Tiga tahun mendekam di penjara, Annabella tak menyangka kebebasannya justru menjadi awal penderitaan baru.
Lucian Winston, CEO Wins IT yang menyimpan dendam atas penculikan adiknya, membebaskan Annabella demi satu tujuan: menjadikannya istri dan menghukumnya dengan caranya sendiri.
Annabella menolak, hingga Lucian mengancam keselamatan Aditya, pamannya yang sedang koma dan terancam kehilangan perawatan akibat kebangkrutan.
Demi menyelamatkan satu-satunya keluarga yang tersisa, Annabella terpaksa menerima pernikahan tanpa cinta dengan pria yang membencinya.
Namun, sampai kapan Annabella mampu bertahan di tengah dendam Lucian? Dan bagaimana jika di balik kebencian itu, ada rahasia yang mampu mengubah segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yoguuut!
Pukul dua belas malam.
Annabella baru saja menyelesaikan seluruh pekerjaannya. Semua piring‑piring kotor sudah ia cuci hingga bersih lalu disusun kembali ke rak. Lantai dapur pun telah ia pel teliti, hingga tidak ada lagi noda yang tertinggal.
Tubuhnya terasa sangat lelah. Punggungnya terasa pegal sekali, kedua tangannya perih, dan pipi kirinya masih terasa panas sisa tamparan Ranti.
Meski begitu, ia tidak punya waktu untuk mengeluh.
Annabella melirik ke sekeliling. Dapur sudah sepi. Para pelayan telah kembali ke kamar masing‑masing, begitu pula penghuni rumah lainnya.
Ia menghela napas lega; sekarang ia bisa kembali menemui Yumna tanpa takut ketahuan. Namun baru saja ia hendak melangkah, sesuatu menarik ujung gaunnya.
Annabella tersentak dan segera menoleh.
"Yumna!"
Anak kecil itu berdiri di sampingnya dengan wajah lesu. Kedua tangannya menggenggam ujung gaun Annabella, sementara matanya tampak berkaca‑kaca.
Annabella segera berjongkok di hadapannya.
"Ya ampun, Sayang! Kenapa kamu keluar dari kardus? Onty kan sudah menyuruhmu menunggu di dalam?"
Yumna menunduk.
"Lapal, Onty. Yumna lapal."
Annabella terdiam.
Rasa bersalah seketika memenuhi dadanya. Sejak membawa Yumna masuk ke rumah ini, ia terlalu sibuk memikirkan cara menyembunyikan anak itu, sampai‑sampai melupakan hal yang sangat penting.
Yumna belum makan. Bahkan ia sendiri belum menyentuh makanan sejak kemarin.
"Maafkan Onty, Sayang." Annabella mengusap kepala Yumna dengan lembut. "Onty lupa kamu belum makan."
Yumna memegang perutnya yang kecil.
"Pelut Yumna sakit."
Hati Annabella mencelos mendengarnya.
"Sabar sebentar, ya. Onty akan cari makanan untukmu."
Ia segera menggendong Yumna. Matanya menelusuri meja makan, rak penyimpanan, hingga lemari tempat bahan makanan disimpan.
Tetapi tidak ada makanan yang bisa ia berikan kepada Yumna.
Annabella membuka lemari satu per satu. Hasilnya tetap sama.
Kosong.
Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan kepanikan yang mulai muncul.
Bagaimana ini?
Ia tidak mungkin membangunkan penghuni rumah hanya untuk meminta makanan. Jika Ranti sampai tahu Yumna ada di sini, anak itu bisa diusir, sedangkan dirinya mungkin akan mendapat hukuman yang jauh lebih buruk.
Annabella lalu teringat lemari es yang ada di sudut dapur.
Ia segera membukanya. Di antara beragam bahan makanan dan minuman yang tersimpan rapi, matanya melihat beberapa kemasan yogurt.
Annabella menghela napas lega.
Syukurlah, setidaknya ada sesuatu yang bisa diberikan kepada Yumna.
Ia mengambil satu botol besar, memeriksa kemasannya, lalu menuangkan isinya ke dalam gelas yang sudah bersih.
"Nih, Sayang. Minum dulu, ya."
Mata Yumna langsung berbinar.
"Yoguuut!"
"Iya. Minum pelan‑pelan, jangan terburu‑buru."
Yumna menerima gelas itu dengan kedua tangannya. Ia mulai meminum yogurt sedikit demi sedikit, tapi karena terlalu lapar, beberapa kali ia meneguknya dengan cepat.
Annabella tersenyum melihat tingkah lucunya.
"Pelan‑pelan, Yumna. Nanti tersedak."
Yumna mengangguk, lalu kembali meminum yogurt itu dengan wajah bahagia.
Melihat anak kecil itu akhirnya bisa mengisi perutnya, hati Annabella terasa sedikit lebih tenang.
Setelah Yumna selesai minum, Annabella menggoreng telor ceplok untuknya lalu menggendongnya kembali.
"Ayo, kita kembali ke kamar Onty sebelum ada yang melihat."
Yumna mengangguk patuh.
Mereka berjalan melewati lorong yang gelap dan sepi. Annabella melangkah dengan sangat hati‑hati agar tidak menimbulkan suara. Setelah memastikan tidak ada siapa‑siapa di sekitar, ia membuka pintu gudang tempat ia tidur.
Begitu masuk, ia langsung menutup pintu kembali.
Annabella meletakkan Yumna di atas karpet usang, lalu duduk di sampingnya. Tubuhnya terasa semakin lemas setelah seharian bekerja tanpa makan sama sekali.
Ia menyandarkan punggung ke dinding dan memejamkan mata sejenak.
Perutnya terasa melilit. Sudah dua hari ia tidak makan. Sejak keluar dari penjara, hidupnya menjadi begitu kacau, sampai‑sampai ia tidak sempat memikirkan kebutuhan dirinya sendiri.
Hari ini, ia berjalan berjam‑jam ke rumah sakit, lalu kembali ke rumah Winston tanpa membawa atau mendapatkan makanan sedikit pun.
Namun saat melihat Yumna meminum yogurt dengan lahap, Annabella merasa seolah rasa laparnya sedikit berkurang.
Setidaknya, anak itu tidak lagi kelaparan.
"Enak, Onty," ujar Yumna sambil menjilat sisa yogurt yang menempel di bibirnya.
Annabella tersenyum lemah.
"Kalau begitu, baguslah."
Tetapi Yumna tiba‑tiba menoleh dan memperhatikan wajah Annabella.
Senyum kecil di bibirnya pun hilang.
"Onty..."
"Iya, Sayang?"
"Muka Onty pucat."
Yumna mendekat, lalu menyentuh pipi Annabella dengan tangan mungilnya.
"Onty cakit?"
"Tidak, Sayang. Onty hanya lelah."
Yumna menggeleng pelan, seolah tidak percaya.
"Onty jangan cakit."
Ucapan sederhana itu membuat dada Annabella terasa sesak. Ia tidak menyangka anak berusia sekecil Yumna begitu memperhatikannya. Bahkan ketika dirinya sendiri sedang kelaparan, anak itu masih mengkhawatirkan keadaan Onty‑nya.
Yumna memandangi sisa yogurt di gelas yang ada di tangannya. Lalu ia mengulurkan gelas itu kepada Annabella.
"Onty minum."
Annabella menggeleng.
"Itu untuk Yumna, Sayang. Onty tidak apa‑apa."
Namun Yumna tetap menyodorkan gelas tersebut.
"Onty minum. Bial ndak cakit."
Annabella menatapnya dengan mata yang mulai berkaca‑kaca.
"Yumna masih lapar, kan?"
Yumna mengangguk kecil, tapi tangannya tidak ditarik kembali.
"Yumna bagi cama Onty."
Annabella tidak mampu berkata‑kata.
Anak itu rela membagikan makanan yang sedikit itu untuknya.
Perlahan‑lahan Annabella menerima gelas tersebut. Ia hanya mencicipi sedikit yogurt di ujung lidahnya, hanya supaya Yumna tidak kecewa. Setelah itu, ia mengembalikan gelas itu kepada pemiliknya.
"Sudah, Onty sudah minum. Sekarang Yumna habiskan, ya."
Yumna memandangi gelas itu, lalu menatap Annabella.
"Onty benelan ndak cakit?"
Annabella mengangguk sambil tersenyum.
"Iya, Sayang. Onty akan baik‑baik saja."
Yumna akhirnya menghabiskan sisa yogurt yang ada di gelas.
Setelah itu, ia meletakkan gelas kosong di dekat mereka, lalu merebahkan tubuh mungilnya di samping Annabella.
Annabella mengira Yumna akan segera tertidur. Tetapi anak itu justru merapatkan tubuhnya, memeluk lengan Annabella, lalu menyandarkan kepalanya di bahu perempuan itu.
"Yumna di cini," gumamnya dengan suara mengantuk. "Onty jangan takut."
Annabella membeku. Ia menoleh dan melihat wajah Yumna yang mulai memejamkan mata. Anak itu sepertinya mengira dirinya sedang ketakutan, sehingga berusaha menenangkannya dengan cara yang sangat sederhana.
Padahal Yumna sendiri tidak tahu betapa berat kehidupan yang sedang dijalani perempuan yang sedang ia peluk.
Air mata perlahan menggenang di mata Annabella.
Ia tidak menangis saat Ranti menamparnya.
Ia tidak menangis ketika para pelayan menghina dan merendahkannya.
Ia juga berusaha menahan diri agar tidak menangis saat Lucian meninggalkannya sendirian setelah pernikahan mereka.
Tetapi perhatian kecil dari seorang anak berusia tiga tahun justru membuat air matanya hampir tumpah.
Annabella membelai rambut Yumna dengan lembut.
"Terima kasih, Sayang," bisiknya.
Yumna sudah hampir tertidur, lalu bergumam lagi.
"Onty baik..."
Annabella tersenyum getir.
Baik?
Jika Yumna tahu semua kesalahan‑kesalahannya di masa lalu, apakah anak itu masih akan mengatakan hal yang sama?
Annabella menunduk, menatap wajah mungil yang sedang tertidur di sampingnya.
Selama ini ia selalu merasa dirinya tidak pantas mendapatkan kebahagiaan. Kesalahan masa lalunya telah menghancurkan banyak hal, dan ia harus menanggung semua akibatnya.
Namun malam itu, di dalam gudang sempit yang berdebu, ia merasakan sesuatu yang sudah lama hilang dari hidupnya.
Kehangatan.
Bukan dari rumah mewah, bukan dari keluarga yang menyambutnya dengan tangan terbuka, melainkan dari seorang anak kecil yang bahkan tidak ia ketahui asal‑usulnya.
Annabella mengambil kain tipis yang ada di dekatnya, lalu menyelimuti tubuh Yumna.
"Onty akan melindungimu, Yumna. Selama Onty masih bisa, Onty tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu."
Ia kemudian menyandarkan kepalanya ke dinding sambil terus membelai rambut anak itu.
Perutnya masih terasa perih karena lapar. Tubuhnya pun terlalu lelah untuk bergerak lagi.
Tetapi Annabella berusaha memejamkan mata.
Malam itu, mereka hanya memiliki satu sama lain.
Di dalam rumah besar yang penuh kebencian, seorang perempuan yang dianggap tidak berharga dan seorang anak kecil yang asal‑usulnya belum diketahui saling menghangatkan diri di atas karpet usang.
Annabella tidak tahu apa yang akan terjadi besok.
Ia juga belum tahu bagaimana cara menjelaskan keberadaan Yumna kepada Lucian. Untuk saat ini, Annabella hanya ingin beristirahat.
ketika mantan napi menjadi istri CEO Hero Lucian Heroin Annabella.
dtggu kelanjutan ny mom ,,
dn apa bnr Erwin tu kk ny anabella???