Lia, gadis desa Tanjung Sari, menemukan seorang pria pingsan di pematang sawah tanpa ingatan dan tanpa identitas. Ia menamainya Wijaya, dan memberi lelaki itu tempat pulang ketika dunia seolah menolaknya.
Tekanan desa memaksa mereka menikah. Dari pernikahan sederhana itu, tumbuh rasa yang tak pernah direncanakan—hingga Lia mengandung anak mereka.
Namun Wijaya bukan lelaki biasa.
Di kota, keluarga Kusuma masih mencari Krisna, pewaris perusahaan besar yang menghilang dalam kecelakaan misterius. Tanpa mereka sadari, pria yang dianggap telah mati kini hidup sebagai suami Lia—dan ayah dari anak yang belum lahir.
Saat ingatan perlahan mengancam kembali, Lia harus memilih: mempertahankan kebahagiaan yang ia bangun, atau merelakan suaminya kembali pada masa lalu yang bisa merenggut segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecemasan Setiap Orang
Di sisi lain kota, suasana berbeda sama sekali.
Di ruang kerja mewah dengan jendela besar menghadap gedung-gedung tinggi, seorang perempuan paruh baya dengan dandanan elegan memegang ponselnya erat-erat. Wajahnya cantik, tetapi sorot matanya tajam seperti pisau.
Asti Kusuma.
Di hadapannya, seorang pemuda gagah duduk dengan rahang mengeras, Kevin Kusuma.
“Jadi benar?” suara Asti pelan namun mengandung bara. “Krisna ditemukan?”
Kevin mengangguk pendek. “Sedang dirawat. Baru selesai operasi tadi malam.”
Keheningan turun. Namun bukan keheningan sedih, lebih seperti badai yang menarik napas panjang sebelum menerjang.
Asti menyandarkan punggungnya, bibirnya terkatup rapat.
“Berarti jabatan CEO sementara…” Kevin tidak melanjutkan, tetapi keduanya tahu ujung kalimat itu.
Asti tertawa kecil. Bukan bahagia. Pahit. “Semua yang sudah kita bangun susah payah… bisa kembali begitu saja pada dia,” gumamnya. “Hanya karena dia kembali berdiri.”
Kevin mengepalkan tangan. “Kita tidak tahu apakah dia akan benar-benar pulih. Kita juga belum tahu bagaimana kondisi memorinya.”
“Justru itu.” Asti mencondongkan tubuhnya, suaranya merendah. “Kondisi dia… bisa menjadi peluang atau ancaman.”
Dia menatap lurus ke depan, ke bayangan dirinya di kaca jendela.
“Dan aku ingin tahu,” lanjutnya dingin, “siapa orang yang menemukan dan merawatnya selama ini.”
Nama itu belum ia tahu.
Wajah gadis desa yang duduk gelisah di depan ICU belum ia lihat. Namun perasaan terancam sudah lebih dulu menggumpal di hatinya.
Kevin berdiri, meraih jasnya.
“Aku akan ke rumah sakit.”
Asti mengangguk, menyembunyikan badai di balik senyum tipisnya.
“Ya. Kita sambut orang yang baru saja kembali dari ‘kehilangan’,” katanya pelan.
Entah sambutan hangat atau awal dari perebutan yang lebih besar.
.
Di apartemen mewah lain, seorang perempuan muda duduk termenung.
Riri.
Foto bertunangan dengan Krisna masih tergantung di dinding, dua orang berbahagia dengan senyum sempurna.
Ponsel di tangannya menampilkan pesan singkat dari orang tua Krisna:
Krisna ditemukan. Sedang di operasi. Berdoalah.
Air mata Riri jatuh tanpa ia sadari. “Kamu kembali, Kris…” bisiknya getar. “Aku senang… tapi aku juga takut.”
Sebab di balik cincin tunangan itu, ada rahasia yang membakar hatinya, ia pernah tidur dengan Kevin.
Bodoh. Salah. Dan kini rasa bersalah itu menelan dirinya bulat-bulat.
“Kita harus segera menikah untuk menutupi semua kejadian buruk yang bisa saja muncul." suaranya pecah.
Ia memegangi cincin di jarinya erat-erat. Rasanya seperti jerat sekarang, bukan janji.
.
.
Pagi itu, kabut masih menggantung di pematang. Embun menempel di ujung daun padi yang belum sempat menguning. Burung-burung kecil ribut, seolah ikut membicarakan sesuatu yang tak enak.
Namun kegelisahan manusia pagi itu jauh lebih bising.
Di ujung sawah, beberapa lelaki berjaket proyek menancapkan patok-patok merah dengan palu besi. Setiap ketukan memecah udara, seperti memaku jantung warga satu per satu.
“Duk! Duk! Duk!”
Pak Wiryo berdiri mematung tak jauh dari sana. Napasnya terasa berat. Tanah berlumpur itu bukan sekadar tanah, itu adalah napas hidupnya, masa kecilnya, juga masa depan anaknya.
“Mas, ini sawah kami,” katanya dengan suara bergetar, tapi tetap berusaha tegar.
“Panjenengan salah lokasi, mungkin?”
Orang berjaket oranye itu melihatnya sekilas, dingin, lalu berkata datar, “Semua sudah ada izinnya, Pak. Sudah ganti rugi di atas kertas. Minggu depan alat berat masuk.”
Warga lain mulai berdatangan. Bisik-bisik menjelma jadi gerutuan. Beberapa perempuan memeluk pinggiran sawah seolah takut tanah itu akan lari.
Jono maju, suaranya lantang, “Ini pasti ulah orang kota! Dulu datang laki-laki itu, pura-pura kerja di desa, bikin kepala desa luluh—sekarang lihat akibatnya!” ia merasa geram pernah simpati padanya.
Beberapa pasang mata menoleh. Nama itu tak disebut… tapi semua tahu siapa yang dimaksud.
Wijaya.
Orang yang sekarang terbaring di kota, berjuang antara hidup dan lupa.
Bu Surti berdiri di samping suaminya, wajahnya pucat. “Gusti… sawah iki wae sing tak sandari urip…”
Patok merah kembali ditancapkan.
“Duk!”
Seolah titik itu menjadi batas antara harapan dan kehilangan.
“Perusahaan apa ini, Mas?” tanya salah satu warga.
Petugas itu menatap mapnya ringan, tanpa beban, lalu tidak menyebut nama yang membuat udara seolah berhenti bergerak.
“Pengembang.” jawab pria itu singkat. “Mau dibangun resort dan vila. Desa ini mau maju apa mau miskin terus?”
Kata-kata itu menyulut bara.
“Majumu kok nginjek urip wong kene!” bentak Jono, maju beberapa langkah.
Sengketa itu semakin panas. Beberapa perempuan mulai menangis, membayangkan sawah mereka hilang, mata pencaharian terputus, dan kampung mereka hanya jadi pemandangan indah di brosur wisata.
Di tengah riuh itu, seseorang berbisik lirih, “Andai Wijaya ada, mesti dia bantu ngomong ke orang kota…”
Namun kalimat itu berhenti di udara.
Wijaya — Krisna — sedang terbaring di rumah sakit kota, diambang ingatan yang bisa hilang kapan saja. Dan tanpa mereka sadari, tanah yang selama ini ia bajak bersama warga… perlahan sedang ditarik ke dunia lamanya, dunia perusahaan besar.
Angin pagi mengibaskan dedaunan padi yang masih hijau. Burung-burung beterbangan, seolah ikut gelisah.
Langit cerah. Namun hati warga desa terasa mendung.
Karena hari itu mereka sadar, bukan hanya satu orang yang hilang.
Pelan-pelan, desa mereka pun sedang diambil pergi.
Pak Wiryo terdiam. Bu Surti menutup mulutnya. Jono tersenyum miring penuh kemenangan pahit.
“Ndak salah tak kandani,” katanya sengaja dikeraskan, “orang kota itu cuma bawa petaka!”
Namun tak seorang pun di situ tahu, orang yang kini mereka salahkan… yang sedang digunjingkan sebagai biang perkara… adalah lelaki yang dipanggil Wijaya di desa dan Krisna Kusuma di kota.
Lelaki yang pada saat itu masih terbujur di ruang pemulihan pascaoperasi.
Lelaki yang hatinya terikat di dua tempat sekaligus: desa yang memberinya keluarga baru, dan kota yang menuntutnya kembali.
Di tengah kecemasan itu, Bu Surti menggenggam lengan suaminya kuat-kuat. “Pak… Lia lagi neng kota karo Mas Wijaya…” suaranya serak.
“Anak kita di sana sendiri. Sawah kita di sini terancam. Gusti, kekuatan itu kudu dobel saiki…”
Pak Wiryo mengangguk pelan, menatap tanah yang mungkin tak lagi bisa ia warisi pada anak dan cucunya.
Di matanya, ada kepedihan… sekaligus tekad yang pelan-pelan menyala.
Karena mereka tahu bukan hanya sawah yang dipertaruhkan, tapi martabat desa.
Beberapa anak kecil berlarian di pematang, tiba-tiba berhenti ketika melihat patok-patok merah itu. Mereka tidak benar-benar mengerti… hanya tahu tempat mereka biasa menangkap belut dan bermain lumpur akan hilang.
Seorang nenek duduk di batu besar pinggir sawah, menatap lama ke hamparan hijau di depannya. “Dulu simbahmu mbangun iki sak genggaman tangan…” bisiknya lirih, “saiki arep digusur nganggo secarik kertas…”
Angin membawa bau lumpur yang khas bau yang selama ini berarti hidup, panen, dan tawa. Kini aroma itu terasa seperti perpisahan.
Tak ada yang berkata keras-keras, namun semua merasakan hal yang sama: desa mereka sedang digeser pelan-pelan, bukan dengan banjir atau bencana… melainkan dengan tanda tangan dan kekuasaan.
Dan entah kenapa, nama Wijaya kembali muncul di kepala mereka bukan sebagai kambing hitam semata, tapi sebagai seseorang yang selama ini ikut menanam padi bersama mereka, ikut tertawa, ikut lelah.
Namun kini dia tak ada.
Yang tersisa hanyalah tanah yang diberi garis merah… dan hati yang mulai retak satu per satu.