*𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘼𝙡𝙠𝙚𝙢𝙞𝙨 𝙎𝙚𝙢𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣 𝘽𝙚𝙣𝙪𝙖 𝙎𝙚𝙖𝙨𝙤𝙣 𝘿𝙪𝙖*
Ini adalah kisah Lin Xuan Sang Dewa Alkemis yang tidak sengaja bertemu dengan musuh terkuatnya Mo Xie, dua orang dari alam bawah yang tanpa sengaja terjerumus ke alam semesta yang jauh lebih tinggi.
Namun, mereka segera menyadari bahwa gelar agung, bahkan kekuasaan yang dianugerahkan oleh para Dewa dan Iblis Kuno bukanlah berkah, melainkan umpan untuk memelihara tubuh mereka hingga matang sebelum akhirnya dijadikan santapan.
Alih-alih terus saling membunuh, dua anomali ini akhirnya mengesampingkan permusuhan mereka untuk sementara.
Sebab sebelum menentukan siapa yang akan mati di tangan siapa, mereka sepakat melakukan satu hal terlebih dahulu...
Membantai para dewa serta iblis munafik dan membuat seluruh Alam Tinggi berlumuran darah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Reuni di Pemakaman Bintang
Reruntuhan Bintang Mati adalah sebuah kuburan kuno di Alam Primordial.
Miliaran tahun lalu, tempat ini menjadi medan perang antara Dewa Kuno dan Iblis Kuno. Dunia-dunia hancur, bintang-bintang padam, dan hukum langit di wilayah ini ikut terkoyak. Hingga kini, bekas kehancuran itu masih memenuhi setiap sudut reruntuhan.
Pecahan benua dan batu melayang tanpa arah di tengah kehampaan. Badai petir menyambar di antara puing-puing, sementara hukum ruang yang kacau membuat segala sesuatu kehilangan aturan.
Di satu tempat, batu sebesar gunung dapat melayang ringan seperti debu. Di tempat lain, sehelai bulu mampu memiliki bobot seberat gunung.
Tempat ini adalah wilayah kematian yang bahkan para dewa enggan masuki.
Namun, seorang pria berjubah putih melesat menembus badai itu dengan tenang.
Lin Xuan tidak membutuhkan artefak pelindung. Setiap kali puing raksasa mendekatinya, benda itu akan terpental sebelum sempat menyentuh tubuhnya. Hukum Tolak dari Tungku Daging telah mencapai tingkat yang mampu melindunginya secara naluriah.
Tatapannya tertuju pada pilar cahaya perunggu yang berdiri jauh di tengah reruntuhan.
Di dalam cahaya itu terdapat sebuah kuali raksasa berkaki tiga.
Kuali Pembelah Surga.
Hanya dengan melihatnya, Tungku Daging di dalam tubuh Lin Xuan mulai bergetar.
"Tak lama lagi..."
Lin Xuan mempercepat langkahnya.
Namun, sebelum ia mendekati pusat reruntuhan, lima pilar hitam tiba-tiba muncul dari balik puing-puing.
Boom!
Kelima pilar itu menghantam kehampaan dan membentuk sebuah formasi yang langsung mengunci ruang di sekitarnya.
Belasan sosok muncul dari balik batu.
Mereka mengenakan zirah compang-camping dari berbagai faksi. Sebagian masih membawa sisa aura Taichu yang telah tercemar, sementara sebagian lainnya diselimuti racun Iblis Kuno.
Para bandit Reruntuhan Bintang Mati.
Lima orang yang berdiri paling depan memiliki kultivasi Kaisar Hukum Suci.
Seorang pria bertubuh besar dengan tiga mata tertawa sambil menatap Lin Xuan.
"Lihat apa yang kita dapat hari ini." Tatapannya menyapu jubah putih Lin Xuan.
"Seorang pemuda dari kota suci. Serahkan cincin penyimpananmu. Jika kau patuh, kami mungkin masih membiarkan mayatmu tetap utuh."
Bandit lain mengangkat dua palu rantai dan menyeringai.
Lin Xuan menghentikan langkah.
Ia bahkan tidak memandang mereka. Tatapannya tetap tertuju pada Kuali Pembelah Surga.
"Aku sedang terburu-buru." Barulah ia menoleh. "Berikan aku tiga tarikan napas untuk lewat. Kalau tidak, kalian akan menjadi bahan uji tubuhku."
Para bandit saling berpandangan sebelum tertawa terbahak-bahak.
"Habisi dia!"
Lima Kaisar Hukum Suci menyerang bersamaan.
Api, petir, dan racun mengamuk, menghancurkan ruang di sekitar Lin Xuan. Namun, sebelum ia sempat bergerak, langit di atas mereka tiba-tiba terbelah.
Yang muncul bukan cahaya.
Melainkan kegelapan yang jauh lebih pekat daripada kehampaan.
Racun ungu menyapu seperti gelombang. Dari celah ruang itu, sebuah sabit raksasa dari tulang hitam turun dan menebas.
Tebasan itu begitu cepat hingga tak seorang pun sempat bereaksi.
Serangan kelima bandit langsung lenyap.
Sesaat kemudian, sebuah garis merah muncul di dahi pemimpin bermata tiga.
Tubuhnya terbelah menjadi dua.
Belasan bandit lainnya menyusul dengan nasib yang sama. Darah dan pecahan tulang mengambang di antara puing-puing bintang.
Dari celah ruang, seekor Naga Tulang Kegelapan perlahan turun.
Di atas punggungnya berdiri dua sosok. Seorang pria berjubah hitam dengan rambut panjang sehitam malam.
Dan seorang wanita berjubah merah darah yang memancarkan aura dingin hingga menusuk jiwa.
Mo Xie dan Xue Ling'er.
Naga tulang berhenti seratus meter di depan Lin Xuan. Untuk sesaat, kedua pria itu hanya saling menatap.
Kemudian, senyum tipis muncul di wajah Lin Xuan.
"Menjadi Tuan Muda Iblis Kuno membuatmu semakin gemar mencuri mangsaku."
Mo Xie menyandarkan Sabit Tulang Hitam di bahunya.
"Mangsa seperti mereka terlalu kotor untuk tanganmu."
Senyum dingin muncul di wajahnya.
"Lagipula, kudengar kau sekarang menjadi anjing kesayangan Putri Mahkota Taichu."
Tatapan Lin Xuan langsung berubah dingin. "Setidaknya aku masih punya kebebasan."
Mo Xie terdiam.
Di sampingnya, Xue Ling'er menatap Lin Xuan dengan tajam.
"Auranya berubah." Suaranya rendah ketika berbicara kepada Mo Xie. "Dia sekarang memancarkan daya tolak yang sangat kuat."
Mo Xie juga merasakannya.
Tulang Surgawinya bergetar samar, seolah daging dan tulang di tubuh mereka saling mengenali.
Daging dan Tulang.
Yin dan Yang.
Dua jalan yang sejak awal ditakdirkan untuk bertabrakan.
Lin Xuan pun memperhatikan keadaan Mo Xie. Ia bisa melihat ketegangan samar di rahang pria itu. Tulang Surgawi Tahap ke-10 masih menyiksanya, hanya saja Darah Yin Xue Ling'er mampu menahan rasa sakit tersebut.
Keduanya telah tumbuh menjadi keberadaan yang bahkan ras purba harus memperhitungkan.
Namun, mereka juga menyadari satu hal yang sama.
Kekuatan yang mereka miliki sekarang berasal dari tangan para penguasa kuno yang diam-diam menginginkan mereka sebagai mangsa.
Mo Xie menatap Lin Xuan dengan serius.
"Kau lebih kuat dari sebelumnya." Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Sayang sekali kau memilih tunduk kepada ras dewa."
Lin Xuan tersenyum tipis. "Setidaknya tulangku tidak dirantai oleh penguasa."
Mata Mo Xie menyipit.
Lin Xuan telah menyentuh luka yang paling tersembunyi di dalam dirinya.
Namun, sebelum keduanya bergerak, pandangan mereka bersamaan beralih ke pusat reruntuhan.
Kuali Pembelah Surga.
Harta leluhur itu berdiri diam di dalam pilar cahaya perunggu, memancarkan tekanan kuno yang membuat ruang di sekitarnya bergetar.
Bagi Lin Xuan, kuali itu adalah kunci untuk menembus Level 11.
Bagi Mo Xie, kuali itu adalah harapan untuk memutus ikatan yang ditanam Kaisar Iblis di dalam Tulang Surgawinya.
Hanya ada satu kuali.
Lin Xuan memecah keheningan. "Sepertinya kita datang untuk tujuan yang sama."
Ia mengangkat tangan kanannya. Cahaya perak berdenyut di telapak tangannya.
Mo Xie menggenggam Sabit Tulang Hitam. Racun hitam perlahan menyebar dari tubuhnya.
"Kalau begitu, kita sudah tidak punya alasan untuk berbicara."
Lin Xuan melangkah maju. "Benar."
Keduanya saling menatap.
Di antara mereka hanya tersisa kehampaan dan puing-puing bintang yang melayang perlahan.
"Aku ingin tahu," ujar Lin Xuan, "siapa yang akan keluar dari tempat ini dengan membawa Kuali Pembelah Surga."
Mo Xie melompat turun dari Naga Tulang Kegelapan dan mendarat seratus meter di hadapan Lin Xuan.
"Kali ini..." Mata merahnya dipenuhi niat membunuh. "Aku tidak akan berhenti sampai tulangmu hancur."
Boom!
Aura keduanya meledak bersamaan.
Badai bintang di sekitar mereka terhempas. Puing-puing benua dan batu bergetar hebat, sementara kehampaan di antara keduanya mulai retak.
Reruntuhan Bintang Mati seakan merasakan kedatangan dua keberadaan yang tidak seharusnya bertemu.
Pertarungan antara Daging dan Tulang kembali dimulai.