Selama 5 tahun Maya mengorbankan seluruh hidup dan cita-citanya demi merawat bagas, Suaminya yang koma dan lumpuh akibat akibat kecelakaan.
Maya harus bekerja keras banting tulang untuk biaya ruah sakit dan selalu setia menemani sang suami dengan air mata dan doa.
Akhirnya membuahkan hasil, Bagas perlahan-lahan sembuh.
Tapi apa yang Maya dapat, Setelah sembuh, Bagas mendapatan pekerjaan bagus dan ia malah menjalin hubungan dengan teman kantornya yang bernama Rania, Karena ia malu memiliki istri seperti Maya yang terlibat kusam akibat penderitaan selama bertahun-tahun.
Perceraian itu akhirnya terungkap saat Maya menemukan surat cerai di saat hari pernikahan mereka yang ke-7 tahun.
Maya pun harus bangkit dari kehidupan, pengorbanannya selama ini ternyata sia-sia, iya akan menunjukkan ketulusannya akan menjadi penyesalan terbesar Bagas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab11
BAB 11: BELAJAR DARI NOL
Aroma bubur saring hangat memenuhi kamar rawat nomor 304. Pagi itu, sinar matahari merambat pelan di atas selimut putih yang menutupi kaki Bagas yang tak bergeming.
Di tepi ranjang, Maya duduk membawa mangkuk kecil dan sendok plastik.
"Mas... ayo buka mulutnya sedikit lagi," bujuk Maya lembut, mengarahkan sendok berisi bubur halus ke bibir suaminya.
Bagas memalingkan wajahnya ke kiri, menolak. Lidah dan otot rahangnya terasa sangat kaku akibat tiga tahun tak pernah digunakan.
Ketika ia mencoba menelan sendok pertama tadi, ia langsung tersedak hebat hingga dadanya kesakitan.
"N-nggak... m-mau..." kata Bagas, suaranya terputus-putus, patah, dan sangat serak. Air mata frustrasi mulai menggenang di sudut matanya.
"Sedikit aja ya, Mas? Cuma tiga sendok lagi," bisik Maya penuh kesabaran. Ia menyapu sudut bibir Bagas yang bernoda bubur dengan tisu halus.
"Kata Dokter Frans, otot leher dan rahang Mas harus dilatih terus biar Mas bisa cepat lepas dari selang nutrisi."
"A-aku... kaya... ba-bayi..." bisik Bagas seraya memejamkan mata rapat-rapat. Air matanya akhirnya lolos, mengalir melewati pipinya yang tirus. "Bi-bicara... nggak... bisa... Ma-makan... mu-muntah... Aku... cuma... sampah, May..."
Dada Maya terasa diremas mendengar keputusasaan dari mulut pria yang sangat dihormatinya itu.
Maya meletakkan mangkuk bubur ke atas meja lipat, lalu meraih kedua tangan Bagas yang gemetar.
"Mas Bagas, tatap aku," pinta Maya, suaranya mulai bergetar menahan tangis.
Bagas membuka matanya perlahan, menatap istrinya dengan pandangan yang penuh rasa hina dan putus asa.
"Jangan pernah sebut diri Mas sampah," ucap Maya dengan air mata yang kini menetes satu per satu membasahi pipinya.
"Mas tahu nggak, berapa malam aku berlutut di lantai rumah sakit ini cuma buat minta sama Tuhan supaya Mas bisa bicara lagi? Biar cuma satu kata... biar cuma desahan napas... aku cuma mau dengar suara Mas."
Maya mendekatkan tangan kaku Bagas ke pipinya yang basah.
"Aku nggak peduli kalau Mas harus belajar bicara dari nol lagi. Aku nggak peduli kalau Mas harus belajar makan kaya anak kecil lagi," tangis Maya pecah, terisak pelan di samping tangan suaminya.
"Yang penting Mas ada di sini... Mas masih bernapas sama aku. Tolong jangan menyerah, Mas... Kalau Mas menyerah, perjuangan aku tiga tahun ini buat apa?"
Bagas tertegun. Ia menatap telapak tangan Maya yang menempel di pipi istrinya.
Tangan yang dulu halus dan lembut itu kini terasa sangat kasar, penuh kapalan di bagian buku-buku jari, dan berbau detergen tajam.
Ia melihat lingkaran hitam pekat di bawah mata Maya dan wajah istrinya yang makin tirus.
"Ma-maaf... in... aku, May..." bisik Bagas, tangisnya pecah seketika. Pria itu terisak tanpa suara, dada dan bahunya berguncang hebat. "A-aku... cuma... malu... Aku... bikin... kamu... menderita..."
"Mas nggak bikin aku menderita," sahut Maya cepat seraya mengusap air mata Bagas dengan ibu jarinya.
"Kita berjuang bareng-bareng, ya? Aku ajari Mas bicara lagi, aku ajari Mas makan lagi. Kita lakukan pelan-pelan."
Bagas mengangguk pelan di antara isaknya. Maya mengambil kembali mangkuk bubur yang ada di meja.
Denggan jemari gemetar namun senyum tulus mengembang di wajahnya, Maya menyendokkan sedikit bubur halus itu.
"Ayo, Mas... buka mulutnya pelan-pelan. B-a... ba..." tuntun Maya mencontohkan gerakan bibir.
Bagas menatap mata istrinya yang penuh kasih sayang. Dengan sekuat tenaga mengabaikan rasa kaku dan sakit di rahangnya, Bagas membuka mulutnya sedikit. "B-a..."
Sendok itu masuk. Bagas mencoba menelannya perlahan. Rasa sakit menusuk tenggorokannya, namun kali ini ia menahannya sekuat tenaga demi wanita di hadapannya.
"Pintar banget suamiku..." puji Maya tersenyum manis di balik derai air matanya. "Lagi ya, Mas? A-u... a-ku..."
"A-ku... s-sayang... M-maya..." bisik Bagas terbata-bata, meraba pipi Maya dengan jemarinya yang masih kaku.
Malam itu, di dalam kamar rawat yang dingin, dua insan itu saling memeluk dalam derai air mata kesedihan dan harapan, melangkah satu demi satu melewati proses pemulihan yang amat berat.