Terlahir kembali dengan ingatan masa lalu yang utuh, Shen Jue dipandang sebelah mata di Akademi Canglan hanya karena membangkitkan belati kecil berkarat yang dianggap rongsokan tak berharga. Tanpa menyadari bahwa belati tersebut menyimpan rahasia kelam pemutus aliran energi alami, para murid bangsawan terus berusaha menindasnya hingga Shen Jue membongkar kelemahan mereka satu per satu dengan ketenangan yang mematikan. Bersama Ruan Xi'er dan Gongsun Zhi, ia menapak jalur petarung yang dingin di tengah himpitan intrik klan-klan besar yang haus kekuasaan. Mampukah Shen Jue membuka segel rahasia di balik belati rongsoknya dan menghentakkan takdirnya sebagai penguasa abadi di Benua Tianwu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KJT 19
Desir angin sore menghembuskan sisa-sisa abu halus pilar batu yang telah berserakan di tanah, mengubur bekas-bekas kejutan yang tercipta di Lapangan Bintang beberapa jam lalu. Kendati panggung uji coba telah dibubarkan, gema dari peristiwa aneh tersebut tidak lantas memudar. Di sepanjang lorong-lorong batu Kompleks Asrama Barat hingga pelataran luar, rumor mengenai belati berkarat milik Shen Jue menyebar cepat bagai kobaran api menyambar padang ilalang kering.
Sebagian murid menganggapnya sebagai kebetulan atau kecacatan internal pada Batu Uji Energi yang sudah tua, sementara sebagian lainnya mulai menatap Shen Jue dengan kecurigaan tebal dan rasa waspada yang tak kasat mata.
Di bawah naungan pepohonan cemara tua yang membatasi area belakang paviliun latihan, Shen Jue melangkah santai dengan kedua tangan terbenam di balik saku jubah linen abu-abunya. Di samping kirinya, Ruan Xi'er berjalan dengan langkah melompat-lompat kecil, sesekali melirik ke arah murid-murid senior yang melintas di selasar atas.
"Kau sadar tidak, Shen Jue?" bisik Xi'er sambil memiringkan kepalanya. "Sejak dari lapangan tadi, tatapan orang-orang jadi aneh sekali. Mereka tidak lagi tertawa terang-terangan seperti kemarin, tapi rasanya seperti sedang melihat hantu."
"Orang selalu takut pada sesuatu yang tidak sanggup dijelaskan oleh nalar dangkal mereka," pungkasi Gongsun Zhi yang berjalan tegak di sisi kanan. Menggendong Tombak Besi Hitam yang terbungkus rapat, raut wajahnya tetap kaku dan lurus. "Tapi ketakutan biasanya melahirkan dua hal: rasa segan, atau rasa benci yang makin menjadi-jadi."
"Gongsun benar," sahut Shen Jue lembut, menyunggingkan senyum tipis yang amat tenang. "Dan di tempat seperti Akademi Canglan ini, rasa benci dari orang-orang yang merasa terancam jauh lebih cepat muncul daripada rasa segan."
Belum sempat Xi'er membalas ucapan itu, langkah kaki mereka terhenti di persimpangan jalan setapak berdinding batu. Empat orang murid baru berdiri mengadang di tengah selasar sempit yang menuju ke arah perpustakaan bawah.
Pakaian mereka tidak terbuat dari linen kasar seperti milik murid desa, melainkan jubah sutra biru tua berhias sulaman lambang serigala perak pada bagian dada kanan—lambang khas milik klan Zhongli, salah satu keluarga bangsawan paling berpengaruh di Kota Wushan.
Di tengah kelompok itu, berdiri seorang pemuda bertubuh tinggi kekar dengan wajah persegi yang congkak. Namanya adalah Gao Feng, tangan kanan dan pengikut setia dari Zhongli Chen—tuan muda jenius klan Zhongli yang sangat ditakuti di angkatan baru.
"Langkah yang sangat santai untuk ukuran seorang penipu," tegur Gao Feng dengan suara berat yang sengaja ditinggikan, memotong keheningan selasar batu.
"Siapa yang kau sebut penipu?!" seru Xi'er dengan alis bertaut marah, melangkah satu tindakan ke depan.
Gao Feng menyilangkan tangannya di dada, melempar tatapan meremehkan dari atas ke bawah ke arah Shen Jue. Tiga orang pengikut di belakangnya ikut tersenyum culas, memperlihatkan gestur mengintimidasi dengan meremas jemari tangan mereka hingga berbunyi gemertak.
"Siapa lagi kalau bukan si pemilik belati rongsok ini?" cemooh Gao Feng sambil menunjuk wajah Shen Jue dengan telunjuknya. "Seluruh akademi mungkin bisu karena terkejut melihat pilar batu itu hancur, tapi jangan harap kalian bisa mengelabui mata klan Zhongli! Mana mungkin belati sampah berkarat sanggup menghancurkan Batu Uji Energi tanpa trik racun atau ilmu terlarang?"
"Jaga mulutmu!" seru Xi'er gusar, jemarinya meregang siap memanggil cakar peraknya. "Shen Jue tidak pakai racun apa pun! Batu itu retak karena kehebatannya sendiri!"
"Kehebatan?" tawa Gao Feng meledak nyaring, disambut kekehan ejekan dari tiga temannya. "Bocah perempuan, jangan terlalu lugu! Di dunia petarung sejati, kekuatannya diukur dari kerapatan energi dan pendar aura roh, bukan dari trik kotor yang merusak dari dalam! Tuan Muda Zhongli Chen meminta kami menyampaikan pesan khusus untuk kalian bertiga."
Gao Feng melangkah maju dua tindakan, memangkas jarak hingga tersisa tiga langkah dari Shen Jue. Hawa dingin yang tebal menguar dari tubuhnya saat ia memanggil energi spiritual tingkat menengah.
"Tuan Muda Zhongli Chen tidak menyukai keberadaan tikus-tikus desa yang mencoba bermain trik di akademi ini," kata Gao Feng dengan nada menindas yang kentara. "Di ujian luar ruangan Hutan Roh nanti, kubu kami yang akan menguasai perolehan poin tertinggi. Kalau kalian bertiga masih sayang pada keselamatan tangan dan kaki kalian, sebaiknya mundur dari ujian atau bersiaplah menjadi mangsa di dalam hutan."
Atmosfer di selasar batu mendadak menjadi sangat dingin dan tegang. Ancaman terselubung dari kubu Zhongli Chen itu begitu nyata, dipenuhi kesombongan klan besar yang terbiasa menindas mereka yang dianggap lemah.
Gongsun Zhi tidak mengucap sepatah kata pun, namun langkah kakinya bergeser mantap ke depan, menutupi sebagian tubuh Shen Jue. Ia menghentakkan pangkal Tombak Besi Hitam-nya ke tanah batu.
Thuk!
Dentuman rendah yang sarat akan bobot murni menggetarkan dedaunan cemara di atas mereka, menahan dorongan hawa dingin milik Gao Feng di udara. "Kalau Tuan Mudamu punya masalah, biarkan dia datang sendiri," pungkasi Gongsun Zhi dengan mata tajam bagai elang. "Mengirim utusan untuk menggertak hanya memperlihatkan betapa penakutnya kalian."
"Bocah kaku! Kau pikir tombak beratmu itu bisa melindungimu dari klan Zhongli?!" teriak Gao Feng dengan muka memerah lantaran tersindir.
Sebelum bentrokan fisik pecah di tempat itu, Shen Jue menepuk bahu tegap Gongsun Zhi pelan, memintanya untuk tenang. Shen Jue melangkah maju dengan santai, berdiri berhadapan langsung dengan Gao Feng tanpa sedikit pun rasa gentar di matanya.
Shen Jue menyapu pandangannya pada postur tubuh Gao Feng—dari pundak yang agak miring ke kiri hingga tumpuan kakinya yang terlalu merenggang.
"Klan Zhongli memang besar," pungkasi Shen Jue dengan suara datar yang amat jernih. "Tapi mengirim pengikut yang meridian kakinya tidak stabil seperti dirimu untuk mengancam orang... rasanya agak memprihatinkan."
"A-apa yang kau katakan?!" gagap Gao Feng dengan senyum culas yang goyah.
"Setiap kali kau memanggil energi spiritual ke dadamu, lutut kirimu bergetar halus," analisis Shen Jue tenang sambil menunjuk tepat ke arah paha Gao Feng. "Itu artinya kau terlalu memaksakan latihan jurus langkah kaki klanmu sebelum otot pinggulmu matang. Kalau kau mencoba menyerangku dalam jarak dekat sekarang, sebelum energimu sampai ke telapak tanganmu, sendi lututmu akan bergeser lebih dulu."
Tiga pengikut Gao Feng saling pandang dengan raut cemas, karena mereka tahu betul bahwa Gao Feng memang sering mengeluhkan nyeri pada lutut kirinya usai latihan malam.
Wajah Gao Feng berubah pucat pasi bercampur rasa malu yang membakar dada. Ia menggertakkan giginya rapat-rapat, hendak mencabut senjatanya untuk membuktikan bahwa Shen Jue salah. Namun, tatapan mata Shen Jue yang amat dingin dan dalam seolah sanggup menelanjangi setiap kelemahan fisiknya hanya dengan sekali pandang, membuat keberanian Gao Feng menciut secara mendadak.
"Ingatkan pada Tuan Mudamu," sambung Shen Jue pelan sambil berjalan melewati bahu Gao Feng tanpa memandangnya lagi. "Kami datang ke Akademi Canglan untuk belajar, bukan untuk menjadi pengikut siapa pun. Kalau kubu belakang kalian ingin bermain di Hutan Roh nanti... pastikan saja kalian siap menerima konsekuensinya."
Langkah Shen Jue yang tenang diikuti oleh Xi'er yang melayangkan juluran lidah mengejek, serta Gongsun Zhi yang memberi tatapan peringatan terakhir sebelum menyusul di belakang.
Gao Feng berdiri terpaku di tengah selasar batu, memegangi lutut kirinya yang mendadak terasa ngilu secara psikologis. Ancaman yang tadinya hendak ia lontarkan untuk menindas murid desa tersebut kini justru berbalik menjadi rasa gelisah dingin yang merayap perlahan di dalam benaknya.