Bagi publik, Arka Dirgantara adalah pengusaha sukses berselimut gosip miring, mulai dari disfungsi ereksi hingga rumor menyukai sesama jenis. Tak ada yang tahu rahasia terbesarnya, ditinggal kabur mantan istri di malam pengantin membuatnya trauma dan masih perjaka.
Terdesak ancaman dicoret dari warisan dan runtuhnya investasi, Arka nekat mengajak Naya Kirana, gadis ceria yang butuh uang pengobatan ibunya, untuk menjalani pernikahan kontrak satu tahun. Aturannya tegas, pura-pura mesra di depan media, tapi dilarang saling sentuh di rumah.
Namun, hidup seatap dengan Naya yang blak-blakan perlahan meruntuhkan dinding kaku Arka. Ketika sang mantan istri kembali untuk membongkar rahasia kelamnya, akankah sandiwara konyol ini hancur, atau justru berubah jadi cinta sejati yang menyembuhkan trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Gengsi dan Pemandangan Sore
Sunyi kembali menguasai ruangan kerja Arka yang luas usai sambungan telepon dengan Andrea terputus. Naya menurunkan ponselnya, menyandarkan punggung ke sofa empuk, lalu melepaskan napas panjang yang melelahkan.
Ia menatap sekeliling. Ruangan bergaya modern-minimalis itu memang sangat megah, tetapi atmosfernya yang dingin dan terlalu luas justru membuat rasa canggung kembali merayap.
“Sepi banget...” gumam Naya pelan pada dirinya sendiri. Suaranya memantul tipis di dinding kaca raksasa.
Ia melirik jam dinding yang berdetik teratur. Waktu seolah berjalan lambat. Rasa lelah yang sempat tertahan oleh adrenalin kini datang menyerbu tanpa ampun.
Ia memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. “Capek banget, ya Tuhan... Padahal cuma duduk, tapi rasanya kayak habis lari maraton.”
Ia mencoba mengalihkan perhatian dengan memandangi pemandangan pencakar langit Jakarta di luar jendela, namun matanya justru makin terasa berat. Efek teh hangat dan keheningan ruangan itu perlahan menagih bayarannya.
“Pak Arka rapatnya masih lama tidak, ya?” bisiknya lagi, suaranya makin parau dan serak karena kantuk.
“Bosan... kalau cuma nunggu begini, bisa-bisa aku ketiduran...”
Naya memeluk bantal sofa, berniat hanya memejamkan mata sebentar untuk memulihkan tenaga.
Namun, begitu kepalanya bersandar di lengan sofa, kesadarannya perlahan melayang. Rasa lelah yang menumpuk akhirnya menang, menarik Naya ke dalam tidur yang lelap.
Setengah jam berlalu. Pintu kayu mahoni yang kokoh bergeser pelan tanpa suara.
Arka melangkah masuk dengan langkah mantap, berniat melonggarkan ikatan dasinya usai memimpin rapat alot bersama tim legal dan para kepala divisi.
Namun, langkah kakinya seketika terhenti tepat di tengah ruangan.
Pandangan Arka terkunci pada sosok yang tengah terlelap di sofa mewahnya. Sinar matahari sore yang menembus jendela kaca raksasa membiaskan cahaya keemasan, menimpa kulit Naya yang halus.
Naya tertidur miring, membuat posisi tubuhnya terbentuk sempurna. Yang membuat napas Arka mendadak tertahan adalah gaun berpotongan elegan yang dikenakan Naya. Akibat posisi tidurnya yang tak teratur, bagian bawah gaun itu tersingkap cukup tinggi hingga ke pertengahan paha.
Paha Naya yang putih mulus dan bersih terekspos tanpa aling-aling di bawah pendar cahaya sore.
Suasana ruangan seketika berubah pekat. Aura dingin dan penuh kendali yang biasa membungkus sang CEO meluruh dalam sekejap, digantikan oleh gelombang panas yang mendadak membakar dadanya.
Arka berdiri bergeming selama beberapa detik, tatapannya menggelap, mengabsen setiap lekuk tubuh istrinya yang tampak begitu polos namun tanpa sadar sangat menggoda. Jantungnya berdegup dengan irama yang jauh dari kata tenang.
Pria itu membasahi bibirnya yang kering. Dengan langkah pelan tanpa suara, Arka berjalan mendekati sofa. Setiap pijakannya terasa berat, menyerap intensitas ketegangan yang mendadak memenuhi udara di antara mereka.
Ia berhenti tepat di samping sofa, menunduk menatap wajah Naya yang tertidur lelap tanpa rasa curiga sedikit pun.
Tatapan Arka kemudian perlahan turun, menyusuri leher jenjang Naya, hingga terhenti pada bagian paha mulus yang terpampang nyata di depan matanya.
Arka menghela napas berat, mencoba menguasai gejolak liar yang mendadak menuntut untuk dilepaskan.
Gemerosok geseran pintu kayu kembali terdengar, memecah keheningan yang serasa hampir meledak itu.
“Bos, ini berkas dari tim legal yang butuh tanda tangan cepat—”
Ucapan Doni terputus seketika di udara. Langkah kaki asisten pribadi sekaligus sahabat Arka itu mendadak terkunci tepat di ambang pintu. Matanya melebar saat menangkap pemandangan di depannya. Arka yang berdiri membatu dengan tatapan sepekat malam, membungkuk sedikit di samping sofa tempat Naya yang sedang tertidur lelap dengan gaun sedikit tersingkap.
Aura tegang dan panas yang menyelimuti Arka mendadak mengendur, berganti dengan kilatan tajam saat ia menoleh cepat ke arah pintu.
Doni, yang dengan cepat membaca situasi serta arah pandangan bosnya tadi, tidak bisa menahan sunggingan senyum jahil yang perlahan terbit di bibirnya. Hilang sudah wajah formal ala asisten profesional, kini yang tersisa hanyalah raut menggoda tanpa dosa.
Dengan langkah sepelan mungkin agar tidak membangunkan Naya, Doni menyusup masuk, lalu menutup pintu di belakangnya rapat-rapat. Ia berjalan mendekati Arka sambil mengetuk-ngetukkan map berkas ke telapak tangannya.
“Waduh... salah jam masuk banget kayaknya gue ini,” bisik Doni dengan nada jenaka yang ditahan, matanya berkedip menggoda ke arah Arka.
Arka memberikan tatapan membunuh yang sanggup membuat bulu kuduk merinding, lalu dengan gerakan cepat memundurkan posisinya.
Tanpa mengalihkan tatapan tajamnya dari Doni, ia meraih jas miliknya yang tersampir di sandaran kursi kerja, lalu menyelimutkannya dengan lembut ke tubuh Naya, menutup paha mulus sang istri dari pandangan siapapun, termasuk Doni.
“Kenapa nggak ketok pintu dulu, sih?” geram Arka dengan suara yang ditekan serendah mungkin, nyaris seperti geraman sangit.
Doni justru terkekeh pelan tanpa suara, menyilangkan kedua tangan di dada sambil bersandar santai pada tepi meja kerja Arka.
“Gue udah ngetok dua kali ya, Ka. Tapi kayaknya ada yang lagi keganggu parah sama pemandangan sore di sofa,” bisik Doni penuh penekanan. Ia melirik Naya sebentar, lalu kembali menatap Arka dengan alis yang terangkat naik-turun.
“Lagian,” lanjut Doni dengan nada sok prihatin, “kalau mau enjoy the view istri sendiri, pintunya dikunci dong, Pak CEO. Beruntung yang masuk gue. Coba kalau anak sekretariat depan yang masuk bawa kopi? Bisa heboh satu kantor ngeliat bosnya mendadak salting.”
Muka Arka menggelap, meski rasa hangat sisa gejolak tadi masih menyisakan sedikit kemerahan samar di lehernya. Ia membetulkan posisi lengannya, berusaha mengembalikan wibawa dinginnya yang sempat runtuh.
“Ngebacot sekali lagi, bonus akhir tahun lu hangus, Don,” ancam Arka dingin.
Doni justru tertawa kecil tanpa nada takut sedikit pun. Ia menepuk pelan berkas di tangannya lalu meletakkannya di atas meja.
“Siap, Bosku. Mulut gue rapat. Tapi jujur aja... jantung lu aman, kan? Muka lu agak merah tuh.” Doni mengedipkan mata sebelum melangkah mundur menuju pintu, tahu betul kapan harus kabur sebelum amukan Arka benar-benar meledak.
“Tanda tangani berkasnya kalau udah cooling down, Pak Arka. Gue tunggu di luar,” goda Doni terakhir kali sebelum menyelinap keluar pintu dengan senyum kemenangan.
Namun kemudian, Doni membuka pintu sedikit, menyisakan celah sempit hanya untuk memunculkan kepalanya kembali ke dalam ruangan. Senyum jahilnya masih terpajang utuh, siap melayangkan godaan pamungkas.
“Oh iya, Ka... sekedar mengingatkan, napas lu tadi kedengeran sampai ambang pintu, lho. Mau gue ambilkan air es buat menurunkan suhu tubuh?” goda Doni dengan nada jenaka yang dibuat-buat.
Arka yang baru saja hendak menyentuh pena di atas mejanya langsung mendelik tajam. Ia menghembuskan napas kasar, melemparkan tatapan jengkel yang siap menerkam sang asisten.
“Gue nggak tertarik sama bocah, Don. Inget, beda umur gue sama dia tuh sembilan tahun,” sahut Arka dingin, berusaha terdengar rasional meskipun nada suaranya sedikit tertahan.
“Dia masih terlalu polos, lagian gue juga bukan cowok gampangan yang langsung goyah cuma gara-gara pemandangan kayak gitu.”
Doni malah terkekeh geli menanggapi pembelaan diri sahabatnya itu. Ia menyandarkan bahunya di kusen pintu dengan santai.
“Halah, pret. Beda sembilan tahun tapi tadi mata lu hampir nggak kedip, Ka. Mulut bilang bocah, tapi kelakuan lu pas nutupin pahanya pake jas udah kayak suami posesif tingkat akut,” balas Doni sambil tertawa kecil. “Nggak usah sok gengsi lah, ngaku aja kalau lu emang sempet terpesona.”
“Don, mau gue potong gaji lu bulan ini, atau mau keluar sendiri sekarang?” ancam Arka dengan suara pelan namun sarat penekanan.
“Iya, iya, ini keluar! Galak banget, Pak CEO. Awas entar kepikiran terus pas rapat selanjutnya!” goda Doni seraya mengedipkan mata, lalu secepat kilat menarik kepalanya mundur dan menutup pintu rapat-rapat sebelum amukan Arka benar-benar pecah.
Ruangan kembali hening. Arka memijat pangkal hidungnya, lalu melirik ke arah sofa tempat Naya masih tertidur lelap, sama sekali tak terganggu oleh pertengkaran kecil tadi.
Tatapan Arka tertuju pada jasnya yang kini membungkus tubuh Naya, meninggalkan helaan napas panjang dan rasa hangat yang masih enggan beranjak dari dadanya.
–tbc–
lanjut
buat arka jatuh cinta ke naya ya kak... dan naya makin jaga jarak dan sadar diri dgn pernikahan kontraknya
lanjut kak