NovelToon NovelToon
Menantu, Tolong Ampuni Aku

Menantu, Tolong Ampuni Aku

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

"Arga Pratama menjalani dua tahun sebagai menantu paling dihina di Jakarta. Keluarga istrinya memperlakukannya seperti benalu. Dia menanggung semuanya dalam diam.

Yang tidak ada yang tahu: dia adalah Acrux, investor anonim di balik Cakra Capital — kekayaan ratusan triliun dan masa lalu militer yang dirahasiakan pemerintah.

Sekarang, satu per satu, mereka akan tahu kebenarannya — dan menyesal."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 031: Keputusan untuk Mengundurkan Diri

Kemenangan di ruang dewan tidak membuat Kiara Hartono tidur nyenyak.

Selama tiga malam setelah rapat itu, ia tetap datang ke kantor sebelum pukul delapan. Ia menandatangani dokumen, memimpin rapat, memeriksa laporan penjualan, mengoreksi strategi distribusi, dan menjawab email seperti biasa.

Dari luar, ia terlihat menang.

Dari dalam, ia merasa seperti seseorang yang baru keluar dari kebakaran lalu diminta kembali bekerja di gedung yang sama.

Di kantor CEO, map hitam dari Bu Kartika masih berada di laci paling atas. Setiap kali Kiara membuka laci untuk mengambil pulpen, ia melihat sudut map itu dan mengingat wajah Hendra ketika mendengar kata tanggung jawab pribadi.

Ia menang karena mereka takut hukum. Rasa hormat belum pernah menjadi alasan mereka berhenti menyerang.

Sinta Rahayu masuk membawa laporan mingguan.

"Kamu belum makan siang," katanya.

Kiara menandatangani satu halaman. "Nanti."

"Kamu bilang nanti sejak jam sebelas."

"Berarti sebentar lagi konsisten."

Sinta tidak tertawa.

Kiara mengangkat wajah. "Aku baik-baik saja."

"Tidak."

Kata itu pelan, tetapi tidak memberi ruang.

Kiara meletakkan pena.

Sinta menutup pintu, lalu duduk di kursi seberang tanpa diminta. Ia tidak berbicara sebagai bawahan. Hari itu, ia berbicara sebagai orang yang cukup lama melihat Kiara menahan terlalu banyak hal.

"Kamu menang dari Nishikura," kata Sinta. "Tapi kamu terlihat seperti kalah dari tempat ini."

Kiara menatap jendela.

Jakarta di luar berkilau, penuh gedung yang selalu tampak lebih kokoh dari orang-orang di dalamnya.

"Aku lahir di keluarga ini," katanya. "Aku dilatih untuk menjalankan perusahaan ini. Semua orang bilang ini tugasku."

"Tugas atau hukuman?"

Kiara diam.

Pertanyaan itu tidak keras, tetapi menembus lebih dalam daripada teriakan Ratna.

"Aku dulu suka menggambar baju," kata Kiara akhirnya.

Sinta tidak menyela.

"Waktu SMA, aku punya buku sketsa. Aku menggambar kebaya modern, jaket, gaun kerja, bahkan seragam toko. Aku suka memikirkan bagaimana pakaian bisa membuat perempuan merasa berdiri lebih tegak. Bu Agung melihatnya sekali dan berkata, hobi bagus, tapi keluarga kita tidak membesarkanmu untuk menjadi penjahit."

Ia tertawa kecil, tanpa bahagia.

"Setelah itu, aku belajar laporan keuangan."

Sinta menatapnya lama.

"Kamu selalu hidup untuk ekspektasi orang lain."

"Aku CEO."

"Kamu manusia dulu."

Kalimat itu membuat mata Kiara panas.

Ia memalingkan wajah. Jika ia mulai menangis di kantor ini, semua dinding terasa akan runtuh.

"Kalau aku pergi," katanya, "mereka akan bilang aku tidak bertanggung jawab."

"Mereka sudah mengatakan apa pun yang menguntungkan mereka."

"Bu Agung akan marah."

"Bu Agung selalu marah ketika dunia tidak bergerak sesuai tongkatnya."

Kiara hampir tersenyum.

Sinta mencondongkan tubuh.

"Pertanyaannya bukan apakah mereka akan marah. Pertanyaannya, apakah kamu mau menghabiskan hidupmu membuktikan diri kepada orang yang hanya berhenti menekanmu ketika ada risiko hukum?"

Ruangan itu sunyi.

Di luar, seorang sekretaris mengetuk pintu, lalu batal masuk ketika melihat wajah Sinta.

Kiara membuka laci.

Ia mengeluarkan selembar kertas kosong.

Sinta menatap kertas itu, lalu Kiara.

"Kamu yakin?"

"Tidak."

Kiara mengambil pena.

"Tapi aku lebih takut kalau tidak pernah melakukannya."

Surat pengunduran diri itu tidak panjang.

Ia menulis dengan bahasa resmi, menyebut masa transisi, tanggung jawab penyerahan pekerjaan, kesediaan membantu proses peralihan, dan alasan pribadi untuk mengejar arah hidup yang berbeda. Tidak ada kalimat marah. Tidak ada tuduhan. Tidak ada drama.

Justru karena itu, surat itu terasa final.

Ketika ia menandatangani nama Kiara Hartono di bagian bawah, tangannya bergetar sedikit.

Sinta melihatnya.

"Aku akan tetap membantumu sampai transisi selesai."

"Kamu tidak harus."

"Aku tahu. Itu sebabnya aku mau."

Berita itu meledak di Rumah Anggrek sebelum sore.

Ratna menelepon tujuh kali.

Bimo mengirim pesan panjang tentang tanggung jawab keluarga.

Galang mengirim satu kalimat: akhirnya sadar juga.

Kiara tidak membalas semuanya.

Ia justru memanggil sekretaris perusahaan dan kepala HR ke ruangannya.

"Siapkan proses transisi resmi," katanya. "Tidak ada pengumuman emosional. Tidak ada kebocoran sebelum surat masuk ke dewan. Semua agenda minggu ini tetap jalan."

Sekretaris perusahaan menatapnya dengan wajah pucat. "Bu Kiara, apakah ini keputusan final?"

"Ya."

"Apakah ada tekanan dari keluarga?"

Kiara berhenti sebentar.

Pertanyaan itu punya konsekuensi hukum jika dijawab sembarangan.

"Keputusan ini saya ambil sendiri. Tapi saya ingin semua dokumen rapi, supaya tidak ada pihak yang bisa memelintir alasan saya."

Kepala HR mengangguk pelan. Ada rasa sedih di wajahnya, tetapi juga hormat yang tidak biasa Kiara lihat di rumahnya sendiri.

"Baik, Bu. Kami akan bantu prosesnya."

Setelah mereka keluar, Kiara berdiri di tengah kantor CEO yang selama bertahun-tahun menjadi ruang paling dikenalnya.

Meja ini dipilih Bu Agung.

Kursi ini dulu milik Bimo sebelum ia mundur dari operasional.

Lukisan di belakangnya dipasang Ratna karena menurutnya seorang CEO muda membutuhkan latar yang lebih berwibawa.

Hampir tidak ada benda di ruangan itu yang benar-benar ia pilih sendiri.

Kesadaran itu datang terlambat, tetapi sangat jelas.

Kiara membuka laci bawah dan mengambil buku sketsa lama yang selama ini ia sembunyikan di antara folder pajak pribadi. Sampulnya sudah kusam. Beberapa halaman hampir lepas. Di dalamnya ada gambar-gambar pakaian yang ia buat bertahun-tahun lalu: gaun kerja dengan garis kuat, kebaya ringan untuk perempuan yang harus bergerak cepat, jaket dengan saku tersembunyi untuk kartu akses dan ponsel.

Ia menyentuh satu sketsa.

Ternyata bagian dirinya itu belum mati.

Ia hanya dikunci terlalu lama.

Bu Agung tidak menelepon.

Ia hanya mengirim pesan melalui sekretaris keluarga:

Datang malam ini.

Kiara membaca pesan itu, lalu mematikan layar.

Malam itu ia tidak pergi ke Rumah Anggrek.

Ia pergi ke Villa Puncak.

Arga sedang berada di teras belakang ketika ia datang. Ia tidak tampak terkejut. Mungkin Gacrux sudah tahu. Mungkin Dinda. Mungkin seluruh jaringan Arga selalu bergerak lebih cepat daripada penjelasan manusia biasa.

Namun ketika Kiara duduk di sampingnya, ia tidak memulai dengan pertanyaan.

"Aku mengundurkan diri," katanya.

Arga hanya menoleh.

"Dari CEO?"

"Ya."

"Kapan efektif?"

"Setelah masa transisi disetujui. Aku akan pastikan operasional tidak jatuh."

"Aku tahu."

Kiara menatapnya. "Kamu tidak mau bilang aku gegabah?"

"Apakah kamu gegabah?"

"Tidak."

"Kalau begitu kenapa aku harus bilang begitu?"

Jawaban itu begitu sederhana sampai Kiara tertawa pelan.

Ia memandang lampu Jakarta di kejauhan.

"Aku ingin melakukan sesuatu yang benar-benar milikku."

"Apa?"

"Aku ingin membuat brand pakaian."

Arga tidak berkata apa-apa selama beberapa detik.

Kiara mulai merasa cemas. "Kedengarannya kekanak-kanakan, ya?"

"Tidak."

"Keluargaku pasti akan bilang begitu."

"Keluargamu juga pernah bilang aku benalu. Mereka tidak selalu menjadi standar penilaian yang baik."

Kali ini Kiara benar-benar tersenyum.

"Aku dulu suka desain. Aku tahu bisnis mode tidak mudah. Aku tahu aku mungkin gagal. Tapi setidaknya kalau gagal, itu kegagalanku sendiri."

Arga menatapnya, dan kali ini tatapannya tidak seperti orang yang sedang menyimpan rahasia besar.

Ia hanya terlihat seperti seseorang yang mendengar.

"Aku mendukungmu," katanya.

Empat kata itu membuat tenggorokan Kiara tercekat.

Arga menolong tanpa syarat, tanpa hitungan keluarga, tanpa pertanyaan tentang keuntungan, reputasi, atau apa kata Bu Agung.

"Aku belum punya semuanya," kata Kiara. "Hanya tabungan, sedikit jaringan, dan ide yang sudah terlalu lama disimpan."

"Itu cukup untuk mulai."

Kiara menatap kota.

Untuk pertama kalinya, Jakarta tidak terlihat seperti peta kewajiban.

Ia terlihat seperti tempat yang masih mungkin ia pilih sendiri.

"Aku ingin membuka brand-ku sendiri," katanya pelan. "Dewi Busana."

Arga tersenyum.

"Kalau begitu," katanya, "mulai."

1
Solardy Lardy
joooss👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!