NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti

Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Contest / Pengantin Pengganti / CEO
Popularitas:1.3M
Nilai: 4.3
Nama Author: _Sri.R06

(SEDANG TAHAP REVISI)

Maura tak pernah menyangka hidupnya akan serumit ini. Menjadi pengantin pengganti karena kakaknya menghilang, dan masih harus menghadapi lelaki pemilik mata tajam sekelam malam yang kini menjadi suaminya.

Tapi, memang dunia memiliki caranya sendiri untuk mempermainkan takdir mereka.

Karena Darren Aldarie Ganendra, yang terbiasa mengatur segalanya, justru kehilangan akal saat melihat perempuan itu tersenyum, bahkan dalam luka terdalamnya.


Lantas bagaimana kisah ini akan berjalan? Akankah cinta hadir dalam rasa sakit. Atau justru hancur dengan kebenaran yang dibawa takdir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _Sri.R06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Susu Kotak dan Senyuman

Darren seharusnya tidak peduli, seharusnya dia menyeret perempuan itu pergi dari kantornya dan kembali mengeluarkan kekesalannya. Tapi nyatanya, melihat Maura yang tersenyum hingga matanya menyipit membuat Darren terdiam.

Sorot mata lelaki itu tetap tajam, tapi dari bagaimana kelopak matanya mengerjap jelas Darren tengah memikirkan sesuatu.

Darren tidak tahu sejak kapan matanya terpaku pada pemandangan itu, pada perempuan yang telah membuat harinya berantakan tapi masih bisa tersenyum sembari membagikan susu kotak pada para stafnya.

Helaan napas lelaki itu terdengar, jemari tangan menyugar rambut gelap keabu-abuannya dengan frustrasi. “Bagaimana bisa aku dipercayakan istri seperti dia?”

Ah tunggu sebentar, sejak kapan Darren mulai mengakui Maura sebagai istrinya?

Namun gumaman Hayes-lah yang berhasil membuat Darren terganggu. “Benar, Tuan. Bagaimana Anda dipercayakan istri yang begitu manis?”

Darren menarik dasinya yang terasa mencekik leher. Helaan napas lelaki itu memburu ketika sorotnya seakan ingin menguliti Hayes hidup-hidup. “Bagaimana?”

“Ah?” Hayes bahkan tidak sadar jika apa yang ada di pikirannya keluar begitu saja. “Ya, saya hanya mengutarakan pendapat.” Tentu saja, seorang Hayes tidak akan menarik kembali kata-katanya.

Dan itu yang membuat Darren semakin geram. “Pendapatmu tidak diperlukan, Hayes.”

Maka Hayes, untuk kali itu saja memilih bungkam. Darren melangkahkan kakinya mendekat, dan berhenti ketika berdiri tepat di belakang Maura. Beberapa staf yang menyadari kehadiran bos mereka segera pamit bekerja, sementara yang lain masih sempat menatap penuh puja pada lelaki yang sudah beristri itu.

Sementara objek perhatian Darren kali itu menatap semua orang bingung. “Loh, aku belum selesai membagikan ini?” gumam Maura, yang masih bisa di dengar Darren dengan jelas.

Tapi barulah ketika Darren membungkuk hingga sisi wajahnya sejajar dengan wajah Maura hingga pipi mereka nyaris bersentuhan, Maura membeku.

“Sudah puas bersenang-senangnya, hm?”

Maura benar-benar mengira dirinya baru menimbulkan masalah besar. Perempuan itu bergidik ketika merasakan napas hangat Darren mengenai telinganya. Dengan kaki lemas Maura bergeser menjauh agar wajah mereka memiliki jarak aman, Maura baru memberanikan diri berbalik.

Mereka berhadapan kini.

Sementara itu para staf yang masih tersisa benar-benar pergi setelah mendapat lirikan dari Hayes. Lobi benar-benar sepi hanya menyisakan mereka bertiga saja.

“K-kak, aku—”

Darren menegakkan punggung. “Kenapa kamu di sini?” tanyanya, raut wajahnya datar seperti biasa.

Tentu saja Darren tahu alasan Maura berada di sini, hanya saja dia perlu mendengarnya langsung dari mulut perempuan itu.

“Maaf … aku seharusnya langsung pulang tadi. Maaf juga karena membagikan susuk kotak untuk staf Kakak, dan maaf karena datang ke perusahaan Kakak tanpa izin.  Maaf—”

“Saya bertanya alasan kamu di sini, Maura. Saya tidak sedang senggang mendengar permintaan maafmu.”

“Ya? Itu ….” Maura melirik pada Hayes, yang segera dibalas anggukan lelaki itu sekilas, sebuah tanda tanpa kata jika Maura bisa mengatakan semuanya dengan jujur. Tapi Darren yang terganggu, berpikir kenapa Maura melirik Hayes, malah bergeser menutupi pandangan Maura sepenuhnya hanya agar tertuju padanya saja.

Maura mengerjap pelan, mendadak gagap dihadapkan dengan Darren yang seperti ini. “Aku … mengantar proposal kerja sama yang berhasil aku selesaikan semalam. Aku tahu hasilnya tidak maksimal, aku hanya berharap itu bisa membantu ….” Suaranya semakin mengecil di akhir kalimat, apalagi dengan tatapan tajam Darren, rasanya Maura seperti makhluk lemah yang bahkan tidak sanggup untuk sekadar menatap mata lelaki itu saja.

“Lalu?” tanya Darren lagi.

Maura mengangkat kepalanya, menatap Darren dengan alis terangkat. “Lalu?” Dia malah balik bertanya.

“Kenapa datang dengan baju tidur?” Darren menilik penampilan Maura dari atas ke bawah.

Entah untuk alasan apa pipi perempuan itu memerah, Maura menarik cardigan menutupi atasannya. “Aku … belum sempat ganti pakaian.”

“Bukannya Hayes memintamu menunggu di ruangan saya?”

“Iya … tapi aku takut Kakak akan keberatan—”

“Saya lebih keberatan kamu keluar seperti ini.”

Maura menunduk lebih dalam. “Maaf, aku benar-benar mempermalukan Kakak.”

Darren berdecak. “Sudah tahu masih tetap melakukannya.” Dengan gerakan ringan Darren melepas jasnya, dan yang Maura sadari setelah itu adalah sesuatu telah menutupi kepalanya begitu saja.

Maura mendongak, menarik jas Darren dari kepalanya. Dia menatap lelaki itu dengan mata bulatnya yang menyorot bingung.

Dan untuk beberapa alasan Darren mengalihkan pandangan dari netra perempuan itu. “Pakai,” katanya.

“Tidak perlu—”

“Saya tidak suka memberitahu dua kali apa kamu kurang jelas?”

“Tapi ini milik Kakak. Aku tidak bisa memakainya.”

“Apa kamu tidak sadar banyak lelaki yang memperhatikan penampilan berantakanmu itu?” Darren menegaskan kata-katanya. “Berapa kali saya katakan untuk tidak mempermalukan nama keluarga Ganendra?”

Di belakang Darren, Hayes berkata datar. “Dalam artian lain ‘jangan membuat Tuan Cemburu—” Hayes meringis kecil ketika sesuatu menginjak sepatunya begitu keras.

Memang Tuannya begitu kompeten dalam hal apapun, bahkan membuat orang lain diam pun dia begitu mampu. Hayes berusaha menggeser kakinya tapi injakan Darren pada bagian depan sepatunya malah lebih keras.

Ini penindasan terhadap bawahan bukan?!

“Tuan Hayes baik-baik saja?” Maura mengernyit melihat Hayes tampak menahan sakit, tapi raut wajah lelaki itu masih begitu datar.

Darren yang menjawab pertanyaan itu. “Kenapa kamu peduli?”

“Ah, bukan seperti itu—”

Darren menghembuskan napas kasar. “Pakai saja, apa kamu tidak mengerti!”

Dan karena nada suara Darren terdengar kesal, Maura buru-buru menggunakan jas yang ternyata kebesaran di tubuhnya. Pakaian itu menggantung di atas lutut, kedua lengannya menelan Maura habis.

Darren memejamkan mata sejenak. “Kenapa menjadi lebih parah?!” gumaman Darren keluar pelan. Saat itu dia baru melepaskan injakan kakinya di sepatu Hayes, lelaki di belakangnya menghela napas lega, mengetuk sepatunya yang kotor. Padahal Hayes biasanya begitu menjaga kebersihan.

“Apa?” Maura bertanya setelah mendengar Darren seperti bergumam sesuatu.

Darren menggeleng kecil. “Tidak ada.”

Kemudian hening. Sampai Maura yang tak tahan dengan suasana ini hanya bisa memilin ujung jas Darren dengan jari-jarinya yang tak terlihat. “Mm, Kak Darren aku—”

“Terima kasih,” kata Darren tiba-tiba.

“Hah?” Maura mendongak.

“Perlu saya ulangi?” tanya Darren, dengan alis terangkat.

Maura menggeleng cepat-cepat. “Bukan masalah, itu juga kesalahanku karena merusak pekerjaan Kak Darren, jadi sudah tugasku untuk memperbaikinya.” Senyum kecil terulas di bibirnya. “Lagi pula, aku hanya menambahkan sudut pandangku agar lebih sesuai dengan Harland Global. Selebihnya aku hanya menyusun kembali sesuai ide kerangka yang Kakak buat.”

Kernyitan Darren terlihat saat dia berkata, “Kamu mengingat catatan saya terakhir kali hanya dalam sekali melihat?” tanya Darren, nada suaranya tetap tenang. Tapi jelas ada ketertarikan samar di sana.

“Aku hanya mengingat garis besarnya saja, aku yakin jika Kakak yang membuatnya akan jauh lebih baik.”

Darren tak menanggapi setelahnya, lelaki itu memasukkan tangannya ke dalam saku, bersikap lebih santai. “Kapan kamu pulang?”

Maura mengerjap pelan. Hampir bertanya lagi tapi segera mengangguk dengan senyum kecil. “Iya, ini … aku juga akan segera pulang.”

“Ya … baiklah.”

Lalu kembali hening, Hayes di belakang mereka semakin bingung dengan interaksi Tuan dan Nonanya ini. Jelaslah mereka seperti ingin berbicara tapi tak ada yang ingin memulai percakapan lebih panjang.

Tidak mungkin, kan, Hayes yang memperpanjang percakapan? Bisa-bisa dia kembali mendapat injakan di kakinya yang lain nanti.

Namun beberapa detik hening itu akhirnya dipecah oleh Maura yang segera berbalik menuju kotak dus di atas meja resepsionis. Dia mengambil dua susu kotak dari dalam dus, satu dengan rasa coklat dan satu lagi rasa stroberi.

Dengan penuh semangat Maura menyodorkan kotak susu itu pada dua lelaki di depannya. “Untuk kalian” Maura mengulas senyum tulus. “Aku sudah membagikan pada yang lain. Jadi … ini juga untuk kalian.”

Sementara Hayes bergeser ke samping Darren. Darren sendiri menatap susu kotak di tangan Maura lalu wajah perempuan itu yang penuh harap. “Saya bukan anak kecil,” ujar Darren akhirnya.

Maura menghela napas pelan, jelas dia kecewa. Tapi ketika Maura berpikir Hayes juga akan menolaknya, susu kotak di tangannya direbut tiba-tiba membuat perempuan itu tersentak kecil.

“Saya bisa menoleransinya,” kata Hayes, dengan anggukan tenang. “Terima kasih atas hadiahnya, Nona.”

Maura mengembangkan senyum penuh bahagia. Menaruh kedua tangannya di belakang punggung dengan anggukan kecil. “Senang kamu menerimanya, Tuan Hayes.”

“Hayes saja, Nona.”

Sementara Darren di antara mereka menghembuskan napas kasar. Matanya menajam ketika menatap Hayes dengan bibir berkedut jengkel. Namun yang ditatap masih begitu profesional dalam menjaga ekspresi wajah.

Pada akhirnya Darren tak bisa menahan kekesalan dalam nada suaranya.“Kenapa kau menerimanya?!”

Hayes menatap Darren lalu pada Maura yang menatap Darren bingung. “Kenapa saya tidak bisa menerimanya, Tuan?”

“Karena aku tidak terima—” Darren segera meralat ucapannya. “Karena aku tidak menerimanya maka kau juga tidak bisa.”

“Tapi ini diluar pekerjaan.”

“Kalau begitu aku harus benar-benar memecatmu agar terbebas dari pekerjaan!”

Sementara Darren pergi begitu saja Hayes hanya meneguk susu kotak rasa stroberi itu penuh khidmat.

Maura di sisi lain meringis kecil. “Kamu tidak akan benar-benar dipecat, kan, Hayes?”

Hayes mengangguk kecil. “Tuan Darren sepertinya sedang mengalami masalah emosional,” katanya, tidak sesuai konteks, membuat Maura bingung dengan jawaban yang diberikan lelaki itu.

...༺ ❦❦❦ ༻...

.......

.......

.......

Salam, Aci.

Telah direvisi,

3/12/2025

1
Dewi Fajar
ibu nya kok ngomong nya gitu ya ke Maura..kalo vallerie sudah ditemukan Maura boleh meninggalkan daren..itu ibuk atau apa ? tega banget kalimat nya.dikira pernikahan itu barang yang bisa di ganti ganti?
Siti Fathonah
lanjuuuuttt
Dina Ningrum
bagus ceritanya
Dina Ningrum
Buruk
Siti Fathonah
lanjuuuuttt
Gadis Puspa Kartika
Luar biasa
syahira alifa
si ulet keket Rey pergi,, datang lagi wanita medusa si valleri
syahira alifa
si Rey ini bego apa oon sih,, dibilangin Darren cuma nganggap Rey sebagai adik terus aja berharap..dasar stress sakit jiwa
syahira alifa
kenapa gak biarin aja si bodoh Rey lompat bunuh diri..
syahira alifa
udah tau si Rey ingin Darren,,eh Maura malah nanya lagi..
syahira alifa
heran deh sama orang yang karena cintanya di tolak nekat bunuh diri..
syahira alifa
Maura lelet banget sih,,gemes banget
Queen Aiyana
Udah ku duga , Robert sialan !
Rita Riau
kan bener,,, Rey pergi Vallery datang
yg ini pasti lebih ga tau diri🤔🤭🙄
Rita Riau
Rey sadar Vilerie yang datang jadi ulet🤔🤭
Rita Riau
stres bin sakit jiwa si Rey 🙄🙄
Rita Riau
umpan tak dimakan ikan,,,, buaya kali tuh yg kepincut wkwkwk 😬🤪
Rita Riau
bibit pelakor kayak nih🤔🤭🙄
Rita Riau
dari pada berdebat upaedah lebih baik bergerak cepat sebelum Maura lebih jauh 🙄🙄🙄
A.R
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!