Xiao Luo membeli sebuah rumah tua bergaya kuno yang sudah terbengkalai. Ia terpaksa membeli rumah itu karena harganya yang murah.
Selain rumah bobrok yang tak terawat, rumah itu memiliki halaman yang luas. Entah kenapa tidak ada yang mau membeli rumah itu. Mungkin karena rumor yang beredar diluar tentang rumah itu berhantu.
Entah itu keberuntungan atau justru kesialan, Xiao Luo jatuh ke dalam sumur.
Ia pikir hidupnya sudah berakhir, namun ternyata ia muncul di dunia yang berbeda.
Sumur itu seperti lorong waktu yang menghubungkan dua dunia. Xiao Luo bisa pergi ke dua dunia itu dengan mudah melewati sumur tua itu.
Apakah Xiao Luo bisa terus seperti itu atau justru terjebak di dunia lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KELUARGA
Dengan gerak-gerik waspada, Nyonya Shen bergegas meminta Xiao Luo masuk ke dalam rumah. Sesekali matanya melirik ke luar pintu, cemas jika ada tetangga yang memergoki keberadaan tamu tak diundang tersebut di larut malam.
Begitu pintu terkunci rapat, Xiao Luo meletakkan dan membuka bungkusan besar yang dibawanya. Satu per satu barang dikeluarkan dari sana: selimut tebal bernuansa hangat, obat-obatan medis modern, vitamin untuk Yujin, hingga beberapa kotak makanan yang masih mengepulkan uap hangat dan aroma gurih.
Seketika, aroma harum makanan menyeruak, menguasai ruang tengah yang semula dingin dan mencekam. Mata Nyonya Shen membelalak tak percaya.
Shen Yujin, yang tadinya terisak pelan di dekapan Tingting, mendadak berhenti menangis. Hidung mungilnya mengendus udara, lalu matanya yang bulat dan polos menatap bungkusan ajaib di tangan Xiao Luo tanpa kedip.
"Kak... benda-benda apa ini?" bisik Shen Tingting pelan. Ia nyaris tak berani bersuara keras, seolah takut pemandangan ajaib di depannya akan sirna begitu saja.
Pandangan Tingting tertuju pada kotak-kotak makanan hangat berisi ayam panggang kecokelatan, nasi putih pulen, dan tumis sayuran segar. Di sampingnya, terhampar selimut bulu yang begitu lembut saat tersentuh jemarinya—jauh berbeda dengan kain linen kasar yang selama ini menusuk kulit mereka setiap malam.
Nyonya Shen menyentuh kain selimut itu dengan tangan gemetar. Air matanya menetes, menyerap perlahan di atas permukaan kain yang halus. "Xiao Luo... barang-barang sebagus ini, dari mana kamu mendapatkannya? Ini pasti kain sutra berkualitas tinggi milik bangsawan kelas atas... Dan makanan ini..."
"Nyonya Shen, makanlah selagi hangat. Jangan memikirkan harganya," ujar Xiao Luo seraya tersenyum lembut.
Ia kemudian mengambil kotak obat-obatan modern, minyak kayu putih, serta vitamin cair khusus balita. Dengan telaten dan penuh kesabaran, Xiao Luo mengoleskan salep herbal ke pipi Tingting yang membiru akibat tamparan keras Shen Guanshan.
"Ini salep khusus dari tempat saya. Besok pagi, rasa sakit dan bengkaknya pasti sudah hilang."
Sensasi dingin dan sejuk dari salep itu membuat Tingting terkesiap. Hanya dalam hitungan detik, rasa panas membakar di pipinya mereda secara drastis.
Ia mendongak, menatap Xiao Luo dengan pendar kekaguman dan rasa hormat yang mendalam. Bagi keluarga Shen yang telah dibuang dan dihina oleh seluruh dunia, Xiao Luo bukan sekadar penolong—ia adalah dewi penyelamat yang dikirimkan oleh langit.
"Bibi Ma... mari duduk di sini," panggil Nyonya Shen pada pelayan Ma yang sedari tadi berdiri mematung di sudut ruangan.
Wanita paruh baya itu tampak terkejut melihat kedatangan Xiao Luo, terlebih lagi saat menyaksikan Nyonya Shen dan Nona Muda bertindak begitu akrab dengannya.
"Nyonya Muda—" cicit Pelayan Ma ragu. Ini memang kali pertama ia bertemu Xiao Luo. Saat Xiao Luo datang kemarin, ia sedang keluar dan baru pulang setelah gadis itu pergi.
"Kemarilah, Bi. Ada yang ingin saya sampaikan," potong Nyonya Shen memotong keraguan pelayannya.
Pelayan Ma melangkah mendekat dengan patuh.
"Ini Xiao Luo. Wajahnya memang sangat mirip dengan Nian-nian, tetapi dia bukan Nian-nian. Beras dan gandum yang kita masak tadi pagi... dialah yang memberikannya."
Mata Pelayan Ma membulat. "Apa Anda saudara dari Nyonya Muda? Tapi... kenapa selama perjalanan pengasingan kita tidak pernah bertemu?"
"Ceritanya agak panjang, Bi. Nanti aku jelaskan," potong Nyonya Shen lembut. "Sekarang tolong ambilkan peralatan makan di dapur. Kita makan dulu sebelum makanannya dingin."
"Baik, Nyonya..." Pelayan Ma bergegas ke dapur, meski benaknya masih dipenuhi tanda tanya besar mengenai identitas asing Xiao Luo. Siapa sebenarnya gadis ini?
Memperhatikan interaksi tersebut, Xiao Luo bertanya pelan, "Siapa dia?"
"Pelayan Ma. Dia sudah lama mengabdi pada keluarga kami," jawab Nyonya Shen penuh rasa haru. "Sebenarnya saya sudah memintanya untuk mencari majikan baru setelah keluarga kami jatuh, tetapi dia berkeras hati menolak dan ingin menemani kami ke pulau pengasingan ini."
Xiao Luo mengangguk paham dan tidak bertanya lebih jauh. Tak lama kemudian, Pelayan Ma kembali membawa peralatan makan. Xiao Luo segera meminta mereka untuk menikmati hidangan tersebut.
"Kamu tidak makan sekalian, Xiao Luo?" tanya Nyonya Shen.
"Sebelum ke sini aku sudah makan, Nyonya. Kalian makanlah dulu. Biarkan Yujin aku yang menyuapinya."
"Apakah kamu bisa?" tanya Nyonya Shen ragu.
"Aku coba dulu," jawab Xiao Luo hangat.
Xiao Luo mengambil Yujin dari pangkuan Nyonya Shen. Bayi kecil itu menyambutnya dengan senyuman dan gerakan tubuh yang gembira.
Xiao Luo lalu meraih mangkuk bubur yang disiapkannya khusus untuk Yujin dan mulai menyuapinya perlahan. Begitu meresapi kelezatan makanan bergizi dan manisnya vitamin cair, mata balita itu berbinar gembira, melahap setiap sendok dengan lalap.
Melihat cucunya makan begitu lahap setelah sekian lama menahan lapar, air mata Nyonya Shen kembali menetes.
"Kebaikanmu pada keluarga Shen... tidak akan pernah sanggup kami balaskan di kehidupan ini, Xiao Luo," ucap Nyonya Shen tulus dengan suara bergetar.
"Jangan berkata seperti itu, Nyonya. Anggap saja aku keluarga kalian sendiri," tutur Xiao Luo tulus. "Orang tuaku sudah lama meninggal dan aku anak tunggal. Jadi, aku sudah menganggap kalian seperti keluargaku sendiri."
Nyonya Shen, Shen Tingting, dan Pelayan Ma tersentuh mendengar ucapan hangat itu. Ruang yang dingin itu mendadak hangat oleh rasa kekeluargaan.
Setelah selesainya jam makan malam yang emosional itu, raut wajah Xiao Luo berubah serius.
"Sebelumnya saya ingin bertanya, siapa saja yang mengetahui kematian Nian-nian?"
Nyonya Shen berpikir sejenak sebelum menjawab, "Tidak banyak. Sebenarnya para tahanan ditempatkan secara terpisah karena pulau pengasingan ini sangat luas. Menurut petugas, ditambah dengan rombongan Kami,secara keseluruhan umlah orang yang dibuang ke sini tidak lebih dari dua ratus orang. Itulah sebabnya kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari tujuh keluarga, jadi ada enam rumah lain yang berdekatan dengan rumah kami, termasuk keluarga Nian-nian. Ketujuh keluarga itu sudah tahu tentang kematian Nian-nian. Memangnya ada apa?"
"Seperti yang kalian tahu, wajahku sangat mirip dengan Nian-nian. Ke depannya, aku akan sering datang ke sini. Jadi, aku ingin memiliki identitas yang jelas agar tidak memicu kecurigaan orang lain," jelas Xiao Luo.
Ia lalu menatap mereka bertiga satu per satu sebelum melanjutkan dengan berbisik, "Selain itu... fakta bahwa aku muncul dari sumur tua di belakang rumah ini juga harus dirahasiakan rapat-rapat."
"Apa?! Anda muncul dari sumur tua?!" seru Pelayan Ma kaget setengah mati, hingga menutup mulutnya rapat-rapat karena terperanjat.
semangat berkarya thor sampai tamat ok
lanjut sampai tamat ya thor
semangat berkarya thor