Asap kelabu dari sisa pembakaran minyak mesin siber menyelinap masuk melalui celah pilar obsidian Aula Gerhana, berputar-putar menciptakan bayangan kaku di atas lantai batu yang dingin. Di luar menara istana, langit Planet Akuma sedang memuntahkan badai hujan merkuri cair yang paling pekat sepanjang satu abad sejarah klan Shinto. Ketukan logam mendidih yang menghantam atap baja terdengar konstan, menciptakan simfoni bising yang meredam detak kehidupan normal. Dengan gaya tarik bumi yang bekerja seratus kali lipat lebih ekstrem, atmosfer di dalam bilik bersalin itu terasa begitu menjepit raga, memaksa setiap hela napas yang keluar dari tenggorokan terasa berat dan membakar sistem pernapasan seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: RAHASIA YANG TERKELUPAS
Sisa-sisa pelat zirah baja dan komponen hidrolik milik dua kapal jet silunan Faksi Radikal Barat yang beberapa menit lalu dihantam oleh proyeksi energi pedang raksasa dari langit masih tampak membara hebat di sepanjang pelataran Sektor Tiga. Logam-logam pertahanan mahal berskala militer itu telah meleleh, hancur berkeping-keping menjadi serpihan rongsokan logam mati yang tidak lagi berharga. Momentum tebasan kolosal yang memotong ruang langsung dari atas atmosfer stasiun telah meninggalkan hawa panas yang luar biasa pekat, meremukkan seluruh hukum fisika buatan Kekaisaran Vorash. Asap hitam tebal bercampur bau pelumas mesin yang terbakar menyengat tajam, memenuhi saluran pernapasan di sepanjang reruntuhan terowongan yang kini diselimuti oleh kesunyiati yang kaku
Di tengah kepulan abu pembakaran yang melayang lambat ditiup angin badai luar angkasa, Zephyr berdiri tegap seorang diri. Tubuh remajanya yang berusia empat belas tahun tampak kusam, dibalut oleh jubah karung goni hitam kusam yang dipenuhi noda abu dan sisa-sisa darah yang mengering kaku. Tidak ada lempengan besi mekanis, tidak ada pasokan energi plasma, dan tidak ada setitik pun modifikasi komputer siber yang membungkus kelemahan fisiknya. Namun, susunan otot daging di sekujur tubuh kurusnya nampak memadat sekeras batu karang kuno, sebuah wujud keteguhan murni dari seorang ksatria sejati yang ditempa oleh kejamnya gaya gravitasi perut bumi stasiun selama belasan tahun.
Tangan kanan Zephyr yang kasar penuh dengan kapalan tebal bergerak dengan sangat halus, tenang, dan teratur. Ia menurunkan kembali pecahan lempengan besi tua berkarat sepanjang satu meter miliknya, menyelipkannya secara senyap di balik lipatan pinggang celana kainnya tanpa menimbulkan suara bising sedikit pun. Bilah besi tua tanpa hiasan itu tampak bisu, menolak untuk memamerkan keindahan yang palsu kepada dunia luar. Wajah pucat Zephyr tetap kaku tanpa ada seulas ekspresi emosi yang murahan. Sepasang mata peraknya yang setenang kematian menatap lurus menembus jarak keremangan lorong, mengunci mati ke arah pilar baja nomor empat yang terletak di sudut reruntuhan barak.
"Keluar dari tempat persembunyianmu sekarang juga, Elena," ucap Zephyr dengan nada suara pelan, datar, namun membawa getaran berat yang bergaung memotong seluruh sisa suara desis percikan kabel mesin di sekeliling mereka.
Elena melangkah keluar dari balik bayangan tiang besi yang telah retak seribu dengan gerakan kaki yang bergetar hebat. Sepasang tangan indahnya yang seputih salju memeluk erat lipatan gaun pengantin sutra emas mewahnya yang kini sudah berubah kusam, robek di bagian lengan, dan dikotori oleh noda jelaga hitam pabrik bawah tanah. Sapuan bedak perak di wajah cantiknya yang jelita telah rusak berantakan dihantam keringat dingin yang mengalir deras sejak fajar menyingsing tadi. Manik mata biru jernih milik sang putri pengawas tambang itu terbelalak kaku tanpa berkedip sedikit pun, memancarkan perpaduan rasa ngeri, terintimidasi, dan takjub mendalam yang meremukkan seluruh tatanan logika berpikir kasta bangsawannya sampai ke titik paling rendah.
Seluruh dinding keangkuhan, gengsi kasta Kuil Tinggi, dan sifat sedingin es yang selama ini ia agungkan dengan penuh kesombongan di atas Menara Kristal langit, mendadak runtuh lebur menjadi seonggok abu yang tidak berharga di atas pelat besi yang kotor ini. Elena menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana dua kapal jet tempur tercanggih Sektor Barat—yang dilengkapi persenjataan siber pemusnah massal—dihapus dari muka bumi dalam hitungan sekejap mata. Kehancuran itu terjadi tanpa adanya suara ledakan bom yang gaduh atau benturan energi sakti yang bising, melainkan murni dikomandoi oleh angkatan tangan kosong dari seorang budak kuli panggul yang selama ini ia anggap sebagai seekor cacing cacat pembawa sial bagi kelangsungan hidup klan Solari.
"Kekuatan gila jenis apa sebenarnya yang kau sembunyikan di dalam sumsum tulangmu itu, Zephyr?!" desis Elena dengan nada suara yang terdengar sangat ketus, kaku, dan dipenuhi oleh kewaspadaan yang luar biasa tinggi.
Ia tidak melangkah mendekat untuk memeriksa belasan bekas luka bakar melepuh di dada Zephyr, melainkan mempererat cengkeraman jarinya pada hulu belati perak kecil upacara tradisionalnya, memposisikan tubuh anggunnya dalam kuda-kuda bertahan yang menolak untuk lengah satu milimeter pun. "Alat pemindai siber dan sistem komputer utama menara atas bahkan tidak pernah mencatat adanya riak energi plasma atau frekuensi senjata rahasia di dalam tubuh kurusmu! Kau sengaja membiarkan dirimu dihantam, dihina, dan diseret oleh dua pengawal berzirah besi kemarin sore murni hanya untuk menyembunyikan pedang raksasa dari langit itu dari pengawasan mata-mata ayahku, bukan?!"
Zephyr tidak membalas rentetan pertanyaan penuh kecurigaan dari wanita yang beberapa jam lalu baru saja mengikatkan janji darahnya di atas cawan altar tersebut dengan nada sombong, teriakan marah, atau luapan emosi yang sia-sia. Ia melangkah maju secara perlahan melintasi tumpukan debu besi kotor stasiun, menyeret sepasang kakinya yang linu murni mengandalkan kekuatan memori otot fisiknya di bawah jepitan gaya gravitasi stasiun yang dipasang dua ratus kali lipat lebih ekstrem. Setiap ketukan langkah kakinya terdengar begitu sunyi, bagai hantu yang meloloskan diri dari jala maut tanpa membutuhkan baju zirah pelindung.
Zephyr berhenti tepat di depan katup pipa hidrolik udara utama Sektor Tiga yang bocor akibat dampak hantaman artileri tadi. Uap gas belerang beracun yang bersuhu mendidih masih menyembur keluar dari celah pelat baja pipa yang retak, memancarkan suara desis tajam yang siap meracuni sisa oksigen di dalam terowongan. Dengan gerakan tangan yang sangat tenang, Zephyr mengangkat pecahan lempengan besi tuanya, lalu menempelkan permukaannya tepat di atas retakan pipa yang membara tersebut.
BZZZZZZT... CRACK!
Detik itu juga, riak frekuensi tak terlihat dari Otoritas Spasial kembali meledak secara halus dari dalam sumsum tulangnya, meretas struktur molekul baja pipa secara mutlak. Retakan besi tebal seberat puluhan ton itu dipaksa merapat kembali seutuhnya secara instan tanpa menyisakan celah sedikit pun. Suara desis gas beracun berhenti total, mengembalikan kedamaian aliran udara bebas di sepanjang terowongan bawah tanah.
Zephyr menarik kembali senjatanya, lalu membalikkan tubuh kurusnya sedikit untuk menatap lurus ke dalam pusat mata biru Elena. Rambut hitam panjangnya yang berantakan tersibak ditiup uap ventilasi menara, menampilkan sorot mata perak tajam miliknya yang setenang kematian yang menolak untuk tunduk pada nasib.
"Dunia menara atasmu terlalu sibuk memuja lempengan besi rongsokan dari luar angkasa, Elena, sampai-sampai kalian lupa bagaimana cara mendengarkan kejujuran kekuatan bumi tempat kalian berpijak," ucap Zephyr dengan nada suara yang teramat dingin, kaku, dan tanpa ampun, memotong sepihak seluruh dinding kecurigaan Elena. "Perintah perjodohan paksa dari ayahmu telah resmi mengunci silsilah kehidupan dan aliran darah kita di bawah hukum adat kuno Solari sore kemarin. Suka atau tidak, takdirmu sekarang sudah terkunci mati bersama buronan kasta rendah sepertiku. Jika kau ingin tetap memakai mahkota emas bangsawamu itu hingga hari ujian terbuka di Altar Emas Utama lusa, buang seluruh keangkuhan kasta manjamu yang tidak berguna ini. Hubungan kita malam ini adalah aliansi berdarah: aku akan menjadi perisai dan pedang langit yang menjamin nyawamu tidak padam dari serangan Komandan Vane, dan kau harus meretas jalur logistik menara untuk memberikan akses kristal suci terdalam yang kubutuhkan seumur hidupku seutuhnya."
Elena tersentak kaku mendengar deklarasi hubungan bisnis yang sangat dingin, tegas, dan penuh wibawa sunyi pendekar sejati dari mulut Zephyr. Sisa-sisa egonya terpaksa ia pendam dalam-dalam di dalam lubuk hatinya yang terluka, menyadari sepenuhnya bahwa bekerja sama dengan "monster pedang langit" di hadapannya adalah satu-satunya pilihan rasional yang tersisa agar ia tidak mampus dicabik-cabik oleh keserakahan pasukan Faksi Radikal Barat di sepanjang malam yang membeku kaku tersebut.