Daniella Adriana Rea, cewek cantik tapi menyamar jadi cupu karena ingin punya cowok setia. Sayangnya dia ditinggal selingkuh pacarnya. Punya pacar bernama Atala, cowok tampan, mahasiswa semester akhir, namun berengsek level dewa. Atala justru menghamili teman satu jurusannya, dan berakhir menikahinya, dan meninggalkan Rea.
Rea yang memang notabene cewek bar-bar, bukannya menangis semalaman, justru datang ke acara nikahan Atala, bermodalkan tampang cupu hasil permakannya, bahkan semua orang mengatakan jika Atala sudah benar meninggalkan Rea.
Akan tetapi, di sana dia tak sengaja bertemu dengan Theo, si cowok dingin, tanpa ekspresi. Terkenal sebagai cold boy, dan manusia kulkas seribu pintu. Jangankan bicara, tersenyum saja tidak pernah.
Dimas Theo Danastra, ketua Ospek di Fakultas Teknik. Mahasiswa tahun ketiga, dia tampan, keturunan Tionghoa, tingginya 185 cm. Jomblo aktif sejak dalam kandungan, karena Theo enggan untuk pacaran.
Theo:pasif
Rea: Hiperaktif, bar-bar, dan cegil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri prisella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Nanti Malam Kita Praktek
Theo panas dingin, ketika Rea menelponnya, dan meminta hal aneh-aneh darinya beberapa saat yang lalu.
Malam pertama, ucapan itu terus terngiang-ngiang di kepalanya. Sungguh miris, jika istrinya saja polosnya sudah di ambang batas wajar manusia.
Jika saja Rea itu paham, sudah dari kemarin dia melakukannya dengan gara-gara elegan tentunya karena Theo gengsinya setinggi langit.
Saat Theo hampir masuk ke kamar mandi untuk mendinginkan kepalanya dari pikir-pikiran tak suci, yang terus berkeliaran. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, menampilkan sosok Rea yang datang dengan wajah sumringah.
"Theo, ayo praktek malam pertama."
Theo langsung terkena serangan shock tiba-tiba. Rea datang dengan tidak tahu malunya berkata seperti itu.
"Maksud kamu apa?"
"Haish, udah kuduga kalau kamu emang belum dewasa. Bisa-bisanya kamu nggak tau apa itu first night. Kebangetan tuh paranormal nggak mau ngasih tau, lagi."
"Paranormal?" Dari pendengaran tajamnya, Theo menangkap kalimat paranormal dari mulut istrinya.
"Iya, aku tadi pergi ke paranormal sama Dera. Paranormal kenalannya. Katanya sih sakti ngalahin ramalannya Mak Loreng. Eh ternyata dia aja nggak mau ngasih tau first night. Mana sok muda lagi. Tau nggak, dipanggil Mbah nggak mau, ya udah kupanggil Om."
Theo mendesah di dalam hati, kenapa bisa dia bucin sampai ke akar-akarnya dengan cewek seperti Rea, yang isi kepalanya tak sinkron dengan penampilan urakannya itu.
"Kenapa percaya ramalan?"
"Bukan ramalan juga, sih.
Tapi lebih ke dia tau aja kalau aku diganggu Vampir sok cakep yang suka banget nodain bibirku tiap malem. Ya gimana ya, kalau muka tuh vampir ganteng kaya Song Wei Long sih masih kupikirkan, nah kalau tuh Vampir mukanya burik, dan aku diajak masuk jadi komplotannya, ya ogah."
"Hanya tebakan." Theo berkata dengan deep voicenya yang khas dengan raut wajah datar seperti biasa. Sebenarnya itu hanya cara Theo menenangkan diri. Tidak mungkin ketahuan jika yang setiap malam mencium Rea diam-diam adalah....
"Tebakan yang pas, dan kamu tau aku suruh ngapain untuk ngelepas kutukan tuh Vampir tanpa harus manggil Van Helsing?"
"Apa?"
"Kamu mau tau?" Rea malah menggodanya. Istri Theo itu menaik turunkan alisnya.
"Tidak." Theo tak mau membahas lagi hal-hal konyol seperti ini, dan memilih menarik kursi belajarnya, untuk mengerjakan tugas kuliah, dan materi untuk ospek mahasiswa baru sebelum malam inisiasi yang akan diadakan di luar kampus. Kegiatan rutin universitas Bina Bangsa setiap tahunnya.
Dia sudah tidak ingin mendinginkan kepalanya.
Biarkan saja seperti ini.
Rea mempoutkan bibirnya. "Nggak asyik, padahal kata tuh Om paranormal. Aku suruh nanya kamu, Theo. Gimana tuh? Tapi sih dari gelagatmu yang sebenarnya adalah reinkarnasi biksu Tong, pasti nggak tau hal-hal kek gini. Ya udahlah, mending tidur."
Rea memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur, daripada dia lelah memikirkan bagaimana caranya malam pertama.
Theo melirik ke belakang, istrinya sudah berbaring miring dengan mendekap guling. Theo berusaha sabar, padahal dia sangat ingin melakukan hal itu. Sebagai cowok dewasa, dan normal. Apalagi dia sudah menikah, tentu wajar memiliki pemikiran seperti itu, kan. Hanya saja Rea yang begitu polos dengan masalah hal-hal dewasa. Membuat Theo harus bersabar.
Lagipula, Theo itu bukan tipe orang yang mau meminta secara gamblang. Dia tsundere level akut.
Dia kembali berbalik, dengan maksud ingin mengerjakan tugas kuliahnya, sembari membuat pikiran absurd di kepalanya. Namun, Axel tiba-tiba menelponnya.
Theo segera berdiri, dan mengangkat telepon dari teman satu jurusannya itu.
"Hallo."
"Theo, lo free, kan?" tanya Axel di ujung telepon.
"Kenapa?"
"Ke caffe deket kampus. Mau bahas tugas dari Bu Grace."
Theo tak menjawab, dia membuka jurnalnya. Buku itu berisi jadwal kuliah Theo, dan semua materi yang dosen ajarkan, termasuk tugas yang dosen berikan sudah Theo catat di jurnalnya.
Theo itu manusia pagi, manusia rajin yang suka mengerjakan tugasnya tepat waktu, dan tidak pernah melanggar perintah. Di sekolahnya dulu, Theo mendapat predikat sebagai ketua kedisiplinan, menyandang peringkat pertama setiap semester dari kelas sepuluh hingga kelas dua belas. Bahkan dia pernah menyabet juara umum di Nanjing Senior Highschool selama tiga tahun berturut-turut.
Tetapi, satu kekurangan Theo. Dia sulit mengekspresikan perasaannya, dan cenderung menjadi sosok yang sulit untuk dijangkau.
"Theo, lo masih di sana, kan?" tanya Axel.
"Iya, maaf. Sedang memeriksa jadwal di jurnal."
"Oh, iya, lo udah bikin tugasnya belum?Materi
dinamika sistem manufaktur. Gue belum bikin nih, dosen bilang besok dikumpulin, kan. Please boleh nyalin punya lo, kan?"
"Kebiasaan." Theo berbicara seperti biasa, dan sudah dihafal oleh Axel.
"Nah lo tau, gue tungguin. Otw nih," ujarnya.
"Hn," balas Theo, dan segera mematikan sambungan teleponnya.
Theo segera bersiap, ketika menoleh ke belakang, dia dikejutkan dengan Rea yang sudah duduk menatap ke arahnya.
"Kamu mau pergi?"
"Iya."
"Mau ke mana?" tanyanya. Matanya mengerjab lucu.
"Ke caffe, mengerjakan tugas dengan Axel."
"Oh, nitip pink milk, es krim strawberry ya kalau pulang, sama brownis buat cemilan. Soalnya ya ntar malem ada film kesayanganku tayang."
"Film apa?" tanya Theo, cukup penasaran dengan film genre apa yang istrinya sukai.
"Kopet."
Theo langsung berbalik. Pantas saja Rea tidak tahu hal-hal berbau romantis, jika tontonannya saja film pembunuhan.
"Ya sudah aku pergi dulu."
"Tunggu."
"Ada apa?" "
"Aku mau mandi, jangan pergi dulu. Kalau kamu pergi, terus aku pas mandi diintip tuh Vampir, gimana? Ya ya ya, Theoooo."
Tidak tahukah Rea, jika vampirnya itu....
Sudahlah, Theo tidak mau membahsnya, pasti lama urusannya.
Theo terpaksa mengiyakan,bagaimanapun dia tidak kuat denga tatapan Rea yang seperti anak orang minta disantet itu.
"Yeahhh. Aku mandi dulu, tungguin bentar, nggak nyampai lima menit."
"Mandi apa tidak sampai lima menit?"
Rea tersenyum aneh. "Cuma gosok gigi, sama cuci muka.
Tubuh dilap pakai air, itu cara jitu dulu waktu SMA kalau bangun kesiangan, Theo. Gitu aja kalau ke sekolah masih telat, disuruh lari keliling lapangan sama tuh guru BK, nyebelin."
Theo mendesah. "Jorok."
"Nggak lah, orang tubuhku aku semprotin parfum yang dibeliin Papa dari Paris. Hilang deh bau badanku." Rea merangkul bahu Theo. "Tenang Theo, sekarang aku rajin mandi kok, ya kalau kepepet doang gini mandi kilat."
Theo tak berkata-kata, hanya menggelengkan kepalanya saja. Lalu meraih kunci motornya di atas rak buku.
"Sana, aku tungguin."
"Asyikk, beneran tungguin ya." Rea berlari ke arah kamar mandi. Bisa-bisanya hobi nonton film kopet tapi takut mandi sendirian di apartemen.
Theo menggelengkan kepalanya, lalu fokus pada ponselnya.
Sedangkan Rea, ketika sampai di depan pintu kamar mandi kembali berbalik. Dia berlari ke arah Theo yang sibuk dengan ponselnya, memberi tahu Axel kalau dia akan datang sedikit terlambat.
Rea memanggilnya.
"Theoooo!"
Theo reflek menoleh, namun tiba-tiba...
Cup.
Rea dengan tidak tahu malunya mencium pipi Theo tanpa rasa dosa.
"Makasih mau nungguin."
Theo shock.
Mimpi apa dia semalam, dicium cewek yang dia suka, tapi orangnya tidak peka. Miris, sungguh ironis sekali.
Rea kembali masuk ke kamar mandi, lalu menutup pintunya. Tak sampai satu menit, dia kembali membuka pintu tersebut, dan berseru.
"Theo, ntar malem praktek malam pertama, yuk."
Brakk.
Pintu kamar mandi kembali tertutup. Sungguh Theo harus apa jika begini caranya.
...****************...
*Bersambung*
* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*
*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya💝 *
*Terimakasih🙏*
*Salam manis dari AUTHOR ☺️*
*ig@putri_miceela.*