Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Aira Kirana terpaksa menerima tawaran nikah kontrak dari Devan Mahendra. CEO dingin yang membutuhkan istri formalitas demi posisinya di Mahendra Group. Bagi Devan, Aira hanyalah transaksi yang bisa dibeli dengan uang.
Namun, Aira menolak tunduk. Di tengah intrik dan hinaan keluarga Mahendra, ia berdiri tegap mempertahankan harga diri dan ketulusannya sebagai perajin tenun.
Saat benih kepedulian Devan mulai tumbuh, bayang-bayang masa lalu bernama Clara kembali hadir, membawa ujian baru bagi hubungan mereka.
Mampukah Devan meruntuhkan egonya demi mempertahankan Aira? Ataukah Aira memilih pergi, membuktikan bahwa ketulusan tak pernah bisa dibeli?
Sebuah kisah tentang harga diri, penyesalan suami, dan kekuatan ketulusan yang meluluhkan hati yang beku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fabdul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak yang Tertinggal
Clara Wijaya menghadiri pertemuan lanjutan dengan tim Mahendra Group untuk membahas perkembangan proposal investasinya. Setelah menerima data tambahan, tim masih membutuhkan beberapa penjelasan sebelum menyelesaikan evaluasi.
Di ruang rapat, sejumlah anggota tim keuangan dan pengembangan bisnis telah menyiapkan dokumen yang akan dibahas.
"Selamat pagi, semuanya," sapa Clara sambil mengambil tempat duduk.
"Selamat pagi, Bu Clara. Hari ini kami ingin mengklarifikasi beberapa bagian dari proposal, terutama mengenai proyeksi pasar, kebutuhan biaya, dan tahapan pelaksanaan investasi."
Clara mengangguk. "Baik. Silakan sampaikan bagian yang perlu diperjelas."
Pertemuan dimulai dengan pembahasan proyeksi pasar. Tim pengembangan bisnis ingin memastikan bahwa perkiraan pertumbuhan yang diajukan memiliki dasar yang kuat.
Clara menjelaskan sumber data dan pertimbangan yang digunakan dalam menyusun proyeksi tersebut.
"Angka ini berdasarkan hasil analisis pasar dan perkembangan permintaan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, kami tetap mempertimbangkan kemungkinan perubahan kondisi selama investasi berjalan."
"Apakah sudah ada langkah yang disiapkan jika hasilnya tidak sesuai dengan proyeksi awal?" tanya salah satu anggota tim.
"Kami mengusulkan pelaksanaan secara bertahap. Setiap tahap akan dievaluasi sebelum dilanjutkan, sehingga penyesuaian bisa dilakukan apabila kondisi pasar berubah."
Penjelasan itu disambut anggukan dari beberapa peserta. Clara menjawab setiap pertanyaan dengan tenang, tanpa melebih-lebihkan potensi keuntungan yang ditawarkan.
Pembahasan kemudian beralih pada rincian biaya. Tim keuangan menemukan beberapa komponen yang masih perlu diperiksa agar kebutuhan anggaran sesuai dengan tahapan pelaksanaan.
Salah satu anggota tim membuka lembar perhitungan di hadapannya.
"Pada tahap kedua, terdapat penyesuaian anggaran. Kami ingin memastikan perubahan ini tidak memengaruhi keseluruhan proyeksi."
Clara memperhatikan tabel yang ditunjuk.
Sesaat, pandangannya tertahan pada susunan angka di halaman itu. Ada sesuatu yang terasa familier, meskipun ia tahu dokumen tersebut berkaitan dengan proyek yang berbeda.
Ia teringat pada laporan lama yang pernah diperiksanya ketika perusahaan milik ayahnya bekerja sama dengan Mahendra Group.
Proyek itu dahulu diharapkan membawa keuntungan bagi kedua perusahaan. Namun, pelaksanaannya berakhir dengan kerugian besar yang membuat kondisi keuangan perusahaan keluarganya semakin sulit.
Clara masih mengingat bagaimana ia berusaha membantu ayahnya memahami penyebab kegagalan tersebut. Berbagai laporan diperiksa, sementara penjelasan yang diterima dari pihak Mahendra Group pada awalnya tampak masuk akal.
Saat itu, ia memercayai seseorang yang turut memberikan penjelasan mengenai proyek tersebut.
Namun, kepercayaan itu mulai goyah setelah ia menemukan beberapa bagian dalam dokumen lain yang tidak sepenuhnya sesuai dengan keterangan yang pernah diterimanya.
"Bu Clara, apakah ada yang perlu ditambahkan?" Suara salah satu peserta rapat membuyarkan lamunannya.
Clara kembali menatap dokumen di hadapannya.
"Maaf. Saya sedang memeriksa perhitungannya."
Ia membaca bagian tersebut sekali lagi sebelum menjawab.
"Penyesuaian anggaran ini masih bisa dijelaskan berdasarkan kebutuhan pelaksanaan. Namun, saya setuju bahwa setiap komponen perlu diperiksa agar perhitungannya tetap realistis."
Pembahasan pun berlanjut. Clara kembali memusatkan perhatian pada proposal yang sedang dievaluasi, tanpa menunjukkan bahwa bagian sebelumnya sempat membawanya pada ingatan lama.
Setelah seluruh poin utama dibahas, tim pengembangan bisnis menyampaikan bahwa masih ada beberapa dokumen pendukung yang perlu dilengkapi.
"Setelah dokumen tersebut kami terima, tim akan menyelesaikan evaluasi internal sebelum menyampaikan rekomendasi kepada Pak Devan," jelas salah satu perwakilan mereka.
"Baik. Saya akan berkoordinasi dengan tim untuk melengkapinya," jawab Clara.
Pertemuan berakhir tidak lama kemudian. Clara berpamitan kepada para peserta, lalu meninggalkan ruang rapat sambil membawa catatannya.
Di ruang tunggu dekat lift, ia memeriksa kembali poin-poin yang perlu ditindaklanjuti. Setelah memastikan tidak ada yang terlewat, ia membuka aplikasi catatan di ponselnya.
Jarinya berhenti sejenak sebelum mengetik sebuah pengingat singkat tentang laporan lama yang tadi terlintas di pikirannya.
Clara tidak ingin menarik kesimpulan hanya karena menemukan kemiripan. Proyek yang sedang dibahas hari ini memiliki kondisi dan perhitungan tersendiri. Ia tidak memiliki alasan untuk menghubungkannya begitu saja dengan kegagalan yang terjadi bertahun-tahun lalu.
Namun, ia belum melupakan kejanggalan yang pernah ditemukannya.
Dahulu, ia percaya bahwa penjelasan yang diterimanya telah menggambarkan keadaan sebenarnya. Baru setelah memeriksa dokumen lain, ia menyadari ada bagian yang belum terjawab.
Ia sempat berusaha mencari kejelasan, tetapi keadaan keluarganya semakin mendesak. Masalah perusahaan menyita sebagian besar waktunya, hingga akhirnya ia meninggalkan Jakarta dengan membawa pertanyaan yang belum terpecahkan.
Clara mengunci layar ponselnya.
Ia tidak ingin kembali mencampuradukkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Untuk saat ini, tugasnya adalah memastikan proposal investasi berjalan sesuai prosedur dan seluruh data yang diperlukan tersedia.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari tim pengembangan bisnis masuk, mengingatkannya untuk melengkapi rincian biaya dan tahapan pelaksanaan investasi.
Clara membalas bahwa dokumen tersebut akan segera disiapkan. Setelah itu, ia memasukkan ponsel ke dalam tas dan beranjak menuju lift.
Pertemuan hari itu berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada persoalan baru yang muncul dalam pembahasan proposal, dan evaluasi masih menunggu kelengkapan dokumen.
Meski begitu, pertemuan tersebut telah membawanya kembali pada sesuatu yang selama ini berusaha ia tinggalkan.
Ada penjelasan dari masa lalu yang dahulu ia percayai, tetapi hingga kini belum sepenuhnya bisa ia terima.
Bersambung...