NovelToon NovelToon
'Ahlaan Zawjati

'Ahlaan Zawjati

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Contest / Komedi
Popularitas:282.6k
Nilai: 5
Nama Author: Naja

Berhijrah terkadang bukan perkara yang mudah, apalagi bayang kelam masa lalu bak sebuah benalu yang menggerogoti hati. Tak jarang membuat keyakinan merosot kembali.

Keinginan untuk menjadi lebih baik, terkadang di bumbui sebuah kesempurnaan. Bak
setiap pria yang mendambakan seorang istri sempurna, pun seorang perempuan mendambakan seorang suami yang sempurna. Namun terkadang keduanya tidak menyadari kalau mereka di ciptakan untuk saling menyempurnakan.

Inilah sebuah kisah. Perjalanan penuh Lika liku, mendambakan sebuah kesempurnaan untuk mencapai sebuah kebahagiaan.

Tidak pernah menyadari, berdiam di Zona nyaman sebuah kesempurnaan dan kebahagiaan, membuat hati buta.


Telat menyadari kalau kebahagiaan bukan milik dia yang hebat dalam segalanya, namun bahagia, milik dia yang mampu temukan hal sederhana dalam hidupnya dan tetap bersyukur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Gemuruh suara kendaraan yang berlalu lalang, decitan roda mobil yang melaju cepat rasanya tidak bisa menggambarkan suasana apa yang terjadi sekarang.

Mobil Ali melaju dengan kecepatan penuh menyalip beberapa mobil dan motor yang melaju di depannya. Begitupun mobil David Raka dan Alex mereka berada di belakang dengan setia mengikuti.

Ansell, Ali dua laki laki itu teramat gelisah sekaligus tegang dengan keadaan sekarang.

Alika terbaring pingsan di pangkuan Ansell di kursi belakang. Jidatnya mengeluarkan darah segar, sepertinya kepala Alika membentur sesuatu saat terjatuh pingsan tadi, tangannya seperti tersayat dengan luka yang cukup dalam. Kalau saja Ansell tidak memasang perban, mungkin darah akan terus mengalir dari sana.

"Lebih cepat bodoh!" Karena terlalu gelisah bibir Ansell berucap tanpa di filter. Menggerutu Ali yang sama sama sedang gelisah. Tapi Ali masih memakai akal sehat karena dia harus fokus mengendarai mobil nya.

"Tenang Bang, ini sudah mencapai kecepatan maksimal." Ali hanya bisa menenangkan suasana. Dia tidak bisa meladeni kekesalan Ansell. Ini demi keselamatan bersama.

"Kau pikir aku bisa tenang? Dasar bajingan, bahkan kau tidak mengkhawatirkan keadaan istrimu yang seperti ini." Ansell makin geram. Rupanya kekhawatiran akan keadaan Alika membutakan hatinya, sampai ia tidak sadar apa yang telah ia ucapkan.

"Aku juga mengkhawatirkan Alika, Bang." Ali suaminya. Mena mungkin Dia tidak mengkhawatirkan istrinya. Ali sesaat menoleh ke belakang melihat keadaan Alika dan kembali lagi fokus melajukan mobilnya.

"Sayang kumohon bertahanlah! sebentar lagi Kita akan segera ke rumah sakit."

Jujur hatinya begitu sakit melihat keadaan istrinya. Ingin sekali ia berada di samping Alika. Memeluknya, menggenggam tangannya, menyeka setiap darah yang keluar dari tubuhnya. Namun apalah daya. Kekhawatiran Ansell yang begitu besar mengalahkan nya sampai Ia tidak bisa berada di posisinya. Menjadi suami siaga, mungkin sekarang tinggal bayangan nya saja.

"Al, kau harus kuat. Bangun Al."

Bibir Ansell sudah bergetar. Matanya sudah di genangi air mata. Seumur hidup dia sudah berjanji akan melindungi Alika. Namun sekarang dengan mata kepalanya sendiri dia menyaksikan tubuh Alika yang terbaring lemas tanpa sadarkan diri. Dan lebih menyakitkan lagi melihat darah yang keluar dari kepala dan tangan Alika.

"Ya Allah. Kuatkan lah Alika."

...***...

Di sisi lain, Zahra dengan buru buru menuju parkiran sambil menggendong Afham di pangkuannya.

Zahra ikut khawatir setelah mendengar kabar dari Rani kalau Alika tidak sadarkan diri dan bergegas masuk rumah sakit. Dia pun terpaksa pergi ke rumah sakit walaupun di rumah dia sedang sendiri.

"Afham sayang. Maafkan Umie ya! Afham kan anak pintar, jadi jangan gerak gerak ya selama Umie menyetir." Zahra tersenyum manis membujuk Afham.

Walau tidak tega. Dia terpaksa mendudukkan Afham di kursi penumpang di sampingnya. Memasangkan sabuk pengaman khusus, agar putra kecilnya itu tidak banyak bergerak selama di perjalanan.

"Baba..ba..." Dengan begitu antusias Afham tersenyum lebar mengibaskan tangannya. Sepertinya Dia malah senang di ajak berkendara dan Dia duduk seperti sekarang. Rasanya sudah menjadi orang dewasa saja.

"Anak pintar. Bersiaplah kita akan menemui Abie." Gemas sekali melihat reaksi putra nya. Zahra langsung menggerakkan tangan mengelus rambut Afham. Rupanya putranya itu sudah bertingkah dewasa tidak seperti usianya.

"Buba...baba..." Afham mengoceh lagi. Mungkin kalau di artikan dia begitu senang mendengar kalau dia akan bertemu dengan Abie nya.

"Iya. Iya. Kita kejutkan Abie ya. Abie pasti senang melihat Afham." Telepati antara Ibu dan anak memang kuat. Zahra bisa tahu arti dari setiap ekspresi anaknya.

...***...

Alika sudah masuk UGD. Walau bersikeras untuk masuk. Namun dokter dan perawat tetap menyuruh Ansell untuk menuggu di luar.

Ansell duduk frustasi karena tidak lagi bisa melihat keadaan Alika. Sedangkan

Ali mondar mandir di depan pintu UGD. Ia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga istrinya.

Seharusnya Ia tidak meninggalkan Alika sendiri. Sampai Alika jatuh pingsan tanpa ada yang tahu kenapa asal mulanya.

"Kau. Sebenarnya Alika sakit apa hah?"

Ansell menggeram kesal. Kegelisahan, ketakutan, ketidak percayaan, rasa bersalah. Kini menumpuk dalam hati sampai tidak bisa mengendalikan diri.

"Bang?"

Ali begitu kaget. Ansell dengan cepat menerkam kerah baju dan mendorong badannya sampai menempel di dinding.

"Kau suaminya kan? Alika sakit apa sampai dia pingsan seperti ini hah?"

Ansell tidak bisa mengendalikan diri. Meninggikan suara membentak Ali. Ali sendiri hanya bisa diam. Dia tidak mampu melawan karena memang dia salah. Dia tidak bisa menjaga Alika, bahkan dia tidak tahu istrinya itu sakit apa.

"Kenapa diam hah. Apa saat Alika sakit kau hanya diam saja dan tidak membawa nya ke rumah sakit, kau tidak berusaha memeriksa keadaannya?" Ali terpojok. Semua yang Ansell ucapan benar. Dia seorang bajingan. Sebagai seorang suami dia tidak pernah memperhatikan keadaan istrinya.

"Maaf Bang." Hanya itu yang bisa Ali ucapan. Dia tidak bisa mengelak dan mencari alasan. Dan ternyata tingkah Ali sukses membuat hati Ansell makin kesal.

"Kau kira cukup dengan kata maaf setelah melihat keadaan Alika seperti itu?" Ansell tidak bisa mengendalikan emosi. Kepercayaan yang begitu besar kepada Ali kini berbalik menjadi kekecewaan.

Sampai kini ia benar benar tidak bisa mengendalikan diri.

"Akh...." Ali menyeringai sakit. Sesalah apapun dia. Dia tidak pernah membayangkan kalau Ansell akan memukul nya.

Ali mematung menahan sakit. Ansell menghela nafas berat, emosinya benar benar tidak bisa terkendali. Kalau saja yang di hadapannya bukan Gus Ali. Mungkin Ansell akan berkali kali mendaratkan pukulannya.

David Raka dan Alex. Tiga laki-laki itu dari tadi malah menjadi penonton. Tidak ada yang berani melerai mereka. Karena sudah tahu seperti apa kemarahan teman nya.

"Aku kira si Ansell beneran sudah berubah. Ternyata sama saja." Alex yang hanya melihatnya ikut menyeringai sakit. Dia adalah laki-laki pertama yang mengenal betapa tegas dan menakutkannya Ansell sebagai seorang Kakak yang selalu melindungi adiknya.

Dia yang hanya menyentuh Alika saja sudah sampai babak belur dan di usir dari kehidupan Alika. Apalagi Ali yang suaminya tapi tidak bisa menjaga adiknya.

Saat semua berada dalam ketegangan. Rupanya dari tadi Zahra dan Afham sudah sampai di sana. Zahra dengan cepat menutup mata Afham. Tidak ingin memperlihatkan sisi lain Abie nya.

"Astagfirullah Kak Ansell....!"

Zahra begitu terkejut. Ia sampai tidak bisa bergerak dan berkata kata saking tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Niatan akan mengagetkan Ansell dengan kehadiran Afham. Malah dia yang di bikin kaget melihat betapa kejam suaminya itu memukul seorang lelaki yang merupakan suami adiknya sendiri.

Masih dengan berusaha menghindarkan pandangan Afham pada Abie nya. Zahra perlahan melangkah mendekati Raka David dan Alex yang berada sedikit jauh dari Ansell dan Ali.

"Ternyata kalian sama jahatnya. Kenapa hanya diam membiarkan Kak Ansell seperti itu." Zahra mengomeli mereka. Membuat tiga laki-laki itu tercengang melihat kedatangan Zahra.

"Non Zahra....!"

Raka lebih terkejut lagi karena Zahra tiba tiba mengarahkan Afham ke pangkuannya.

"Afham pintar, Umie tinggal sebentar ya. Afham main dulu dengan Om Om ini ya."

Zahra kembali tersenyum membujuk Afham. Menunjuk tiga laki-laki yang sedang mati berdiri masih kaget melihat kedatangannya.

"Tolong jaga Afham sebentar. Jangan biarkan Afham melihat ke arah Abie nya."

Tanpa mendapat jawaban dari Raka.

Afham kini sudah ada di pangkuannya.

Tanpa basa-basi lagi Zahra pun langsung menghampiri Gus Ali dan suaminya.

"Baba..." Afham kembali antusias. Menarik narik jas yang di kenakan Raka.

Mungkin Afham senang ketemu lagi dengan Om Raka yang suka banyak canda.

"Hai Afham. Main bersama Om ya.

Kita main di sini saja, lihat live streaming. Umie mu akan melakukan apa pada Abie mu itu." Wah parah si Raka. Sudah di ingatkan jangan membiarkan Afham melihat ke arah Abie nya. Dia malah dengan sengaja menunjuk Zahra yang makin mendekat ke arah Ansell.

*

"Habib! Apa yang Habib lakukan?" Tanpa ba bi bu, Zahra langsung menarik tangan Ansell. Melepaskan tangan itu yang dari tadi mencekam erat kerah Ali.

"Adek?"

Pandangan mereka bertemu. Zahra bisa dengan jelas melihat amarah yang begitu besar dari tatapan suaminya.

"Lepaskan Bib. Habib sudah kelewatan."

Zahra kembali menarik tangan itu. Sepertinya Ansell masih enggan untuk melepaskan.

"Tolong tinggalkan kami sebentar Dek. Ini urusan aku dan dia."

Ansell di buatkan amarah. Masih belum sadar dengan apa yang Ia lakukan.

"Habib suamiku, jadi ini juga urusan ku.

Kasihan Kak Ali Bib. Lepaskan!"

Zahra mungkin salah bicara. Tapi sejujurnya Ia lebih kasihan pada suaminya. Ia tidak ingin sampai Ansell lebih jauh dalam kesalahan.

"Jadi Adek lebih membelanya?" Ansell melepaskan cengkeramannya, kini dia menatap Zahra dengan kesal.

"Dek, Alika pingsan. Bahkan dokter dari tadi masih belum keluar memberi tahu keadaannya. Ini semua gara gara dia. Dia tidak bisa menjaganya. Bagaimana kalau Alika sampai kenapa napa."

"Aku tahu Habib mengkhawatirkan Alika. Tapi bukan begini caranya. Walau seberapa kali pun Habib memukul Kak Ali. Ini tidak akan merubah keadaan kan. Ini malah memperburuk keadaan Habib sendiri."

Ansell menjatuhkan kepalan tangannya dengan begitu kesal. Kembali menatap Ali dengan penuh amanah.

"Aku bisa menahan diri karena aku menghargai mu. Jangan pernah mengecewakan ku dan membuat ku menyesal telah menikahkan mu dengan Alika."

Zahra tercengang. Dia tidak pernah membayangkan suaminya akan bertingkah sejauh ini. Ansell telah melebihi batasan nya. Semarah apapun dia. Seharusnya dia tidak pernah mengucapkan perkataan itu.

"KAK ANSELL...."

Sekuat tenaga Zahra mengeluarkan suaranya. Tidak bisa lagi memanggil Ansell dengan kata sayang. Ansell benar benar telah mengecewakannya.

"Dek..." Badan Ansell bergetar. Tatapannya menjadi sendu. Sesalah itukah dirinya sampai Zahra begitu keras membentak nya.

Ali terkejut. Bahkan David Raka dan Alex lebih terkejut lagi. Ketegasan Zahra melebihi apa yang di bayangkan mereka.

Sampai Ansell pun tertunduk di depannya.

"Maaf..." Zahra kini merendahkan suaranya, tanpa sadar dia menjatuhkan air mata. Sungguh dia bukan bermaksud menyakiti hati suaminya. Zahra hanya tidak ingin sampai Ansell terus di kendalikan hawa nafsu nya.

Ansell mendekat, menyeka air mata Zahra, menarik Zahra ke pelukannya.

"Maaf Dek. Aku begitu khawatir sampai tidak bisa mengontrol emosi ku."

Ansell mengeratkan pelukannya. Mengelus kepala Zahra dan berkali-kali mengecupnya.

Iya, Ansell butuh teguran. Ansell butuh sandaran untuk meluapkan segala kegelisahan nya. Ansell butuh penguat untuk menegarkan hatinya.

"Alika tidak akan kenapa napa kan?"

Ansell begitu syok. Melihat Alika tergeletak dengan darah yang bercucuran, menginginkan Ansell pada Sang Ayah. Kecelakaan nya hampir sama. Dan Ayah tidak bisa terselamatkan.

"Insyaallah Alika akan baik baik saja."

Bibir Zahra memang bicara, dia berusaha menegarkan Ansell kalau semua baik baik saja. Namun tangannya begitu berat untuk bergerak.

Masih tergores kekecewaan di hati Zahra sampai Ia belum bisa membalas pelukan suaminya.

"Dek, maaf. Iya aku salah, maaf telah mengecewakan Adek." Hati Ansell sakit melihat keadaan Alika. Tapi jauh lebih sakit kalau Zahra sampai membencinya.

"Kenapa minta maaf pada ku. Kak Ansell harus minta maaf pada Kak Ali."

Perkataan Zahra memang terdengar bisa saja. Namun bagi Ansell itu lebih dari sekedar terguran. Zahra sampai begitu dingin memanggil nama nya.

Situasi terasa begitu dramatis. Namun Raka malah tanpa permisi bicara di antara keduanya.

"Maaf Kak Zahra, Afham nangis." Tidak

Mengerti dengan keadaan. Raka kini berdiri di belakang mereka.

Zahra bergegas menyeka air matanya, langsung melapas pelukan Ansell melihat ke arah Raka.

"Wah maaf. Umie lama ya meninggalkan Afham." Tersenyum lebar berusaha untuk terlihat baik baik saja.

"Buba...ba..ba.." Afham langsung mengoceh. Mengibas ngibaskan tangan begitu senang melihat Abie nya.

"Afham sayang. Di gendong Umie dulu ya. Abie sedang kelelahan. Bau acem pula."

Zahra tau. Putranya itu ingin di gendong Abie nya. Namun entah kenapa, hati kecil Zahra tidak ingin sampai Afham di gendong suaminya.

"Adek marah pada ku?" Masih bertanya. Padahal terlihat jelas kalau Zahra begitu kecewa padanya.

Zahra hanya tersenyum menatap Ansell. Permasalah mereka belum selesai. Namun berusahalah terlihat baik baik saja karena ada Afham di antara mereka.

Ansell menghela nafas.

Baiklah. Zahra memang sedang marah padanya. Dan dengan keberadaan Afham, Ansell akan berusaha agar Zahra memaafkannya.

"Afham ke sini pasti karena rindu pada Abie ya. Sini biar Abie yang gendong! Abie tidak lelah kok. Abie juga Tidak bau acem. Umie saja tadi tidak menolak saat Abie peluk." Ansell tersenyum manis mengambil Afham. Cari kesempatan dalam kesempitan. Saat badan mendekat mengambil Afham dari pengakuan Zahra, Ansell sempat sempatnya mengecup bibir Zahra tanpa sepengetahuan putranya.

"Maaf Dek. Aku khilaf. Insyaallah Aku tidak akan mengulanginya lagi." Ansell menunduk sambil berbisik. Tangan kirinya Ia gunakan untuk menggendong Afham. Dan satu tangannya lagi Ia gunakan untuk mengelus pipi Zahra. Memohon sepenuh hati meminta maaf pada istrinya.

"Minta maaf lah pada Kak Ali. Kak Ansell telah menyakiti hatinya."

Ansell rasanya ingin kembali mengecup bibir itu. Ansell begitu sakit. Sedingin itu Zahra memanggil namanya.

"Dek...."

"Buba..ba..aa...."

"Dek jangan sedingin ini pada ku. Aku lebih sakit kalau Adek terus mengabaikan ku."

Ingin Ansell kembali bicara. Namun sepertinya Afham mulai protes karena merasa terabaikan.

"Iya. Iya. Maaf. Jagoan Abie kini makin pintar mengoceh ya."

Ansell hanya bisa mengalah. Kini dia lebih fokus bermain dengan Afham. Mengacak ngacak rambut Afham. Gemas dengan tingkah putranya.

.

.

.

.

.

Bersambung...🤗

Netizen: Lakh kok bersambung, bagaimana dengan nasib Alika 🤔🤔 nanggung banget 😬😬

Othor: Entar aja di chapter selanjutnya 😊🤗

Netizen: Alika sebenarnya hamil atau sakit parah. Kok pake acara pingsan sampe kejedot segala. Itu Bar bar nya Ansell jadi kumat kan 😱😱

Othor: 😂😂 Entar aja kejawab di chapter selanjutnya 😊. Chapter ini sudah mencapai 2000 kata ya. Auto sudah pegel nulisnya 😁🙏.

Netizen: Di tunggu ya Kak / Dek / Embak Naja Up nya. Jangan lama-lama 😚😚

Othor: Insyaallah. Menyesuaikan situasi dan kondisi 😁😁. Apalagi menjelang bulan Ramadhan pekerjaan tidak menentu.

Marhaban ya ramadhan bagi teman teman semua yang menjalankannya 🎉🎉🎉

Netizen: Sama sama Kak Naja. Semangat terus 💪💪😍😍

Othor: Insyaallah. Terima kasih banyak support dari semuanya 😍😘😘

*Mau panggil Kak/Dek/Embak. Senyaman teman teman semua. Asalkan jangan panggil Om aja. 😁😁😁

Selamat bertemu di chapter selanjutnya 😊🤗

Marhaban ya Ramadhan 🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉

Mohon maaf lahir batin 🙏🙏

1
Lilik Farihah
wkkwk...kita temenin bang alex
Lilik Farihah
hha.hha..asli ngakak baca yaa
Sindun Solissa
bagaus
Dwi Setya S
kenapa ga di lanjut kak.
nungguin lho bolak balik cek blm up jg
Nurma Lisa Hasanah
🤣🤣🤣luccu jg
Dewi Nurlela
Alex sama Rani aja thor
Romadhoni Indra5758
thor kok digantung sih ceritanya?
Yayoek Rahayu
baik banget suaminya Alika
Yayoek Rahayu
sangat setuju dg zahra...
Romadhoni Indra5758
kok lama blm up lg thor
Iyaa Lia
salut sama novel ini..
apalagi dengan tokoh zahra...
🙏🙏
Joko Jokoo
smpe terbawa mimpi dgn cerita ini. dicek2 belum dilanjut lgi. tpi cek profil othor ny ad karya baru. knp ini gk dilanjut lgi😥😥
Joko Jokoo: msa lupa kk, lanjut dong
total 2 replies
Tri Sudarso
baca novel ini berasa di kehidupan nyata ya sederhana tp menghibur...tanpa konfkik berat...semua pasangan sllalu bikin baper abis....🤗🤗
Muhibbah
lanjut tor 💪👍
Joko Jokoo
buka2 mna tau ad tulisn up
Ainin Mu
hahaha godaaan terbesar snih
Ainin Mu
ketemu deh ya
Ainin Mu
hamil kan
Ainin Mu
Alek ma istri bikin q deg deg persis Ansel 11,12
Ainin Mu
jgn end dlu Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!