NovelToon NovelToon
Fajar Di Gerbang Hijau

Fajar Di Gerbang Hijau

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Herwanti

Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fajar di Gerbang Hijau Bab 17: Lumpur dan Rahasia yang Terkubur

Sore itu, udara desa masih terasa hangat, namun sebuah kelegaan yang ganjil mulai menyelimuti atmosfer. Aroma tanah basah yang baru saja dibalik dan wangi hasil panen yang baru digali mendominasi indra penciuman. Di beranda kecil rumahnya, Valaria duduk bersandar. Jemarinya masih menyisakan bekas lumpur yang mengering, namun matanya bersinar terang, memancarkan kecerdasan yang seolah melampaui usianya.

Di bawah cahaya obor yang meredup dan menari ditiup angin, ia sedang mengajar Raka membaca. Raka, bocah yang biasanya tak bisa diam, kini duduk dengan tekun. Lidahnya tampak kaku saat mencoba mengeja suku kata yang ditulis Valaria di atas papan tulis kayu kecil.

“K-E… KE… N-T-A-N-G… TANG,” eja Raka. Dahinya berkerut saking seriusnya.

Valaria tersenyum lembut, sebuah senyum yang menenangkan. “Bagus, Raka. Kentang. Sekarang, coba tulis kata itu tanpa melihat papan. Rasakan bunyinya di telingamu, pahami maknanya di pikiranmu, bukan sekadar menghafal bentuk hurufnya.”

Keakraban mereka menciptakan aura hangat yang kontras dengan kerja keras mereka sejak pagi buta. Waktu seolah melambat, membiarkan kakak beradik itu tenggelam dalam dunia literasi yang sederhana namun bermakna. Valaria menatap antusiasme Raka dengan rasa haru yang mendalam.

“Adikku memang pintar,” gumam Valaria lembut sambil mengusap kepala Raka. Ada kebanggaan yang tulus di sana, sekaligus sebuah misteri yang tersimpan rapat: dari mana gadis yang katanya hilang ingatan ini memiliki metode mengajar yang begitu efektif?

Keesokan paginya, matahari naik dengan gagah. Sinarnya memantul di atas permukaan sawah yang baru saja dibajak, menciptakan kilauan seperti cermin raksasa. Valaria berdiri di tengah sawah berlumpur bersama orang tuanya. Mereka sedang menanam benih padi, menancapkan bibit-bibit hijau ke dalam dekapan lumpur dengan gerakan ritmis yang telah diwariskan turun-temurun.

Setelah menanam, tiba gilirannya untuk mengatur irigasi. Valaria bergerak cekatan. Meskipun ia mengaku tidak ingat siapa dirinya, tubuhnya seolah memiliki memori sendiri. Ia tahu persis bagaimana cara mengalirkan air dan menutup celah pematang agar air tidak terbuang percuma. Kehadiran Valaria benar-benar membawa perubahan besar bagi efisiensi kerja keluarga barunya.

Namun, ketenangan itu mendadak pecah oleh sebuah suara melengking yang tajam.

“Valaria!”

Laksmin muncul di pematang sawah. Ia mengenakan pakaian yang terlalu bersih untuk ukuran seseorang yang berada di ladang. Dengan tangan berkacak pinggang dan wajah cantik yang diselimuti kecurigaan, ia menatap Valaria tajam.

“Kenapa, Laksmin?” sahut Valaria santai. Ia bahkan tidak berhenti menyeka lumpur dari tangannya.

Laksmin mendekat perlahan, matanya menyipit, mencoba mencari celah atau kebohongan di wajah Valaria. “Aku memperhatikanmu belakangan ini. Kenapa aku merasa kau menjadi orang yang sangat berbeda, ya?”

Valaria mengangkat bahu. Beberapa tetes air keruh jatuh dari ujung rambutnya. “Berbeda bagaimana maksudmu?”

“Kau tidak lagi cerewet. Kau tidak merengek. Dan yang paling aneh… kau tidak lagi meributkan Damian.” Laksmin mendengus sinis. “Katakan sejujurnya. Apa kau benar-benar hilang ingatan? Atau ini hanya taktik licikmu agar Damian merasa kasihan padamu?”

Sebelum Valaria sempat membalas, Raka yang sedang memindahkan ember kosong menyahut dengan kepolosan yang menohok. “Kenapa kalau Kak Valaria hilang ingatan, Kak Laksmin? Bukankah itu berita bagus untukmu?”

Laksmin menoleh, terkejut. “Bagus bagaimana?”

“Bagus, karena dia tidak akan berebut cinta denganmu lagi,” jawab Raka sambil berlalu. “Dia sudah menjadi orang baru. Biarkan dia mencari pria baik-baik yang lebih layak untuk dinikahi nanti.”

Laksmin terdiam. Kata-kata bocah itu seolah menyiram api cemburunya dengan air dingin. Sebuah senyum puas mulai tersungging di bibirnya. Ia mengangguk-angguk setuju.

“Nah, benar juga! Kau cerdas, Raka!” Laksmin kembali menatap Valaria, kali ini dengan nada merendahkan yang kental. “Dengar, Valaria. Karena kau sudah tidak ingat apa-apa, itu bagus. Carilah pria lain. Jangan pernah lagi mencoba mendekati Damian. Damian itu milikku, kau mengerti?”

Valaria hanya mengangguk pelan. Ekspresinya datar, tanpa ada riak kemarahan. Di dalam hatinya, ia justru merasa sangat lega. 'Ambil saja pria itu, Laksmin. Aku malah bersyukur tidak perlu berurusan dengan pria berwajah tampan namun berhati licik seperti Damian,' batinnya. Ia sudah tahu rencana busuk Damian soal resep singkong tempo hari, dan baginya, Laksmin dan Damian adalah pasangan yang serasi dalam hal kelicikan.

“Ya, Laksmin. Aku mengerti sepenuhnya,” jawab Valaria tenang.

Laksmin tampak terperangah. Ia mengharapkan sebuah ledakan amarah atau perdebatan sengit, namun yang ia dapatkan hanyalah ketenangan yang membosankan. Karena kehilangan lawan bicara, Laksmin mendengus sekali lagi lalu pergi meninggalkan sawah dengan langkah yang dibuat-buat angkuh.

Penduduk desa yang berada di sekitar sawah hanya bisa saling lirik. Mereka terbiasa melihat drama perebutan cinta antara Valaria dan Laksmin sebagai tontonan rutin. Namun hari ini, mereka melihat sesuatu yang berbeda. Valaria yang baru ini tampak lebih fokus, tenang, dan seolah memiliki martabat yang lebih tinggi daripada sekadar meributkan seorang pria.

Saat matahari mulai meninggi dan keringat mulai membasahi baju, sebuah keluarga berjalan menyusuri pematang sawah. Mereka adalah Paman Baskoro dan Bibi Tirta, saudara dari ibuku.

Paman Baskoro adalah pria dengan tawa yang menggelegar, sementara Bibi Tirta memancarkan kehangatan seorang ibu. Mereka segera bergabung; Paman Baskoro membantu Ayah mengangkat karung benih, sementara Bibi Tirta langsung memeluk ibuku.

Valaria memperhatikan interaksi itu dengan perasaan hangat. Keluarga ini menerima dirinya tanpa syarat. Di mata mereka, Valaria bukanlah "orang asing yang hilang ingatan", melainkan anggota keluarga yang harus dilindungi.

“Valaria, airnya sudah selesai? Sini, istirahat dulu, Nak,” panggil Bibi Tirta dengan suara lembut yang menyejukkan.

Valaria mendekat dan mencium tangan mereka dengan takzim. “Sudah, Bi. Tinggal memastikan tidak ada pematang yang bocor.”

Paman Baskoro dan Bibi Tirta memiliki dua orang anak. Si sulung, Jaya, bekerja di kota sebagai penjaga grosir, sementara si bungsu, Eko, masih bersekolah. Rumah mereka tepat berseberangan dengan rumah keluarga kita.

“Bagaimana kabar Eko, Bi? Sepertinya belakangan ini dia jarang terlihat keluar,” tanya Valaria saat mereka mulai duduk berteduh.

Bibi Tirta menghela napas panjang. “Ah, si Eko itu, Nak. Dia memang rajin sekali, tapi sepertinya dia terlalu memaksakan diri. Dia terus-menerus mengurung diri di kamar untuk belajar ujian kenaikan kelas. Wajahnya sampai pucat karena kurang tidur.”

Valaria mengangguk, merasakan empati. Di dunianya yang dulu, tekanan pendidikan memang sering menjadi beban berat bagi anak-anak.

Waktunya istirahat tiba. Mereka berkumpul di bawah pohon beringin besar yang rindang. Tikar digelar, dan aroma sayur lodeh serta sambal terasi segera menyeruak. Tanpa gangguan Laksmin, suasana menjadi sangat damai.

Valaria bersandar di batang pohon yang kasar, menghirup udara dalam-dalam. Ia menatap hamparan sawah hijau yang baru saja ia tanami. Sesuatu di dalam dirinya merasa sangat penuh.

'Hidup ini jauh lebih indah tanpa drama. Hanya ada tanah, air, dan angin sejuk,' pikirnya.

Ketenangan pedesaan ini perlahan-lahan mulai menambal lubang kosong di hatinya. Di tengah tawa Paman Baskoro dan keramahan Bibi Tirta, Valaria merasa ia tidak perlu mengingat siapa dirinya di masa lalu untuk bisa merasa berharga di masa sekarang. Namun, di balik ketenangan itu, Valaria tetap waspada. Ia tahu Damian dan Laksmin tidak akan berhenti begitu saja, dan ia harus siap dengan rencana-rencana besar yang sudah ia susun di kepalanya.

Sambil menyuap nasi hangat, Valaria menatap langit biru. Ia adalah fajar baru di desa ini, dan cahayanya baru saja dimulai.

1
lin sya
ya smga aj kebaikan valaria suatu saat gk dibls air tuba sm laksmin tkutnya pas ekonomi dia dan kluarga nya terangkat krn rasa kemanusian gk bikin nimbulin sft iri lgi dimasa depan, krn perjuangan valaria buat bikin byk usaha itu proses nya panjang, smgat Thor 👍💪
Moh Rifti
next
Wanita Aries
makin seru thor
Wanita Aries
kyknya buat kentang mustofa aja valeria kn jaman itu blm byk tau😁
Wanita Aries
bukannya ria udh tau kl itu suruhan laksmin ya
Dewiendahsetiowati
semoga Laksmin cepat dapat karma
Moh Rifti
/Determined//Determined//Determined//Determined/
Wanita Aries
bagus ria lawan dgn gebrakan lain ke laksmin
Lili Inggrid
semangat
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
mampir kak
Moh Rifti
up
Wanita Aries
lhoo kok gaje harusnya dendam ke damian lah bukan ke valeria
Wanita Aries
makin seruuuu
Wanita Aries
mantap thor
Wanita Aries
semangat terus thor
Wanita Aries
wahhh makin sukses ria
Wanita Aries
mantap thor
Wanita Aries
gak bosen bacanya
Wanita Aries
suka ceritanya
Wanita Aries
keren thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!