Di kota London yang basah dan dingin, Hans Lorte bertahan hidup dari ketajaman otaknya. Baginya, kegaiban hanyalah alasan bagi orang bodoh yang malas berpikir.
Namun, sebuah kasus misterius memaksa Hans berhadapan dengan teka-teki paling berbahaya dalam kariernya. Tanpa saksi, tanpa tanda-tanda pembobolan, dan bukti fisik yang janggal, Hans harus berpacu dengan waktu sebelum sang pelaku menghilangkan jejaknya secara permanen.
Sebuah kisah investigasi gelap tentang obsesi, konspirasi, dan batas akhir dari akal sehat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashciel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Sang Katalis dan Teh Berdarah
KRIEEET...
Pintu kuningan berukir elegan itu terbuka sepenuhnya tanpa suara gesekan engsel.
Bukannya hawa dingin mematikan atau bau darah monster yang menyambut mereka, aroma teh Earl Grey kualitas tinggi dan kehangatan kayu cendana justru menyergap paru-paru.
Pip berdiri mematung di ambang pintu. Mulut anak jalanan itu sedikit menganga.
Evelyn menahan napasnya, merapatkan mantelnya yang kotor oleh debu marmer. Matanya menyapu sekeliling dengan ketidakpercayaan yang mutlak.
Mereka tidak melangkah masuk ke dalam sarang sekte pemuja iblis atau laboratorium mesin berdarah.
Mereka baru saja melangkah masuk ke dalam sebuah klub santai eksklusif bergaya Victorian Gentleman's Club. Sebuah ruangan yang terlalu mewah untuk berada di kedalaman lima ratus kaki di bawah Gedung Parlemen.
Karpet Persia merah tebal menutupi seluruh lantai, meredam suara langkah kaki.
Rak-rak buku mahoni mengelilingi ruangan, dipenuhi buku-buku bersampul kulit rusa. Sebuah lampu gantung kristal raksasa memancarkan pendaran kuning keemasan yang sangat hangat dan menenangkan.
Namun, mata kelabu Hans Lorte seketika menangkap kejanggalan utama di ruangan itu.
Di tengah ruangan, terdapat sebuah perapian batu pualam yang megah.
Alih-alih kayu bakar yang menyala, perapian itu berisi air berwarna biru keemasan.
BZZZT... SYUUUT!
Air biru bercahaya itu tidak diam. Air tersebut mengalir deras ke atas melawan gravitasi bumi, menghilang ke dalam cerobong asap dan memancarkan suhu hangat yang konstan ke seluruh ruangan.
Hans Lorte melangkah masuk. Sepatu boot-nya yang kotor meninggalkan jejak lumpur hitam di atas karpet Persia yang tak ternilai harganya.
Kalkulasi: Suhu ruangan stabil di angka 24 derajat Celcius. Oksigen murni 21 persen. Tidak ada distorsi tekanan barometrik. Anomali di tempat ini tidak liar, melainkan tunduk sepenuhnya pada kendali mutlak.
Tangan kanan Hans menggenggam erat tongkat jalan berkepala besinya.
Di tengah ruangan hangat tersebut, duduk seorang pria paruh baya di atas kursi kulit berlengan tunggal.
Pria itu berambut perak yang disisir sangat rapi ke belakang. Ia mengenakan setelan jas sutra berwarna putih salju, tanpa setitik pun debu atau noda.
Di dada kiri jasnya, tersemat sebuah pin mahkota singa emas bertabur berlian murni.
Pria itu mengangkat cangkir teh porselennya, menyesapnya perlahan. Ia sama sekali tidak menoleh untuk melihat kedatangan ketiga tamu kotor yang menerobos masuk ke ruangannya.
"Kau meruntuhkan labirin spasial kelasku hanya dengan mematahkan sebuah katup pipa uap, Tuan Lorte," suara pria itu mengalun empuk, berwibawa, dan sangat sopan.
Ting.
Pria berjas putih itu meletakkan cangkir tehnya di atas piringan kecil di meja kacanya.
"Kau mengubah udara panas menjadi senjata gravitasi," puji pria itu dengan senyum tipis. "Kalkulasi termodinamika yang sangat puitis. Aku sungguh terkesan."
Hans tidak membalas pujian itu. Kuda-kudanya merendah, bersiap untuk segala probabilitas serangan fisik.
"Dan kau pastilah pimpinan tertinggi Divisi Nol," sahut Hans datar, suaranya sedingin es di tengah ruangan yang hangat itu.
Pria berjas putih itu akhirnya menoleh.
Wajahnya sangat aristokrat dan tampan untuk pria seusianya. Namun, sepasang matanya menatap Hans dengan warna hitam legam tanpa pupil—sehitam lubang tanpa dasar yang menyerap cahaya.
Evelyn membelalakkan matanya saat melihat wajah pria itu. Napasnya tercekat hebat.
"D-Duke of Clarence?" Evelyn terkesiap, mundur satu langkah dengan wajah pucat pasi.
Wanita itu menunjuk sang pria dengan jari gemetar. "Tapi... tapi Anda dikabarkan sudah meninggal dunia lima tahun yang lalu! Anda mati karena wabah kolera di India!"
Duke of Clarence terkekeh pelan. Ia menyilangkan kakinya dengan sangat santai.
"Kematian adalah alat birokrasi yang sangat efisien untuk menghapus namaku dari dokumen publik, Lady Finch," sang Duke tersenyum hangat, seolah sedang menyapa keponakannya.
"Anggap saja aku memalsukan kematianku agar bisa fokus sepenuhnya pada... proyek sains Kerajaan yang lebih besar."
Pip beringsut mundur, berlindung di balik punggung jangkung Hans.
"Tuan Lorte," bisik Pip dengan gigi bergemeretak menahan teror psikologis. "Ruangan ini terlalu tenang. Pria ini tidak membawa senjata sama sekali, tapi instingku bilang dia seribu kali lebih mematikan dari ruangan gila di atas tadi."
"Insting anak jalananmu sangat presisi, Pip," Hans memutar tongkat besinya satu kali. "Karena pria ini tidak mengandalkan fisik. Dia menggunakan otaknya."
"Silakan duduk, Tuan Lorte," sang Duke menunjuk sofa kulit kosong di hadapannya dengan gestur sopan.
Sang Duke menatap tongkat besi Hans. "Tidak perlu mencengkeram besi pengungkitmu sekuat itu. Tidak ada pertempuran kinetik di ruangan ini. Hukum Newtonmu sudah usai."
"Aku lebih suka berdiri tegap untuk sebuah interogasi," balas Hans dingin. Mata kelabunya terus mencari celah mekanis atau jebakan spasial di sudut ruangan.
"Oh, ini bukan interogasi, Detektif," sang Duke menggeleng pelan. "Ini adalah ucapan terima kasih."
Hans mengerutkan keningnya tajam. Otak rasionalnya menangkap anomali dalam struktur kalimat pria itu.
"Terima kasih?" ulang Hans, memicingkan mata penuh curiga.
"Tentu saja."
Duke of Clarence berdiri perlahan. Ia berjalan santai ke arah perapian pualam, menatap air biru yang mengalir terbalik ke atas.
"Kau pikir Kerajaan Inggris cukup bodoh?" Sang Duke tidak menoleh saat berbicara. "Kau pikir kami menempatkan mesin-mesin uap fana di Menara Air untuk benar-benar menahan energi dari Palung Atlantik?"
Evelyn menelan ludah dengan susah payah. Kakinya mulai terasa lemas. Ketakutan baru yang jauh lebih gelap mulai merayap di rongga dadanya.
Sang Duke berbalik perlahan. Mata hitam legamnya menatap lurus menembus pupil kelabu Hans.
"Mesin-mesin yang kau hancurkan di Limehouse dan di Menara Air pagi tadi..." bibir sang Duke melengkung membentuk senyum iblis. "...mereka memang didesain untuk kau hancurkan."
Hans meraba anting perak bulan sabit di telinga kirinya. Jantung sang detektif berdetak satu ketukan lebih cepat.
"Kalkulasi apa yang sedang kau mainkan, Clarence?" potong Hans tajam, nada suaranya mengancam.
"Kalkulasimu sendiri, Detektif."
Sang Duke melangkah mendekat. Ia tidak melayang atau menggunakan sihir telekinesis. Langkahnya membumi layaknya manusia biasa, namun aura intimidasi yang dipancarkannya membuat oksigen di ruangan itu terasa habis.
"Energi retakan dimensi dari The Abyss tidak tunduk pada tekanan uap, Tuan Lorte," papar sang Duke dengan nada layaknya seorang profesor di Universitas Oxford. "Energi itu tunduk pada friksi. Penolakan absolut."
"Penolakan?" Hans menajamkan pendengarannya.
"Setiap kali kau menggunakan logika rasional untuk melawan anomali kami..." Sang Duke berdiri hanya dua meter di depan Hans. "...setiap kali kau memakai ledakan tekanan uap, suhu ekstrem, dan pengungkit baja... kau menciptakan gesekan realitas."
Napas Evelyn terputus. Pip memegang erat ujung mantel Hans.
"Sebuah paradoks kosmik," bisik sang Duke, matanya menghitam sempurna hingga urat kebiruan muncul di sekitar pelipisnya.
"Saat sebuah logika absolut milikmu dibenturkan dengan anomali absolut milikku... hasilnya bukanlah kehancuran. Hasilnya adalah percikan energi murni."
KLEK.
Sang Duke menekan sebuah tombol kuningan kecil yang tersembunyi di balik kerah jasnya.
Dinding mahoni di belakang meja kerja pria itu bergeser membelah dua dengan suara hidrolik yang halus.
WUSSSHHH...
Di balik dinding kayu itu, terdapat sebuah bola kristal raksasa setinggi dua meter. Di dalam bola itu, terukir miniatur Kota London yang sangat detail.
Di sepanjang jalanan miniatur kota itu, kilatan energi berwarna emas merambat seperti denyut nadi. Denyutnya sangat sempurna. Stabil. Tak terhentikan.
"Mesin uap dan monster-monster gagal itu hanyalah busi pemantik," ucap sang Duke tenang, menunjuk ke arah bola kristal London.
"Dan rasionalitas keras kepalamu, Hans Lorte... adalah percikan api yang menyalakan mesin sesungguhnya."
Pernyataan itu menghantam Hans layaknya palu godam tak kasat mata.
Rasionalitas yang selama ini ia agungkan, senjata andalan yang selalu ia gunakan untuk memecahkan misteri, ternyata adalah bagian dari desain musuhnya.
"Dia menjebak kita..." bisik Hans dengan rahang mengeras. Untuk pertama kalinya sejak kasus ini dimulai, kengerian yang logis memancar di mata kelabu sang detektif.
"Semua perlawanan kita dari Limehouse, pelarian di Menara Air, hingga ruang arsip tadi... adalah bagian dari persamaannya."
"Tepat sekali!" sang Duke menepuk tangannya satu kali.
PROK.
"Kau tidak sedang menghentikan senjata Kerajaan, Hans Lorte. Kau justru menjadi katalis yang menyuplai daya ledak untuk membuka gerbang The Abyss secara utuh!"
Ruangan hangat itu mendadak terasa sedingin dasar samudra.
Pip jatuh terduduk di atas karpet Persia, tak sanggup lagi menopang tubuhnya.
"Dan yang paling indah dari semua ironi ini..." Sang Duke perlahan menoleh, menatap wajah Evelyn yang kini berurai air mata dalam diam.
"...persamaan paradoks energi ini adalah mahakarya teoretis ciptaan ayahmu sendiri, Dr. Alistair Finch."
"TIDAK!" Evelyn menjerit histeris, jatuh berlutut memegangi kepalanya. "Ayahku tidak akan pernah menciptakan senjata pemusnah!"
"Ayahmu adalah ilmuwan Kerajaan yang patuh, Lady Finch," cibir sang Duke dingin.
Duke of Clarence berjalan kembali ke mejanya. Ia mengambil sebuah cangkir teh porselen yang baru, lalu menyodorkannya tepat di depan dada Hans Lorte.
Cairan teh di dalam cangkir itu tidak berwarna cokelat bening. Teh itu berwarna merah pekat, kental, dan berbau anyir layaknya darah segar.
"Dan sekarang, karena kau telah menyelesaikan tugasmu sebagai katalis rasionalitas kami..." Sang Duke menyeringai, menampilkan gigi-giginya yang rapi namun mematikan.
"Kerajaan menawarimu dua pilihan malam ini, Tuan Lorte."
Sang Duke menggoyangkan cangkir teh berdarah itu pelan.
"Minum anomali ini dan jadilah komandan tertinggi dalam tatanan dunia baru kami... atau mati berkalang paradoks di dalam ruangan ini."
Mata kelabu Hans menatap cangkir berisi darah tersebut. Tangannya yang memegang tongkat besi bergetar tipis. Untuk pertama kalinya dalam hidup Hans Lorte, kalkulasi logikanya resmi kehabisan angka.