“Antara kewajiban keluarga, perjodohan, dan cinta yang tumbuh tanpa rencana…”
Maizara merindukan kebebasan, sementara Dimas hanya peduli pada tahta dan bisnisnya. Ketika perjodohan membawa mereka dalam satu atap, setiap tatapan menjadi perang dingin, dan setiap sentuhan menjadi ancaman bagi hati mereka.
Saat dua dunia menuntut kepatuhan, akankah rasa di antara mereka menyerah pada gengsi, atau tunduk pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Prambanan
Dimas Arjowibowo akhirnya menyetujui usulku untuk saling mengenal lebih jauh. Keputusan itu diambil dengan cara yang sangat tidak kuduga: dia sepakat untuk menetap selama seminggu penuh di rumah keluargaku di Yogyakarta.
Mengingat Ndalem Natakusumah adalah rumah dinasti yang sangat luas dengan belasan kamar kosong di paviliun samping, Romo menyambut keputusan itu dengan dada membusung bangga. Sementara itu, kedua orang tua Dimas memilih kembali ke ibu kota keesokan harinya karena urusan bisnis yang tak bisa ditinggalkan beberapa klien besar dari luar negeri sudah dijadwalkan bertemu dengan ayah Dimas.
Namun, di balik semua kehebohan persiapan menyambut tamu agung ini, ada satu hal yang terus mengusik benakku.
Aku bingung. Sangat bingung.
Di dalam dadaku, tidak ada perasaan bergetar yang hebat. Tidak ada debar jantung liar berkejaran seperti saat Juan pertama kali memegang tanganku dan mengajakku berpacaran dulu. Apakah rasa cinta itu memang seharusnya ada sejak awal, ataukah aku yang sudah mati rasa?
Pikiranku melayang ke masa lalu, pada satu petang ketika usiaku tepat lima belas tahun dan mendapatkan menstruasi pertamaku. Saat itu, Ibu mendudukkanku di depan cermin rias berukir milik keluarga, mengelus rambutku dengan lembut, lalu membisikkan sebuah nasihat yang menjadi doktrin hidupku hingga hari ini.
"Mei, kamu sudah menjadi wanita dewasa sekarang," tutur Ibu dengan suara lirih yang nyaris tanpa emosi. "Sebagai wanita Natakusumah, kamu harus belajar menyimpan rapat-rapat setiap perasaanmu. Rasa tidak nyaman, suka, duka, atau bahagia... simpan semuanya di dalam dada. Jangan biarkan orang lain membaca gejolak hatimu. Anggun itu artinya mampu menguasai diri."
Sejak hari itu, aku terlatih menyembunyikan rapat-rapat setiap riak emosi. Mungkin karena itulah, ketika berhadapan dengan Dimas, aku tampak begitu tenang dan datar, seolah tak ada beban sama sekali.
Demi memperlancar proses "pendekatan" ini, Romo bahkan memerintahkanku untuk mengambil cuti kerja selama seminggu penuh. Beliau ingin aku fokus mendampingi Dimas tanpa terdistraksi oleh pekerjaan konveksi dan desain yang selama ini kutekuni. Sebuah perintah absolut yang tak bisa kubantah.
Hari Pertama: Kencan Pertama
Pagi itu, udara Yogyakarta masih diselimuti kabut tipis ketika Dimas keluar dari paviliun tamu. Dia mengenakan kemeja linen santai berwarna krem yang digulung hingga siku, dipadukan dengan celana bahan gelap. Gaya rambut gondrongnya yang biasa disisir rapi kini dibiarkan agak berantakan, memberikan kesan maskulin yang sangat bertolak belakang dengan suasana kaku Ndalem Natakusumah.
"Kita mau ke mana hari ini, Mas?" tanyaku saat kami berdiri di halaman depan, sementara sopir keluarga membukakan pintu mobil SUV hitam milik Dimas.
Dimas menoleh padaku, mengamatiku sejenak dari ujung kepala hingga ujung kaki. Aku hanya mengenakan gaun terusan santai berpotongan midi dan sepatu flat.
"Candi Prambanan," jawabnya singkat dengan suara beratnya yang khas.
Aku sempat mengernyitkan dahi. Prambanan? Sebagai orang yang tumbuh dan besar di Jogja, Candi Prambanan adalah destinasi yang sudah puluhan kali kudatangi sejak kecil. Menurutku, tidak ada yang istimewa dari gugusan batu hitam berukir itu selain nilai sejarah dan legendanya yang tragis.
Perjalanan menuju daerah Kalasan diwarnai keheningan yang cukup panjang. Dimas fokus melihat pemandangan jalanan dari balik kaca mobil, sementara aku sibuk mencerna situasi. Tidak ada obrolan manis khas orang berpacaran. Tidak ada pertanyaan 'kamu sudah makan?' atau jemari yang saling bertaut di atas konsol tengah.
Sesampainya di pelataran Candi Prambanan, angin pagi berembus cukup kencang, menerbangkan beberapa helai rambutku. Kemegahan candi Hindu terbesar di Indonesia itu berdiri kokoh di bawah langit biru yang bersih. Para wisatawan mulai berdatangan, namun area sekitar kompleks candi masih cukup tenang.
Kami berjalan berdampingan di atas jalan setapak berkerikil. Langkah kaki Dimas yang lebar membuatku harus beberapa kali mempercepat langkah agar bisa mengimbanginya.
Aku menghentikan langkahku di dekat sebuah pohon rindang yang menghadap langsung ke Candi Siwa. Aku menoleh pada lelaki jangkung di sampingku itu, tak tahan lagi untuk menyuarakan rasa penasaran yang memburu di kepalaku.
"Mas Dimas," panggilku.
Dimas menghentikan langkahnya, memutar tubuh tinggi 185 sentimeternya menatapku. "Ya?"
"Kenapa memilih Prambanan?" tanyaku blak-blakan. "Maksudku... dari sekian banyak tempat romantis di Jogja, kenapa harus kemari? Ini cuma tumpukan batu tua buat warga lokal seperti aku."
Dimas tidak langsung menjawab. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, memandangi puncak Candi Prambanan yang menjulang tinggi, lalu mengalihkan pandangan tajamnya tepat ke dalam manik mataku.
Atmosfer di sekitar kami mendadak berubah. Angin pagi yang berembus pelan seolah membawa pergi riuh suara wisatawan di kejauhan, menyisakan jarak sunyi di antara kami berdua.
"Jika Candi Prambanan adalah saksi kekuatan cinta yang tak terbalas dari Bandung Bondowoso pada Roro Jonggrang..." suara Dimas mengalun rendah, dalam, dan sarat akan penekanan yang bergetar di udara, "...maka Jogja adalah saksi bahwa aku masih mencarimu hingga kini."
Deg.
Jantungku yang sejak tadi diam tanpa getaran mendadak mencetuskan satu pukulan keras di dalam dada.
Kalimat itu meluncur begitu mulus dari bibir Dimas Arjowibowo pria yang kuanggap dingin, kaku, dan bertangan besi. Kata-katanya tidak diucapkan dengan nada merayu yang murahan, melainkan dengan tatapan mata lurus yang begitu pekat dan intim. Seakan-akan setiap suku kata itu dibuat khusus untuk menembus benteng pertahanan yang kubangun belasan tahun ini.
Perkataan itu seakan menusuk sanubari, menghujam langsung menuju bagian terdalam hatiku.
Aku membeku di tempat. Pipiku terasa hangat secara tiba-tiba. Perasaan asing yang belum pernah kurasakan sebelumnya mendadak berdesir dari ujung kaki hingga ke kepala.
Apa dia selalu begini? batin gila di kepalaku menjerit panik. Apa dia memang pria puitis yang suka mengumbar kata-kata manis seperti ini kepada semua perempuan yang dia kenal? Ataukah ini cuma trik eksekutif muda untuk menaklukkan lawan bicaranya?
Aku berusaha keras mengingat doktrin Ibu: Simpan perasaanmu, Mei. Jangan biarkan dia tahu kamu terpengaruh.
Aku menelan ludah, memaksakan diri untuk mendeham pelan demi menutupi kegugupanku yang mulai kentara. Aku menata kembali raut wajahku agar tetap terlihat datar dan tenang.
"Mas Dimas sering pakai kalimat itu ke wanita lain ya?" balasku dengan nada seolah tak terkesan, mencoba bertahan dari serangan emosionalnya.
Sudut bibir Dimas terangkat tipis, membentuk senyuman miring yang terkesan sangat misterius. "Kamu wanita pertama yang mendengarnya langsung dari mulutku, Maizara."
Dia tidak memberi ruang bagiku untuk membalas. Tanpa memudar senyumannya, Dimas mengeluarkan ponsel pintarnya dari saku dan menyerahkannya padaku.
"Karena kamu orang lokal," ucapnya mengubah topik dengan sangat natural, seolah baru saja tidak melempar bom emosional ke dadaku, "hari ini kamu jadi tour guide aku. Tolong ambilkan beberapa foto aku di depan candi utama."
Aku menerima ponsel mahal itu dengan jemari yang masih sedikit bergetar. "Aku? Jadi tour guide?"
"Posisimu saat ini adalah tuan rumah, kan?" kata Dimas santai, mulai berjalan mendahuluiku menuju pelataran Candi Siwa. "Ayo. Ambil dari sudut yang bagus."
Aku hanya bisa menghela napas panjang, menatap punggung tegap pria berambut gondrong itu dari belakang. Rasa bingungku bukannya berkurang, malah bertambah seribu kali lipat.
Sepanjang sisa pagi itu di Prambanan, tugasku benar-benar berubah menjadi seorang pemandu wisata sekaligus fotografer pribadi untuk Dimas Arjowibowo.
"Mas, agak geser ke kiri sedikit," instruksiku sambil mengarahkan kamera ponsel ke arahnya. Dimas berdiri di tangga batu candi, membelakangi relief ukiran Jawa Kuno.
Cklik.
Aku melihat hasil jepretan di layar. Harus kuakui secara jujur dalam hati, pria ini sangat fotogenik. Postur tubuhnya yang tinggi proporsional, garis rahangnya yang tegas, serta pembawaannya yang tenang membuat setiap foto yang kuambil terlihat seperti halaman majalah fashion pria kelas atas.
"Bagus tidak?" tanya Dimas yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingku, menundukkan kepalanya sangat dekat untuk melihat layar ponsel di tanganku.
Aroma parfum woody-citrus miliknya kembali menyerbu indra penciumanku. Jarak kami yang hanya terpaut beberapa sentimeter membuat napasku mendadak tertahan lagi.
"B-bagus kok," jawabku agak terbata, cepat-cepat menyerahkan ponsel itu kembali ke tangannya. "Mas Dimas kelihatannya memang berbakat jadi model."
Dimas memandangi hasil foto itu sejenak, lalu menatapku dari balik layar ponselnya. "Aku tidak butuh jadi model. Aku cuma butuh wanita di sampingku yang tahu kapan harus mengambil gambar, dan kapan harus membuka hatinya."
Lagi. Kata-katanya kembali menghantamku tanpa peringatan.
"Mas Dimas!" protesku lirih, tak bisa menahan rasa kesal karena dia terus-terusan menguji ketahananku. "Bisa tidak bicara yang biasa-biasa saja? Kita ini sedang berkencan untuk saling mengenal, bukan sedang main drama kolosal."
Tawa renyah yang tipis keluar lagi dari tenggorokan Dimas. Suara tawa yang rendah dan sangat menyenangkan untuk didengar di tengah teriknya matahari pagi yang mulai memanas.
"Baiklah, tour guide," sahut Dimas tenang, memasukkan ponselnya kembali ke saku. "Sekarang tunjukkan padaku, di mana tempat makan siang terbaik di kota ini yang tidak ada di dalam panduan wisata internet."
Aku menatapnya dengan mengelus dada. Pria ini benar-benar tidak tertebak. Di satu momen dia bisa menjadi sangat dingin dan berjarak, di momen lain dia berubah menjadi pria dengan kata-kata puitis yang mematikan, dan di saat berikutnya dia bertingkah seolah-olah kami sudah saling mengenal bertahun-tahun.
"Ada warung makan kecil di daerah dekat Keraton," jawabku akhirnya, mulai melangkah menuju pintu keluar kompleks candi. "Rasanya otentik, tapi tempatnya sangat sederhana. Pria kaya seperti Mas Dimas belum tentu suka."
Dimas melangkah di sampingku, menyesuaikan kecepatan jalannya dengan langkah kakiku. "Jangan menilai aku dari kemeja yang kupakai, Mei. Aku ini perintis bisnis makanan. Aku tahu mana makanan berbumbu cinta dan mana yang cuma jualan gengsi."
Aku menoleh sekilas padanya. Bumbu cinta? Perkataan konyol dari seorang CEO perusahaan makanan ternama.
Namun, saat kami berjalan keluar dari gerbang Candi Prambanan menuju tempat parkir, aku menyadari satu hal yang membuat dadaku berdesir halus. Tanpa disadarinya, Dimas berjalan di sisi luar jalan setapak memosisikan tubuh tinggi tegapnya sebagai pembatas antara diriku dengan lalu lalang wisatawan dan kendaraan yang melintas. Sebuah gestur perlindungan kecil yang sangat alami, tanpa dibuat-buat.
Mungkin rasa getar di dadaku belum sekuat bahaya yang kutakutkan. Namun hari pertama dari seminggu ini baru saja dimulai, dan aku sadar, pertahananku di depan Dimas Arjowibowo perlahan-lahan mulai retak.