Sebuah kisah tentang dua dunia yang berpijak pada bumi yang sama, antara kehidupan moderen dan primitif yang akhirnya akan bersatu karena Cinta dua manusia yang saling bertemu dalam gelombang ketidak sengajaan.
Kisah dengan semua yang bercampur aduk, antara logika, cita-cita, cinta dan perburuan yang seru dan menegangkan, degan bumbu tawa yang tak disengaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIFAN2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan di Atas Pohon Purba
Dunia terasa berputar terbalik bagi Hera Grahansa. Akar raksasa yang melilit pinggangnya masih mencengkeram kuat, menahan tubuhnya menggelantung di bawah dahan pohon raksasa setinggi sepuluh meter. Rambut panjangnya terurai ke bawah, bergoyang-goyang ditiup angin malam Alas Purba yang dingin.
Jaket gunungnya tersingkap sedikit, dan ranselnya yang penuh berisi sampel Dream Flower menekan punggungnya dengan sudut yang tidak nyaman.
Darah mulai berkumpul di kepalanya. Pelipisnya berdenyut kencang, memancarkan rasa pening yang luar biasa. Wajah profesor muda yang biasanya angkuh dan dipenuhi kalkulasi ilmiah itu kini memerah padam, berbaur antara rasa takut yang sisa dari kejaran penunggang kuda dan kejengkelan yang amat sangat.
"Sialan, turunkan aku, dasar pohon sialan," umpat Hera parau, mencoba memukul akar licin yang mengikatnya.
Tiba-tiba, gesekan halus pada kulit kayu di atasnya membuat Hera memaksakan lehernya mendongak. Kabut tebal yang menyelimuti dahan atas perlahan-lahan terbelah, seolah memberikan jalan bagi sesosok mahluk yang berjalan keluar dari kegelapan.
Seorang pria melangkah turun ke dahan yang lebih rendah, tepat di depan posisi Hera yang tergantung.
Pria itu bertubuh tinggi, tegap, dan proporsional. Rambut panjangnya yang hitam dibiarkan tergerai acak-acakan namun memberikan kesan liar yang tegas.
Dia tidak mengenakan pakaian modern; tubuh bagian atasnya dibungkus rompi kulit binatang kasar yang memperlihatkan otot dada dan lengan yang kokoh.
Di pinggangnya, terikat sebuah sarung senjata yang menampung pedang dari tulang purba yang aneh.
Namun, yang paling membuat Hera terpaku adalah matanya. Pria itu memiliki sepasang mata yang sangat tajam, sewarna elang malam, namun tatapannya luar biasa datar.
Tidak ada ekspresi terkejut, tidak ada rasa kasihan, dan tidak ada ketakutan sama sekali melihat wanita kota dengan pakaian modern tergantung terbalik di depannya. Pria itu hanya berdiri diam, melipat tangan di dada, menatap Hera dengan pandangan yang aneh—seperti seorang ilmuwan yang sedang meneliti spesies serangga baru yang langka.
Hera terengah-engah. Dia mengembuskan napas panjang yang terasa berat, mencoba menekan rasa pusing yang kian menyiksa otaknya. Watak keras kepala dan gengsi akademisnya mendadak bergejolak di tengah posisi konyol ini.
"Hei! Kau!" seru Hera, suaranya melengking karena posisinya yang terbalik.
"Tolong turunkan aku! Jangan cuma berdiri di situ dan melihatku seperti aku ini pajangan museum!"
Laki-laki itu tidak bergeming. Dia adalah Sulung, sang panglima tertinggi Klan Atas Awan. Dia hanya menggeser sedikit posisi berdirinya, memiringkan kepalanya perlahan, menatap dari ujung sepatu bot gunung Hera hingga ke wajahnya yang kotor oleh tanah merah. Tatapannya tetap datar, dingin, dan penuh selidik.
"Dengar tidak, sih?!" bentak Hera lagi, kali ini benar-benar emosi. Kekesalannya mengalahkan akal sehatnya.
"Aliran darah di kepalaku sudah penuh! Kalau kau cuma diam di situ terus, kepalaku bisa meledak kapan saja! Turunkan aku sekarang!"
Sulung tetap membisu.
Bibirnya yang tipis terkunci rapat. Alih-alih membantu, dia justru melangkah satu langkah lebih dekat ke arah akar yang melilit Hera.
Matanya menyipit tajam, menatap jalinan pakaian modern Hera, lalu beralih ke ransel di punggung wanita itu. Pikirannya sedang bekerja, menganalisis, dan memastikan apakah wanita aneh dari dunia luar yang memiliki aroma bunga suci di tubuhnya ini membawa bahaya bagi wilayahnya atau tidak.
Bagi Sulung, keselamatan hutan dan klannya adalah harga mati. Manusia modern sering kali membawa petaka.
Melihat respons yang membatu itu, Hera semakin naik pitam. Rasa dongkolnya sudah mencapai ubun-ubun.
"Astaga, apa kau tuli? Atau kau tidak paham bahasa manusia?!" omel Hera, tangannya mengayun-ayun di udara dengan gusar. "Aku ini manusia, bukan musuh! Aku tersesat setelah melewati pita merah! Kalau kau punya otak dan hati nurani, gunakan pedang di pinggangmu itu untuk memotong akar ini! Sekarang juga!"
Hera mendengus kencang, mukanya semakin memerah. Sebagai profesor berusia 28 tahun yang biasa memerintah asisten dan dihormati di kota besar, diabaikan oleh seorang pria berpakaian kulit binatang di atas pohon adalah penghinaan terbesar dalam hidupnya.
Watak keras kepalanya menolak untuk kelihatan lemah, meskipun air mata pusing mulai menggenang di sudut matanya.
"Hei! Tuan! Jawab aku!" teriak Hera lagi dengan sisa tenaganya, menendang-nendangkan kakinya ke udara dengan sangat kesal.
Sulung akhirnya bergerak. Mendengar ocehan cempreng dan melihat gerakan agresif dari kaki wanita di depannya, dia tampaknya sudah mengambil kesimpulan.
Wanita ini tidak membawa senjata api, tubuhnya lemah, dan dia jelas sedang kesakitan meskipun mulutnya sangat tajam.
Dia bukan ancaman militer, melainkan hanya mahluk asing yang sangat berisik.
Sulung mengulurkan tangan kanannya ke belakang punggung, mencengkeram gagang pedang Khanjar kuno miliknya.
Pergerakan lambat namun pasti itu membuat Hera menahan napasnya sesaat. Apakah dia mau membunuhku? batin Hera, rasa takut mendadak menyengat egonya kembali.
Namun, Sulung tidak menarik pedangnya untuk menebas Hera. Dia hanya mengetukkan bilah sarung pedang tulangnya ke permukaan akar raksasa yang melilit pinggang Hera, sambil menggumamkan beberapa patah kata dalam bahasa kuno yang terdengar berat dan berwibawa, seperti mantra yang ditujukan langsung pada jiwa sang pohon purba.
Kreeek
Akar raksasa yang sejak tadi mencengkeram Hera dengan mutlak mendadak melonggar perlahan.
Lilitannya terlepas dalam sekejap.
"Ah!"
Hera terpekik kaget saat tubuhnya mendadak jatuh bebas ke bawah akibat gravitasi. Dia sudah bersiap memejamkan mata, membayangkan tubuhnya akan menghantam tanah merah di bawah dan patah tulang.
Namun, sebelum tubuhnya melesat jatuh melewati dahan, sebuah gerakan secepat kilat terjadi. Sulung merunduk, menjulurkan kedua lengannya yang kekar, dan dengan sigap menangkap tubuh Hera tepat di udara sebelum wanita itu terjatuh.
Bugh.
Hera mendarat telak di dalam dekapan dada bidang Sulung. Cengkeraman tangan pria itu pada punggung dan belakang lututnya terasa sangat kokoh, seperti jepitan besi yang tidak bisa diganggu gugat. Aroma maskulin yang asing—campuran bau kayu gaharu, keringat bersih, dan hawa dingin hutan—langsung memenuhi indra penciuman Hera,
menggantikan aroma manis Dream Flower yang sejak tadi mengurungnya.
Hera membuka matanya yang berkunang-kunang, napasnya memburu cepat karena terkejut.
Aliran darah di kepalanya perlahan kembali normal, meninggalkan rasa pening yang perlahan mereda.
Dia mendongak, menatap lurus ke wajah Sulung yang kini berada hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.
Dan yang membuat Hera semakin dongkol, wajah pria itu tetap saja datar tanpa ekspresi, seolah-olah menangkap wanita yang jatuh dari pohon setinggi ini adalah hal paling biasa yang dia lakukan setiap pagi.