NovelToon NovelToon
Paradoks Waktu

Paradoks Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Sci-Fi / Misteri
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Seorang ojol yang masih muda. mengidamkan hidup di tahun 90an karena cerita kakeknya. siapa sangka keinginannya itu malah membuatnya terjebak dalam lintasan waktu.

Warning: cerita ini alur sangat lambat. dan buat yang punya masalah psikotis lebih baik tak baca cerita ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Tak ada satu pun yang berani menyentuh radio tua itu. Profesor Surya hanya memandangnya dalam keheningan yang dalam. Rekaman singkat tadi nyatanya meninggalkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.

"Yang menciptakan pintu..."

Kalimat itu terputus di tengah jalan. Seseorang—atau mungkin sesuatu—telah menghentikan rekaman tersebut secara paksa.

"Kita bawa radio ini," ucap Profesor akhirnya.

Ardi mengangguk paham. Ia baru saja hendak mengulurkan tangan untuk mengemas radio tersebut... saat tiba-tiba terdengar gema langkah kaki dari lantai atas.

Tok... Tok... Tok...

Seketika, mereka semua membeku di tempat.

Saling melempar pandangan penuh ketegangan, pikiran mereka sama: tidak ada orang lain yang tahu keberadaan tempat tersembunyi ini. Lalu... siapa yang sedang melangkah di atas sana?

Langkah kaki itu terdengar semakin jelas. Perlahan, tenang, dan sama sekali tidak tergesa-gesa.

Tok... Tok... Tok...

Zain dengan cepat mematikan senternya. Ruangan bawah tanah itu seketika tenggelam dalam kegelapan, hanya tersisa pendar cahaya samar yang menerobos masuk dari celah lubang tangga. Profesor Surya mengangkat tangan, memberi isyarat mutlak agar tidak ada yang membuat suara.

Suara langkah di atas mendadak terhenti.

Beberapa detik keheningan berlalu, sebelum akhirnya terdengar suara berat seorang pria:

"Surya..."

Suara itu terdengar begitu tenang, dalam, dan amat mirip dengan vokal yang baru saja mereka dengar dari rekaman radio.

Tubuh Profesor Surya seketika menegang.

Ardi berbisik sangat pelan, "Prof... itu..."

Profesor mengangguk lambat. "Aku juga mendengarnya."

Pria di atas kembali bersuara, "Aku tahu kalian ada di bawah. Tidak perlu sembunyi."

Zain meresapi degup jantungnya yang kian berpacu keras. Suara itu memang terdengar tua, tetapi tidak memancarkan intimidasi jahat. Justru terdengar sangat lelah... seolah telah menanggung beban yang teramat berat selama berdekade-dekade.

Profesor Surya perlahan-lahan menaiki beberapa anak tangga besi. "Siapa di sana?" tanyanya tegas.

Tak ada jawaban selama beberapa saat. Hingga kemudian...

"Aku adalah dirimu."

Kalimat itu membuat Ardi refleks memejamkan matanya rapat-rapat. Sementara Zain seketika teringat pesan peringatan dari rekaman sebelumnya: Kalau nanti aku datang menemui kalian... pastikan terlebih dahulu bahwa itu benar-benar aku.

Profesor Surya tidak langsung melangkah naik. Ia menahan posisinya di tengah-tengah tangga. "Kalau kau memang diriku... jawab satu pertanyaanku."

"Hm?"

"Siapa nama anjing yang kupelihara waktu aku kelas tiga SMP?"

Hening sejenak. Lalu, terdengar tawa kecil yang terdengar bergetar di atas sana.

"Kau sengaja menjebakku. Kita tidak pernah memelihara anjing."

Profesor Surya tidak bergeming sedikit pun. "Jawaban itu terlalu mudah ditebak."

Suara di atas kembali berhembus, "Baiklah... waktu berumur dua belas tahun, kau jatuh dari pohon mangga hingga lengan kirimu patah."

Profesor Surya tetap diam membisu.

"Ah, itu juga tercatat di rekam medis," gumam pria tua di atas seraya menghela napas panjang. "Aku lupa... kau memang selalu sekeras kepala ini."

Beberapa saat kemudian, sebuah sosok perlahan-lahan muncul di ambang lubang tangga.

Mereka bertiga seketika menahan napas.

Rambut pria itu telah memutih sepenuhnya, dan wajahnya dihiasi garis-garis kerutan yang dalam. Ia mengenakan jas laboratorium kusam yang tampak sangat usang. Namun... raut dan struktur wajah itu tak salah lagi. Itu benar-benar wajah Profesor Surya—hanya saja versi yang lebih tua sekitar dua puluh hingga tiga puluh tahun.

Pria tua itu melempar senyum tipis yang getir. "Halo... Sudah lama sekali."

Profesor Surya tidak membalas senyuman tersebut. Ia justru mengambil satu langkah mundur, menatap sosok di atasnya dengan pandangan penuh selidik dan waspada.

"Maaf," ujar Profesor Surya serak. "Aku belum yakin... bahwa kau benar-benar diriku."

Senyum tipis pria tua itu perlahan memudar, digantikan oleh tatapan penuh pengertian.

Ia lalu berkata pelan, "Itu jawaban yang sangat benar. Sebab... aku sendiri pun tidak akan langsung memercayai diriku begitu saja."

Tak ada satu pun yang bergerak. Profesor Surya dan pria tua di depannya saling melempar pandangan tajam, seolah sedang bercermin satu sama lain. Bedanya, pantulan di hadapan mereka memuat jejak pengalaman puluhan tahun yang belum pernah mereka lalui.

​"Boleh aku turun?" tanya pria tua itu memecah keheningan.

​Profesor Surya tidak langsung menjawab. Setelah menimbang sejenak, ia akhirnya mengangguk. "Boleh. Tapi bergeraklah secara perlahan."

​Pria tua itu mengangguk paham. Ia menuruni satu demi satu anak tangga besi tanpa menunjukkan gerakan yang mencurigakan. Kedua tangannya selalu berada di posisi terangkat yang mudah terlihat.

​Begitu kakinya berpijak di lantai bawah tanah, ia sengaja berhenti pada jarak tiga meter dari mereka untuk menjaga batas aman.

​"Terima kasih," ucapnya tulus. "Terima kasih karena kalian tidak langsung memercayaiku."

​Zain mengernyit heran. "Kenapa Anda justru merasa senang?"

​Pria tua itu mengalihkan pandangannya ke arah Zain. Tatapan hangat dan senyum tipis di wajah berkerut itu membuat Zain merasakan desakan perasaan yang aneh—seolah-olah pria itu telah mengenalnya sejak lama.

​"Sebab..." ujar pria tua itu pelan, "kalau kalian langsung percaya begitu saja... berarti kalian belum belajar apa pun dari semua peristiwa ini."

​Ardi masih tetap mengepal obeng panjang di tangannya. Ia tidak bermaksud menyerang, hanya bersiap untuk kemungkinan terburuk. "Apa yang sebenarnya sedang mengejar Anda?"

​Pria tua itu terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab, "Sulit untuk dijelaskan."

​"Coba saja," desak Ardi.

​"Sosok itu bukan manusia, bukan mesin, dan jelas bukan hantu."

​"Lalu apa?"

​Pria tua itu tersenyum pahit. "Ia adalah... sesuatu yang terlahir ketika ruang waktu dipaksa untuk terbuka."

​Ruangan bawah tanah itu kembali dihampiri keheningan. Profesor Surya terus mengamati setiap detail ekspresi pria tua itu. Tak ada indikasi kebohongan yang terpancar. Namun, ia menyadari sepenuhnya: jika makhluk yang dimaksud mampu meniru rupa, maka ekspresi wajah tidak bisa lagi dijadikan sebagai tanda kebenaran.

​"Aku punya satu pertanyaan lagi," ujar Profesor Surya.

​Pria tua itu mengangguk pasrah. "Tanyakanlah."

​Profesor Surya meraih radio tua dari atas meja. "Lima menit yang lalu, kau meninggalkan rekaman untuk kami di sini. Kalau memang itu benar-benar suaramu... lanjutkan kalimat yang terputus di dalam rekaman tadi."

​Pria tua itu perlahan memejamkan matanya, menghela napas panjang selama beberapa detik, lalu kembali membukanya.

​"Kalimat lanjutannya adalah... 'Yang menciptakan pintu adalah manusia.'"

​Ardi spontan menggelengkan kepala. "Tidak bisa. Di rekaman tadi, kalimat itu belum sempat selesai."

​"Tepat sekali," sahut pria tua itu tenang. "Kalimat itu memang terputus sebelum sempat terselesaikan."

​"Lalu dari mana Anda bisa mengetahuinya?"

​Pria tua itu menatap lurus ke dalam manik mata Profesor Surya. "Sebab... akulah yang merekamnya."

​Keheningan kembali menyergap ruangan. Jawaban itu terdengar teramat masuk akal—namun justru karena terlalu sempurna, Profesor Surya tidak lantas menurunkan kewaspadaannya.

​"Kalau memang benar manusia yang menciptakan pintu itu..." tanya Profesor Surya lagi, "...lalu siapa sosok yang sedang menunggu di baliknya?"

​Raut wajah pria tua itu perlahan berubah menjadi sangat serius. Tatapannya beralih pada sketsa Gerbang Resonansi yang terukir di papan tulis tua, sebelum akhirnya ia menjawab dengan suara teramat lirih:

​"Kesalahan terbesar kami... bukanlah saat membuka pintu tersebut."

​Ia jeda sejenak, menatap mereka satu per satu.

​"Melainkan... saat kami memutuskan untuk menjawab ketika ada sesuatu yang mengetuk dari balik pintu itu."

​Suhu ruangan seketika terasa semakin menembus tulang, dan Zain merasakan bulu kuduknya berdiri tegak.

​"Mengetuk?" bisik Zain bergidik.

​Pria tua itu mengangguk lambat. "Dulu kami mengira... kami sedang mengirimkan sinyal ke masa lalu. Padahal... ada sebuah entitas di sisi lain yang sejak awal terus mengirimkan sinyal kepada kita."

​Tak ada satu pun yang sanggup menyela. mereka mulai menyadari sebuah kemungkinan yang jauh lebih mengerikan.

​Mungkin Gerbang Resonansi... bukanlah sekadar sarana untuk meretas perjalanan waktu. Tapi sebuah pintu komunikasi yang terhubung dengan sesuatu yang seharusnya tak pernah dijawab.

1
Aegis
dan si kakek mentransfer dia ke masa lalu🥴
DeZigur: kalo mao skip langsung bab 20 aja. misterinya mulai
total 2 replies
Aegis
👍
Aegis
masalah psikotis tuh maksudnya apa bang?
DeZigur: ya kalo orangnya parnoan garaw pas bangun udah di dimensi lain terus ga bisa balik lagi ke kenyataan gimana?
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!