Latifah, seorang guru di pondok pesantren, menjalani kehidupan sederhana dengan mengabdikan dirinya untuk mendidik para santri.
Setahun lalu, seorang anak perempuan berusia lima tahun bernama Kahiyang Ayudia datang dan menetap di pesantren tersebut. Kahiyang adalah putri seorang Mayor TNI bernama Abimanyu Wicaksono yang sedang bertugas di Lebanon.
Atas perintah sang ayah, Kahiyang dititipkan kepada Neneknya agar tumbuh menjadi anak yang mandiri dan berakhlak mulia.
Seiring berjalannya waktu, Latifah semakin menyayangi Kahiyang dan menganggapnya seperti anak sendiri. Namun, kebahagiaan itu terusik ketika kedua orang tuanya berniat menjodohkannya dengan seorang duda beranak satu. Latifah tentu saja menolak karena belum siap menjadi seorang istri sekaligus ibu sambung.
Tanpa sepengetahuannya, pria yang dijodohkan dengannya ternyata adalah Abimanyu, ayah dari Kahiyang, anak yang begitu disayanginya.
Akankah Latifah menerima takdir tersebut dan membuka hatinya untuk sang Mayor?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perpisahan yang menyisakan rindu
Pagi itu, suasana Pondok Pesantren Darussalam terasa berbeda dari biasanya. Udara sejuk yang menyelimuti Desa Sukomakmur seolah ikut menyimpan kesedihan yang perlahan merayap di hati seorang gadis kecil bernama Kahiyang Ayudia.
Setelah setahun menuntut ilmu di pesantren itu, kini tiba waktunya bagi Kaning untuk kembali ke Jakarta bersama sang ayah, Mayor Abimanyu Wicaksono, dan neneknya, Bu Almira.
Banyak hal yang telah berubah dalam kehidupan Kaning selama tinggal di Darussalam. Bocah yang dahulu pemalu, mudah menangis, dan selalu ketakutan ketika jauh dari neneknya, kini tumbuh menjadi anak yang lebih mandiri. Ia sudah mampu membaca beberapa surah pendek, menghafal doa-doa harian, menulis namanya sendiri, bahkan berani bergaul dengan teman-teman seusianya.
Namun, di balik semua perubahan itu, ada satu sosok yang akan selalu melekat dalam ingatannya.
yakni Bu Latifah.
Perempuan muda itulah yang pertama kali menyambutnya dengan penuh kesabaran. Perempuan yang menemaninya ketika menangis merindukan sang ayah, mengajarinya membaca Al-Qur'an, mendengarkan cerita-ceritanya, dan memeluknya setiap kali dunia kecilnya terasa begitu menakutkan.
Bagi Kaning, Latifah bukan sekadar guru mengaji. Perempuan itu telah menjadi rumah kedua baginya, tempat ia menemukan kehangatan ketika merasa kesepian.
Dan pagi ini, ia harus meninggalkan rumah keduanya itu.
Di halaman depan pesantren, sebuah mobil hitam telah terparkir. Beberapa koper kecil milik Kaning sudah dimasukkan ke dalam bagasi oleh Bima. Sementara itu, Bu Almira berdiri di samping mobil, sesekali mengusap sudut matanya yang mulai basah.
Latifah berdiri di hadapan Kaning dengan senyum yang dipaksakan. Ia berusaha terlihat tegar, meskipun hatinya terasa begitu berat. Sejak mengetahui bahwa Kaning akan dibawa pulang ke Jakarta, perempuan itu berulang kali meyakinkan dirinya bahwa ini adalah hal yang baik.
Bagaimanapun, Kaning adalah putri kandung Bima. Sudah seharusnya bocah itu tumbuh bersama ayahnya sendiri.
Namun, memahami keadaan tidak serta-merta membuat perpisahan menjadi mudah.
Latifah berjongkok agar wajahnya sejajar dengan wajah Kaning. Ia mengusap lembut kepala bocah itu, kemudian menatap sepasang mata bening yang kini dipenuhi air mata.
"Kaning... jaga diri kamu baik-baik, ya," ucap Latifah dengan suara bergetar.
Bibirnya berusaha tersenyum, tetapi kedua matanya justru semakin berkaca-kaca.
"Sekarang sudah ada Papah nya Kaning. Ibu senang sekali karena akhirnya Kaning bisa berkumpul lagi dengan Papah."
Latifah menarik napas panjang, berusaha menahan sesak di dadanya.
"Dan pesan Ibu buat Kaning, selalu rajin belajar, jangan lupa salat lima waktunya, jangan suka membantah Papah, dan selalu jadi anak yang salehah, ya?"
Kaning menggeleng pelan. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh membasahi pipinya.
"Tapi... Kaning nanti nggak bisa sama Bu Ifah lagi?"
Pertanyaan sederhana itu seketika membuat hati Latifah terasa diremas.
Perempuan muda itu terdiam sejenak sebelum mengangguk kecil.
"Kaning memang akan tinggal bersama Papah sekarang, Sayang. Tapi bukan berarti Kaning nggak boleh mengingat Ibu."
"Kalau Kaning kangen Bu Ifah, bagaimana?" tanya Kaning dengan suara lirih.
Latifah mengusap air mata di pipi bocah itu menggunakan ibu jarinya.
"Berdoa, Sayang. Minta sama Allah supaya Kaning dan Ibu selalu diberikan kesehatan. Kalau nanti ada kesempatan, Kaning bisa berkunjung lagi ke sini."
"Janji, Bu?"
Latifah tersenyum tipis, meski air matanya sendiri mulai mengalir.
"Iya, Sayang. Ibu janji akan selalu mendoakan Kaning."
Belum sempat Latifah mengatakan apa-apa lagi, Kaning langsung menerjang pelukannya.
"Bu Ifah!"
Bocah itu memeluk pinggang Latifah erat-erat, seolah-olah dengan cara itu ia bisa menghentikan waktu agar tidak segera membawanya pergi.
"Ibu jangan lupa sama Kaning, ya! Jangan sampai Bu Ifah lupa sama Kaning!"
Latifah terisak. Kedua tangannya segera membalas pelukan itu, mendekap tubuh mungil Kaning dengan penuh kasih sayang.
"Astaghfirullah, Nak... mana mungkin Ibu melupakan Kaning?"
Ia mengecup puncak kepala bocah itu berkali-kali.
"Kaning itu anak yang baik. Ibu akan selalu ingat Kaning, insyaallah."
"Tapi Kaning masih mau tidur di kamar pesantren. Kaning masih mau belajar sama Bu Ifah. Kaning masih mau main sama teman-teman Kaning...."
Tangis Kaning semakin pecah.
"Kenapa Kaning harus pulang sekarang, Bu? Kenapa nggak nanti saja?"
Latifah memejamkan matanya. Dadanya terasa sesak mendengar rengekan itu. Ia ingin mengatakan bahwa dirinya juga belum siap berpisah. Ia ingin mengakui bahwa selama setahun terakhir, kehadiran Kaning telah mengisi banyak ruang kosong dalam kehidupannya.
Akan tetapi, ia sadar bahwa dirinya bukan ibu kandungnya Kaning.
Ia hanyalah seorang guru yang kebetulan diberi kesempatan oleh Allah untuk menemani perjalanan kecil seorang anak yang pernah kehilangan kehangatan keluarga.
"Karena sekarang Papah sudah pulang, Sayang. Papah ingin menghabiskan banyak waktu bersama Kaning. Bukankah selama ini Kaning selalu berdoa supaya Papah cepat pulang?"
Kaning mengangguk di sela tangisnya.
"Iya...."
"Nah, sekarang doa Kaning sudah dikabulkan Allah. Jadi, Kaning harus bahagia, ya? Jangan membuat Papah sedih karena Kaning terus menangis."
Kaning mengangkat wajahnya. Matanya yang sembap menatap Latifah dengan penuh kerinduan.
"Kalau Kaning bahagia sama Papah, Bu Ifah juga bahagia?"
Latifah mengangguk, lalu menyeka air mata bocah itu.
"Tentu saja. Kebahagiaan Kaning adalah kebahagiaan Ibu juga."
"Tapi Bu Ifah juga harus bahagia, ya? Jangan menangis kalau Kaning pergi."
Latifah terdiam.
Bagaimana mungkin ia tidak menangis ketika seorang anak yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri harus pergi meninggalkannya?
Namun, demi Kaning, ia kembali tersenyum.
"Iya, Sayang. Ibu akan berusaha bahagia."
Kaning kembali memeluknya erat-erat.
"Ibu sayang Kaning?"
"Sayang sekali."
"Sayang banget?"
Latifah terkekeh kecil di tengah tangisnya.
"Sayang banget, sampai Kaning nggak bisa menghitungnya."
"Kalau begitu, Kaning juga sayang banget sama Bu Ifah!"
Pelukan itu berlangsung cukup lama hingga Bima yang berdiri tidak jauh dari mereka hanya bisa terdiam.
Pria berseragam sipil itu menatap putrinya yang menangis dalam pelukan Latifah. Ada perasaan aneh yang menjalar di dadanya. Sejak kembali dari Lebanon, ia tahu bahwa Latifah adalah sosok yang berjasa besar bagi Kaning. Namun, ia tidak pernah membayangkan bahwa ikatan di antara keduanya akan sedalam ini.
Putrinya bahkan tampak enggan melepaskan perempuan itu.
Bima menelan ludah, merasakan dadanya mendadak sesak.
Selama bertahun-tahun menjalankan tugas, ia sering meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusannya meninggalkan Kaning demi tugas negara adalah sesuatu yang harus dilakukan. Ia bekerja, menjalankan kewajiban, dan berharap suatu hari bisa kembali untuk menjadi ayah yang lebih baik.
Namun, melihat Kaning menangis seperti itu, ia menyadari betapa banyak waktu berharga yang telah terlewatkan.
Dan selama ia tidak berada di sisi putrinya, ada seorang perempuan yang dengan tulus mengisi kekosongan itu.
Terima kasih, Bu Latifah.
Kalimat itu bergema di dalam hatinya.
Terima kasih karena sudah menjaga putriku ketika aku tidak bisa berada di sisinya.
Bima menghembuskan napasnya perlahan. Ada rasa hormat yang tumbuh semakin besar terhadap perempuan muda tersebut. Latifah tidak hanya mengajari Kaning membaca dan menulis, tetapi juga memberikan sesuatu yang selama ini sulit ia dapatkan ketika berada jauh dari rumah, yakni rasa aman, perhatian, dan kasih sayang.
"Kaning, Sayang."
Suara Bima akhirnya terdengar lembut.
"Sudah, ya. Kita harus berangkat. Nanti perjalanan ke Jakarta cukup lama."
Kaning tidak langsung menjawab. Ia masih menempelkan wajahnya di bahu Latifah.
Bima mendekat, kemudian berjongkok di samping putrinya.
"Papah tahu Kaning sedih. Papah juga tahu Kaning pasti akan merindukan Bu Ifah. Tapi Papah janji, Papah akan mengajak Kaning berkunjung lagi kalau ada kesempatan."
Kaning mengangkat kepalanya, menatap sang ayah dengan mata sembap.
"Benar, Pah? Papah nggak bohong?"
Bima menggeleng.
"Papah tidak akan berbohong kepada Kaning."
"Kalau Kaning kangen Bu Ifah, Papah boleh mengantar Kaning ke sini?"
"Tentu saja, Sayang."
Kaning akhirnya mengendurkan pelukannya, meski tangannya masih menggenggam jemari Latifah.
Bima tersenyum kecil melihat putrinya. Kemudian ia berdiri dan menghadap perempuan muda itu.
"Bu Latifah, boleh saya bicara sebentar?"
Latifah mengangguk, lalu perlahan melepaskan tangan Kaning.
"Silakan, Pak Bima."
Bima sempat terdiam mendengar sapaan formal itu. Ia kemudian menatap Latifah dengan penuh kesungguhan.
"Terima kasih."
Hanya dua kata, tetapi diucapkan dengan ketulusan yang begitu dalam.
"Terima kasih karena selama setahun ini Ibu sudah menjaga Kaning. Terima kasih karena sudah sabar menghadapi dia, mengajarinya banyak hal, dan menemaninya ketika dia merindukan saya."
Bersambung...
atau baru bab 33