NovelToon NovelToon
Permainan Takdir

Permainan Takdir

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Contest / Peningkatan diri-peningkatan identitas/sifat protagonis / Tamat
Popularitas:964.1k
Nilai: 5
Nama Author: cietyameyzha

Adnan dipertemukan kembali dengan Alina, gadis yang sama 6 tahun lalu. Satu kejadian membuat Alina bernadzar sesuatu. Dan Adnan adalah saksi hidup yang mendengarnya.

Rentetan kejadian demi kejadian seolah teratur sempurna untuk mengikat keduanya. Puzzle kehidupan Alina yang kelam dan penuh air mata mulai terkuak.

Dua hati dengan watak yang berbeda kini bersatu. Saling bertabrakan dan tak jarang beradu argumen.


Bagaimana kisahnya?
Apa mereka tetap bisa berjalan bersama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cietyameyzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sarapan

Jika terbiasa menunda kewajiban. Maka, kamu akan terus melakukannya berulang kali. Sehingga, tidak terasa sesuatu yang kecil menjadi menumpuk.

🤡🤡🤡

Dua hari berlalu setelah hari pernikahan. Alina sudah berada di rumah orang tua Adnan. Suaminya itu berencana membawa ia pindah ke rumah baru. Tempat di mana mereka akan memulai biduk rumah tangga.

Lisa dan Rendy tak bisa mencegah. Adnan boleh memilih jalan hidupnya sendiri. Hanya untaian doa agar rumah tangga mereka berjalan tanpa rintangan besar.

Pagi ini, tepat pukul 06.00 WIB. Alina membantu Lisa di dapur. Hari Minggu adalah waktu yang tepat berkumpul bersama keluarga. Sejak Subuh, Alina terus bercerita banyak pada Ibu Mertuanya. Ia bahkan tidak sungkan tersenyum seperti seorang anak yang telah lama kehilangan kebahagiaan.

Berapa detik selanjutnya, Lisa menyuruh Alina untuk membawa Adnan sarapan. Wanita itu menurut sembari melangkah keluar dari dapur, dan menapaki anak tangga satu per satu. Setiap langkahnya ringan tanpa beban. Atmosfer di rumah ini sejuk, menenangkan jiwa. Tidak ada ketakutan, ataupun gemuruh amarah seperti biasanya. Ia banyak mendapatkan kasih sayang bertubi-tubi dari penghuni rumah.

Tanpa mengetuk pintu dahulu, Alina memutar knop pintu. Membiarkan kakinya masuk ke kamar, dan mendapati sesuatu yang mencengangkan.

"Aaaaa!" teriak Alina sembari menutup matanya dengan kedua tangan. "Mas, bisa engga, sih, kalau abis mandi itu langsung pake baju di kamar mandi?"

Adnan yang membelakangi Alina seketika memutar badan. Dengan handuk yang melilit di pinggangnya Adnan cuek berjalan ke arah lemari pakaian. "Aku engga biasa pake baju di toilet."

"Kalau gitu, cepatan pake baju!" Masih dalam posisi menutup mata. "Aku disuruh Bunda ngajak Mas sarapan."

"Mas, udah belum?"

Adnan tak menjawab. Ia berpakaian seperti baisa.

"Aduh, bisa pegel ini mata ditutup mulu!" Alina masih terdengar mengomel dengan posisi berdiri di dekat pintu yang tertutup.

"Kamu ngapain tutup muka? Sudah lihat ini," jawab Adnan santai tanpa dosa.

"Mas Adnan!" seru Alina. "Aku ketok pake sepatu hak tinggi lagi, mau?"

Ujung bibir Adnan terangkat ke atas. Ekspresi yang selalu ia perlihatkan saat rasa gemas pada Alina menghantamnya. Hening. Tidak terdengar pergerakan Adnan. Alina perlahan menurunkan kedua tangan, kemudian membuka mata. Namun, sebuah kejutan terjadi lagi. Suaminya justru sudah berada di hadapannya. Alina mundur dua langkah ke belakang, berjaga-jaga jika ada serangan fajar datang.

"Pikiranmu kotor," ujar Adnan dengan senyuman setengah mengejek. Alina mendengus kesal.

Adnan maju dua langkah. Jarak keduanya seperti semula. Kedua netra bertemu saling menilik mata lawan. Mengisyaratkan ada benih cinta yang mulai subur.

"Kamu mau kerja?" tanya Adnan.

Dahi Alina mengerut. Tidak salahkah lelaki ini berkata demikian? Apa dia kekurangan dana, hingga menginginkan istrinya bekerja di luar?

"Jangan salah paham dulu." Ternyata Adnan cepat menangkap isi pikiran istrinya. Ia pun tidak ingin dikatakan suami kejam.

"Aku butuh sekertaris, tapi belum ada yang cocok. Kamu mau jadi sekertarisku?" tanya Adnan.

"Apa yang aku dapatkan, kalau aku jadi sekertaris, Mas?" Alina mencoba bernegoisasi.

"Gaji."

"Cuman itu."

"Cintaku."

"Hidup itu realitis. Cinta memang perlu, tapi uang juga butuh."

Adnan menyeringai. "Apa yang kamu mau?"

Otak Alina berputar. Mencari sesuatu yang menguntungkan dirinya. Ini mungkin terdengar matrealitis, akan tetapi nyatanya kehidupan itu memang kejam. Siapa yang kuat, dia yang bertahan.

"Kamu terlalu lama," tutur Adnan. "Kalau tidak mau, aku cari sekertaris wanita aja. Pastinya yang cantik, dan memikat hati."

Dalam hati, dnan terus tertawa. Raut wajah Alina berubah merah menahan marah. Ia hanya sedang menggoda. Tak mungkin juga mencari yang seperti itu. Alina saja sudah cukup.

"Cari sana, kalau berani!" tantang Alina membohongi hatinya. Gengsi dalam diri, untuk memperlihatkan ia tidak suka lebih mendominasi.

"Benarkah? Wah, aku harus suruh Riko cari daun muda," goda Adnan sekali lagi.

Alina memalingkan wajah, kesal. "Ayo, turun. Bunda nungguin."

Alina berbalik, mengayunkan kaki selangkah ke depan. Tiba-tiba Adnan memeluk erat dari belakang, lalu berbisik, "Jangan marah. Mana bisa aku cari yang muda, kalau istriku saja fresh begini. Jadi, kamu mau tidak?"

Alina mengangguk. Menyampingkan gengsinya 50 persen. Rasa aneh terus berkecamuk dalam diri. Menyelimuti hati Alina ketika Adnan menggodanya barusan.

"Aku bakal gaji kamu dua kali lipat. Tapi ...." Adnan sengaja tak meneruskan kalimatnya. Mencoba melihat reaksi Alina seperti apa.

Pelukan itu terlepas. Adnan mensejajarkan dirinya satu baris dengan Alina.

Alina menoleh ke arah Adnan. "Tapi apa, Mas? Kalau ngomong jangan digantung gitu, Mas. Sakit tau!"

"Tapi ... kamu juga harus kerja dua kali lebih keras dari sekertaris biasa."

Kornea mata Alina membulat sempurna. Kerja dua kali lebih keras? Apa Adnan menyuruh istrinya kerja rodi? Tega sekali. Di balik kebaikannya ternyata ada udang berselimut bakwan.

"Mas, mau aku kerja rodi?" Intonasi Alina sedikit meninggi.

Adnan menggeleng.

"Lalu, maksud kerja dua kali lebih keras itu apa? Kalau bukan kerja rodi." Alina melangkah lebih dahulu keluar kamar.

Adnan menyusul, lalu membisikkan sesuatu yang berhasil membuat Alina menghentikan langkahnya.

"Kamu kerja di kantor juga di rumah. Di kantor, aku atasanmu. Di rumah, aku suamimu. Tenang! Aku akan memperlakukanmu lembut baik di kantor, atau di rumah. Pekerjaanmu di rumah justru tidak banyak. Hanya cukup satu, dan itu menyenangkan."

Adnan meninggalkan Alina usai berkata demikian. Beberapa detik kemudian, suara Alina memanggil namanya terdengar saat ia menuruni anak tangga. Menggoda Alina menjadi jadwal rutinnya setiap waktu. Wajah marah, kesal, dan juga sifat Alina yang tak berubah seperti dulu justru menjadi sebuah magnet kuat yang menarik dirinya ingin lebih jauh lagi mengenal istrinya itu.

Sesampainya di dapur, ia melihat Riki tengah asyik bercanda dengan Lisa. Adnan tidak heran. Lelaki itu terbiasa datang di hari Minggu pagi. Hampir setiap weekend, Riki ikut sarapan. Dengan alasan ingin bertemu Adnan demi menutupi niatnya.

Masakan Lisa yang menjadi kesukaan Riki setelah masakan Dira, mamanya. Entah mengapa rasanya Riki selalu rindu. Sehingga, ia selalu datang di hari Minggu.

"Eh, Pak Direktur udah bangun," sapa Riki. "Wih, tuh, rambut basah bener."

Lisa tersenyum kecil, sedangkan Adnan hanya diam sembari duduk di kursi makan.

"Bunda, Papa ke mana?" tanya Adnan pada Lisa.

"Papamu ada urusan sebentar sama Om Rey," jawab Lisa.

"Sepagi ini?" Adnan penasaran.

"Iya ... mungkin mereka mau nostalgia berdua," tebak Lisa yang baru selesai membersihkan perobatan rumah tangga yang kotor.

Alina datang. Dengan cekatan ia membawa menu sarapan di berbagai piring. Ada ayam goreng, capcay kuah, sambal bajak, dan tumis tauge bakso.

Riki memperhatikan gerak gerik Alina. Ide gilanya muncul hendak menggoda Adnan.

"Tante Lisa, menantunya cekatan banget. Cantik pula. Boleh, kan, Riki bungkus bawa pulang?" ujar Riki pada Lisa yang hanya ditanggapi dengan gelengan kepala dari bundanya Adnan tersebut.

Sontak mata Adnan menatap tajam ke arah Riki. Seolah mengatakan, bahwa laki-laki itu dalam siaga satu. Namun, yang ditatap justru tertawa memegang perut.

Alina berjalan ke meja makan membawa tumpukan piring kosong. Bibirnya ia katupkan serapat mungkin agar suara yang tawa yang tertahan di tenggorokan tidak lolos keluar begitu saja.

Alina sengaja mendekati Adnan. Dengan sedikit membungkukkan badan, Alina berkata. "Katanya mau cari daun muda. Istri mau dibawa orang aja langsung kasih ultimatum. Gimana rasanya? Enak, kan, digoda sepupu sendiri?"

Bagai senjata maka tuan. Adnan merasakan karma dari perbuatan jahilnya pada Alina. Ia beberapa kali melirik ke arah istrinya, sedangkan Alina tampak mengejek Adnan lewat tatapan mata.

...****************...

BERSAMBUNG~~~

Jangan lupa like, coment, dan vote🤗

1
Ma Selly
wah suami idaman
Ma Selly
wah ,awas adnan jangan sampe tergoda sama ulet bulu/Grin//Grin/
Ma Selly
adnan bercandanyakebangetan
Ma Selly
semoga adnan selamat dari kecelakaan mautnya
Ma Selly
kira kira siapa yah yg pake mobil merah
Ma Selly
semoga lily dan riko berjodoh
Ma Selly
haaahaaaa ada ada aja adnan bercandanya
Ma Selly
iya nikakan saja tuh si kembar riki dan riko ,di barengin aja nikahnya biar tambah rame/Grin//Grin//Facepalm/
Ma Selly
rasain lo rio makanya jd orang jangan jahat
Ma Selly
kasihan bu winda ,dia ga tau kalau pak willy sudah menikah lagi
Ma Selly
mudahan ibunya alina sadar dari komanya Aamiin
Ma Selly
siapa kira kira yg merekam
Ma Selly
oh jd begitu ceritanya
Ma Selly
kasihan lily ga ada yg menemaninya
Ma Selly
ketemu mantan kali ya
Ma Selly
usil sama istri sendiri ga masalah
Ma Selly
si masnya sudah mulai bucin akut
Ma Selly
mau ada pengantin baru nih
Ma Selly
ibu dan anak yang serakah
Dina Mulyana Syafitri
masyaAllah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!