WARNING!!!!
BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN!!!
Mengisahkan dua orang pria dan wanita yang terlibat sebuah pernikahan tanpa cinta. Tetapi sama-sama saling membutuhkan pernikahan tersebut demi kepentingan masing-masing.
Menghadapi pria yang dingin dan kaku, Naja sering menahan sesak karena tindakan dan ucapan pria yang telah menjadi suaminya itu.
Sedangkan Excel, yang tidak pernah berhubungan dengan wanita selain Mikha, harus menyesuaikan diri dengan istrinya yang ceroboh dan pemarah.
Mampukah mereka mempertahankan pernikahan mereka?
Hanya cerita biasa ajah, hiburan semata!
Alur selow Yess ✌, no visual di dalamnya...visual di taro di igeh...
21+ AREA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon misshel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karena Aku Peduli
Bahagia. Satu kata yang benar memenuhi hati gadis muda yang mengarungi malam menuju mimpi. Setelah menghabiskan makanan yang sudah terlanjur dingin, Naja terus saja melengkungkan bibirnya. Menjerit sambil menutup mata, duduk, berbaring, berdiri tiba-tiba dan menghempaskan tubuhnya ke kasur lalu berguling. Hingga sprei dan selimut menjadi berantakan bahkan menggulung tubuh kecilnya.
“Apa kau bisa diam sebentar saja?” hardik Tara. Dia begitu kesal saat belajarnya terganggu. Dia bahkan sampai menegaskan wajahnya dengan gigi gemeretuk hebat.
Seketika Naja berhenti dan bangkit dengan tubuh berbalut selimut dan rambut acak-acakan. Menyeringai lebar sambil mengibaskan rambut yang memenuhi wajah dengan liarnya.
“Hehehe ... adikku ini menyebalkan ya ... ngga tahu orang lagi seneng ....”
“Kau mengganggu konsentrasi belajarku!” seru Tara tanpa menyurutkan ekspresinya sama sekali.
“Kau bisa belajar di luar sana ... jika terganggu di sini,” balas Naja santai tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Tara mendelik galak. “Ini kamarku ... kau hanya numpang, ingat?”
Bibir Naja terbuka ingin menjawab Tara, tapi sedetik kemudian dia sadar bahwa apa yang diucapkan Tara benar. “Ck ... tinggal sebentar lagi ... setelah itu aku akan dibawa pergi oleh Ai. Kupastikan kau akan merindukanku setelah itu ....”
“Memangnya Ai-mu mau membawamu ke mana? Lupa kalau Bu Linda ngga suka sama kamu? Lupa kalau kalian sampai begini karena tidak direstui?” cibir Tara. Resah mulai menggelitik hati Tara. Bagaimana tidak, setelah hinaan yang dilontarkan ibu Lendra kepada orang tuanya saat Naja baru seminggu merantau. “Harapan apa yang diucapkan pria itu pada wanita labil dan bodoh seperti Naja?” gumam Tara dalam hati.
Naja bangkit, “ingat ... sangat ingat.” Duduk di hadapan Tara meraih salah satu buku milik Tara dan membukanya dengan cepat.
Tara menatap kakaknya penuh tanya. Manik matanya meneliti wajah Naja yang tampak santai dan dipenuhi rona bahagia.
“Lalu ...?”
Melempar buku dengan asal, “Ya pokoknya Ai hanya bilang akan menikahiku dan akan membawaku pergi.”
Sejenak pikiran Naja kembali normal. Tentu sebuah pernikahan adalah sebuah hal besar. Tetapi baru disadarinya kini, bahwa ada banyak hal yang harus dipersiapkan. Terutama mental. Iya ... dia bahagia tapi apa iya dia mampu? Serapat apapun mereka menyembunyikan kebohongan, pasti akan terkuak juga suatu saat. Sejauh apapun mereka pergi, orang tua lah tempatnya kembali. Jika Linda mengetahui bahwa Ai sudah menikah dengannya, apa hidupnya akan damai setelah itu? Mungkinkah mereka bahagia?
Menyadari raut wajah Naja berubah, Tara menghela napas. “Kau sudah bisa berpikir jernih sekarang? Menikah dengan Ai yang kau cintai juga tantangan. Sebaiknya kau hubungi Bapak dan Ibu setidaknya bicarakan niat Ai, jangan sampai Bapak dan Ibu terkejut dan memilih tidak merestui pernikahan kalian!”
Kedua saudara itu saling pandang, saling menyelami. “Apa Bapak dan Ibu tahu kalau Bu Linda tidak suka padaku?”
“Kurasa tahu, Ja.” Tara berpaling, tak kuasa menatap wajah lugu kakaknya. “Andai kau tahu semuanya Ja.”
Naja termangu, mulai memikirkan apa yang terjadi di kampungnya. Apa yang tidak dia ketahui selama di sini. Selama ini orang tuanya tak sekalipun membahas hal lain yang membuat pikiran Naja terganggu. Yang Naja tahu, orang tuanya bahagia, yang Naja tahu orang tidak akan memandangnya sebelah mata lagi.
Bergegas Naja mengambil ponsel dan menghubungi Ibunya.
“Ja ... sebaiknya besok saja. Ini sudah malam ... pasti Bapak dan Ibu sudah tidur.”
Tetapi terlambat, panggilan itu sudah terjawab dan Ibu Wasti -ibu Naja- riang menyambut putrinya.
“Assalamualaikum ... anak Ibu. Sudah kangen ya sama Ibu ... kok belum tiga hari udah nelpon lagi?”
“Wa alaikumsalam Bu ..., iya anak Ibu udah kangen berat.”
“Jangan rindu—“
“Rindu itu berat, biar Dilan saja ....”
Tawa di ujung telepon membuat batin Naja teriris. Benarkah Ibu baik-baik saja? Pikir Naja.
“Aduh ... perut Ibu sakit Naja. Gara-gara kamu beliin Ibu hape bagus Ibu sekarang ngga kudet lagi Ja ....”
“Iya ... tapi jangan ikut-ikutan jargon film Bu, udah beruban rambutnya. Malu ih.” Air mata Naja meleleh sehingga memaksanya membelakangi Tara.
“Eh ... bukan hanya Ibu, semua tetangga di sini pada tahu loh sama kata-kata itu, kamu tuh yang masih muda dan udah tinggal di kota tapi gayanya masih ndeso ..., apa-apa malu.”
“Iya mentang-mentang sekarang hapenya Android jadi Ibu ikutan norak.”
“Ih ... jangan ngambek dulu. Ibu sadar diri kali Ja,”
“Bu ...,”
“Belum ketemu Ai ‘kan?”
“Salah! Ai tadi ke sini ... dan sebulan lagi akan melamarku Bu.”
Tara tak menyangka Naja mengatakan itu sekarang tapi dia juga tak bisa mencegah. Mungkin sudah saatnya Naja tahu apa yang terjadi di kampung selama ini.
“Bu ...,” panggil Naja saat seberang telepon tidak merespons.
“Iya Ja ... sinyalnya buruk kali Ja, tadi kamu bilang apa?”
“Syailendra akan melamar Naja, Bu.”
“Kenapa mendadak sekali, Ja? Ibu ‘kan belum siap-siap, kamu tahu kan bagaimana lamaran itu?”
“Makanya Naja kasih tahu sekarang, Bu ... coba saja aku nurutin kemauan Syailendra, Ibu akan lebih terkejut lagi.”
“Em ... anak Ibu bahagia saat Lendra akan datang melamar?”
Embusan napas Naja begitu berat terhempas. “Ibu tahu Bu Linda tidak merestui kami kan?”
“Tahu Nak, tapi jika kamu dan Lendra sudah memutuskan, Ibu yakin Bu Linda sudah bisa menerimamu. Benar kan?”
Naja membeku sejenak. “I-iya Bu ... kata Lendra Bu Linda sudah merestui. Tapi kata Lendra Ibu tidak boleh memberitahu siapa pun dan jangan melakukan persiapan apa pun.”
“Kenapa Ja? Kamu bohongin Ibu?”
“Bu-bukan begitu Bu ... karena semua acara lamaran dan pernikahan dilakukan di sini. Bukan di desa.”
“Na-nanti Naja beri kabar lagi Bu, em ... ini Naja harus kembali kerja ..., Assalamualaikum Bu.”
Naja menatap nanar ponsel yang tergenggam di tangan, seakan menatap wajah ibunya yang pasti akan kecewa jika sampai mengetahui kalau Naja sudah berbohong kepada beliau.
“Lancar banget ya kamu bohongnya?” sindir Tara. Kentara sekali Tara tidak menyetujui tindakan Naja yang gegabah. “Berani kau bohong sama orang tua untuk hal sebesar itu?”
“Lalu aku harus bagaimana, Ra? Bilang kalau mau kawin lari?” lengking Naja dengan frustrasi hingga air matanya berhamburan.
“Kenapa kau selalu bertindak semaumu? Semua ada jalan jika kau mau sedikit sabar, pikir dengan kepala dingin, kita rencanakan dengan matang, baru melangkah!” teriak Tara sedikit tak sabar. Pria tanggung ini tak punya pilihan untuk menyadarkan kakaknya selain dengan bentakan.
Air mata Naja semakin gencar menghambur, iya ... dia tahu apa yang dikatakan Tara benar, tapi ketika kesalahanmu dipertegas itu malah membuat luka hati semakin lara. Semakin merasa bersalah.
“Bagaimana jika Ibu mencari tahu atau tidak sengaja bertemu Bu Linda dan Ibu tahu kalau dia belum merestui kalian? Malah rencana Ai berantakan? Kau gagal menikah dan Ai-mu semakin jauh?” nada suara Tara masih di atas rata-rata orang berbicara normal. Bahkan sedikit menakut-nakuti Naja.
“Stop Tara ...,” Naja ambruk dengan telapak tangan menutup telinga. Tergugu dalam tangis dan frustrasi. Semua sudah terlanjur. “Apa yang harus kulakukan?” Lirih Naja.
.
.
.
.
.
.
.
.
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻