NovelToon NovelToon
Sisi Gelap Timbangan (The Scale & The Shadow)

Sisi Gelap Timbangan (The Scale & The Shadow)

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Sistem
Popularitas:343
Nilai: 5
Nama Author: yrp putri

Seorang Hakim Ketua yang menjunjung tinggi keadilan harus memilih antara hukum, ayahnya, dan cinta kelamnya pada seorang buronan nomor satu yang pernah menghancurkan masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yrp putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Paradoks: Mencintai Sang Bayangan

​"...aku tidak akan segan-segan membunuhmu dengan tanganku sendiri."

​Ancaman itu masih menggantung di udara, berbaur dengan pekatnya asap gas air mata. Di balik masker hitam yang kini ditariknya kembali menutupi wajah, mata Arjuna menatap Aluna dengan kejam, mengunci pergerakan sang hakim agar tidak melawan.

​Namun, sebelum Aluna sempat mencerna seluruh rasa sakit dari kalimat itu, sebuah kilatan cahaya merah laser menyapu dinding di belakang mereka, menembus kaca jendela ruang sidang yang pecah.

​Naluri Arjuna sebagai seseorang yang hidup di ambang kematian merespons lebih cepat dari kedipan mata. Ia tahu arti titik merah itu. Sniper kepolisian telah mengambil posisi dari gedung seberang.

​PRANG! DOR!

​Peluru kaliber tinggi menembus jendela, melesat tepat ke arah dada Arjuna. Namun, alih-alih menggunakan tubuh Aluna sebagai tameng hidup layaknya penjahat pada umumnya, Arjuna justru melakukan hal yang sebaliknya.

​Dengan gerakan kasar yang nyaris meremukkan tulang rusuk Aluna, Arjuna mendorong tubuh gadis itu dan membantingnya ke lantai, berlindung di balik tebalnya kayu jati mimbar hakim. Peluru itu meleset beberapa sentimeter dari bahu Arjuna, menghantam pilar kayu di atas kepala mereka hingga serpihannya berhamburan menimpa rambut Aluna.

​Arjuna meringis saat bahunya membentur lantai dengan keras demi menutupi tubuh Aluna dari pecahan proyektil. Dalam kekacauan yang memekakkan telinga itu, wajah mereka hanya berjarak beberapa inci.

​Aluna, dengan napas terengah-engah dan jantung yang serasa ingin meledak, menatap mata pria yang menindihnya. Untuk sepersekian detik yang terasa seperti keabadian, topeng kebengisan Arjuna retak. Tangan besar yang tadi mencengkeram kasar pergelangan tangan Aluna, kini tanpa sadar bergerak menutupi kepala gadis itu dari serpihan kayu, membelai belakang kepalanya dengan kelembutan yang sangat familiar.

​Sikap protektif itu... sentuhan itu... Arjuna tidak sedang menyanderanya. Pria itu baru saja menyelamatkan nyawanya dari tembakan silang.

​Kenapa? batin Aluna berteriak. Jika kau memang monster, kenapa tanganmu gemetar saat melindungiku?

​"Baskara! Target sudah di tangan! Kita harus mundur!" Suara parau dari earpiece komunikasi di telinga Arjuna memecah momen tersebut. Anak buahnya telah berhasil mengamankan pria tambun yang menjadi target penculikan mereka.

​Arjuna tersentak. Ia segera menarik tangannya dari kepala Aluna, mengembalikan sorot matanya menjadi sedingin bongkahan es. Ia bangkit berdiri dengan cepat, merogoh sesuatu dari sabuk taktisnya—sebuah granat asap pekat.

​Arjuna menarik pelatuk granat tersebut dan menjatuhkannya tepat di samping mimbar. Kabut putih seketika menyembur dengan ganas, membutakan pandangan seluruh penjuru ruangan.

​"Tetap menunduk, Yang Mulia," bisik Arjuna dingin, menekan nada suaranya agar terdengar seperti ejekan. "Keadilanmu tidak berlaku di duniaku."

​Detik berikutnya, siluet tinggi besar itu melesat menembus kepulan asap, menghilang bagaikan bayangan iblis yang ditelan kegelapan.

​Saat kepolisian akhirnya berhasil menerobos masuk dan mengamankan ruangan, kekacauan telah usai. Target penculikan telah lenyap. Ruang sidang porak-poranda. Risa, sang asisten, berlari menghampiri Aluna sambil menangis histeris, disusul oleh tim medis dan belasan polisi berpakaian preman.

​Di antara kerumunan petugas itu, Inspektur Arya Larasati menerobos barikade dengan rahang mengeras. Seragam perwiranya sedikit berantakan. Ia langsung berlutut di samping putrinya, memeriksa setiap inci tubuh Aluna dari balik kepulan sisa asap.

​"Aluna! Kau terluka? Mana yang sakit?!" tanya Inspektur Arya dengan suara bergetar, memeluk pundak putrinya dengan protektif.

​Aluna duduk bersandar pada mimbar yang hancur. Tatapannya kosong, tertuju pada titik di mana Arjuna tadi berdiri. Toga hakimnya kotor oleh debu dan serpihan kayu.

​"Aku... aku tidak apa-apa, Ayah," jawab Aluna pelan, suaranya parau akibat gas air mata.

​Inspektur Arya menghela napas lega, namun matanya memancarkan amarah yang membara. "Baskara yang menyekapmu, kan? Tim sniper kami melihatnya menahanmu di balik mimbar. Bedebah itu... dia menyentuhmu? Kau melihat wajahnya, Nak? Apa kau bisa mengidentifikasinya untuk sketsa buronan kita?"

​Ruangan mendadak terasa hening bagi Aluna. Semua mata petugas kepolisian di sekitarnya menatap penuh harap pada Sang Hakim. Aluna adalah satu-satunya sandera yang berada dalam jarak terdekat dengan pemimpin sindikat yang paling dicari se-Asia Tenggara itu. Kesaksiannya bisa menjadi kunci untuk menghancurkan jaringan Baskara.

​Aluna menelan ludah. Lidahnya, yang selama bertahun-tahun selalu mengucapkan putusan hukum yang adil dan tanpa pandang bulu, tiba-tiba terasa kelu.

​Jika ia menyebut nama Arjuna Dirgantara, kepolisian akan menyisir seluruh keluarga, aset, dan masa lalu pemuda itu. Arjuna akan diburu seperti binatang buas, dan ketika tertangkap, hukuman yang menantinya hanyalah satu: eksekusi mati.

​Aluna adalah seorang hakim. Sumpah jabatannya mengalir dalam darahnya. Namun, saat ia memejamkan mata, yang ia lihat bukanlah seorang teroris pembunuh berdarah dingin. Yang ia lihat adalah seorang remaja laki-laki yang merelakan punggungnya memar demi melindunginya dari peluru nyasar beberapa menit yang lalu.

​Paradoks itu mencekiknya. Ia membenci kejahatan, tapi ia tidak bisa membenci sang penjahat.

​Aluna membuka matanya, menatap lurus ke arah sang ayah. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya yang lurus, Palu Es itu berbohong di bawah sumpah.

​"Tidak, Ayah," jawab Aluna dengan nada yang sangat datar dan meyakinkan. "Asapnya terlalu pekat, dan maskernya tertutup sangat rapat. Aku sama sekali tidak melihat wajahnya."

​Inspektur Arya mendesah kecewa, namun ia memeluk putrinya erat. "Tidak apa-apa. Yang penting kau selamat. Ayah berjanji, ayah akan memburu bajingan itu sampai ke lubang neraka sekalipun."

​Aluna memejamkan mata di pelukan ayahnya, merasakan sesak yang luar biasa di dadanya. Ia baru saja mengkhianati negara, keadilan, dan ayahnya sendiri, demi seorang buronan yang mengancam akan membunuhnya.

1
Teduh Kata
semangat!
yrputri: terimakasih
total 1 replies
Teduh Kata
Hai kak, aku sudah bom like karya kamu, dan mari salin follow yah dan jangan luoa like karya aku juga. mari saling dukung💪
yrputri: hai kak, terimakasih sudah bom... sudah saya like sudah saya like balik juga ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!