NovelToon NovelToon
MENG LIN DI ERA 1970 AN

MENG LIN DI ERA 1970 AN

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:18.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Meng Lin, seorang gadis modern yang baru menyelesaikan pendidikan S2 di bidang sains, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel.

Suatu malam, ia tertidur saat membaca novel berlatar tahun 1974. Ketika terbangun, ia justru mendapati dirinya berada di dalam novel tersebut—menjadi Meng Lin, gadis berusia sembilan belas tahun yang memiliki nama sama dengannya.

Meng Lin asli adalah gadis cantik, baik hati, dan lemah lembut. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia tinggal bersama paman, bibi, dan sepupunya, Meng Wan. Meski memiliki nilai sekolah terbaik, kesempatan kerja justru diberikan kepada Meng Wan. Tanpa pilihan lain, Meng Lin dikirim ke desa sebagai pemuda terpelajar.

Lebih menyedihkan, kekasihnya, Tang Qi, perlahan terlibat dengan Meng Wan. Dalam cerita asli, Meng Lin akhirnya menghilang dari kisah, sementara Meng Wan dan Tang Qi menikah.

"Hmm.. Karakter Utama itu akan menjadi milikku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19. Perjalanan Yang Melelahkan

Kereta akhirnya berhenti sepenuhnya. Begitu pintu gerbong dibuka, para pemuda terpelajar yang akan menuju daerah yang sama mulai turun membawa barang masing-masing.

Meng Lin turun setelah memastikan koper dan tas kainnya tidak tertinggal.

Udara malam terasa berbeda. Lebih lembap dan hangat dibandingkan kota yang mereka tinggalkan.

Ia berdiri sebentar di peron sambil melihat sekeliling. Stasiunnya tidak terlalu besar. Lampu-lampu yang terpasang di sepanjang peron memberikan cahaya kekuningan. Tidak banyak toko yang masih buka, tetapi beberapa warung kecil dan kantin stasiun masih terlihat ramai.

"Ah..." Seseorang menghela napas panjang.

"Akhrinya sampai juga."

Beberapa pemuda tertawa kecil. Perjalanan selama dua hari satu malam membuat hampir semua orang terlihat lelah.

Seorang petugas kemudian datang membawa daftar nama. "Yang menuju wilayah yang sama, jangan pergi dulu. Kumpul di sebelah sana."

Para pemuda yang namanya dipanggil mulai berkumpul.

Meng Lin berdiri bersama mereka. Jumlahnya tidak terlalu banyak. Ada beberapa laki-laki dan perempuan, semuanya membawa koper, tas kain, atau barang bawaan sederhana.

Seorang pemuda bertanya kepada petugas,

"Kita langsung berangkat ke desa?"

"Belum." Petugas menunjuk jam dinding yang tergantung di bangunan stasiun. "Bus baru berangkat pukul sepuluh malam."

"Masih lama?"

"Kurang lebih satu jam."

Beberapa orang langsung mengeluh pelan.

"Kita sudah duduk dua hari di kereta."

"Kalau tahu masih harus menunggu, tadi aku tidur saja."

Petugas itu tersenyum tipis. "Kalau lapar, makan dulu. Di sebelah sana ada kantin."

Mendengar kata makan, beberapa orang langsung bergerak.

Yan Rao yang berada di samping Meng Lin ikut melihat ke arah kantin. "Kamu mau makan?"

"Ayo.. Aku juga sudah lapar..!" balas Meng Lin.

Mereka kemudian berjalan bersama rombongan.

Kantin stasiun itu sederhana, tapi itu juga milik Negara. Beberapa meja kayu panjang disusun berjajar. Di bagian depan terdapat papan kecil yang menuliskan makanan yang tersedia malam itu.

Bubur.

Mi kuah.

Mantou.

Telur rebus.

Sayuran tumis.

Dan beberapa lauk sederhana. Harga makanan juga ditulis dengan kapur.

Para pemuda mulai memilih.

"Aku mau semangkuk mi."

"Aku dua mantou."

"Masih ada telur?"

"Ada."

Meng Lin berdiri di bagian belakang antrean.

Ia sebenarnya tidak terlalu lapar, tetapi setelah perjalanan panjang ia memang membutuhkan makanan hangat.

Ketika tiba gilirannya, ia membeli semangkuk mi kuah dan satu telur rebus. Yan Rao memilih bubur dan dua mantou. Mereka kemudian mencari tempat duduk.

Karena rombongan mereka cukup banyak, beberapa meja hampir penuh. Meng Lin duduk di ujung meja bersama Yan Rao dan tiga pemuda perempuan lainnya yang baru mereka kenal dalam perjalanan.

Salah seorang pemuda laki-laki duduk di seberang. Ia tersenyum.

"Kalian dari kota yang sama?"

Yan Rao menjawab, "Aku dan Meng Lin bukan cuma dari kota yang sama. Tapi, kami sekelas!"

Pemuda itu mengangguk. "Oh. Pantas kalian terlihat sangat akrab. Ternyata teman sekolah.. Oh iya Aku Zhang Wei." Ia memperkenalkan diri.

Yan Rao membalas, "Aku Yan Rao."

Kemudian ia menunjuk Meng Lin. "Ini Meng Lin."

Meng Lin mengangguk singkat. "Halo."

Zhang Wei tersenyum. Dia sudah melihat Meng Lin sejak di kereta, gadis yang sangat cantik.

"Setelah malam ini, kita mungkin akan sering bertemu."

"Semoga." balas Yan Rao apa adanya.

Percakapan kemudian beralih pada desa tujuan mereka.

Salah seorang gadis bertanya kepada petugas yang duduk di meja sebelah. "Pak, perjalanan dari sini ke desa kita berapa lama?"

Petugas itu menjawab sambil makan. "Kalau jalan lancar, sekitar tiga jam."

"Tiga jam?" Beberapa orang langsung mengeluh.

"Masih tiga jam lagi?"

"Ya."

Seorang pemuda tertawa getir. "Berarti besok pagi baru sampai."

"Kalau busnya tidak terlambat." Ucapan itu membuat semua orang tertawa kecil.

Meng Lin hanya tersenyum tipis sambil melanjutkan makan. Semangkuk mi kuah yang sederhana terasa cukup enak setelah dua hari hanya mengandalkan bekal.

Yan Rao makan dengan cepat. "Kamu tidak mau mantou?"

"Tidak." Meng Lin menolak. Dia sangat kenyang

"Kalau begitu aku makan."

"Makan saja." Yan Rao mengambil mantou dari mangkuknya.

Tidak jauh dari mereka, beberapa pemuda sedang membicarakan kehidupan di desa.

"Aku dengar desa kita cukup miskin."

"Aku juga dengar begitu."

"Katanya makanan tidak selalu cukup."

"Jangan menakut-nakuti."

"Aku cuma bilang apa yang kudengar."

Percakapan itu membuat meja mereka sedikit lebih sunyi.

Salah seorang gadis bertanya, "Kalau begitu kita harus bagaimana?"

Seorang pemuda mengangkat bahu. "Jalani saja."

Meng Lin tidak ikut dalam percakapan. Ia sudah mengetahui bahwa kehidupan di pedesaan pada masa ini tidak mudah.

Ia juga sudah mempersiapkan dirinya jauh sebelum berangkat.

Yang paling penting adalah bisa mendapatkan tempat tinggal dan mengetahui keadaan desa terlebih dahulu.

Setelah selesai makan, Meng Lin membayar makanan kepada penjaga kantin. Ia kemudian mengambil koper dan tasnya.

Jam dinding menunjukkan pukul setengah sepuluh. Para pemuda mulai berkumpul kembali di depan stasiun.

Petugas memeriksa daftar nama satu per satu.

"Jangan ada yang tertinggal."

Semua orang memastikan barang mereka.

Beberapa pemuda bahkan menghitung kembali tas dan koper.

Meng Lin juga memeriksa miliknya. Tidak ada yang kurang.

...----------------...

Tepat pukul sepuluh malam, bus yang akan membawa mereka akhirnya tiba di depan stasiun.

Para pemuda terpelajar segera mengambil barang masing-masing.

Petugas memeriksa daftar nama sekali lagi sebelum mempersilakan mereka naik. "Yang menuju wilayah yang sama, pastikan tidak ada barang yang tertinggal."

Meng Lin dan Yan Rao naik bersama. Mereka memilih dua kursi yang bersebelahan di dekat jendela.

Setelah semua orang masuk, pintu bus ditutup.

Mesin tua itu kembali mengeluarkan suara berat sebelum perlahan bergerak meninggalkan stasiun.

Yan Rao menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Besok pagi kita sudah sampai."

"Ya."

"Setelah turun, katanya masih ada yang menjemput kita."

"Gerobak sapi."

Yan Rao tertawa kecil. "Aku masih tidak bisa membayangkan harus naik gerobak sapi setelah dua hari naik kereta."

Meng Lin tersenyum tipis. "Kita sudah memilih pergi ke pedesaan. Cepat atau lambat pasti mengalaminya."

Yan Rao terdiam beberapa saat, kemudian teringat sesuatu. "Oh, iya. Setelah sampai nanti aku harus segera menulis surat untuk Ibu."

"Kirim kabar kalau sudah sampai."

"Iya."

Yan Rao menatap ke luar jendela. "Kalau tidak mengirim surat, Ibu pasti terus memikirkan aku."

"Kamu juga harus menulis."

"Aku tahu." balas Meng Lin cuek.

Mereka kemudian tidak banyak berbicara.

Bus terus melaju menembus malam. Sebagian besar pemuda terpelajar mulai tertidur karena kelelahan.

Yan Rao akhirnya ikut memejamkan mata. Meng Lin masih terjaga beberapa saat sambil melihat pemandangan di luar jendela.

Lampu-lampu kota semakin sedikit. Jalan yang mereka lewati semakin sepi. Ia kemudian bersandar dan memejamkan mata.

Malam itu mereka masih memiliki perjalanan panjang. Mereka akan tiba di tempat pemberhentian pada pagi hari, lalu dijemput oleh orang-orang dari brigade masing-masing.

Setelah itu, barulah perjalanan terakhir menuju desa dimulai. Bukan tiga jam lagi, itu sama saja setengah hari, karena bus berjalan pelan di jalan yang rusak.

.

.

.

1
nengnong
tiba2 udh aja,serasa ada yg hilang
tambah sing othor sayang
ceritanya bagus lho❤️
Fauziah Daud
lanjuttt
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat
yang banyak update nya Thor 👍😀
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
Didi Wahyudi
niubi
nengnong
meng Lin ke kota cuma mau beli kemoceng 🤔🤦
nengnong
💪💪
Musdalifa Ifa
klo boleh request Thor tolong upnya dibanyakin🙏🤭🤭🤭
Fauziah Daud
lanjuttt
Fauziah Daud
terus sehat n lanjut
Heni Setiyaningsih
tetap sehat dan semangat
next double up ya Thor 😁
Musdalifa Ifa
tambah up Thor 🙏
Kia Zahra
tes dulu
Fauziah Daud
lanjuttt
Heni Setiyaningsih
tolong tambah lagi upload nya kurang klo 1 bab
Andira Rahmawati
thorr knp up nya cuma satu eps aja..double up lagi dong thorrr👍👍🙏💪
Fauziah Daud
terus sehat
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt
update nya kurang banyak Thor 😀👍
Kusii Yaati
kurang banyak Thor 🤗
Fii
maaf jarang update. kurang sehat 🙏🙏
Musdalifa Ifa: semoga cepat sembuh thor💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!