAN—"

Seorang pengacara muncul dengan dokumen di tangannya, menyodorkan pena ke arah Anindita.

"Tanda tangani, Nyonya Kusuma. Atau kami akan membuat hidupmu dan keluarga Paramitha menjadi neraka."

Anindita menatap dokumen itu—surat perceraian. Namanya sudah tercetak di sana, hanya menunggu tanda tangannya.

Dia menatap Hardana, berharap—masih berharap—suaminya akan menghentikan semua ini. Akan mengatakan ini hanya mimpi buruk. Akan memeluknya dan berkata semuanya akan baik-baik saja.

Tapi Hardana hanya berdiri di sana, tangan tergenggam dengan Savitha, wajahnya dingin seperti es.

"HARDANA!" Anindita berteriak dengan putus asa terakhir. "JANGAN LAKUKAN INI! AKU SEDANG HAMIL! AKU HAMIL ANAK KITA!"

Hening.

Untuk sejenak—hanya sejenak—Anindita melihat sesuatu di mata Hardana. Sesuatu seperti... goyah. Ragu.

Tapi kemudian Savitha membisikkan sesuatu di telinga Hardana, tangannya mengusap lengan suaminya dengan lembut, dan ekspresi Hardana kembali dingin.

"Jangan percaya dia," bisik Savitha cukup keras agar Anindita dengar. "Itu pasti akal-akalan Kakak untuk membuatmu bersalah. Kau tahu dia pengusaha sukses. Dia pintar memanipulasi."

Hardana mengangguk, dan berbalik, melanjutkan upacara seolah teriakan Anindita tidak berarti apa-apa.

Sesuatu di dalam Anindita patah. Benar-benar patah.

Dia tidak berteriak lagi. Dia tidak menangis lagi. Dia hanya... kosong.

Bodyguard menyeretnya keluar dari ballroom, tapi dia tidak melawan lagi. Kakinya menyeret di pasir, tubuhnya lemas seperti boneka yang talinya putus.

Di kepalanya, hanya satu pikiran yang berputar:

Dia tidak percaya. Dia tidak percaya aku hamil. Dia memilih wanita lain. Dia meninggalkanku.

Trauma terburuknya, ditinggalkan—menjadi kenyataan lagi.

Upacara berlanjut. Pastor mengucapkan janji suci. Hardana dan Savitha bertukar cincin. Ciuman pengantin. Tepuk tangan meriah.

Hardana Kusuma resmi menikahi Savitha Paramitha.

Dan di luar ballroom, Anindita berlutut di pasir pantai, tubuhnya gemetar, matanya kosong menatap laut yang gelap.

Penyakitnya kambuh. Takut ditinggalkan. Takut tidak dicintai. Takut tidak berharga.

Semua yang sudah dia kubur selama bertahun-tahun meledak keluar dalam sekejap.

"Kenapa?" bisiknya pada angin malam. "Kenapa selalu aku?"

Tapi angin tidak menjawab. Hanya suara ombak yang menghantam pantai, berulang-ulang, seperti tangisan yang tidak pernah berhenti.

Di dalam ballroom, setelah upacara selesai, Hardana berjalan keluar. Langkahnya membawanya ke tempat Anindita berlutut.

Dia berdiri di hadapan mantan istrinya—karena secara hukum, dokumen perceraian sudah ditandatangani paksa oleh pengacara dengan stempel palsu—menatapnya dari atas.

"Jangan berpura-pura yang paling tersakiti di sini," kata Hardana dengan suara dingin yang tidak pernah Anindita dengar sebelumnya. "Istriku. Atau lebih tepatnya... mantan istriku."

Anindita mengangkat wajahnya perlahan, menatap pria yang lima tahun tidur di sampingnya. "Apa... apa maksudmu?"

Hardana berjongkok, wajahnya sejajar dengan Anindita. Matanya—mata yang dulu selalu penuh cinta—sekarang penuh kebencian.

"Kau dan kakakku. Kak Zaverio." Setiap kata keluar seperti racun. "Kalian menjalani hubungan di belakangku. Aku tahu sejak awal kita menikah."

Anindita membeku. "Apa... tidak... itu tidak benar..."

"Jangan berbohong!" Hardana meninggikan suara. "Aku punya bukti! Foto kalian berdua! Percakapan kalian! Email kalian! Semuanya!"

"Tidak... Hardana, aku bersumpah, aku tidak pernah—"

"CUKUP!" Hardana berdiri. "Kita impas, Anindita. Kau selingkuh dengan kakakku, aku menikahi adikmu. Kita impas."

Dia meraih tangan Anindita, memaksanya berdiri—cengkeramannya kasar, bukan lembut seperti dulu.

"Dan soal kehamilanmu?" Hardana tertawa pahit. "Aku tidak bodoh. Itu pasti anak kakakku, bukan? Makanya kau sangat ingin memberitahuku? Agar aku mengira itu anakku dan bertanggung jawab?"

"TIDAK!" Anindita berteriak, air matanya mengalir deras. "Ini anakmu! Aku bersumpah demi Tuhan, ini anak kita! Aku tidak pernah—"

Tapi Hardana sudah melepaskan tangannya, berbalik, berjalan kembali ke ballroom di mana Savitha menunggunya dengan senyum kemenangan.

Savitha melangkah keluar sebentar, mendekati Anindita yang hancur total, dan membisikkan sesuatu yang hanya Anindita bisa dengar:

"Bagaimana, Kak? Kau suka hadiah ku? Aku bilang kan... ini kejutan spesial untukmu. Sekarang kau tahu rasanya kehilangan segalanya. Sama seperti yang aku rasakan... saat kau mengusir Mamaku dan menganggapku sebagai pengkhianat."

Anindita menatapnya dengan mata kosong, tidak punya tenaga lagi untuk marah.

Savitha tersenyum manis—senyum yang penuh kemenangan—dan berjalan kembali ke dalam, meninggalkan Anindita sendirian di kegelapan malam.

Anindita tidak tahu berapa lama dia berlutut di sana. Bisa jadi satu jam. Bisa jadi tiga jam. Waktu tidak berarti apa-apa lagi.

Yang dia tahu—dunianya sudah berakhir.

Suaminya menikahi adiknya. Keluarga yang dia percaya mengkhianatinya. Bayinya tidak dipercaya keberadaannya.

Dan yang paling menyakitkan—Hardana mengira dia selingkuh dengan Zaverio.

Bukti palsu. Foto palsu. Semua diatur oleh seseorang untuk menghancurkan pernikahannya.

Tapi oleh siapa? Dan untuk apa?

Anindita tidak peduli lagi. Dia tidak punya tenaga untuk peduli.

Tangannya melayang ke perutnya, mengusapnya lembut.

"Maafkan Mama, sayang," bisiknya dengan suara serak. "Papa tidak menginginkan kita. Papa pikir kau bukan anaknya"

Di kejauhan, suara musik pesta pernikahan masih terdengar. Tawa. Bahagia. Merayakan.

Sementara Anindita hancur sendirian di kegelapan.

...****************...

Sementara itu - Di tempat lain

Zaverio Kusuma baru keluar dari meeting penting dengan klien dari Jerman ketika ponselnya berdering keras. Sebuah pesan dari Kirana—pesan yang membuat darahnya membeku.

Dia membaca pesan itu, kemudian membaca lagi, tidak percaya dengan apa yang matanya lihat.

Tangannya gemetar. Wajahnya pucat.

"SIAL!" Dia membanting ponselnya ke meja, membuat semua orang di ruangan terkejut.

Tanpa permisi, tanpa penjelasan, Zaverio berlari keluar dari gedung, masuk ke mobil sport-nya, dan memacu kendaraan dengan kecepatan maksimal menuju Pulau Seribu.

Tahan, Dita. Tahan. Aku datang. Kumohon... kumohon bertahanlah.

Speedometer menunjukkan 180 km/jam dan terus naik.

Tapi apakah dia akan sempat?

Atau semuanya sudah terlambat?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!