Jarinya dipotong. Adiknya mati. Tabungannya dirampas.
Dibuang seperti bangkai oleh bos kasino tempatnya mengabdi selama lima tahun, mantan bandar bernama Sora membangkitkan satu-satunya senjata yang tersisa yakni sistem yang memanipulasi probabilitas kenyataan.
Pisau yang harusnya menancap di dada? 0,01% peluang kena. Brankas yang harusnya terkunci rapat? 99,99% terbuka. Sekarang, meja taruhan sudah terbalik. Dan rumah kasino yang selalu menang akan ia beli sendiri.
Peringatan Konten: Cerita ini mengandung kekerasan fisik ekstrem, adegan penyiksaan berdarah, tema kriminalitas (judi, pemerasan, pencucian uang), trauma psikologis gelap, serta bahasa kasar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Uap kopi hitam dari meja bilik nomor delapan masih mengepul tipis di udara pengap warnet. Cangkir keramik tebal itu baru ditaruh penjaga kasir sepuluh menit lalu, berminyak dan panas.
Sora menyambar gagang cangkir itu.
Tanpa bersuara, ia mengibaskan seluruh air kopi mendidih itu lurus ke muka si preman bopeng.
“AAARGH!”
Lolongan preman itu memecah dengung belasan kipas komputer. Tangannya melepas kerah jaket Maya seketika, mencakar mukanya sendiri yang melepuh tersiram cairan hitam pekat. Tubuhnya terhuyung menabrak bilik tripleks hingga papan partisi berderak goyah.
Preman kedua tersentak. Tangannya buru-buru mencabut pentungan kayu dari balik jaket jins, bersiap mengayunkannya ke pelipis Sora.
Sora tidak mundur. Ia merangsek masuk menutup ruang gerak lawan, menyelinapkan tangan kanannya ke bawah ketiak pria itu. Telapak tangannya mengunci sendi pergelangan yang memegang kayu, lalu menyentaknya ke arah luar—kuncian sendi cepat yang biasa dipakai petugas keamanan ruko untuk melumpuhkan pejudi gaduh.
Klek.
Bunyi engsel tulang bergeser terdengar tajam di lorong sempit. Pentungan kayu terlepas, berdebuk ke lantai linoleum.
Sora memanfaatkan sisa dorongan tubuh lawan. Ia menghantamkan dahi preman itu ke tepi meja bilik kayu nomor delapan.
DUK!
Papan meja retak. Hidung preman kedua mengucurkan darah ke atas tatakan mouse yang dekil, sebelum tubuhnya ambruk lemas ke lantai semen.
Preman bopeng yang kelopak matanya bengkak kemerahan merayap mundur di lorong. Melihat rekannya roboh dalam hitungan detik di tangan pria bertopi pet lusuh yang tidak banyak bicara, nyali jalanannya ciut.
“Sialan… lu siapa, hah?!” teriak preman bopeng itu tersengal, berusaha menyeret temannya yang pingsan ke arah pintu keluar. “Lu gak tahu kita setor ke siapa?!”
“Bilang ke Jerry,” sahut Sora pelan. Suaranya datar, tanpa intonasi tinggi. “Bandar meja nomor tiga masih ada di kota.”
Kedua penagih itu tidak menunggu lanjutan kata-katanya. Sambil terhuyung dan saling memapah, mereka kabur menyeret kaki menembus pintu geser, meninggalkan bercak kopi dan ceceran darah di lantai.
Pintu geser warnet berderit pelan tertiup angin malam.
Suasana ruangan mendadak hening. Tiga remaja di bilik depan buru-buru menundukkan kepala kembali ke keyboard, pura-pura fokus menatap layar monitor perang tanpa berani melirik ke belakang.
Sora mengusap cipratan kopi di ujung jari kanannya, lalu berbalik menghadap bilik nomor sembilan.
Maya tidak bergeser satu senti pun dari kursinya. Kedua tangannya bertumpu di tepi meja, sementara bibirnya yang pucat meniup permen karet merah muda hingga meletus pelan.
Pletuk.
Mata gadis itu yang sayu berlingkar hitam menatap lurus ke arah saku jaket parka Sora—ke arah perban hitam yang membebat pangkal kelingking kirinya yang buntung.
“Kopi sepuluh ribu gua melayang gara-gara lu,” kata Maya santai, nadanya ketus dan datar.
Gadis itu mencondongkan tubuh ke depan, mengamati bekas jahitan di pelipis Sora di balik bayangan topi pet.
“Kuncian pergelangan tangan barusan… itu gaya anjing penjaga ruko kasino,” lanjut Maya. Sudut bibirnya berkedut masam. “Dan jari buntung itu… potongan pisau jagal Rusli, kan?”
Maya menyilangkan tangan di dada, memandangi Sora lekat-lekat.
“Gua ingat muka lu. Mantan bandar emasnya Koko Jerry. Si tukang putar rolet yang bikin bokap gua kehilangan sertifikat truknya,” desis Maya. “Mau apa lu ke sarang gua?”