Panti asuhan "Lentera Kasih" akhirnya menjadi satu-satunya tempat yang bersedia menerimanya. Di sana, di antara keterbatasan dan hidangan seadanya, Kirana tumbuh menjadi gadis yang kuat dan sangat cerdas. Buku-buku tua di perpustakaan panti menjadi teman setianya. Kirana belajar dengan giat, menyerap ilmu pengetahuan dengan ketajaman berpikir yang mengagumkan. Ia tahu, hanya dengan pendidikan ia bisa mengubah takdirnya.
Namun, kecerdasannya saja tidak cukup untuk membayar biaya masuk universitas. Mimpinya untuk berkuliah di jurusan Kedokteran—cita-cita yang terinspirasi dari keinginan menyembuhkan luka dan menyelamatkan nyawa—membentur dinding tebal bernama biaya. Malam ini, dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan selama berminggu-minggu, Kirana memutuskan untuk mendatangi rumah masa kecil ayahnya. Ia tidak meminta warisan atau kemewahan; ia hanya berharap ada sedikit keajaiban dan rasa iba di hati sang nenek agar mau membiayai pendidikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Uluran Tangan Sang CEO
Hujan deras kembali mengguyur kota tanpa ampun. Langit yang tadinya kelam kini tercurah seolah meluapkan seluruh isi bebannya. Kirana berjalan terseok-seok di atas trotoar yang basah, pakaiannya yang bersahaja kini basah kuyup melekat di tubuhnya. Rambutnya yang terikat rapi ikut menyatu lepek di punggung, sementara setiap hembusan angin malam yang berembus membuat tubuhnya menggigil hebat. Kakinya yang pegal dan lecet akibat berjalan jauh terasa kaku, namun ia tetap melangkah dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.
Di ruas jalan raya yang sepi, sebuah mobil sedan kemewahan berwarna hitam legam meluncur tenang menembus tirai hujan. Di dalam kabin mobil yang hangat dan harum aroma kayu cendana, suasana terasa sangat hening.
Di kursi belakang, duduk seorang pria bertubuh tegap dengan garis wajah yang tegas dan rupawan. Dialah Rian Wijaya, CEO muda ternama dari Wijaya Group—sebuah konglomerat raksasa yang menguasai berbagai sektor bisnis di negeri ini. Rian mengenakan setelan jas disainer yang sangat elegan, namun matanya yang tajam menatap kosong ke luar jendela mobil, memperhatikan bulir-bulir air yang menempel di kaca.
Di tengah lamunannya, pandangan Rian tertuju pada sebuah bayangan kecil di tepi trotoar. Seorang gadis berkeja putih basah kuyup sedang berjalan sendirian di bawah guyuran hujan deras, memeluk erat tas ranselnya di dada seolah melindungi sesuatu yang sangat berharga. Gadis itu berjalan dengan langkah gemetar, namun tidak ada raut keputusasaan di wajahnya yang jernih—hanya ada keteguhan yang sangat langka.
Entah mengapa, dada Rian terhenyak melihat pemandangan itu. Di dunia bisnisnya yang penuh kepalsuan dan ketamakan, keteguhan polos dari gadis asing itu menarik perhatiannya.
"Pak Eko, hentikan mobilnya," perintah Rian dengan suara berat dan berwibawa.
Sopir pribadi yang mengendarai mobil itu terkejut, namun dengan sigap menginjak rem dan menepikan sedan mewah tersebut tepat beberapa meter di depan langkah Kirana.
Kaca jendela mobil bagian belakang perlahan bergeser turun. Dari balik remang interior mobil, Rian Wijaya menatap lurus ke arah gadis yang kini berhenti melangkah dengan raut bingung.
Rian Wijaya bukanlah sosok CEO biasa. Empat tahun lalu, sebuah kecelakaan tragis mengubah seluruh peta kehidupannya. Tragedi itu merenggut fungsi kedua kakinya, memaksanya untuk menghabiskan sisa hidup di atas kursi roda. Namun, keterbatasan fisik itu tidak sedikit pun mengikis kekuasaan dan pengaruhnya. Justru di balik senyuman dingin dan kursi rodanya, Rian memimpin Wijaya Group dengan tangan besi, menjadi sosok yang disegani sekaligus ditakuti di dunia bisnis.
Di dalam sedan mewah yang hangat, Rian menggeser posisinya sedikit di atas jok empuk. Matanya yang tajam menatap Kirana dari balik kaca jendela yang meluncur turun. Gadis di luar sana berdiri mematung di bawah derasnya hujan, memeluk tas ranselnya erat-erat, menggigil dengan pakaian yang basah kuyup.
"Naik, ini sudah malam," ucap Rian singkat. Suaranya berat, dalam, dan dipenuhi wibawa yang tak menerima penolakan.
Kirana tertegun. Ia menyapu air hujan dari matanya, menatap pria berjas hitam yang duduk di dalam mobil. Meskipun pria itu duduk dengan bantuan kursi roda yang terlipat di bagasi belakang—seperti yang sekilas dilihat Kirana dari bayangan dalam mobil—aura keanggungan dan ketegasan pria itu sangat mengintimidasi.
"Maaf, Pak... tidak perlu. Panti asuhan saya sudah tidak terlalu jauh lagi," jawab Kirana santun namun ragu. Suaranya agak bergetar menahan dingin yang menggigit hingga ke tulang.
Rian menyipitkan matanya. Jarang sekali ada orang yang menolak perintah atau tawarannya, terlebih seorang gadis muda yang berada dalam kondisi mengenaskan di tengah malam yang ngenes seperti ini.
"Jalanan di depan sepi dan berbahaya untuk wanita sendirian dalam keadaan basah kuyup. Jangan membantah," potong Rian dingin, lalu menatap Pak Eko, sopirnya. "Pak Eko, bukakan pintunya."
Pak Eko dengan sigap mengambil payung dari dalam mobil, keluar, dan membukakan pintu belakang untuk Kirana dengan senyuman ramah. "Mari, Mbak. Bapak berniat baik. Hujan makin deras dan anginnya sangat kencang."
Melihat ketulusan sang sopir dan tatapan Rian yang tak tergoyahkan, Kirana menyadari bahwa menolak hanya akan terkesan tidak sopan. Dengan canggung dan hati-hati agar air di bajunya tidak menetes mengotori jok mobil yang mahal, Kirana akhirnya melangkah masuk dan duduk di samping Rian.
Pintu mobil tertutup rapat, seketika membungkus mereka dalam kehangatan dan keheningan kabin yang mewah. Bau harum kayu cendana menenangkan saraf Kirana yang sempat tegang.
"Kemana tujuannya?" tanya Rian tanpa menoleh, menatap lurus ke depan saat mobil kembali melaju menembus malam.
"Panti Asuhan Lentera Kasih, Pak... di dekat batas kota," jawab Kirana pelan, meletakkan ranselnya di pangkuannya.
Rian memberi isyarat pada Pak Eko untuk mengarahkan mobil ke alamat tersebut. Dalam diam, Rian melirik gadis di sampingnya. Meski bajunya basah kuyup dan wajahnya pucat karena kedinginan, tidak ada rasa kasihan pada diri sendiri yang tampak dari gurat wajah Kirana. Tatapan mata gadis itu jernih, mencerminkan keteguhan jiwa yang amat langka—sebuah keteguhan yang membuat Rian teringat akan perjuangannya sendiri bangkit dari keterpurukan empat tahun lalu.