NovelToon NovelToon
Sang Mafia dan Gadis Desa

Sang Mafia dan Gadis Desa

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Obsesi / Tamat
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: Yingiola Macosay

Andrew Quintana menguasai dunia hitam tanpa belas kasihan. Bos kartel yang dijuluki "si iblis" ini punya segalanya—kekuasaan, kekayaan, dan sumpah untuk tidak pernah jatuh cinta pada siapa pun. Sampai suatu malam, di tengah baku tembak berdarah, seorang gadis berambut merah terjatuh dari mobil musuhnya.

Alondra hanyalah gadis desa yang menjual hasil kebun di pasar—sampai ia diculik, dijual, dan nyaris kehilangan nyawa. Kini ia terbangun di sebuah mansion mewah milik pria paling berbahaya yang pernah ia temui, sebagai sandera. Tapi Alondra bukan perempuan yang mudah ditundukkan. Ia melawan, membalas hinaan, dan sama sekali tak gentar pada sang bos mafia—sesuatu yang belum pernah dialami Andrew seumur hidupnya.

Dari pertengkaran sengit menjadi kesepakatan berbahaya, dari kebencian menjadi gairah yang tak bisa mereka bendung. Namun mencintai seorang mafioso berarti masuk ke dunia penuh peluru, pengkhianatan, dan musuh yang mengintai di setiap sudut. Ketika kecemburuan, kebohongan, dan rahasia mengancam menghancurkan segalanya, seberapa jauh keduanya rela bertaruh demi cinta yang tak seharusnya ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yingiola Macosay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 02. Hari yang Tenang

Aku baru selesai berpakaian ketika ponselku berdering. "Ya, Luis, ada apa?"

"Kau harus datang ke perusahaan, ada masalah."

"Soal apa?"

"Ada masalah dengan salah satu tanah yang kita beli."

"Coba beres kan dulu." Aku paling kesal kalau masalah semacam ini muncul, sebab biasanya klien cuma mau cari untung, menuntut lebih dari yang disepakati.

Aku keluar dari kamar. Di luar, Amanda sudah menunggu, dan begitu melihatku ia mencoba menamparku. Kutangkap tangannya dan kubenturkan ke dinding. Aku tak suka ada yang berani menyentuhku tanpa membayarnya dengan nyawa.

"Jangan berani-berani menyentuhku lagi, karena lain kali akan kupotong tanganmu dan kuberikan pada anjing-anjingku untuk mereka makan. Kau paham?"

Kulihat ia hampir menangis, tapi aku tak peduli. Ia sudah tahu syaratnya; ia tak berhak menuntut apa pun dariku.

Setelah itu aku pergi ditemani anak buahku, sebab aku tak pernah sendirian. Kau tak pernah tahu kapan musuh akan datang memberi kejutan.

Sementara itu, jauh dari sana.

Aku Alondra, gadis berambut merah. Umurku dua puluh tiga tahun, bertubuh bagus, dengan warna mata yang memukau: hijau zaitun. Satu-satunya yang tak kusukai adalah beberapa bintik di wajahku.

Aku punya seorang adik, Itzel, dua tahun lebih muda dariku. Ia sangat berbeda denganku; orang bilang kami tak tampak seperti kakak-beradik.

Ibuku wanita yang mengabdikan seluruh waktunya untuk rumah, mengurus segala keperluan keluarga.

Kami tinggal di pinggiran desa, sebab ayahku punya sepetak ladang kecil. Ayahku seorang petani. Atau seperti sebutan banyak orang untuk kami, orang desa, karena ayahku hidup dari bercocok tanam. Dan karena tak ada yang membantunya saat panen, akulah dan adikku yang turun tangan.

Semua hasil panen kami bawa ke desa, ke lapak buah dan sayur milik kami di pasar. Semua yang kami jual, kami tanam dan petik sendiri. Segalanya segar, baru saja dipetik.

Kami punya sebuah mobil yang kurasa lebih tua dariku, si rongsok itu. Setiap saat mogok dan meninggalkan kami terlantar di jalan. Kebutuhanlah yang memaksaku belajar sedikit soal mesin. Kalau kau miskin dan serba kekurangan, tak ada pilihan lain; kau harus belajar apa saja.

Suatu pagi, seperti hari-hari biasa, aku dan adikku berangkat ke desa untuk berjualan.

Kami disergap sekelompok orang bersenjata. Sialnya, mobil tua terkutuk itu memilih mogok justru saat itu dan meninggalkan kami terjebak. Adikku berhasil kabur, menghilang ke arah pegunungan, tapi aku tertangkap karena terjatuh. Semua gara-gara pagi itu aku iseng memakai sepatu hak tinggi. Seumur hidup, aku takkan mau lagi memakai hak tinggi.

Aku diculik orang-orang itu, dijual seperti hewan di rumah jagal. Sekarang aku terkurung di antara empat dinding ini, tanpa jendela, hanya ada satu pintu yang jadi jalan masuk dan keluar.

Aku sudah beberapa kali mencoba kabur, berpura-pura sakit, tapi selalu tertangkap. Terakhir kali, mereka memukuliku terlalu keras, lalu memasang besi di kakiku yang membuatku nyaris tak bisa berjalan, karena kakiku sudah terluka.

Aku tak tahu di mana aku berada, tak tahu sudah berapa lama waktu berlalu. Aku hanya mendengar suara mobil atau truk keluar-masuk, orang-orang berbicara, tapi aku tak bisa menangkap ucapan mereka karena bising.

Beberapa kali mereka membiarkanku seharian tanpa makan. Berat badanku turun drastis. Rasanya aku sudah tak punya tenaga lagi untuk terus hidup.

Aku hanya memohon sebuah keajaiban, yang mengizinkanku bertemu lagi dengan kedua orang tuaku dan tahu kabar adikku, apakah ia baik-baik saja. Atau jangan-jangan ia juga diculik.

Ketika aku tiba di kantorku, Luis sedang berbicara dengan dua orang yang pernah bertransaksi dengan kami dalam pembelian sejumlah tanah.

Setelah beberapa lama berdebat dengan mereka, karena mereka ingin aku membayar sedikit lebih mahal, dan karena aku tak suka bertengkar dengan orang tua, kuputuskan membayar sedikit lebih banyak dari kesepakatan.

Setelah itu aku tinggal di kantorku, ada beberapa urusan yang harus kutangani. Lalu Luis masuk.

Aku Luis Ortega. Aku mengenal Andrew sejak kami masih kecil; kami tumbuh bersama di panti asuhan. Aku tak pernah diadopsi, sedangkan Andrew diadopsi saat usianya sekitar sepuluh tahun.

Setelah beberapa waktu, suatu malam ia datang menjemputku dan membawaku keluar dari sana. Sejak itu kami selalu bersama.

Ia seperti saudaraku, begitulah aku memandangnya. Ia memang agak istimewa, punya perangai buruk. Yah, dia kan bos; kurasa itu sebabnya. Aku selalu menggodanya bahwa perangai buruknya itu karena ia tak pernah jatuh cinta.

"Saudaraku, aku bahkan belum sempat bertanya, bagaimana keadaanmu setelah mabuk-mabukan semalam?"

Ia hanya meliriku sekilas lalu kembali memeriksa dokumen. "Sebaiknya jangan tanya dulu, kepalaku masih pening, apalagi berurusan dengan orang-orang tua menyebalkan tadi."

"Ya jelas saja, kau kan minum seperti tak ada hari esok. Cuma Amanda yang tahan denganmu."

"Jangan sebut-sebut dia. Makin lama makin tak tertahankan."

Kulihat Luis mulai tertawa. "Ha-ha-ha. Sudah kubilang, Saudaraku, waktu kau mulai terlibat dengannya, tapi kau tak mendengarkanku."

Ia pikir aku tak tahu ia bersamaku hanya demi uangku. Ia terlalu percaya pada dongeng bahwa dirinya wanita sempurna. Memang sempurna, tapi untuk menghambur-hamburkan uangku.

"Dengar, Saudaraku, kenapa kau biarkan dia begitu? Kalau kau sudah merasa dia jadi masalah, seharusnya kau bicara dan usir dia dari rumahmu sebelum terlambat. Dan ini juga salahmu. Kenapa kau putus dengannya, lalu balik lagi padanya?"

"Bagaimana kalau suatu hari kau justru menemukan cinta sejatimu?" Saat kukatakan itu, Andrew hanya menatapku penuh benci. Ia tak percaya cinta, tak percaya bahwa suatu hari ia akan menemukan cinta sejatinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!