NovelToon NovelToon
Kutukan Jiwa Niskala 2

Kutukan Jiwa Niskala 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Fantasi
Popularitas:315
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Disarankan untuk baca season pertamanya dulu ya!

****

Tiga tahun setelah bangkit dari kematian dengan kekuatan Batu Es yang terkutuk, Han Seol menjelma menjadi penyihir terkuat yang ditakuti sekaligus kesepian. Di tengah bayang-bayang arwah jahat dan luka masa lalu atas hilangnya Seol Ah, ia dipertemukan kembali dengan Jin So Hwa—putri sulung rahasia dari Jinyowon yang jiwanya menyimpan misteri besar.
Demi lolos dari kurungan ibunya, So Hwa nekat mengajukan pernikahan gila kepada Han Seol. Dan demi membungkam seisi kerajaan, sebuah kebohongan konyol terucap: "Saksi pernikahan kami adalah anak di dalam perutku!"
Saat takdir lama mulai terajut kembali dengan identitas baru, akankah es di hati Han Seol mencair, ataukah rahasia tiga tahun lalu justru akan menghancurkan mereka sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25. Kepasrahan di Seojukwon dan Batas Akhir sang Penyihir Agung

"Aku... aku tidak bisa membantu banyak, Han Seol," ucap Master Baek Si On, suaranya terdengar bergetar menahan kepiluan batin seorang kakek. "Ilmu pengobatan setinggi apa pun yang kumiliki di Seojukwon ini tidak akan mampu menyentuh makhluk terkutuk itu. Jantung dan inti sihir dari cacing darah itu telah menjadi satu dengan nyawa Seo Jun sendiri."

Master Si On melangkah mendekati jendela, menatap ke arah kegelapan malam dengan mata yang berkaca-kaca. "Jika kita memaksa menggunakan sihir pemotong atau mencoba mengeluarkan cacing darah tersebut secara paksa dengan cara biasa, maka pada detik yang sama ketika cacing itu tercabut, inti energi Seo Jun akan hancur lebur dan ia akan mati seketika. Sebagai manusia... kita sudah berada di batas akhir."

Ia menarik napas panjang yang terasa teramat berat, lalu menoleh kembali menatap tubuh kaku cucu kesayangannya dengan pandangan kosong. "Saat ini, tidak ada satu pun mantra di dunia fana ini yang bisa membalikkan keadaan. Kita hanya bisa pasrah pada takdir yang digariskan oleh langit."

Mendengar kata "pasrah" keluar langsung dari mulut seorang tabib agung seperti Master Baek Si On, kepalan tangan Han Seol di balik jubahnya kian mengeras hingga buku-buku jarinya memutih.

Hatinya menolak untuk menyerah pada takdir buruk yang dirancang oleh Jin Wu. Di dalam keheningan malam Seojukwon yang diliputi kepasrahan itu, ingatan Han Seol mendadak berputar pada sosok wanita di rumahnya—Jin So Hwa.

Wanita yang memiliki kemampuan ajaib untuk melihat dan membaca aliran energi langit. “Pasti ada cara lain,” bisik batin Han Seol penuh tekad, menolak membiarkan sahabatnya gugur menyusul kematian Soi.

****

Negeri Niskala mendadak diguncang oleh badai kepanikan yang teramat dahsyat. Berita mengenai pembantaian massal pasukan elite Cheonbugwan di sebuah rumah judi terselubung menyebar secepat kilat, membuat seantero negeri menjadi geger dan dicekam ketakutan.

Siapa pun tahu, hanya ada satu orang di dunia ini yang memiliki kemampuan untuk melenyapkan puluhan pengawal terlatih dalam hitungan detik tanpa terluka sedikit pun: sang Penyihir Agung, Han Seol.

Di satu sisi, pihak padepokan Cheon Gi Won yang mengetahui bahwa salah satu penyihir terbaik mereka—Baek Seo Jun—telah diserang secara keji oleh pasukan Cheonbugwan, tidak tinggal diam dalam menyikapi hal ini.

Penghinaan dan pengkhianatan ini telah melewati batas toleransi mereka. Kejadian berdarah ini dinilai sangat berpotensi memicu peperangan terbuka antar kedua institusi penyihir terbesar tersebut.

Di tengah aula utama Cheon Gi Won yang megah namun tegang, empat tokoh penting berdiri melingkar. Do Kwang, Do Hyun, Yoo Ha Jin, dan Master Baek Si On berkumpul dengan gurat wajah yang mengeras, membahas strategi dan kesiapan pasukan jikalau perang benar-benar pecah malam ini.

Sementara itu, di dalam istana, Raja Go Haneul duduk di atas singgasananya dengan pelipis yang berdenyut nyeri. Beliau yang sangat mengkhawatirkan kemungkinan tentang peperangan saudara itu akan terjadi, kini semakin dipusingkan oleh sebuah ancaman nyata yang jauh lebih mengerikan: potensi pemberontakan dan penyerangan dari Jenderal Baek.

Perlu diketahui bahwa Jenderal Baek adalah ayah kandung dari Baek Seo Jun, seorang panglima militer bertangan besi yang saat ini bertugas memimpin pasukan tempur utama di Kota Pertahanan Seoho.

Hubungan antara kekuatan militer Seoho dan istana terjalin sangat erat. Sehingga, jika seumpama Seo Jun sampai mati akibat kejadian keji ini, maka sudah bisa dipastikan Jenderal Baek bersama seluruh anak buah dan armada pasukannya akan bergerak menyerang Cheonbugwan secara brutal, bahkan tidak menutup kemungkinan akan ikut menggulingkan pihak kerajaan. Hal itu bisa terjadi mengingat kedua institusi tersebut terkait satu sama lain dalam struktur pemerintahan.

Di sudut lain, Jin Wu yang sudah mengetahui keributan massal ini mulai merasa terdesak. Meskipun batinnya murka karena Jung Min telah tewas, ia berusaha keras memutar otak untuk menyelamatkan posisinya.

Di hadapan para pejabat istana, ia berdalih dan bersikeras mengatakan bahwa Cheonbugwan sama sekali tidak terlibat dengan keadaan sekarat yang dialami Baek Seo Jun saat ini.

Demi membersihkan namanya secara hukum, Jin Wu langsung bergerak cepat mengupayakan sebuah pertemuan umum darurat di istana. Ia berharap, melalui kelicikan mulutnya di sidang tersebut, hasil akhir dari keputusan Raja nantinya akan memihak dan melindunginya dari amukan Cheon Gi Won.

****

Kembali ke ruang perawatan Seojukwon. Suasana di sekitar ranjang tempat Baek Seo Jun terbaring kian diselimuti kabut keputusasaan. Master Baek Si On yang baru saja selesai memeriksa sirkulasi darah cucunya, menghela napas panjang yang teramat berat.

"Kemungkinan besar... kesempatan Seo Jun untuk bisa bertahan hidup sudah sangat kecil. Parasit itu telah memakan habis energinya," ucap Master Baek Si On dengan suara bergetar pelan. Wajah paruh bayanya menyiratkan kepasrahan yang mutlak. "Aku menyerah... aku tidak bisa menyembuhkannya lagi."

Perkataan fatal yang keluar langsung dari mulut sang tabib agung sontak membuat Do Hyun dan Jin So Hwa yang kebetulan ada di sana begitu terkejut hingga menutup mulut mereka. Dada So Hwa berdegup kencang, menatap tubuh Seo Jun dengan rasa bersalah yang teramat sangat.

Dan tanpa diduga, tepat di ambang pintu ruangan, Han Seol yang baru saja kembali ternyata mendengar seluruh kalimat pasrah tersebut tanpa sengaja.

DEG.

Kalimat bahwa sahabat karibnya tidak bisa diselamatkan seolah memicu ledakan amarah yang telah lama ia tekan di dalam dadanya. Han Seol tidak bisa menahan diri lagi.

Rasa duka atas kematian Soi dan kondisi sekarat Seo Jun melebur menjadi satu aura membunuh (dark gichul) yang luar biasa pekat. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada So Hwa atau Do Hyun, ia membalikkan tubuhnya dengan cepat.

Langkah kakinya bergerak lebar, bergegas pergi meninggalkan Seojukwon untuk melabrak langsung Jin Wu—seseorang yang ia yakini sebagai penyebab utama dan dalang di balik semua penderitaan yang membuat Seo Jun menjadi seperti sekarang ini.

****

BLAMMM!

Gerbang utama markas Cheonbugwan hancur lebur seketika. Tanpa menghunus pedang sejak awal atau membuang waktu untuk berbasa-basi, Han Seol terus berjalan merangsek masuk menembus lorong tengah.

Hawa sihir dari Batu Es di dalam tubuhnya memancar begitu dahsyat, menekan udara hingga radius puluhan meter.

Para pengawal elite Cheonbugwan yang melompat hendak menghadang langkahnya seketika langsung ambruk tersungkur ke lantai, memuntahkan darah segar akibat tidak kuat menerima hantaman tekanan sihir gichul yang dilepaskan Han Seol hanya lewat pandangan matanya.

Tepat begitu ia sampai di tengah aula luas tempat Jin Wu berada...

Sringgg!

Han Seol akhirnya menghunus pedang panjang pembunuh bayangannya. Dengan satu gerakan tebasan melingkar yang teramat cepat dan bertenaga raksasa, ia menebaskan senjatanya ke udara.

Gelombang energi biru pekat melesat menghantam sisa pasukan pengawal yang mengepungnya, membuat semuanya ambruk tewas bergelimpangan di atas lantai batu dalam sekejap.

Han Seol mengangkat pedangnya, bersiap melangkah maju untuk menebas kepala Jin Wu yang mulai mundur ketakutan.

"Hentikan, Han Seol!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!