NovelToon NovelToon
The Ustaz'S Dark Secret

The Ustaz'S Dark Secret

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di balik jubah dakwahnya sebagai ustadz muda karismatik, Musa menyimpan rahasia besar sebagai mafia yang disegani. Selama setahun, ia terus bayangi sosok wanita misterius yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya dari jebakan musuh sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.

​Titik terang muncul ketika orang tua Musa, Kyai Adam dan Umi Sinta menjodohkannya dengan Musdalifah, putri seorang sahabat. Namun, kejutan besar menanti: wanita misterius yang dicarinya selama ini ternyata adalah Laila, adik kandung Musdalifah. Tanpa ragu, Musa menolak Musdalifah dan menuntut untuk menikahi Laila. Decision nekat itu tidak hanya memicu rasa sakit hati dan dendam Musdalifah, tetapi juga menyeret mereka ke dalam konflik keluarga yang sengit, dibayangi oleh rahasia masa lalu serta bahaya dari dunia kelam Musa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Musa berdiri di koridor luar kamar, membiarkan keheningan menyelimuti langkahnya untuk memberi waktu Laila beristirahat.

Namun, baru beberapa langkah ia menjauh, suara dering nyaring dari ponsel Laila yang tertinggal di dalam kamar kembali memecah kesunyian.

Musa memutar badannya dan kembali masuk ke kamar dengan langkah tak bersuara.

Di atas meja samping ranjang, layar ponsel itu menyala terang. Nama "Dr. Nakula" tertera jelas di sana.

Melihat kondisi Laila yang masih tertidur lelap di bawah pengaruh obat penenang dan infus yang menancap di tangannya, Musa tak berniat mengganggu tidur nyenyak istrinya.

Dengan sorot mata mendingin, ia meraih ponsel tersebut dan menggeser tombol hijau.

Musa menempelkan benda tipis itu ke telinganya tanpa menguarkan sepatah kata pun, sengaja menunggu pihak di seberang telepon berbicara lebih dulu.

Hening sejenak, hingga sebuah suara pria dari ujung saluran langsung meledak tanpa basa-basi, sarat akan amarah dan emosi yang tak lagi tertahan.

"Laila! Kenapa kamu baru angkat teleponku?!" cecar dokter Nakula dengan napas memburu.

"Aku tidak bisa tinggal diam lagi, Laila. Aku benar-benar tidak terima kamu menikah dengan pria itu! Musa sama sekali tidak pantas untukmu! Dia hanya pria asing yang tiba-tiba masuk ke dalam hidupmu!"

Musa masih bergeming, berdiri tegak di samping ranjang sembari menatap Laila yang terlelap.

Tangannya mengepal pelan, namun raut wajahnya tetap tenang bagai telaga beracun.

"Dengarkan aku, Laila. Aku sudah lama mencintaimu, jauh sebelum pria itu ada!" lanjut dokter Nakula dengan nada makin emosional.

"Kita berjuang bersama dari nol di dunia kedokteran, kita melewati semua masa-masa sulit itu berdua! Harus aku yang ada di sisimu, bukan dia!"

Tak mendengar respons dari Laila, Dr. Nakula menggeram rendah, melontarkan ancaman yang langsung membakar atmosfer di dalam kamar itu.

"Aku bersumpah, Laila, aku akan melakukan apa pun—apa pun—untuk merebutmu kembali dari tangan Musa. Aku tidak akan biarkan dia memilikimu!"

Mendengar penghinaan dan ancaman terang-terangan terhadap hak miliknya, naluri dominan dan protektif Musa bergejolak hebat.

Darahnya berdesir panas, membakar habis sisa kesabaran yang semula tersisa.

Sosok pria lembut nan tenang seketika menguap, berganti menjadi penguasa dunia bawah tanah yang haus akan dominasi penuh.

"Kamu mau merebut istriku?!" suara Musa meledak, berteriak menggelegar memenuhi setiap sudut kamar bagaikan petir di tengah malam. Pendar matanya merah membara.

"Dengarkan aku baik-baik, Nakula! Kalau kamu berani menyentuh atau mendekati Laila sedikit saja, jangankan kariermu, akan kubuat kamu membusuk dan hancur tanpa sisa! Laila adalah milikku, milik Musa!"

Brak!

Saking kuatnya emosi yang membakar, genggaman tangan Musa pada ponsel mengeras hingga persendian tangannya memutih.

Teriakan membahana itu membuat Laila tersentak kaget.

Efek obat penenang yang semula menguasai tubuhnya mendadak menguap, digantikan rasa panik luar biasa. Laila mendadak terbangun dan terduduk di atas ranjang dengan jantung berdebar kencang.

"Musa, ada apa?" tanya Laila dengan raut wajah bingung dan napas tersengal-sengal.

Laila menatap suaminya yang berdiri kaku di samping tempat tidur dengan dada kembang kempis menahan murka.

Pandangan Laila kemudian jatuh pada ponsel di genggaman Musa yang tampak bergetar hebat.

Dengan perlahan dan hati-hati, Laila mengulurkan tangan meraih ponsel tersebut dari jemari suaminya.

Matanya membelalak kaget saat melihat riwayat panggilan masuk yang baru saja terputus—nama Dr. Nakula tertera jelas di sana.

Musa menatap Laila dengan pendar mata liar yang sarat akan kecemburuan membara.

Pria itu menunduk, mencengkeram tepi ranjang dengan napas memburu.

"Dia bilang dia tidak bisa melupakan mu! Dia bilang dia yang berjuang darimana-mana bersamamu di dunia kedokteran!" bentak Musa dengan suara parau yang penuh tekanan emosi dan kecemburuan pekat.

"Dia bersumpah mau merebutmu dari tanganku, Laila! Apa kamu masih menyimpan rasa untuk laki-laki itu?!"

Laila terdiam sejenak, tertegun melihat betapa besarnya rasa cemburu dan rasa takut kehilangan yang membakar jiwa suaminya.

Tanpa ragu sedikit pun, dan untuk membuktikan di mana seluruh hatinya berlabuh, Laila langsung menekan tombol power ponselnya lama lalu mematikannya tepat di depan mata Musa.

Ia melempar benda itu ke meja samping tempat tidur tanpa berniat menyentuhnya lagi.

"Musa, kamu tidak percaya denganku?" bisik Laila lembut, menatap iris mata Musa dengan pendar kejujuran yang begitu bening.

"Hatiku, hidupku, dan seluruh cintaku cuma milik kamu. Tidak ada tempat untuk orang lain."

Perkataan tulus dan tindakan tegas Laila seketika menyiram kobaran api cemburu di dada Musa.

Penguasa yang tadi bagai monster haus darah itu mendadak luluh, disergap rasa bersalah yang amat sangat karena telah membentak sang istri.

"Astaghfirullah," Musa beristigfar lirih, menutup wajahnya sejenak dengan kedua telapak tangan yang gemetar.

"Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku."

Musa merangkul tubuh istrinya dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Laila, menghirup aroma menenangkan dari sang istri untuk meredakan gejolak di dadanya.

"Maafkan aku yang hampir lepas kendali." bisik Musa parau di telinga Laila.

"Aku hanya terlalu takut kehilangan kamu, Bidadariku."

Laila mengulas senyum tipis, mengusap lembut punggung Musa yang masih bergetar menahan sisa emosi.

Tenggorokannya terasa kering akibat kepanikan yang mendadak tadi.

Dengan perlahan, ia mencoba menggeser kakinya ke tepi ranjang, berniat mengambil segelas air putih yang terletak di meja samping.

Namun, efek obat penenang dan tubuhnya yang masih sangat lemas membuat kakinya tak bertulang.

Saat berdiri, pandangan Laila mendadak berkunang-kunang.

Tungkainya gemetar hebat dan tubuhnya kehilangan keseimbangan, hampir roboh menghantam lantai.

"Laila!"

Dengan refleks kilat seorang petarung, Musa langsung merengkuh pinggang istrinya rapat-rapat sebelum tubuh Laila menyentuh dinginnya lantai.

Tangan tegapnya menahan bobot tubuh Laila yang lunglai dengan sangat kokoh.

"Maaf, seharusnya kamu istirahat, Sayang," bisik Musa penuh rasa bersalah, mengutuki dirinya sendiri karena sempat terbawa emosi hingga tak mengawasi kondisi fisik istrinya.

Tanpa membuang waktu, Musa menyusupkan satu tangannya di bawah lipatan lutut Laila dan tangan lainnya di punggung sang istri.

Ia membopong tubuh Laila dengan mudah, membawanya kembali ke atas tempat tidur yang empuk.

Musa membaringkan Laila dengan sangat lembut dan berhati-hati agar jarum infus di tangan istrinya tidak tergeser.

Ia meraih gelas air putih di atas meja, lalu membantu Laila meminumnya sedikit demi sedikit.

"Minum pelan-pelan, Bidadariku," tutur Musa lembut, menyapukan jemarinya di pipi Laila setelah istrinya selesai meneguk air.

Sementara itu, di sebuah kafe remang-remang yang jauh dari jangkauan area pesantren, atmosfer mencekam menyelimuti salah satu sudut ruangan.

Dokter Nakula duduk dengan wajah menegang, memutar-mutar gelas kafenya sembari menahan amarah yang membakar dada setelah panggilan teleponnya diputus secara sepihak oleh Musa.

Pintu kafe terbuka, memperlihatkan sosok Musdalifah yang berjalan tergesa-gesa.

Wajahnya yang biasa dipoles riasan kini tertutup rapat oleh masker tebal dan kacamata hitam untuk menyembunyikan kulit wajahnya yang melepuh. Dengan langkah kesal, Musdalifah langsung duduk di hadapan Nakula.

"Ada apa kamu memanggilku ke sini, Dokter?" desis Musdalifah penuh kekesalan, membetulkan letak maskernya agar tak ada orang yang melihat ruam buruk di wajahnya.

"Aku sedang tidak ingin diganggu!"

Nakula menyandarkan punggungnya, menatap Musdalifah dengan pendar mata licik yang dipenuhi dendam.

"Aku tahu apa yang terjadi padamu, Musdalifah," ujar Nakula dengan suara rendah namun menusuk.

"Dan, aku tahu betul seberapa besar rasa bencimu pada Laila dan Musa sekarang."

Musdalifah mengepalkan tangannya di atas meja hingga kuku-kukunya memutih.

"Jangan sebut nama wanita itu di depanku! Gara-gara dia dan pria barbar itu, mukaku jadi seperti ini dan rencanaku hancur!"

"Kalau begitu, kita punya tujuan yang sama," senyum miring nan dingin terulas di bibir Nakula. Ia memajukan tubuhnya, menatap Musdalifah intens.

"Musa merebut Laila dariku, dan Laila menghancurkan posisimu. Bagaimana kalau kita bekerja sama?"

Musdalifah menyipitkan matanya di balik kacamata hitam.

"Bekerja sama? Untuk apa?"

"Aku tahu seluk-beluk Laila di dunia medis, dan kamu tahu seluruh pergerakannya di keluarga serta pesantren," bisik Nakula penuh kepastian.

"Kita hancurkan rumah tangga mereka dari dalam. Kamu dapatkan Musa kembali atau hancurkan reputasi Laila sekalian, dan biarkan aku yang membawa Laila pergi dari pria itu."

Musdalifah terdiam sejenak, meresapi tawaran beracun di hadapannya.

Perlahan, senyum licik mengembang di balik maskernya.

"Penawaran yang sangat menarik, Dokter," balas Musdalifah mantap.

"Katakan, apa rencana pertama kita?"

"Tunggu dulu," ucap sebuah suara berat nan beratmosfer dingin yang mendadak memotong percakapan mereka dari arah kegelapan sudut kafe.

Musdalifah dan Dokter Nakula terperanjat, seketika menoleh ke sumber suara.

Seorang pria tinggi tegap dengan mantel hitam melangkah mendekati meja mereka. Saat pria itu menundukkan sedikit kepalanya di bawah pendar lampu kafe yang remang, kerah bajunya tersingkap, memperlihatkan sebuah tato kalajengking berwarna hitam pekat yang terukir jelas di leher kirinya.

Jantung Nakula berdegup kencang, firasat buruk seketika menguasai pikirannya.

"Siapa kamu?!" tanya Nakula tegas, mencoba menutupi kegugupannya.

Pria bertato kalajengking itu hanya mengulas senyum miring yang sangat dingin tanpa berniat menjawab pertanyaan Nakula.

Ia memberikan isyarat singkat dengan jentikan jarinya ke arah pintu keluar.

Dalam hitungan detik, beberapa pria berbadan tegap berpakaian serba hitam muncul dari berbagai sudut dan langsung mengepung meja mereka.

"Bawa mereka berdua," perintah pria bertato kalajengking itu singkat dan tak terbantahkan.

Sebelum Nakula dan Musdalifah sempat berteriak atau melawan, para anak buah pria itu dengan cepat membekap mulut mereka dan menyeret keduanya keluar menuju mobil van hitam yang sudah bersiaga di depan kafe.

1
Muft Smoker
Dy fikir menjebak Musa adalah hal yg mudah x ,,
tp kak ,, khawatir juga sih kalo org udh gelap mata oleh rasa iri gx bisa di bendung ,, bisa berbuat nekat senekat nekat ny ,,
jgn sampe deh rumah tangga Musa dan Laila di ganggu oleh fitnah Musdalifah
Muft Smoker
msh juga nyalahin org ,,
😒😒😒😒😒🥱🥱🥱
Muft Smoker
dtggu versi mini kalian yx ,, 🤭 ,, dan semoga Musdalifah udh jera setelah ini ,, tdk mengganggu Laila dan Musa lgi ,,
Muft Smoker
cuma sgtuu bang kalajengking dan dokter Nakula????
makany jgn coba2 ngusik umi Laila ,,
jd hancur lebur kn Hrga diri kalian ,, 😏😏😏😏😏
Muft Smoker
semoga setelah ini ,,
umi Sinta bisa menerima Laila dg baik ,,
sri hastuti
dokter gila ya thor, apa lg musdalifah , huuhhh, bikin jengkel aja, ksh balasan yg setimpal thor, ayo musa km hrs bisa ,kerahkan semua kekuatan mu 😡😡😡
Muft Smoker
Musdalifah ma Mak ny sama2 manipulatif. ,,
bisa2 ny pak kiyai nikahin perempuan model gtuu ,,
Muft Smoker
lanjuuut kak
Muft Smoker
trnyata Laila pernh ngalamin hal mengerikan di masa lalu ,,
semangat Musa berantas semua org2 yg udh nyakitin Laila ,,
Muft Smoker
si umi kudu di ruqyah 7 hari 7 malam ni ,, buat ngilangin pengaruh makhluk halus ,,
my name is pho: 🤭 hehe
total 1 replies
Muft Smoker
semoga mereka bisa melewati badai yg di bawa keluarga Laila sbntar lgii ,,
Muft Smoker
turun ranjang kah???
Muft Smoker
ooooallaaa cuma bibi ny Laila ternyata ,,
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
wah jgn sampe tuh Nakula bersekutu dg Musdalifah buat hancurin rumah tangga Laila dg Musa ,,
Muft Smoker
Musa yg berhadapan dg Nakula ,, si Yusuf yg panik setengah mati 🤭🤭🤭 ,,
sedangkan Nakula ny B aj ,, 🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
ni juga mak ny si Musa ,, udh liat adab menantu yg di pilih ny bgtuu ,, sangat baguuus cenderung lampir ,,
msh aj di pilih ,, buka mata mu lebar2 umiiiiii
Muft Smoker
jgn2 bukan ibu kandung Laila niih ,,
Muft Smoker
waah gx beres ni si umi ,, bermuka dua ternyata ,,
Muft Smoker
lanjuuuut kak ,,
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!