Di mata dunia, Theodore hanyalah "menantu benalu" yang bisanya mencuci piring, mengepel lantai, dan menelan setiap hinaan dari keluarga istrinya tanpa perlawanan. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik celemek kusamnya, ia adalah Dewa Perang yang ditakuti, Raja Mafia terkuat, dan miliarder pemilik perusahaan raksasa yang sengaja memalsukan kematiannya. Ia menahan semua caci maki hanya demi Yevone, satu-satunya wanita yang setia membelanya di tengah keluarga yang kejam. Namun, ketika keserakahan keluarga mertuanya dan Keluarga Z melewati batas hingga mengancam keselamatan Yevone, Theodore memutuskan sudah waktunya melepas penyamarannya. Dengan sebuah cincin naga hitam usang di jarinya, Theodore bersiap menunjukkan kepada mereka bahwa kemiskinan yang absolut adalah hukuman yang jauh lebih mengerikan daripada kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RDBMB 5
Malam turun menyelimuti kota, membawa hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang. Di dalam kamar sempit berukuran tiga kali empat meter itu, Yevone duduk meringkuk di atas kasur tipisnya. Layar laptop di pangkuannya memancarkan cahaya redup, menerangi wajahnya yang sembab karena kelelahan.
Theodore baru saja selesai mandi. Ia keluar dari kamar kecil di sudut ruangan, mengeringkan rambutnya dengan handuk. Matanya langsung tertuju pada punggung istrinya yang bergetar pelan.
"Maaf, Pak. Tapi kita kan sudah tanda tangan kontrak bulan lalu. Kenapa tiba-tiba pesanan dibatalkan sepihak?" Yevone berbisik menahan isak tangis ke arah ponsel yang menempel di telinganya.
Terdengar suara samar dari seberang telepon. Theodore menajamkan pendengarannya yang terlatih. Suara seorang pria paruh baya yang terdengar angkuh namun sedikit sungkan.
"Maaf, Mbak Yevone. Ini perintah langsung dari atas. Kabarnya, dari pihak keluarga Mahendra sendiri yang minta jalur distribusi bahan baku ke pabrik Anda diputus. Kami nggak mau ikut campur urusan internal keluarga besar Anda."
"Tapi Pak, produksi kita bisa mandek total! Pegawai saya gimana bayar gajinya bulan ini?" desak Yevone dengan suara parau dan putus asa.
Klik. Telepon diputus secara sepihak dari seberang sana.
Yevone melempar ponselnya ke atas kasur dengan tangan lemas. Pertahanannya hancur berantakan. Ia menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya. Isak tangis yang sejak tadi ditahannya matimatian kini lolos dari bibirnya. Ia menangis tanpa suara, bahunya berguncang hebat, takut isakannya terdengar oleh penghuni rumah lainnya yang mungkin sedang lewat di lorong.
Theodore meletakkan handuknya. Langkahnya yang tanpa suara mendekati tepi ranjang. Hatinya yang sedingin baja terasa diremas kuat-kuat melihat pemandangan ini. Yevone, wanita yang membela harga dirinya habis-habisan di depan kakeknya siang tadi, kini hancur lebur karena disabotase oleh keluarganya sendiri.
"Minum dulu," Theodore menyodorkan segelas air putih hangat ke hadapan istrinya.
Yevone mendongak lambat-lambat. Matanya merah dan basah oleh air mata. Ia menerima gelas itu dengan tangan bergetar, menyesapnya sedikit, lalu meletakkannya kembali di atas nakas sebelah ranjang.
"Theo... aku gagal," isak Yevone pilu.
Air matanya kembali mengalir deras membasahi pipinya.
"Semua supplier narik barangnya. Bank nolak pencairan dana. Kevin... dia pasti yang ngehasut Kakek buat nekan semua kolega bisnisku, biar aku nyerah," Yevone meracau di sela tangisnya.
Theodore duduk di sebelah istrinya. Tangannya yang besar dan kasar karena bekas peperangan masa lalu terulur, mengusap punggung Yevone dengan lembut dan teratur.
"Ini bukan salahmu," hibur Theodore tenang.
"Aku udah kerja keras bertahun-tahun buat besarin anak perusahaan ini. Aku begadang, aku rela nggak liburan, meras keringat sendiri. Semuanya cuma buat ngebuktiin ke Kakek kalau aku pantas ada di keluarga ini," keluh Yevone sambil menyeka air matanya dengan punggung tangan. "Tapi sekarang mereka hancurin semuanya cuma gara-gara aku nggak mau nurutin perjodohan gila sama laki-laki hidung belang itu."
Yevone menoleh, menatap mata Theodore dalam-dalam. Tidak ada sedikit pun penyesalan di matanya karena telah memilih untuk membela Theodore siang tadi. Yang ada hanya rasa lelah yang teramat sangat, seolah seluruh dunia sedang memusuhinya.
"Theo, apa kita benar-benar harus nyerah? Apa aku harus biarin Kevin ngambil alih semua hasil kerja kerasku?" tanya Yevone menatap suaminya dengan putus asa.
"Kamu nggak perlu nyerah," Theodore membalas lembut sambil merapikan anak rambut yang menempel di pipi basah istrinya. "Kamu udah berjuang terlalu jauh buat berhenti sekarang."
"Tapi aku harus gimana? Nggak ada uang, nggak ada bahan baku. Besok pagi pabrik pasti didemo karyawan karena desas-desus bangkrut udah disebar sama Kevin," Yevone kembali menunduk, meremas seprai kasur dengan kuat hingga tangannya memucat. "Kadang aku mikir, apa aku emang nggak pantes buat sukses?"
"Hei, jangan ngomong gitu," tegur Theodore pelan namun tegas.
Ia mengangkat dagu Yevone perlahan agar wanita itu kembali menatap matanya.
"Kamu istriku. Kamu wanita paling hebat dan tangguh yang pernah aku kenal. Kalau mereka nutup satu jalan, kita bakal bongkar dan hancurkan jalan yang lain buatmu," Theodore berucap dengan keyakinan penuh.
"Kamu terlalu baik, Theo. Kamu selalu nenangin aku, padahal kamu sendiri terus dihina dan disiram air sama mereka," ucap Yevone sambil tersenyum getir di tengah tangisnya.
Ia kemudian perlahan menyandarkan kepalanya di dada bidang Theodore, mencari sedikit kehangatan dan tempat berlindung di tengah kekacauan hidupnya hari ini.
"Maafin aku ya, gara-gara aku kamu ikut menderita di rumah ini," bisik Yevone lirih.
Theodore tidak menjawab lagi. Ia membiarkan istrinya menangis di pelukannya sampai akhirnya wanita itu kelelahan dan tertidur pulas karena stres yang menumpuk. Napas Yevone perlahan menjadi teratur, meski sesekali masih terdengar sesenggukan kecil di sela tidurnya yang gelisah.
Setelah memastikan istrinya benar-benar terlelap, Theodore merebahkan tubuh Yevone dengan sangat hati-hati ke atas bantal dan menyelimutinya sebatas bahu. Ia duduk di tepi ranjang, menatap lekat wajah lelah istrinya di bawah cahaya temaram lampu tidur.
Sorot mata Theodore yang tadinya selembut sutra kini berubah seratus delapan puluh derajat. Matanya menggelap, sedingin es, dan mematikan.
Tangannya mengepal erat di atas paha hingga buku-buku jarinya memutih pucat. Udara di dalam kamar sempit itu mendadak terasa berat, seolah oksigen ditarik keluar. Jika ada mantan musuhnya yang melihat raut wajah Theodore saat ini, mereka pasti sudah langsung menjatuhkan senjata dan berlutut memohon ampun. Tatapan ini adalah tatapan Sang Dewa Perang sesaat sebelum ia membantai habis musuh-musuhnya di medan pertempuran tanpa ampun.
"Kevin Mahendra. Surya Mahendra," desis Theodore menyebut nama-nama itu bagai mantra kematian pelan di bibirnya.
Tiga tahun belakangan ini, ia membiarkan dirinya dihina, disiram air, disuruh mengepel lantai, dan diinjak-injak karena itu adalah bagian dari penyamaran amannya. Ia mengabaikan semua cacian karena baginya, celotehan keluarga kelas teri ini tak lebih dari suara nyamuk berdengung yang tak ada artinya.
Tapi malam ini, mereka telah melewati batas toleransi maksimalnya. Mereka berani membuat wanita yang menolong nyawanya, satu-satunya wanita yang berdiri melindunginya di saat seluruh dunia menertawakannya, menangis hancur seperti ini.
Theodore menunduk, menatap Cincin Naga Hitam yang melingkar kusam di jarinya. Cincin yang menjadi simbol ketakutan dan kekuasaan absolut di seluruh dunia bawah tanah, yang memegang kendali atas ekonomi global.
*Kalian pikir kalian penguasa kota ini? Kalian pikir uang receh dan koneksi kotor kalian bisa menghancurkan istriku?* batin Theodore dengan senyum sinis yang mengiris. *Baik. Kalau kalian mau bermain-main dengan uang, aku akan tunjukkan pada kalian apa arti kekuasaan finansial yang sesungguhnya.*
Theodore berdiri dari kasur secara perlahan agar tak membangunkan istrinya. Ia mengambil ponsel hitam khusus miliknya dari balik lipatan baju di lemari. Langkahnya seringan angin tak bersuara saat ia melangkah keluar kamar menuju balkon kecil di ujung lorong yang gelap.
Malam ini, Sang Dewa Perang akan memanggil pasukan bayangannya. Besok, seluruh keluarga arogan ini akan tahu bahwa mereka baru saja membangunkan naga yang salah.