Seorang driver ojol tampan tapi bernasib sial mendapatkan sistem aplikasi "Godjek" misterius, di mana setiap orderan absurd dari pelanggan cantik memberinya hadiah kekuatan aneh yang bikin geleng-geleng kepala.
Bertahun-tahun lalu, sebelum jadi ojol, Raka memiliki seorang adik perempuan yang sangat dia sayangi. Suatu hari, adiknya memesan ojek online malam-malam untuk pulang. Raka yang saat itu sibuk, tidak bisa menjemputnya sendiri.
Malam itu, ojol yang ditumpangi adiknya mengalami kecelakaan fatal.
Kata-kata terakhir adiknya di telepon sebelum kecelakaan adalah: "Mas, aku udah jalan ya, ojolnya baik banget." Raka tidak pernah memaafkan dirinya sendiri. Dia menjadi ojol yang baik untuk "menebus Dosa" dan penyesalan di dasar hatinya setelah adiknya pergi untuk selama-lamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lihazel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Rahasia
Malam di gang sempit Tambora tidak pernah benar-benar sunyi. Di bawah temaram lampu merkuri yang berkedip kekuningan dan untaian kabel listrik yang bergelantungan tak beraturan layaknya spageti hitam raksasa, atmosfer jalanan itu terasa begitu padat. Namun, bagi Arya Prasetya, kepadatan yang sesungguhnya tidak terletak pada tata ruang kota yang berantakan, melainkan pada sisi kanan dan kiri tubuhnya.
Sejak mereka melangkah keluar dari area parkir darurat tempat mobil-mobil mewah berharga miliaran rupiah milik kedua gadis itu ditinggalkan di bawah penjagaan ketat Bang Jay dan Dedi, Arya mendadak merasa fungsi fisiknya sebagai manusia setengah lumpuh.
Di sebelah kanannya, Nadia Anastasia—sang supermodel internasional yang biasanya melenggang angkuh di atas catwalk Milan dan Paris—kini berjalan dengan jemari lentik yang menelusup posesif di sela-sela lengan kanan Arya. Gaun rajut abu-abu ketatnya yang mengekspos punggung mulusnya bergesekan halus dengan jaket premium hijau perak milik Arya, menciptakan sensasi kehangatan yang langsung membuat otot lengan sang driver ojol menegang kaku. Tidak mau kalah, di sebelah kiri, Citra Kirana—CEO muda berwajah sedingin es yang mengomandoi ribuan karyawan di Grand Indonesia—telah mengunci lengan kiri Arya ke dalam dekapannya. Blazer navy blue berpotongan tegas miliknya tidak mampu menyembunyikan kelembutan tak terduga yang kini menekan erat lengan Arya setiap kali mereka melangkah menghindari genangan air got di trotoar sempit.
“Aduh, Gusti... ini cobaan macam apa lagi?” jerit Arya dalam hati. Monolog batinnya mulai berputar liar dengan kecepatan yang melampaui rotasi mesin Supra Fit-nya. “Ini lengan kanan-kiri rasanya kayak lagi dijepit di antara dua bantalan udara kelas premium. Empuk sih, parah banget empuknya, tapi taruhan nyawa ini namanya! Saldo Go-Pay gaib sepuluh juta di akun emang bikin tenang, tapi kalau dada kiri-kanan nempel kayak gini, jantung gua bisa jebol sebelum sempat gua cairin ke rekening!”
Arya berdehem keras, berusaha mempertahankan sisa-sisa profesionalisme seragam ojek online-nya. Wajah tampannya yang memiliki struktur rahang tegas khas aktor drama Korea tampak memerah padam, kontras dengan ketenangannya yang biasanya sedingin pendekar.
“Nona Nadia... Nona Citra...” Arya berbisik dengan suara serak yang sengaja ditahan agar tidak terdengar oleh warga sekitar yang mulai melirik ke arah mereka. “Bisa tolong... sedikit dikendurkan jepitannya? Ini kita lagi di gang Tambora, bukan di wahana rumah hantu Dufan. Jalannya sempit, dan jujur, enggak enak dilihat sama tetangga. Nanti dikira saya lagi bawa rombongan sirkus internasional atau malah dikira menculik anak orang.”
Nadia Anastasia justru semakin mempererat pelukannya pada lengan kanan Arya. Ia menyandarkan kepalanya yang berambut cokelat terang ke bahu kokoh sang driver, sengaja memperlihatkan kerlingan matanya yang berair karena efek sisa-sisa ketoprak lima puluh cabai tadi.
“Enggak mau, Arya,” bisik Nadia dengan suara serak-serak basah yang sensual, sengaja mengembuskan napas hangatnya tepat di dekat leher Arya. “Kamu lihat sendiri, kan? Jalannya gelap, banyak lubang, terus kabel-kabel di atas itu kayak mau jatuh menimpa aku. Aku ini model, Arya, aset internasional. Kalau kakiku terkilir karena masuk ke dalam lubang trotoar sempit ini, agensiku di Paris bisa bangkrut. Lagian... aku cuma merasa aman kalau gandeng kamu kayak gini.”
Citra Kirana di sisi kiri tidak tinggal diam. Mendengar alasan manja sang supermodel, sang CEO muda langsung mendengus dingin. Matanya yang tajam menatap lurus ke depan, namun pelukannya di lengan kiri Arya justru dikunci dengan teknik yang lebih erat, memastikan tidak ada celah udara sedikit pun di antara tubuh mereka.
“Alasan yang sangat tidak rasional, Nadia,” sindir Citra dengan nada suara yang tenang namun menusuk sedalam es kutub. “Trotoar di kawasan padat penduduk seperti ini memiliki koefisien gesek yang tidak stabil akibat kelembapan tinggi dan sisa limbah domestik. Risiko terpeleset sangat besar bagi siapa pun yang tidak terbiasa. Tapi bagi saya, Arya... ini adalah bentuk mitigasi risiko tingkat tinggi. Sebagai pemimpin tertinggi sebuah perusahaan, keselamatan fisik saya di luar area korporasi adalah prioritas utama yang harus dilindungi secara langsung oleh mitra logistik yang tepercaya. Jadi, secara kalkulasi manajemen risiko publik, posisi paling aman bagi saya adalah menempel sedekat mungkin pada driver yang memegang kendali navigasi lapangan. Ini murni keputusan taktis berbasis SOP keselamatan.”
Arya hanya bisa melongo mendengar perdebatan dua wanita kelas atas ini. “Mitigasi risiko matamu peyang, Citra! Sejak kapan nempelin dada ke lengan driver ojol masuk ke dalam lembaran SOP keselamatan kerja korporasi internasional? Terus lu juga, Nadia! Aset internasional apanya? Tadi pas di depan warkop gaya lu angkuh banget kayak ratu sejagat, sekarang masuk gang sempit dikit langsung akting kayak anak ayam kehilangan induk! Ini dua dewi kalau digabungin pinternya kelewat batas, tapi kalau urusan modus kenapa bisa jadi sekreatif ini sih?!”
Namun, kepanikan batin Arya harus disembunyikan rapat-rapat di balik senyuman pasrah demi menjaga ulasan Bintang 5 yang menjadi taruhan nyawa sistemnya. Ia terpaksa membiarkan dirinya diseret di antara dua kutub keindahan yang bertolak belakang namun sama-sama mematikan tersebut, berjalan selangkah demi selangkah menuju warung Soto Tangkar legendaris yang terletak di ujung gang.
Untuk mengalihkan atmosfer yang semakin sarat akan ketegangan romantis yang lambat laun membuatnya baper, Arya memutuskan untuk membuka obrolan santai. Ia ingin mencairkan suasana es di antara Citra dan hawa panas dari Nadia.
“Daripada kalian tegang mikirin lubang jalan atau mata-mata imajiner,” urai Arya sambil menatap lurus ke depan, berusaha keras tidak melirik ke bawah tempat lengannya berada. “Mending saya ceritain soal tempat yang mau kita tuju. Soto Tangkar Pak Haji Yusuf. Itu warung sudah ada dari zaman kakek saya masih narik becak di daerah sini. Kuahnya kuning kental, pakai santan asli, dan daging babatnya itu... kalau digigit langsung lumer, enggak perlu dikunyah pakai emosi.”
Citra Kirana melirik profil samping wajah Arya dari bawah. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat bekas keringat tipis yang mengering di rahang tegas Arya, memberikan kesan maskulin yang sangat alami, jauh dari pria-pria pesolek di lingkaran bisnisnya yang selalu berbau parfum mahal namun memiliki niat terselubung.
“Kamu sering makan di sana, Arya?” tanya Citra, nadanya melembut tanpa ia sadari sendiri.
“Sering banget, Nona. Malah kalau uang belanja Ibu lagi mepet, Pak Haji Yusuf sering sengaja lebihin potongan dagingnya di mangkok saya,” jawab Arya dengan senyum tulus yang mengembang di bibirnya. “Di Tambora ini, kalau kita hidup sendirian, kita bakal mati kegilas kerasnya Jakarta. Tapi di sini, semua orang saling kenal. Makanya, anak-anak pangkalan kayak Bang Jay sama Dedi itu... mereka bukan cuma sekadar teman satu profesi buat saya. Mereka itu sudah kayak keluarga kandung.”
Nadia menggeser posisinya sedikit, tertarik dengan nada suara Arya yang terdengar sangat hangat dan penuh pelindung. “Keluarga? Maksudnya gimana, Arya? Bukannya di pangkalan ojol itu biasanya orang-orangnya cuma datang, ngopi, terus pergi narik penumpang?”
Arya terkekeh pelan, mengenang masa-masa lalunya. “Enggak gitu, Nadia. Anak-anak pangkalan itu... mereka yang jagain saya dari zaman saya masih bocah ingusan yang suka nangis di pinggir jalan karena ban sepeda jengki saya bocor. Waktu bapak saya sakit keras tiga tahun lalu dan enggak bisa kerja, Bang Jay itu yang rela narik seharian penuh sampai encoknya kambuh, cuma buat kumpulin uang patungan biar bapak saya bisa nebus obat di apotek. Dedi juga sama, dia yang rela begadang di rumah sakit gantiin saya biar saya bisa tetap tidur dan besoknya sekolah.”
Suara Arya terdengar sangat tenang, tanpa ada nada mengeluh atau mengharapkan simpati. Ia menceritakan kemiskinan dan solidaritas kelas pekerja itu dengan kebanggaan seorang pria yang tahu persis apa arti utang budi dan kesetiaan.
“Mereka tahu segala hal tentang saya,” lanjut Arya, matanya menerawang menembus kegelapan gang. “Dari ukuran celana saya yang sering bolong di bagian belakang gara-gara jok Supra yang besinya keluar, sampai daftar cewek yang dulu pernah saya taksir waktu SMP tapi enggak berani saya tembak karena sadar diri dompet cuma isinya uang seribuan lecek. Bang Jay, Dedi, sama Mbak Sri yang punya warkop pangkalan itu tahu semuanya. Makanya, biar mereka kelakuannya ajaib kayak khodam lepas—si Bang Jay kalau ngomong suka heboh kayak komandan intelijen gadungan—saya enggak akan pernah bisa ninggalin mereka. Basecamp warkop Mbak Sri itu sudah kayak rumah kedua buat saya.”
Mendengar cerita tersebut, baik Citra Kirana maupun Nadia Anastasia mendadak terdiam. Ada keheningan emosional yang mendalam yang tiba-tiba merayap di dalam hati kedua gadis kaya raya itu.
Bagi Citra Kirana, dunia yang ia kenal adalah dunia yang penuh dengan angka, kontrak hukum, dan pengkhianatan di balik meja rapat. Ayahnya selalu mengajarkan bahwa setiap orang memiliki harga, dan tidak ada yang namanya ketulusan tanpa pamrih dalam dunia bisnis. Namun mendengar bagaimana seorang ojol tua bernama Bang Jay rela mengorbankan kesehatannya demi ayah Arya, ada sesuatu yang bergetar di dalam dadanya. Pria di sampingnya ini tumbuh besar di lingkungan yang sangat miskin materi, namun entah bagaimana, memiliki kekayaan spiritual dan karakter yang tidak pernah ia temukan pada satu pun anak konglomerat yang pernah melamarnya.
Sementara bagi Nadia Anastasia, industri mode internasional yang glamor adalah tempat di mana semua orang memakai topeng. Persahabatan diukur dari jumlah pengikut di media sosial atau merek tas yang ditenteng saat after-party. Di dunia Nadia, jika seseorang jatuh miskin atau kehilangan reputasinya, mereka akan langsung dibuang seperti pakaian musim lalu. Mendengar kisah Arya yang dikelilingi oleh orang-orang yang bersedia melindunginya sejak kecil hanya karena rasa kasih sayang murni, membuat Nadia merasakan letupan kecemburuan sekaligus kekaguman yang luar biasa dalam.
“Dia benar-benar berbeda,” pikir Citra dalam hati, matanya menatap lengan Arya yang kokoh karena bertahun-tahun membantu ibunya mengangkat galon air isi ulang. “Pria-pria di sekitarku selalu pamer mobil sport atau jam tangan ratusan juta untuk menarik perhatianku. Tapi Arya... dia hanya menjadi dirinya sendiri, seorang driver ojol dari Tambora yang memiliki hati sekuat baja.”
“Aku harus tahu lebih banyak tentang dia,” batin Nadia bergejolak, jemarinya semakin merapatkan pelukan pada lengan sang driver. “Kalau teman-teman pangkalannya tahu segala hal tentang Arya, berarti mereka adalah kunci untuk membuka seluruh rahasia pria ini.”
Tanpa disadari oleh Arya yang masih sibuk mengkhawatirkan uap panas soto tangkar yang mulai tercium dari kejauhan, sebuah komunikasi tanpa kata sedang terjadi di atas kepalanya. Citra Kirana dan Nadia Anastasia saling melempar pandangan tajam melewati dada Arya. Kilatan kompetisi di mata mereka mendadak berubah menjadi sebuah kesepakatan rahasia yang tidak terucapkan.
Sebuah ide brilian sekaligus impulsif muncul secara bersamaan di kepala dua wanita super kaya ini. Jika mereka ingin memenangkan hati Arya Prasetya, mereka harus bergerak melalui garis belakang: memenangkan hati keluarga pangkalannya sekaligus menggali informasi sedalam-dalamnya tentang masa lalu Arya secara rahasia melalui Bang Jay, Dedi, dan Mbak Sri!
Citra Kirana mulai menyusun strategi dalam otaknya dengan kecepatan kalkulasi komputer korporat. “Arya bilang teman-teman pangkalannya selalu menjaganya dan tahu segalanya tentang dia. Berarti, kesejahteraan mereka adalah kebahagiaan Arya sekaligus gerbang informasiku. Pangkalan ojol di ujung jalan tadi sangat tidak layak. Atap sengnya sudah berkarat, kursinya hanya dari kayu palet bekas yang sudah rapuh. Besok pagi, aku akan menyuruh divisi pembangunan aset perusahaanku untuk merombak area luar itu menjadi basecamp ojol yang luar biasa nyaman dan layak, lengkap dengan fasilitas pendingin udara (AC) yang sejuk agar mereka tidak kepanasan lagi saat menunggu orderan. Dan warkop Mbak Sri itu... aku akan mendanai renovasi total bangunannya agar menjadi jauh lebih bagus, bersih, dan nyaman, tanpa merusak keaslian warkopnya. Aku akan menyubsidi seluruh biaya operasional warkop Mbak Sri sehingga semua makanan, kopi, dan mi instan di sana bisa dinikmati secara gratis oleh para ojol pangkalan Tambora selamanya. Dengan begitu, Bang Jay dan Mbak Sri pasti akan dengan senang hati membocorkan semua rahasia masa kecil Arya kepadaku.”
Nadia Anastasia yang membaca lirikan mata Citra langsung tahu bahwa sang CEO sedang merencanakan sesuatu yang berbau pembangunan fisik korporat. Sang supermodel tidak mau kalah, ia langsung memutar otak untuk menusuk dari sudut pandang peningkatan sumber daya manusia dan masa depan keluarga mereka! “Oh, main renovasi properti dan subsidi warkop ya, Citra? Sangat taktis, tapi terlalu kaku. Aku akan bergerak lewat jalur pengembangan masa depan dan potensi bakat keluarga mereka! Jika anak pangkalan itu adalah keluarga Arya, maka anak-anak mereka adalah keponakan Arya. Besok, aku akan menghubungi yayasan seni internasional milik temanku dan agensi model top di Jakarta. Aku akan memberikan beasiswa penuh untuk anak-anak para driver ojol di pangkalan itu. Yang punya bakat menggambar akan dikirim ke sekolah desain, yang punya potensi visual akan langsung dimasukkan ke kelas pelatihan model dan akting gratis di bawah bimbinganku sendiri. Dan untuk warkop Mbak Sri... alih-alih sekadar menyubsidi, aku akan secara rahasia memasukkan anak Mbak Sri ke dalam program beasiswa sekolah tata boga internasional tingkat tinggi agar warkopnya kelak dikelola oleh generasi berpendidikan, serta memberikan Mbak Sri peralatan masak paling ergonomis secara cuma-cuma lewat info rahasia Bang Jay! Kita lihat saja nanti, siapa yang taktik rahasianya paling cepat membuat abang-abang ojol itu bernyanyi dan membuka semua lembaran rahasia hidup Arya!”
Rencana rahasia pembentukan aliansi tak resmi untuk memanjakan pangkalan ojol Tambora demi mendapatkan informasi mendalam seputar masa lalu Arya kini resmi terbentuk di dalam benak kedua dewi ibu kota tersebut, dengan warkop Mbak Sri dan masa depan anggotanya sebagai pusat pusaran takdir baru mereka.
Arya yang sama sekali tidak memiliki kepekaan terhadap taktik perang dingin wanita populer ini hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal menggunakan tangan kanannya yang sedikit bebas. Ia melihat ke arah papan nama warung Soto Tangkar Pak Haji Yusuf yang sudah terlihat di depan mata dengan spanduk kainnya yang sudah bolong-bolong ditiup angin malam.
“Nah, itu warungnya sudah sampai,” kata Arya dengan nada lega yang luar biasa, merasa terbebas dari siksaan baper sesaat. “Ayo masuk. Nona-nona bersiap ya, karena kursinya masih pakai bangku bakso plastik yang kalau didudukin agak goyang sedikit.”
Citra Kirana dan Nadia Anastasia hanya tersenyum manis—sebuah senyuman penuh intrik rahasia yang membuat bulu kuduk Arya mendadak merinding tanpa alasan yang jelas, saat mereka melangkah bersama membelah tirai warung soto, siap memulai babak baru diplomasi kuliner jalanan Jakarta.