Alya Renata adalah aktris terkenal yang hidupnya selalu berada di bawah sorotan kamera.
Arka Pratama hanyalah seorang mahasiswa yang terlihat biasa—tenang, sederhana, dan tidak tertarik dengan dunia selebritas.
Pertemuan tak sengaja di tengah hujan membuat dua dunia yang berbeda mulai saling mendekat.
Alya tidak pernah menyangka bahwa pria yang membuatnya merasa nyaman itu menyimpan identitas besar di balik kehidupannya yang sederhana.
Arka bukan sekadar mahasiswa.
Ia adalah pewaris keluarga Pratama, salah satu keluarga konglomerat terbesar di negeri ini.
Ketika cinta mereka mulai diketahui publik, mereka harus menghadapi usia, keluarga, media, karier, dan perbedaan dunia yang semakin sulit diabaikan.
Karena mencintai seseorang ternyata mudah.
Yang sulit adalah memilih untuk tetap berjalan bersamanya ketika seluruh dunia meminta mereka berpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Udara Segar Bernama Arka
Pagi itu, ritme kehidupan kampus Universitas Bina Bangsa berubah drastis.
Beberapa truk produksi dan van hitam besar terparkir memakan sebagian area parkir mahasiswa. Kabel-kabel tebal melintang seperti ular hitam di beberapa pelataran gedung. Puluhan kru berseragam produksi hilir mudik membawa kamera besar, tiang lighting, reflektor, dan kotak properti dari satu tempat ke tempat lain.
Mahasiswa yang sedang berangkat ke kelas hanya bisa berjalan melipir sambil memperhatikan dengan rasa penasaran tinggi.
"Eh, seriusan ada artis?"
"Siapa emangnya yang syuting di kampus kita?"
"Nggak tahu, tapi denger-denger artis A-list yang jadi pemeran utamanya."
"Pantesan penjagaannya lumayan ketat di depan. Makanya gue ngetem di mari dari tadi."
Di tengah kasak-kusuk itu, sebuah MPV hitam mewah berhenti mulus di dekat lobi gedung utama.
Pintu geser otomatis terbuka.
Alya Renata turun dengan anggun. Ia mengenakan kemeja chiffon dan celana kain sederhana sesuai kebutuhan karakter, namun auranya tidak bisa disembunyikan. Rambutnya sudah ditata sempurna, makeup-nya tak bercela. Sang manajer, Mbak Rini, dan asistennya berjalan sigap di belakangnya membawakan berbagai perlengkapan.
Begitu kakinya menginjak aspal kampus, Alya menarik napas panjang.
Hari ini seharusnya menjadi hari kerja yang standar. Datang. Masuk set. Take beberapa adegan. Selesai.
Namun, realitas lapangan syuting selalu punya caranya sendiri untuk menghancurkan ekspektasi.
"Mbak Alya!"
Seorang asisten sutradara berlari kecil menghampirinya dengan handy-talky di tangan.
"Ya?"
"Maaf, Mbak. Ada sedikit perubahan pagi ini."
Langkah Alya terhenti. "Perubahan apa?"
"Lokasi adegan pertama terpaksa dipindah."
"Dipindah ke mana?"
"Ke lorong gedung fakultas sebelah, Mbak."
Alya menoleh ke arah gedung yang dimaksud. Jaraknya lumayan jauh untuk ditempuh dengan berjalan kaki mengenakan sepatu hak tinggi. "Kenapa tiba-tiba?"
"Masalah pencahayaan, Mbak. Mataharinya nggak dapet angle bagus di lobi ini."
Alya mengembuskan napas pelan melalui hidung. Berdebat tidak akan menyelesaikan masalah. "Baik."
Ia berputar arah dan mengikuti kru tersebut. Namun, belum sampai sepuluh menit mereka bersiap di lokasi baru, perubahan berikutnya datang menerjang.
"Mbak Alya, maaf banget. Adegan dua juga harus direvisi."
Alya menoleh, menahan ringisan. "Diubah lagi?"
Sutradara utama kini mendekat dengan naskah yang penuh coretan. "Sedikit penyesuaian, Al."
"Sedikit itu seberapa, Mas?"
Sutradara itu tersenyum canggung. "Dialog emosionalnya kita tambah panjang. Supaya feel-nya lebih dapet."
Alya memejamkan mata sebentar. "Berapa halaman tambahannya?"
"Empat."
Alya langsung membuka mata. "Empat halaman? Dadakan?"
"Kurang lebih segitu. Kamu pasti bisa hafal cepat, kan?"
Alya menatap langit pagi yang cerah. Baru jam delapan pagi, tapi energi mentalnya sudah terkuras drastis.
Proses syuting pun dimulai dengan tertatih-tatih.
Adegan pertama berjalan cukup lancar meski harus mengulang dua kali karena suara klakson motor mahasiswa yang bocor ke mikrofon.
Namun, saat masuk ke adegan kedua... semuanya menjadi berantakan.
"Cut!"
Suara sutradara menggema melalui pelantang suara. Semua orang menahan napas.
Alya langsung menurunkan postur tubuhnya. "Maaf."
Sutradara berjalan mendekat. "Tempo dialogmu terlalu cepat, Al. Emosinya jadi nggak kerasa menumpuk. Coba lebih diberi jeda."
Alya mengangguk patuh. "Oke, Mas. Saya ulang."
Kamera kembali diposisikan. Lampu lighting digeser. Pengatur suara mengacungkan jempol. Semua kembali siap pada posisinya.
"Roll camera! And... Action!"
Alya kembali masuk ke dalam karakternya. Kali ini ia mengatur napas, melontarkan dialog dengan lebih lambat dan tenang. Emosinya sudah pas. Adegan itu hampir mendekati titik sempurna, ketika tiba-tiba—
BRAK!
"Cut! Cut!"
Salah satu tiang penyangga reflektor cahaya di belakang kamera tersenggol kru magang dan jatuh menghantam lantai dengan suara keras.
Semua orang di lokasi terdiam kaku. Kru yang menjatuhkannya pucat pasi.
Alya menatap properti yang tumbang itu, lalu mengalihkan pandangannya ke arah kru yang tertunduk ketakutan. Tidak ada yang berani mengatakan apa-apa.
Sadar atmosfer menjadi tegang, Alya memaksakan sebuah senyum tipis.
"Nggak apa-apa. Kita take ulang saja."
"Maaf banget, Mbak Alya," cicit kru tersebut.
"Beneran, nggak apa-apa. Tolong dirapikan saja perlahan."
Alya berusaha terdengar sangat profesional dan santai. Padahal di dalam, pelipisnya mulai berdenyut nyeri.
Dua jam kemudian.
Progres syuting belum bergerak maju secara signifikan. Perubahan lokasi mendadak. Dialog revisi yang panjang. Masalah teknis. Berulang kali take. Semuanya menumpuk menjadi gunung stres.
Alya duduk bersandar lemas di kursi lipat kanvas dengan namanya tertulis di bagian belakang. Posisinya agak tersembunyi di balik barisan monitor kamera.
Asistennya menyodorkan sebuah tumbler. "Minum dulu, Kak."
Alya menerimanya dengan tangan yang sedikit lemas. "Makasih."
Ia meminum isinya perlahan. Asisten itu masih berdiri di sampingnya sambil mengecek rundown di ponsel.
"Kak Alya, setelah ini beres, kita langsung meluncur ke studio untuk sesi foto materi promosi ya."
Alya menghentikan tegukannya. "Langsung setelah syuting ini kelar?"
"Iya, Kak."
"Estimasi waktunya berapa lama?"
"Katanya sih cuma satu jam."
Alya tertawa pelan, tawa yang sinis. "Katanya."
Asisten itu hanya membalas dengan senyum canggung penuh rasa bersalah.
Alya kembali bersandar, menutup matanya. Telinganya masih menangkap keriuhan kru yang sedang mengatur ulang set.
Di mata dunia, ia adalah aktris papan atas yang selalu profesional. Bintang yang bersinar terang tanpa celah. Tidak boleh datang terlambat. Tidak boleh tersandung dialog. Tidak boleh menunjukkan wajah lelah. Tidak berhak untuk mengeluh.
Namun hari ini... di balik kostum cantik dan riasan sempurna ini, ia merasa benar-benar kelelahan. Bukan sekadar fisik, tetapi pikirannya terasa sesak.
"Aku butuh udara."
Alya tiba-tiba berdiri.
Asistennya langsung panik. "Eh, Kak? Mau ke mana?"
"Saya mau menyingkir sebentar dari sini."
"Sebentar aja kan? Soalnya bentar lagi set-nya ready."
"Sepuluh menit. Tolong jangan ada yang ngikutin," tegas Alya. "Saya cuma butuh tempat tenang buat napas."
Sang asisten akhirnya mengalah dan mengangguk pasrah. "Baik, Kak."
Alya memutar langkahnya menjauhi keramaian lokasi syuting. Semakin ia menjauh dari gedung itu, suara instruksi sutradara dan kebisingan kru perlahan memudar, digantikan oleh kesunyian khas lingkungan pendidikan.
Ia berjalan menyusuri jalan setapak di samping gedung perpustakaan.
Di sana, ia menemukan sebuah area taman terbuka yang rimbun dan tersembunyi. Ada beberapa pohon ketapang besar, hamparan rumput rapi, dan sebuah bangku kayu panjang yang teduh. Suara daun yang bergesekan karena angin terasa jauh lebih menyembuhkan daripada pujian para kru.
Alya berhenti melangkah. Ia memejamkan mata dan menghirup udara dalam-dalam.
"Ah..."
Untuk pertama kalinya sejak pagi, beban di dadanya terasa sedikit terangkat.
Arka yang lebih dewasa cara mikirnya "panik juga gak bikin kita bisa terbang" dan kalem nutupin Alya pas ketahuan Dina, bikin Alya yang hidupnya capek jadi artis tuh ngerasa aman, bukan diatur. Bukan yang posesif "kamu gak boleh syuting", tapi yang support "Aku respect sama kamu, Al" habis lihat Alya take 9x.
Itu bedanya age gap yang mateng vs yang maksa. Protective tapi tetap ngasih ruang buat Alya berkarir. Suka banget dinamikanya!
Semangat kak, ditunggu update-nya!
Arka: "Belum tentu, skripsi belum kelar"
AKU SEBAGAI PEMBACA: Arka, skripsimu bisa nunggu, Alya gak bisa! 😭
Next bab tolong Arka jangan ilang dulu, sponsor Alya lagi di ujung tanduk nih!
Alya yang udah 10 tahun dianggap trofi, baru kali ini ada yang ngeliat capeknya sebagai manusia. Dan Alya yang bilang 3x "Jangan pulang dulu" itu gemes banget. Tapi endingnya Riko manajer produksi + nomor portal gosip ngechat "Selamat sore Mas Arka Pratama?" MERINDING. Skysea Group mau kebongkar!
Di sini baru Arka ngerti kenapa Alya bisa jadi aktris bayaran termahal - bukan karena cantik doang, tapi pas kamera nyala, Alya beneran lenyap dan jadi karakternya. Dan Arka yang dateng bawa 2 es kopi langganan mereka 😭 simple tapi sweet banget!
Alya seumur hidup: Langsung hangat dadanya
Kalimat paling tulus di novel ini. No gombal, cuma jujur. Love!