Keira Liem cuma mau hidup tenang.
Setelah dikhianati mantan pacar dan dijebak rekan kerja, pilot muda ini nyaris kehilangan segalanya—karier, reputasi, bahkan harga diri. Satu-satunya jalan keluar? Nikah siri dengan pria asing yang ditemuinya di parkiran bawah tanah SCBD di malam terburuk hidupnya.
Pria itu bilang namanya Kai. Katanya pengangguran. Senyumnya menyebalkan, mulutnya pedas, tapi entah kenapa... Keira merasa aman di dekatnya.
Yang tidak Keira tahu: "Kai" adalah Kaizan Tanujaya—CEO Nusantara Airlines, pewaris konglomerat Tanujaya, dan legenda penerbangan yang fotonya sudah ditempel Keira di dinding kamar sejak SMA.
Setiap hari, Keira memuja Kapten Kaizan Tanujaya di kantor.
Setiap malam, Keira memarahi "suami kontrak pengangguran"-nya di rumah.
Mereka adalah orang yang sama.
Dan Kaizan? Dia menikmati setiap detiknya.
Tapi rahasia tidak bisa bertahan selamanya. Ketika topeng terbuka, ketika masa lalu yang kelam menyerang, ketika satu-satunya orang yang pernah membuatnya jatuh cinta berbalik pergi—Kaizan harus membuktikan bahwa cinta yang dimulai dari kebohongan bisa menjadi hal paling nyata di hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30
Satu Nama
Pagi acara pembukaan, Kai sudah pergi sebelum Keira bangun.
Di meja makan ada roti panggang, telur, dan pesan suara pada jam biru.
"Aku ada pekerjaan penting. Sampai jumpa nanti, Kei."
Keira memutar pesan itu sekali. Batas waktu yang dia berikan akan tiba setelah acara. Kali ini, dia tidak akan menerima jawaban setengah.
Pukul sembilan, halaman utama NusAir dipenuhi karyawan. Panggung besar berdiri di depan gedung, diapit layar raksasa dan model FK980. Di atasnya terbentang tulisan yang belum pernah dipasang sebesar itu.
GARUDA NUSANTARA GROUP
NUSAIR: LANGIT BARU, STANDAR BARU
Seluruh divisi hadir bergiliran agar operasional penerbangan tetap berjalan. Kru aktif mengikuti melalui siaran internal. Area depan diisi direksi, komisaris, regulator, perwakilan pabrikan, dan tim FK980.
Keira duduk di baris khusus kru bersama kapten operasional serta kepala awak kabin. Seragamnya rapi. Dua liontin Cloud berada di leher, sedangkan plakat keselamatan diletakkan di kursi sebelah.
"Kamu kelihatan tegang," kata seorang rekan.
"Kurang tidur."
"Habis acara pasti ada wawancara lagi."
Keira menggeleng. "Aku cuma menunggu seseorang menjelaskan sesuatu."
Di belakang panggung, Kaizan berdiri di depan cermin. Jas hitam pas di bahu. Kacamata gelap yang selama ini menjadi dinding terakhir berada di tangannya.
Moreno memeriksa susunan acara pada tablet. "Masih bisa diubah. Bos bisa bicara dengan Keira dulu, lalu naik panggung."
"Dia sudah duduk di luar. Kalau kupanggil sekarang, seluruh baris akan melihat."
"Lebih baik dilihat dipanggil daripada mengetahui bersama ribuan orang."
Kaizan tidak menjawab.
"Oma menyuruh Anda mengatakan langsung," lanjut Moreno. "Keira juga memberi batas waktu."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa tetap begini?"
Kaizan menatap pantulan dirinya. "Karena setiap kali berdua dengannya, aku gagal mengucapkan satu nama. Di panggung, aku tidak bisa mundur."
"Itu memudahkan Bos, bukan dia."
Kalimat Moreno menghantam tepat. Namun musik pembukaan sudah terdengar. Pembawa acara memanggil para tamu. Tidak ada waktu tersisa untuk memperbaiki keberanian yang tertunda berminggu-minggu.
"Pastikan koridor samping kosong setelah acara," kata Kaizan.
Moreno menutup tablet dengan wajah berat. "Sudah saya siapkan."
Acara dimulai dengan laporan reformasi keselamatan, perlindungan pelapor, dan rencana armada baru. Tidak ada nama korban Teguh disebut. Layar hanya menunjukkan mekanisme pengaduan, hasil audit, serta komitmen bahwa jabatan tidak boleh menghalangi pemeriksaan.
Kemudian rekaman FK980 diputar.
Video berhenti sebelum keadaan darurat dan beralih ke foto seluruh kru berdiri bersama setelah selamat. Tepuk tangan menyebar. Keira berdiri ketika namanya disebut, tetapi segera menunjuk rekan-rekan di kanan dan kiri agar ikut menerima penghargaan.
Di layar muncul nilai seleksi 94,6 dan kalimat: peringkat pertama, first officer penerbangan perdana.
Keira melihat hasil itu tanpa malu untuk merasa bangga.
"Selanjutnya," kata pembawa acara, "kita akan mendengar arah baru NusAir langsung dari Direktur Utama Garuda Nusantara Group, pemegang lisensi pilot komersial dan sosok yang pernah membawa standar baru ke dunia penerbangan nasional."
Jantung Keira berdetak lebih cepat.
Deskripsi itu terlalu dikenalnya. Kalimat serupa pernah dia gunting dari koran dan tempel di dinding kamar.
Layar menampilkan siluet seorang pilot muda di samping pesawat. Foto lama Kaizan Tanujaya, wajahnya hanya terlihat dari samping, sama seperti sebagian besar artikel yang Keira simpan sejak sekolah.
"Mari sambut, Pak Kaizan Tanujaya."
Tepuk tangan bergemuruh.
Pria berjas hitam keluar dari sisi panggung.
Keira mengenali cara jalannya sebelum mengenali wajah. Langkah panjang yang pernah mengikuti Mochi di lorong apartemen. Bahu yang dia lihat di restoran Bandung. Tangan kiri yang secara otomatis merapikan manset ketika gugup.
Tidak mungkin.
Pak Kaizan berhenti di tengah cahaya. Kacamata gelap masih menutupi matanya.
Keira mencondongkan tubuh.
Layar besar menangkap wajah pria itu dari dekat. Garis rahang yang selalu terasa familier kini memenuhi seluruh panggung. Luka tipis di dekat alis, yang pernah disentuh Keira ketika mereka berteduh dari hujan, tampak jelas di bawah cahaya.
Napas Keira berhenti.
Pria di panggung mengangkat tangan dan melepaskan kacamata.
Mata yang sama menatap lurus ke baris ketiga.
Mata yang menunggunya pulang.
Mata yang terpejam saat dia memasangkan jam anak-anak.
Mata yang dia cium di bawah hujan Yogyakarta.
Kaizan menggenggam sisi podium agar tangannya tidak terlihat gemetar.
"Halo. Saya Kaizan Tanujaya."
Satu nama meruntuhkan dua orang.
Kai, laki-laki tanpa pekerjaan yang tidur di ruang sempit apartemennya.
Kaizan Tanujaya, legenda yang fotonya memenuhi dinding masa kecil dan direktur utama yang mengubah NusAir.
Keduanya berdiri di panggung yang sama.
Suara tepuk tangan meledak. Orang-orang berdiri. Kamera berkedip. Keira tetap duduk.
Dia menatap panggung seolah jika tidak berkedip, wajah itu akan kembali menjadi orang asing.
Potongan kejadian datang tanpa urutan.
Rolls-Royce di parkiran SCBD. Moreno menjawab `Bos`. Daftar PHK yang mendadak dibekukan. Punggung Pak Kaizan di kantor. Telepon tentang audit. Kartu hitam. Pesawat ke Bandung. Delapan belas kotak Cloud. Oma yang mengaku keluarga Moreno. Pria bertopi di Juanda. Tangan berperban di dalam mobil CEO.
Semua pertanyaan pernah dijawab dengan setengah kebenaran.
Aku banyak membaca.
Temanku punya akses.
Barang diskon.
Aku sedang mencari kerja.
Keira menyentuh liontin di lehernya. Logam itu mendadak terasa berat. Kalung dua ratus juta yang disebut barang contoh. Hadiah yang diterima setelah dia meminta satu hal sederhana: jangan membeli keputusannya.
Di pergelangan pria panggung, jam biru seharga dua ratus ribu tampak di antara jas dan podium.
Tidak ada lagi ruang untuk menyangkal.
Air mata pertama jatuh tanpa suara.
Udara terasa tidak lagi mencapai paru-parunya. Ujung jari Keira dingin, sementara suara di sekeliling berubah menjadi dengung rendah. Dia menekan telapak pada tepi kursi agar tidak berdiri atau jatuh sebelum tubuhnya memilih salah satu.
Layar masih menampilkan Kaizan dalam ukuran beberapa meter. Setiap kali kamera mengubah sudut, Keira menemukan detail lain yang selama ini disentuhnya tanpa tahu: bekas luka di alis, garis di sudut bibir, cara ibu jari mengusap sisi telunjuk saat menahan gugup.
Tidak ada kemiripan. Tidak pernah ada dua orang.
Rekan di sebelah mengira Keira terharu oleh pidato. Dia menyodorkan tisu. Keira tidak mengambilnya.
Kaizan mulai berbicara tentang keselamatan, akuntabilitas, dan langit baru NusAir. Suaranya masuk ke pengeras tetapi tidak mencapai Keira. Dia hanya melihat bibir yang tadi pagi mengirim pesan, sampai jumpa nanti.
Nanti ternyata berarti di depan seluruh perusahaan.
Oma pernah bertanya siapa yang akan dia pilih. Keira menjawab Kai karena dia tidak bisa mencintai potongan koran.
Ternyata laki-laki yang dia pilih telah membiarkannya membandingkan orang yang sama.
Yang paling aku benci di dunia ini adalah dibohongi.
Kalimat yang dia ucapkan di kamar hotel kembali dengan suara sendiri. Oma telah mendengarnya. Oma tahu. Moreno tahu. Revan mungkin tahu. Hanya Keira yang berdiri di tengah lingkaran rahasia dan mengira setiap kebetulan adalah bukti cinta.
Kaizan menatapnya dari panggung.
Wajah Keira tidak menunjukkan kekaguman yang dia takutkan. Tidak ada senyum perempuan yang akhirnya bertemu idola. Yang ada hanya kehancuran tenang, mata merah, dan satu tangan menekan dada agar napas tetap masuk.
Kaizan kehilangan satu kalimat dari pidato.
Moreno berdiri di sisi panggung, memberi tanda pada layar pengingat. Kaizan kembali membaca, tetapi suaranya berubah lebih rendah.
Upacara selesai dengan penandatanganan komitmen keselamatan dan foto direksi. Semua orang bergerak maju untuk memberi selamat. Keira berdiri ketika barisnya dibuka, mengambil plakat, lalu berjalan ke arah berlawanan.
Dia tidak menunggu sesi foto kru.
"Bu Keira, media menunggu di kanan," panggil staf.
"Saya tidak bisa."
Hanya itu yang mampu dia ucapkan.
Dia masuk ke gedung melalui pintu samping. Lorong berpendingin terasa terlalu dingin setelah panas halaman. Sepatu seragamnya memukul lantai dengan ritme cepat.
Di belakang, tepuk tangan masih terdengar seperti hujan jauh.
Kaizan meninggalkan sesi foto sebelum protokol selesai.
"Pak Kaizan, tanda tangan kedua belum selesai," seru seseorang.
Moreno mengambil alih. "Direktur operasional akan melanjutkan."
Kaizan berlari menuruni tangga samping. Kacamata tertinggal di podium. Untuk pertama kalinya, dia tidak peduli berapa banyak orang melihat wajahnya.
"Keira!"
Keira mempercepat langkah.
"Kei, tunggu."
Nama panggilan itu membuatnya berhenti.
Dia berbalik begitu cepat hingga plakat di tangannya hampir jatuh. Air mata masih mengalir, tetapi suaranya tidak pecah.
Kaizan berhenti dua langkah di depannya. Tanpa panggung dan cahaya, dia kembali terlihat seperti laki-laki yang tinggal di apartemennya. Hanya jas mahal, kartu akses eksekutif, dan seluruh gedung yang menunduk padanya membuktikan bahwa rumah mereka selama ini dibangun di atas peran.
"Jadi Kaizan Tanujaya," kata Keira. "Pak Kaizan. Bos. Pilot di dindingku. Semuanya kamu?"
"Iya."
Satu jawaban jujur datang setelah puluhan kebohongan.
"Upacara kita?" Keira bertanya. "Nama apa yang kamu pakai saat ikrar?"
Kaizan menutup mata sesaat. "Data lengkapku diserahkan langsung kepada pemuka agama. Aku meminta mereka menyebutku Kai di depanmu."
Plakat di tangan Keira bergetar. "Jadi bahkan saat aku menyatakan bersedia, kamu sudah mengatur supaya aku tidak tahu dengan siapa aku menjalani nikah siri."
"Aku tidak memakai upacara itu untuk mengambil hakmu. Tidak ada pencatatan, harta, atau tuntutan hukum."
"Kamu mengambil hakku memilih dengan mengetahui seluruh kenyataan."
Kaizan tidak mampu membalas.
Keira mengangguk kecil, seolah sedang mencatat hasil pemeriksaan yang tidak bisa dibantah.
"Oma itu omamu?"
"Iya."
"Ko Moreno bekerja untukmu. Pesawat ke Bandung milik perusahaanmu. Cloud itu tidak diskon. Kamu membekukan PHK-ku. Kamu ada di Juanda karena kamu yang mengatur semuanya."
"Kei, dengar dulu."
"Aku sudah mendengar selama berminggu-minggu."
Kaizan maju setengah langkah. "Aku ingin memberitahumu."
"Tapi kamu memilih panggung."
Dia tidak bisa menyangkalnya.
Keira menatap wajah yang dulu menjadi alasan dia bertahan di sekolah penerbangan, lalu wajah yang sekarang menjadi alasan dia meragukan setiap kenangan di rumah.
"Jadi selama ini... kamu bohong?"
Kaizan mengangkat tangan untuk menyentuhnya.
Tangannya berhenti di udara.