Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar digerbang Hijau 17
Sore itu, udara desa masih hangat, namun sudah diselimuti kelegaan. Aroma tanah basah dan hasil panen yang baru digali mendominasi. Valaria selesai menanam kentang, jemarinya penuh lumpur, namun matanya bersinar. Ia duduk di beranda kecil rumahya, ditemani cahaya obor redup, mengajar Raka membaca. Raka, yang biasanya lincah, duduk dengan tekun, lidahnya kaku mencoba mengeja suku kata yang ditulis Valaria di atas papan tulis mini.
“K-E… KE… N-T-A-N-G… TANG,” eja Raka, wajahnya berkerut.
Valaria tersenyum lembut. “Bagus, Raka. Kentang. Sekarang coba tulis kata itu tanpa melihat. Pahami bunyinya, bukan hanya bentuknya.”
Keakraban mereka terasa hangat, kontras dengan pagi hari yang dipenuhi kerja keras. Hingga mereka lupa dengan waktu karena asik mengajar dan belajar. Mata Valaria melihat antusias Raka belajar membuat dia senang.”Adikku emang pintar,”kata Valaria dengan wajah lembut mengusap kepala Raka penuh kasih sayang dan kebanggaan.
Keesokan paginya, matahari bersinar cerah, memantul di permukaan sawah yang baru dibajak. Valaria bekerja di tengah sawah berlumpur bersama Bu Ratri dan suaminya. Mereka sedang menanam benih padi, menancapkan bibit-bibit hijau ke dalam lumpur dengan gerakan ritmis yang diwarisi turun-temurun. Setelahnya, tiba giliran mereka mengalirkan air ke sawah dari irigasi utama secara bergilir. Valaria, meskipun dengan lupa ingatan, bergerak cekatan, seolah memori tubuhnya masih utuh. Tapi karena itu ia bisa mengubah banyak hal dikeluarga barunya.
Saat Valaria sedang mengamankan batas air, sebuah suara melengking memecah ketenangan.
“Valaria!”
Laksmin datang, mengenakan pakaian yang lebih bersih dari yang seharusnya dipakai di ladang, berdir di pematang sawah dengan tangan berkacak pinggang. Wajahnya yang cantik diselimuti ekspresi curiga yang kentara.
“Kenapa, Laksmin?” jawab Valaria santai, tangannya masih berkutat dengan lumpur.
Laksmin mendekat perlahan, matanya menyipit saat mengamati Valaria dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Aku memperhatikanmu belakangan ini. Kenapa aku merasa kamu sedikit berbeda ya?”
Valaria mengangkat bahu, air keruh menetes dari rambutnya. “Berbeda bagaimana?”
“Kau tidak cerewet. Kau tidak merengek. Dan kau tidak… meributkan Damian.” Laksmin mendengus. “Katakan sejujurnya. Apa kamu benar lupa ingatan? Atau ini hanya akal-akalanmu agar Damian merasa kasihan?”
Sebelum Valaria sempat menjawab, Raka, yang saat itu sedang mengangkut ember kosong, menyahut dengan santai dari belakang.
“Kenapa kalau lupa ingatan, Kak Laksmin? Bukankah itu bagus?”
Laksmin menoleh. “Bagus bagaimana?”
“Bagus, karena dia tidak akan berebut cinta denganmu lagi,” jawab Raka polos sambil mengangkat ember. “Dia kan jadi orang baru, jadi biarkan dia mencari pria baik-baik yang mau dia nikahi.”
Laksmin terdiam sesaat, lalu senyum puas tersungging di bibirnya. Dia mengangguk setuju dengan kata-kata Raka.
“Nah, itu dia maksudku! Kau cerdas, Raka!” Laksmin menoleh kembali ke Valaria, nada suaranya berubah menjadi sedikit condescending.
“Dengar, Valaria. Karena kamu sudah tidak ingat, baguslah. Carilah pria baik untuk kamu nikahi. Jadi, tidak usah berebut Damian denganku lagi. Damian itu sudah milikku, kau mengerti?” Laksmin menekankan kata-kata itu seolah memberikan pengumuman resmi.
“Iya ambil saja Pria itu. Aku juga sudah melihat semua apa yang sudah kamu usahakan untuk dekat dengan Damian. Aku malah beruntung tidak menyukai dia lagi,jadi bisa mencari yang lebih baik,”batin Valaria yang merasa senang.Apa lagi Valaria sudah tahu niat tidak baik Damian yang tampan tapi memiliki muka yang licik itu. Di tambah Laksmin yang terus mencari masalah dengan dia dekat dengan Damian, membuat Valaria senang.
“Aku tidak tahu kehidupan seperti apa yang akan mereka jalani nanti,”hati kecil Valaria.
Valaria, yang hanya ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan menikmati ketenangan, hanya mengangguk saja pelan. Ekspresinya datar, menunjukkan bahwa drama itu tidak lagi menyentuhnya.
"Ya, Laksmin. Aku mengerti," jawab Valaria.
Laksmin tampak terkejut dengan respons yang terlalu mudah itu. Biasanya, Valaria akan meledak dalam perdebatan. Tanpa ada perdebatan, ia kehilangan semangat untuk melanjutkan. Laksmin mendengus sekali lagi dan berjalan pergi, punggungnya lurus dan bangga.
Penduduk desa di sawah dekat situ hanya bisa mendengarkan interaksi tersebut. Mereka saling melirik, beberapa menggelengkan kepala, menyadari betapa perdebatan cinta itu sudah menjadi tontonan rutin di desa mereka. Mereka juga melihat perubahan drastis pada Valaria; Valaria yang baru ini lebih tenang, lebih fokus pada pekerjaan, dan tidak lagi terjebak dalam perangkap emosi masa lalu.
Saat matahari mulai meninggi, satu keluarga datang berjalan di pematang sawah. Mereka adalah Paman Baskoro dan Bibi Tirta, saudara dari Bu Ratri.
Mereka adalah keluarga yang memancarkan kehangatan dan penuh kasih sayang. Paman Baskoro, dengan tawa yang berderai, segera membantu suami Bu Ratri mengangkat karung benih, sementara Bibi Tirta langsung memeluk Bu Ratri.
Valaria menyaksikan interaksi mereka. Keluarga ini, sama seperti Bu Ratri, menerima Valaria apa adanya, tanpa menghakimi kondisi buruk dan baik Valaria. Di mata mereka, Valaria adalah anggota keluarga yang perlu dijaga, terlepas dari siapa dia sebelumnya atau ingatannya yang hilang.
“Valaria, airnya sudah selesai? Sini istirahat dulu, Nak,” panggil Bibi Tirta dengan suara lembut.
Valaria mendekat, mencium tangan mereka. “Sudah, Bi. Tinggal memastikan tidak ada kebocoran.”
Paman Baskoro dan Bibi Tirta memiliki dua orang anak. Yang sulung, Jaya, bekerja di kota sebagai penjaga toko grosir bahan makanan, dan yang bungsu, Eko, masih bersekolah di dekat desa. Rumah mereka berseberangan dengan rumah Bu Ratri, dan sawah mereka pun berdekatan.
Valaria sering bertemu dengan Paman Baskoro dan Bibi Tirta, berbagi cerita dan makanan. Namun, ia jarang bertemu dengan Eko. Eko sibuk belajar untuk ujian kenaikan kelas, dan saat liburan pun, dia terlihat murung dan terbebani oleh buku-buku pelajarannya.
“Bagaimana kabarnya Eko, Bi? Kelihatannya dia sangat serius belajar,” tanya Valaria.
“Ah, si Eko itu, Nak. Dia memang rajin sekali, tapi kadang terlalu memaksakan diri,” jawab Bibi Tirta sambil menghela napas lembut. “Kami menyuruhnya istirahat, tapi dia bilang ujiannya berat.”
Valaria mengangguk, merasakan sedikit empati pada beban belajar Eko.
Di ladang, setelah semua benih padi selesai ditaburkan, waktunya istirahat. Mereka berkumpul dengan warga lain di bawah pohon besar yang rindang. Tikar digelar, dan mereka menikmati makanan bersama yang dibawa dari rumah: nasi hangat, sayur lodeh, dan sambal yang pedas.
Laksmin sudah pergi sebelumnya, membuat Valaria merasa tenang dan bebas dari drama.
Valaria bersandar di batang pohon, mengambil napas panjang, menikmati sejuknya angin berhembus yang menerpa wajahnya. Ia melihat ke hamparan sawah hijau yang baru ditanami hasil kerja kerasnya.
“Hidup ini jauh lebih damai tanpa drama dan perebutan. Hanya tanah, air, dan angin sejuk,” pikirnya. Ketenangan pedesaan ini seolah mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh ingatannya. Ia merasa nyaman dan berharga di tengah keluarga yang tulus ini.
Ia makan dengan lahap, berbagi cerita ringan dengan Paman Baskoro tentang cuaca dan hama. Di tengah tawa dan kebersamaan, Valaria tahu bahwa di desa ini, ia menemukan tempatnya, terlepas dari siapa dia di masa lalu.