Kenalkan, namaku Arkan Jaya. Aku bekerja sebagai supir di salah satu rumah orang kaya yang ada di daerahku.
Kebetulan, putri dari orang kaya tempat saya bekerja adalah orang yang sering saya hukum di sekolah dulu karena suka membuat onar.
Awalnya aku ragu untuk bekerja di rumah anak ini. Namun, karena aku terlahir miskin, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menerimanya.
Orang tuanya bernama Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia.
Pria itu adalah Pak Frans Sanjaya. Di sampingnya, pintu mobil lain terbuka dan muncul sosok wanita anggun yang tak lain adalah Bu Sofia, ibunya. Hari itu adalah kali pertama aku melihat langsung kedua orang tua Clara secara jarak dekat. Aku yang saat itu hanya seorang Ketua OSIS dari keluarga biasa, tentu tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia-lah yang akan membayar gajiku sebagai supir pribadi putri manja mereka ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Mobil Asing dan Jejak Bahaya
Semilir angin pagi bertiup cukup sejuk menyapu pelataran sekolah saat aku memarkirkan motor butut peninggalan almarhum bapakku di sudut area parkir. Hari Senin kembali datang membawa rutinitas awal pekan yang penuh kedisiplinan. Seperti biasa, dengan kemeja seragam yang rapi, celana kain yang disetrika licin, serta ban lengan bertuliskan "KETUA OSIS" yang melingkar tegas di lengan kiriku, aku melangkah mantap menuju gerbang utama sekolah.
Aku berdiri tegak di samping Pak Sumanto, memantau setiap siswa yang berdatangan satu per satu. Namun, ada satu hal yang terasa cukup ganjil pagi ini. Entah ada keajaiban dari langit mana, area gerbang terasa sangat tenang dan tertib. Tidak ada kepanikan siswa yang berlari ketakutan, tidak ada yang mencoba mengintip di balik celah pagar, dan tidak ada drama aksi kejar-kejaran.
Bahkan hingga jarum jam menunjukkan pukul 06.55 WITA, sosok yang biasanya menjadi "pelanggan tetap" barisan pelanggar sama sekali belum terlihat. Tepat saat aku melirik jam tangan untuk memastikan sisa waktu sebelum gerbang dikunci, dua sosok siswi berjalan santai melewati gerbang dengan seragam yang rapi.
Clara Adelin dan Diana. Mereka berdua datang lima menit lebih awal dari bel masuk!
Diana yang menyadari keberadaan ku langsung memalingkan wajahnya sambil mengibaskan rambut pendeknya gaya angkuh, sedangkan Clara sempat menghentikan langkahnya sejenak. Dia menatapku tajam, memanyunkan bibirnya yang dipoles liptint tipis, lalu menghentakkan kakinya ke tanah dengan gaya sombong.
"Lihat tuh, Kak Ketos!" seru Clara dengan nada suara yang sengaja ditinggikan agar didengar siswa lain. "Hari ini kami enggak terlambat! Jangan harap Kakak bisa mencari-cari alasan buat memotong poin atau menyuruh kami membersihkan toilet lagi!"
Aku hanya bisa menyunggingkan senyum tipis, menyilangkan kedua tangan di dada sambil menatapnya datar. "Bagus kalau begitu, Nona Clara. Pertahankan kedisiplinan ini. Lagipula, tugas saya di sini memang menertibkan, bukan hobi mencari-cari kesalahan orang."
"Alasan!" potong Diana dari samping, ikut-ikutan cemberut.
"Bilang aja Kak Arkan kecewa karena enggak punya kesempatan buat mengerjai kita lagi hari ini, kan? Ayo Ra, kita masuk! Mending ke kelas daripada nge ladenin OSIS sok disiplin ini."
Clara menjulurkan lidahnya sebentar ke arahku—sebuah tingkah kanak-kanak yang cukup menggelikan—sebelum akhirnya melangkah pergi bersama Diana menuju koridor kelas 10. Aku hanya menggelengkan kepala melihat tingkah mereka. Tampaknya, rentetan hukuman dan insiden konyol selama beberapa hari terakhir benar-benar berhasil membuat dua anak kaya itu kapok dan enggan berurusan lagi dengan aturan OSIS.
Teng... teng... teng...
Lonceng tanda masuk kelas berbunyi nyaring. Suasana pelataran yang tadinya riuh mendadak hening. Hari Senin itu berjalan terasa begitu cepat, mengalir tanpa ada riak konflik atau drama yang berarti. Kegiatan belajar-mengajar berlangsung lancar, hingga tanpa terasa bel panjang tanda mengakhiri jam pelajaran sekolah kembali bergaung di udara.
para siswa berhamburan keluar kelas menuju gerbang utama.
Aku merapikan sisa-sisa berkas piket di meja OSIS sebelum akhirnya mengunci ruangan dan melangkah berjalan ke area parkir. Saat menuntun motor tua milikku keluar dari gerbang sekolah, pandanganku tak sengaja menangkap sosok Clara yang sedang berdiri sendirian di trotoar depan. Diana tampak sudah pulang lebih dulu bersama jemputannya beberapa menit yang lalu.
Tak lama kemudian, sebuah mobil sedan berwarna perak tanpa plat nomor depan meluncur pelan dan berhenti tepat di hadapan Clara. Kaca mobil bagian belakang tidak terbuka sama sekali. Dari pintu pengemudi, turun seorang pria bertubuh tegap, mengenakan topi hitam yang ditarik agak rendah hingga menutupi separuh dahinya, serta masker kain gelap.
Pria itu dengan cekatan membukakan pintu belakang untuk Clara. Namun, ada sesuatu yang membuat naluriku berteriak waspada. Pria itu sama sekali tidak memiliki gestur sopan santun layaknya seorang supir pribadi keluarga kaya. Langkah kakinya kaku, pandangannya liar menatap sekeliling jalanan, dan mobil perak itu jelas bukan salah satu dari armada mobil mewah milik keluarga Pak Frans Sanjaya atau Pak Hendra yang kerap kulihat menjemput mereka.
Clara tampak sempat ragu sejenak di depan pintu mobil yang terbuka. Dia terlihat melongokkan kepala ke dalam seolah ingin menanyakan sesuatu kepada orang di dalam. Namun, sebelum Clara sempat melangkah mundur, pria ber-masker itu dengan gerakan yang sangat cepat dan kasar langsung mendorong tubuh Clara ke dalam kabin belakang, lalu menutup pintunya rapat-rapt!
Brak!
"Tunggu dulu... itu bukan supirnya!" gumamku kaget, mataku memelotot sempurna.
Mobil sedan perak itu langsung menggeram kencang dan melaju kencang meninggalkan area sekolah, menimbulkan decitan ban yang cukup keras di atas aspal. Tidak ada orang lain di sekitar gerbang yang menyadari kejadian kilat tersebut karena kondisi jalanan yang mulai sepi.
Rasa cemas mendadak membakar dadaku. Tanpa berpikir panjang lagi, aku segera menaiki motor bututku, menekan tombol starter hingga mesinnya menderu, lalu memutar gas sejadi-jadinya untuk menyusul mobil perak tersebut dari jarak aman.
Jantungku berdegup kencang di balik dada. Aku menjaga jarak sekitar lima puluh meter di belakang mobil itu, bersembunyi di antara deretan kendaraan lain yang melintas di jalan raya kota. Setelah menempuh perjalanan sekitar sepuluh menit melintasi kawasan ramai, mobil sedan perak itu mendadak membelok ke arah jalur pinggiran kota yang sepi dan jarang dilalui kendaraan—sebuah kawasan industri tua yang penuh dengan bangunan gudang terabaikan.
Melalui kaca belakang sedan perak yang agak samar, mataku yang tajam menangkap pemandangan yang membuat darahku mendidih. Tubuh Clara terkulai lemas di kursi belakang, kepalanya terkulai ke samping. Dia telah dibuat pingsan oleh seseorang yang bersembunyi di dalam kabin mobil tersebut!
"Sialan! Ini beneran penculikan!" umpatku tertahan di balik helm.
Tiba-tiba, dari kaca jendela samping penumpang sedan itu, sebuah tangan terulur keluar dan melemparkan sebuah benda kecil ke semak-semak di pinggir jalan.
Klak!
Benda itu mendarat kasar di tanah. Aku meminggirkan motorku sebentar, menyambar benda tersebut dari semak-semak. Benda itu adalah ponsel pintar milik Clara yang casing-nya dipenuhi stiker lucu. Layarnya retak, dan kartu SIM-nya tampak sengaja dilepas untuk menghilangkan jejak pelacakan sinyal GPS.
Aku mengepalkan tangan erat-erat, menggenggam ponsel retak itu. Pandanganku beralih menatap ke ujung jalan sepi, di mana sedan perak itu perlahan melaju masuk ke dalam kompleks salah satu gudang tua beratap seng yang sudah berkarat.
"Tenang Arkan, jangan panik," bisikku pada diri sendiri, mencoba menetralisir gemuruh kepanikan di dada. "Kamu harus main cantik kalau mau selamatkan bocah manja itu."