Setelah menikah dengan Silas Crane, Nara Aeris mulai merasakan kebosanan. Hidupnya hanya dipenuhi dengan berbaring, makan, dan menghabiskan uang suaminya.
Tapi ternyata itu cuman bertahan beberapa hari.
Sejak sebuah sistem informasi harian yang bernama Lyra, tiba-tiba muncul di atas kepalanya dan memberikan satu informasi setiap hari. Hidupnya tidak jadi membosankan!
Hari-hari dipenuhi gosip menyenangkan.
【 Ketua Cabang Grup Ardent diam-diam memindahkan tiga puluh miliar sebelum menandatangani surat perceraian. 】
【 Pewaris keluarga Rothwell menikahi sekretarisnya secara diam-diam. 】
Mata Nara berbinar.
"Bukankah gosip seperti ini terlalu menyenangkan?"
Karena Nara Aeris suka berbagi, ia akan selalu melakukan siaran langsung untuk berbagi kepada para penggemarnya. Tentu saja! Gosip bagus harus dibagikan.
Internet mulai macet akibat tingkah laku Nara, dan dia dijuluki Ratu Gosip.
Let's Start The Story!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ly-Ra?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Jalan-jalan Malah Ada Gosip
"Jangan menyebutnya seperti itu," protes Nara sambil mengerucutkan bibir. "Aku ingin memahami akar masalah."
"Bedanya?"
"Kalau gosip, aku hanya mendengar lalu membicarakannya. Kalau ini, aku mendengar masalahnya lalu membantu menyelesaikannya."
Silas menatapnya beberapa saat sebelum bertanya, "Dan setelah membantu menyelesaikannya?"
Nara Aeris tersenyum lebar. "Aku bisa pulang dengan membawa pengalaman."
Silas Crane akhirnya tertawa kecil.
Ia tidak perlu bertanya lebih jauh, untuk mengetahui bahwa pengalaman yang dimaksud Nara kemungkinan besar adalah cerita menarik, yang akan terus diingatnya selama berhari-hari.
"Sepertinya acara itu memang cocok untukmu."
Nara langsung tersenyum puas. "Aku juga merasa begitu."
Dia kembali membaca informasi mengenai
« Di Balik Masalah ». Lalu menemukan beberapa cuplikan episode sebelumnya, salah satunya membahas pasangan yang hampir bercerai karena masalah pekerjaan, sementara episode lain membahas seorang anak yang menolak mengakui ibunya, karena kesalahpahaman lama.
Nara membaca deskripsinya dengan sangat serius.
"Silas, bagaimana menurutmu kalau orang bertengkar selama bertahun-tahun, hanya karena tidak mau mengatakan, apa yang sebenarnya mereka pikirkan?"
"Mungkin mereka sama-sama keras kepala."
"Benar, lalu kalau seorang anak membenci orangtuanya karena sebuah kesalahpahaman, menurutmu siapa yang harus meminta maaf terlebih dahulu."
"Orang yang lebih dulu menyadari kesalahannya."
Nara Aeris mengangguk, sambil memikirkan jawabannya. "Masuk akal."
Kemudian matanya kembali berbinar.
"Kalau ada rahasia keluarga yang disembunyikan selama bertahun-tahun, menurutmu harus dibongkar atau tidak?"
Silas Crane menatapnya.
Nara langsung tertawa. "Aku hanya bertanya."
"Aku tahu."
"Tapi kalau aku ada di sana, aku pasti ingin tahu."
"Aku juga tahu."
Nara akhirnya mengirim pesan kepada Mira, bahwa ia tertarik menerima undangan dari « Di Balik Masalah », dan meminta agennya mengatur pembicaraan lebih lanjut, dengan pihak program tersebut.
Setelah semuanya selesai, ia meletakkan ponselnya dan kembali bersandar di bahu Silas. Dengan wajah puas.
"Akhirnya ada pekerjaan yang menarik."
Silas membuka laptopnya lagi. "Bukankah beberapa hari lalu, kamu mengatakan hidupmu membosankan?"
Nara mengingatnya, lalu tersenyum sambil mengangguk. "Benar, ternyata hidup memang akan menjadi jauh lebih menarik, kalau ada sesuatu yang bisa membuatku penasaran."
"Kamu hanya membutuhkan gosip."
"Silas, jangan merusak citraku."
"Menurutku, justru itulah citramu."
Nara Aeris mencubit lengannya pelan, tetapi Silas sama sekali tidak bereaksi, selain menggeser laptop sedikit menjauh, agar tidak terkena tangannya.
Wanita itu kembali tertawa, dan membiarkannya bekerja.
Beberapa menit kemudian, ketika Silas mulai kembali sibuk dengan dokumennya. Nara tiba-tiba bertanya, "Kalau suatu hari nanti aku benar-benar menjadi pembawa acara gosip, kamu akan mendukungku?"
"Ya."
"Aku juga ingin terkenal karena gosip."
"Aku tetap mendukungmu."
"Kalau aku ingin terus mengorek informasi sampai generasi leluhur bagaimana?"
Jari Silas berhenti di atas keyboard.
Dia menoleh perlahan, dan melihat wajah Nara yang terlihat sangat serius menunggu jawabannya.
Silas diam selama beberapa detik, sebelum akhirnya berkata dengan tenang, "Aku akan memastikan kamu memiliki pengacara yang bagus."
Nara terdiam.
Kemudian dia tertawa sampai tubuhnya bergoyang di bahu Silas.
"Kenapa Pengacara?"
"Karena cepat atau lambat, seseorang pasti akan menuntutmu."
"Silas Crane!"
Tawa Nara kembali memenuhi balkon malam itu, sedangkan Silas hanya menggelengkan kepala, sambil menahan senyum.
Untungnya, Silas Crane memiliki cukup banyak kesabaran untuk menghadapi Nara.
Setelah tawa Nara perlahan mereda, ia memandangi pemandangan kita dari balkon. Beberapa saat kemudian, rasa bosan kembali muncul. Dia menoleh kepada Silas yang sudah sibuk dengan pekerjaannya.
"Suamiku, kita keluar, yuk."
Silas Crane mengangkat wajah dari layar. "Sekarang?"
"Iya. Aku ingin jalan-jalan sedikit, kita sudah lama tidak keluar berdua tanpa tujuan yang jelas."
"Kita baru saja makan malam bersama."
"Itu di rumah." Nara menarik lengan bajunya dengan wajah memelas. "Aku ingin berjalan-jalan, membeli sesuatu yang tidak penting, lalu pulang ketika sudah capek."
Silas menatapnya detik, sebelum akhirnya menutup laptop. "Baiklah, kalau begitu. Kita jalan saja."
Wajah Nara langsung cerah. "Aku tahu kamu paling baik."
"Baru sekarang?"
"Jangan merusak suasana."
Tidak lama kemudian, mereka sudah berada di kawasan pusat kota Stellaris yang masih ramai, meskipun malam telah turun sepenuhnya. Nara berjalan sambil menggandeng lengan Silas, sesekali berhenti ketika melihat toko, atau kedai yang menarik perhatian.
Mereka bahkan membeli satu minuman untuk diminum berdua, meskipun pada akhirnya Nara lebih banyak menghabiskannya.
"Aku suka begini," kata Nara sambil menyerahkan gelas itu kepada Silas. "Rasanya seperti sedang berkencan."
"Memangnya kita bukan sedang berkencan?"
Nara tersenyum lebar. "Kencan setelah menikah."
Silas meliriknya, sambil tersenyum tipis. "Apa bedanya dengan kencan sebelum menikah?"
"Kalau sebelum menikah, aku mungkin masih menjaga image."
"Dan sekarang?"
"Sekarang aku bebas mengganggumu, sesuka hati."
Silas tersenyum tipis, lalu menggenggam tangan Nara lebih erat. Ia memang sudah terbiasa dengan sifat istrinya yang semakin lama, semakin tidak memiliki batas ketika berada di dekatnya.
Keduanya sedang berusaha menikmati malam tanpa pengawal yang mencolok, atau rombongan besar seperti biasanya. Nara memakai topi, dan masker. Sementara rambut panjangnya dibiarkan terurai menutupi sebagian wajah.
Silas juga mengenakan pakaian kasual dengan topi gelap, membuat penampilannya jauh berbeda, dari sosok ceo muda yang biasanya muncul dalam berita ekonomi.
Meski begitu, mereka tetap harus berhati-hati.
Nara Aeris sendiri sebagai aktris papan atas yang terkenal di Stellaris, wajahnya mudah dikenali oleh penggemar. Terutama ketika berada di tempat umum.
Sementara Silas Crane juga bukan pria biasa yang bisa berjalan santai tanpa menarik perhatian. Di usia yang masih muda, ia sudah mampu mengelola perusahaan Crane, dan mempertahankan posisinya sebagai salah satu pengusaha muda paling diperhatikan di Stellaris. Wajahnya sering muncul dalam berita ekonomi, terutama ketika perusahaan Crane membuat keputusan besar.
Malam tenang seperti ini sangat berharga bagi mereka, karena tidak ada yang mengenali mereka ataupun memanggil mereka Nona Nara dan Tuan Silas.
Hanya ada dua orang yang sedang berjalan santai seperti pasangan biasa.
Nara baru saja hendak mengajak Silas membeli makanan, ketika langkahnya tiba-tiba melambat.
Tatapannya tertuju ke seberang jalan, tepat ada sepasang anak muda yang sedang bertengkar, di depan sebuah toko yang hampir tutup.
Suara mereka cukup keras untuk terdengar sampai ke tempat Nara berdiri, bahkan beberapa orang yang lewat mulai melirik, karena pertengkaran itu terlihat semakin serius.
"Aku sudah bilang, jangan datang ke sini kalau akhirnya kamu tetap mau pergi seperti ini!" seru perempuan itu, dengan suara bergetar karena menahan emosi.
Pemuda di hadapannya tampak sama kesalnya ia membalas, "Aku datang karena kamu yang menyuruhku datang, dan sekarang kamu malah menyalahkan aku karena tidak bisa memberikan jawaban yang kamu inginkan? Aku sudah menjelaskan semuanya, tetapi kamu terus memaksaku untuk mengatakan hal yang sama berulang-ulang."
"Aku menyuruhmu datang karena aku ingin kamu menjelaskan, kenapa kamu menerima pekerjaan itu, tanpa membicarakannya denganku terlebih dahulu. Kamu bahkan sudah menandatangani kontraknya, sebelum aku tahu apa-apa!"
"Aku tahu, kalau aku memberitahumu lebih dulu. Kamu akan menyuruhku menolak."
"Dan kamu memilih untuk tidak memberitahuku, karena sudah memutuskan bahwa pendapatku tidak akan kamu sukai?"
Pemuda itu mengusap wajahnya dengan kasar, sementara perempuan tersebut menatapnya, dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Aku tidak pernah mengatakan pendapatmu tidak penting."
"Tapi tindakanmu mengatakan sebaliknya."
Nara yang sejak tadi memperhatikan dengan penuh minat, menoleh kepada Silas. Dan langsung menarik lengannya, "Jangan pergi dulu, aku ingin melihat apa sebenarnya yang membuat mereka bertengkar sampai seperti itu."
Silas bahkan belum menjawab, ketika istrinya sudah membawanya ke balik papan iklan besar yang tidak jauh dari sana. Mereka berdiri sedikit membungkuk agar tidak terlalu mencolok, sementara Nara mengintip dari sisi papan dengan penuh perhatian.
Silas menatapnya dengan ekspresi pasrah sebelum bertanya, "Kamu sadar nggak sedang mendengarkan pertengkaran orang lain?"
Nara Aeris mengangguk tanpa mengalihkan pandangan. "Aku sadar, tapi ini berbeda dari gosip biasa. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya membuat mereka bertengkar, karena kelihatannya pekerjaan itu bukan satu-satunya masalah."
Silas terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya ikut memperhatikan pasangan tersebut.
Di seberang jalan, perempuan itu kembali bersuara dengan nada yang semakin emosional.
"Aku tidak pernah melarangmu menerima pekerjaan itu. Aku hanya ingin kamu membicarakannya denganku sebelum mengambil keputusan sebesar itu. Kita sudah bersama selama tiga tahun, tetapi kamu tetap membuat keputusan seolah-olah hidupmu hanya milikmu sendiri."
Pemuda itu mengusap wajahnya. "Karena aku tahu kamu akan memintaku menolaknya! Aku sudah menunggu kesempatan ini bertahun-tahun, dan aku tidak mau kehilangannya hanya karena kita belum sepakat."
"Jadi, menurutmu aku akan menjadi penghalang?"
"Aku tidak bilang begitu."
"Tapi nyatanya kamu tidak memberikan kesempatan untuk mengatakan pendapatku. Kamu sudah mengambil keputusan sebelum bertanya kepadaku."
Pemuda itu akhirnya menunduk. "Aku takut kau memintaku memilih, antara pekerjaan itu dan kamu."
"Dan aku lebih sakit hati, karena kamu bahkan tidak percaya padaku! Untuk membicarakan pilihan itu bersamamu."
Pemuda itu menarik napas panjang. "Aku minta maaf, aku seharusnya membicarakannya denganmu terlebih dulu. Pekerjaan ini memang penting bagiku, tapi kamu juga penting."
Perempuan itu mengusap matanya. "Aku tidak meminta kamu melepaskan pekerjaan itu. Aku hanya ingin keputusan yang menyangkut kita dibicarakan bersama."
Pasangan tersebut akhirnya tenang, mulai berbaikan lagi dan pergi dari situ.
Nara menghembuskan napas. "Begitu ternyata cara memahami masalahnya."
Silas menoleh kepadanya. "Sekarang kamu sudah mengerti?"
Nara mengangguk dengan penuh keyakinan. "Kalau hanya melihat pertengkarannya, aku akan mengira mereka bertengkar karena pekerjaan. Tapi kalau mendengarkan sampai selesai, ternyata yang membuat mereka marah adalah perasaan masing-masing yang tidak pernah mereka sampaikan."
Silas mengangguk pelan. "Itulah yang kamu maksud dengan memahami akar masalah."
Nara tersenyum lebar. "Aku mulai menyukainya."
Silas langsung menatapnya dengan tatapan curiga. "Aku mulai khawatir."
Nara tertawa kecil, sekaligus melihat sekeliling mencari apakah ada gosip yang menarik. Rencana jalan-jalan mereka akhirnya menjadi Nara berjalan kesana-kemari untuk melihat gosip.
Silas hanya bisa menerima nasibnya dengan patuh, asalkan istrinya bahagia.
...----------------...
tetap sehat dan semangat Thor