Saat mantan suami istri di pertemukan kembali setelah sekian lama, dengan banyak perubahan dari masing-masing. Apa kedua orang itu masih bermusuhan? Atau malah saling jatuh cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nineteen
Vote sebelum membaca 😘
.
.
"Jadi Finn cucu Bunda dan Ayah?"
"Iya."
Mawar menghembuskan nafasnya berat, Ia dan suaminya sangat terkejut dengan pengakuan dari Arion. Jadi selama ini mereka telah mempunyai seorang cucu? Bahagia, tentu saja. Tapi rasanya agak aneh saja dengan kejadian ini, mereka speechless.
"Apa selama ini Arabele menjaga Finn sendiri?" Tanya Ayah Arion.
"I-iya."
Mawar beralih duduk disamping Ara mengusap rambut wanita itu. "Kenapa kamu gak cerita sayang? Mungkin kalian masih akan bersama sampai sekarang, menjaga Finn dan membesarkan anak itu bersama-sama."
"Maaf." Lirih Ara.
Plak!
"Aww Bunda sakit."
Arion meringis mendapat pukulan keras di pahanya, Ia manatap Mawar yang tega melakukan itu, tapi wanita malah menampakan wajah garangnya.
"Anak nakal! Kenapa baru cerita ke Bunda dan Ayah hah?!!"
"Bunn, aku juga baru ta-Aww sakit!" Teriak Arion saat Ibunya menjewer telinga kirinya. Memang mengerikan kalau wanita itu mengamuk.
"Bukannya kamu udah ketemu Ara lama, dan kenapa baru cerita sekarang?! Dasar anak nakal, bendel!!"
"Aww Bunda ampun.."
***
"Selamat pagi sayang."
"Mama?"
Finn mengucek kedua matanya lalu mendudukan tubuhnya. Dahinya mengernyit melihat kamar asing, kamar ini besar sekali dan ranjang ini juga tak kalah besar dari pada di apartemennya.
"Mama kita ada dimana?"
"Kita di rumah Arion."
"Semalam kita tidur disini?"
Ara mengangguk lalu mengusap rambut berantakan putranya. "Apa Finn terkejut?"
Finn tahu jika Ibunya bertanya mengarah pada hal itu, anak itu tak tahu harus berkata apa. Kedua tangannya saling bertaut karena bingung.
"Maaf ya, Finn pasti kecewa sama Mama karena selama ini gak pernah cerita semua ke Finn."
Tangan kecil itu mengusap punggung tangan Ara. "Gak papa Mama, Finn gak marah kok. Aku malah senang karena akhirnya bisa bertemu Papah."
"Benarkah?"
"Iya, ternyata Om Arion adalah Papah Yejune.Dia baik dan sepertinya juha sayang sama Mama. Papah pergi untuk bekerja juga karena untuk kita, jadi Finn tidak marah."
Ara terharu mendengar itu, jadi Finn menerima Arion? Sungguh itu tak seperti selama ini yang Ia bayangkan, Ia kira putranya akan menolak kehadiran Arion. Seperti di cerita-cerita novel yang sering Ia baca, si anak akan menutup diri dan sulit menerima Papah kandungnya.
"Selamat pagi."
Di pintu kamar terlihat Arion berdiri diambang pintu, pria itu memakai pakaian santai karena sekarang adalah hari libur. Arion lalu berjalan mendekat lalu ikut duduk bergabung di kasur.
"Sudah bangun? Ayo kita sarapan."
Arion menatap bingung kedua orang itu yang masih terdiam memperhatikannya. "Kenapa?"
Ara menggeleng, apa pria itu tak merasa canggung ya?
"Mau Papah gendong?"
Finn menggeleng, Ia masih malu pada Arion. Padahal sebelum tahu pria itu adalah Papah kandungnya, hubungan mereka sudah sangat akrab.
"Kamu jangan gugup atau malu ya sama Papah, mulai hari ini Finn juga harus biasain manggil Om jadi Papah oke?"
"I-iya."
"Ya udah ayo kita turun, sarapan bareng Nenek dan Kakek. Finn pasti mau ketemu mereka kan?"
Anak itu mengangguk malu, tapi langsung terkejut karena tiba-tiba Arion menggendonnya. "Om?!"
Arion berhenti melangkah saat mendengar itu, pria itu menatap heran putranya. "Jangan Om sayang, Pa-pah!" Tekannya disetiap kata.
"Em Pa-papah." Gugup Finn.
Dan Arion tersenyum lebar mendengarnya, Ia mengecup pelipis Finn sebelum turun ke bawah dengan diikuti Ara dibelakang. Menyenangkan juga ada yang memanggilmu Papah, hatinya menghangat.
Di meja makan itu Mawar dan suaminya tersenyum melihat kedatangan Finn. Kedua orang yang sudah tak lagi muda itu menatap dalam anak kecil yang duduk disamping Arion. Cucunya sangat mirip sekali dengan P
putra mereka saat kecil, semua wajah itu seperti replika dari Arion.
"Finn, Kakek punya hadiah buat kamu."
Finn melihat pria paruh baya itu menyimpan kotak besar diatas meja makan. Arion pun menyerahkan kotak itu padanya. "Ayo buka."
Dengan berhati-hati Finn membuka kotak itu, dan betapa terkejutnya saat melihat Playstation keluaran baru yang selama ini selalu Ia inginkan. Finn tak percaya Ia mempunyai ini karena setahunya barang ini sangatlah mahal.
"Suka?" Tanya Ayah Arion.
"Suka, terimakasih."
"Sama-sama."
"Ekhem, Finn sayang hadiah dari Nenek tar nyusul ya." Ucap Mawar tak mau kalah. Ia lupa jika cucunya ini baru merayakan ulang tahun kemarin, dan tak sempat membeli hadiah.
"Tidak apa-apa, ini saja sudah cukup."
"Gak papa, kalau gitu hadiah dari Nenek kita jalan-jalan aja ke Disneyland di Tokyo mau?"
Ara dan Arion terkejut mendengarnya, Ya Tuhan Mawar terlihat sangat antusias sekali pada Finn. Ara merasa kedua orang itu menerima Finn, syukurlah Ia ikut senang.
"Em tidak usah Nenek, jauh." Cicit Finn.
"Gak papa, lagi pula kan kita punya pesawat pribadi. Kamu sama Nenek saja jalan-jalannya."
"Gak boleh! Kemanapun Finn pergi aku harus ikut!" Timpal Arion. Ia merasa aneh karena orang tuanya sangat memanjakan anaknya. Arion iri, Ia saja belum membahagiakan putranya itu.
"Iya Bun nanti saja, lagi pulakan Finn harus sekolah."
Mawar berdecak mendengar perkataan Suaminya, memang benar sih, tapi Ia juga ingin jalan-jalan dengan Cucu tampannya. Tak apalah, mungkin Ia bisa lebih dulu memamerkan Cucunya ini pada teman-teman arisannya.
"Finn mau sarapan sama apa?" Tanya Ara.
"Roti saja."
"Selai coklat?"
"Iya."
"Finn suka selai coklat?"
Ara menoleh sekilas dan mengangguk pada Mawar.
"Wahh ternyata Cucuku benar-benar mirip dengan Arion."
"Tentu saja, Dia kan anakku!" Ketus Arion.
***
"Kalian mau kemana?"
Ara berhenti melangkah tepat didepan pintu utama rumah ini, wanita itu berbalik melihat Arion yang menatapnya bingung.
"Kita mau pulang."
"Pulang? Kemana?"
"Ke apartemen."
Arion memijat keningnya lalu menyimpan terlebih dahulu kopi yang baru dibuatnya di meja dekat sana. Pria itu melangkah lalu berdiri didepan Ara dan Finn.
"Inikan rumah kalian, kenapa mau pulang?"
Ara menunduk sebentar sebelum kembali menatap pria itu. "Bukan Arion, ini bukan rumah kita. Aku gak enak disini, lagi pula kami bukan siapa-siapa."
Entah kenapa mendengar itu membuat dada Arion bergemuruh, apa katanya tadi, bukan siapa-siapa?
"Kalian itu kelua-"
"Arion, Finn memang anak kamu, tapi aku.. aku bukan siapa-siapa. Aku harus pulang, kamu boleh kok temuin Finn, aku gak bakal halangin kamu. Kami pulang."
Ada rasa nyeri di dada saat Ara mengatakan itu. Benar juga, Finn memang putranya, tapi Arabelle? Istri? Tidak, mereka sudah berpisah tujuh tahun lalu.
Segera Arion berlari keluar mengejar Ara, terlihat wanita itu dan putranya akan menaiki taxi dan dengan tergesa Ia langsung menahan pergelangan tangan wanita itu.
"Pak gak jadi, maaf." Ucap Arion pada supir taxi itu.
Setelah melihat taxi itu pergi, Arion masih belum melepaskan pergelangan tangan Ara.
"Aku anterin kalian pulang."
Arabelle hanya mengangguk, pria itu lalu masuk ke dalam dan tak lama keluar dengan mobilnya. Ia pun duduk di kursi penumpang depan dengan Finn di pangkuannya.
Selama perjalanan menuju apartemennya terasa hening, suasana ini terasa canggung. Ara sempat melirik pada Arion, rahang pria itu terlihat mengeras dan cengkraman di setir membuatnya bingung. Apa Arion sedang marah? Tapi kenapa?
hanya org bodoh yg mengagungkan cinta sampai mati, krn bertepuk tangan tdk bisa dilakukan sendirian
.