Nadia seorang gadis yang diterima kerja sebagai admin di sebuah pabrik sawit di kabupaten Dharmasraya sumatera Barat terlibat cinta terlarang dengan asisten manager di pabrik sawit tersebut yang bernama Arif, mereka sama-sama tidak bisa memendam perasaan karena sering bertemu di tempat pekerjaan, padahal mereka sama-sama punya tunangan di kampung nya masing-masing siapa kah nanti yang akan di pilih Nadia apakah Arif Assisten Manager atau Tunangannya yang bernama Rizki seorang guru sejarah di kampung halamannya di padang panjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska Delvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Foto Kedua Masuk Group WA
Jam enam pagi, grup WA INFO PKS rame lagi.
Bukan rame soal laporan, tapi rame soal foto.
Foto baru, dikirim satpam jaga malam jam 05.30 pagi.
Foto itu gelap, agak blur, tapi kelihatan jelas: Arif jalan di depan bawa senter HP, Nadia jalan di belakang, pegang ujung baju Arif, di jalan setapak yang sepi, yang menuju mess. Jam di foto tertulis 20.03 malam.
Caption dari satpam: "Ijin info, semalam lihat Pak Arif dan Bu Nadia pulang lembur jam 8 malam lewat jalan setapak belakang, gelap-gelapan, pegangan baju. Mohon maaf kalau salah lihat."
Dalam 10 menit, foto itu sudah 45 komen.
"Wah lembur sampai jam 8 malam lagi ya?"
"Itu kan jalan belakang, sepi, gelap, ngapain lewat situ?"
"Pegangan baju segala, mesra banget"
Nadia baru bangun jam lima, buka HP, lihat grup WA, kaget. Foto dia pegang baju Arif semalam ada di grup.
Tangannya gemetar, tapi kali ini ia tidak menangis. Ia ingat kata-katanya semalam di ruang timbangan yang lampu mati: "Kalau difoto lagi, biarin aja."
Ia pakai kerudung kerja, ikat rambut kuda nya kencang, pakai topi lapangan, jalan ke lapangan seperti biasa, jam enam kurang sepuluh.
Di lapangan, Arif sudah ada, lagi cek truk pertama. Ia juga sudah lihat foto itu di grup WA.
Lihat Nadia datang, Arif langsung senyum, tidak panik.
"Pagi," kata Arif.
"Pagi. Udah lihat foto?" tanya Nadia pelan.
"Udah. Satpam yang foto ya, semalam," jawab Arif.
"Gimana?" tanya Nadia, masih agak takut, tapi berani tanya.
Arif ketawa kecil.
"Gak gimana-gimana. Kan memang kita lembur, pulang jam 8 malam, lewat jalan setapak karena jalan depan becek. Pegang baju karena gelap, licin. Itu aja. Kalau orang mau gosip, biarin. Kita jelasin lagi aja kayak kemarin di meeting," jawab Arif, santai.
Nadia mengangguk, lega melihat respon yang santai.
"Iya. Aku juga udah gak takut lagi kayak kemarin," kata Nadia.
Jam tujuh, Pak Hendra panggil mereka berdua ke ruangannya lagi, untuk kedua kalinya dalam seminggu gara-gara foto.
"Nadia, Arif, saya lihat foto di grup WA tadi pagi. Kalian lembur sampai jam 8 malam lewat jalan belakang ya?" tanya Pak Hendra, tidak marah, hanya tanya.
"Siap Pak, benar. Kami lembur laporan bulanan sampai jam 8 malam, sesuai perintah Bapak kemarin. Pulang lewat jalan belakang karena jalan depan becek habis hujan, gelap, jadi Nadia pegang baju saya biar gak jatuh. Itu aja Pak," jawab Arif tegas, seperti kemarin di rapat.
Pak Hendra mengangguk.
"Hmm..ok..Saya tahu, saya yang suruh lembur. Laporan kalian sudah saya kirim ke pusat jam tujuh pagi tadi, bagus, rapi. Tidak ada selisih lagi. Terima kasih ya. Soal foto, saya sudah hapus dari grup WA INFO PKS, dan saya sudah tegur satpam, jangan foto-foto karyawan tanpa ijin, apalagi malam-malam. Kalian kerja saja seperti biasa, jangan pikirkan gosip," kata Pak Hendra.
"Siap Pak, terima kasih Pak," jawab Nadia dan Arif barengan.
Keluar dari ruangan Pak Hendra, mereka merasa lega.
Di ruang timbangan lapangan, suasana beda dari minggu lalu pas foto gudang arsip viral.
Mbak Sari dari gudang umum datang bawa teh kotak.
"Nadia, Pak Arif, ini teh kotak buat kalian, tadi pagi saya beli di koperasi, buat yang lembur semalam, hehe," kata Mbak Sari, ramah, tidak seperti dulu yang jutek.
Nadia terima.
"Terima kasih Mbak Sari," kata Nadia.
Bu Lastri juga datang siang, bawa gorengan.
"Nadia Pak Arif, ini gorengan buat kalian, makan siang biar kuat, kan habis lembur," kata Bu Lastri, senyum.
Semua sudah berubah, karena kemarin Arif berani bela Nadia di dalam meeting. dan karena Nadia sudah berani tidak tunduk lagi.
Jam lima sore, kerjaan selesai, mereka pulang bareng lagi, tapi kali ini lewat jalan depan yang terang, tidak lewat jalan belakang yang gelap, biar tidak difoto lagi.
Di pertigaan mess, mereka berhenti.
"Besok kita lewat jalan depan terus ya, biar gak difoto lagi sama satpam," kata Arif.
Nadia ketawa.
"Iya. Tapi kalau difoto lagi di jalan depan, gimana?" tanya Nadia.
"Ya biarin lagi. Kita jelasin lagi. Lama-lama orang capek gosipin kita," jawab Arif, ketawa juga.
Nadia mengangguk, merasa senang.
"Sampai besok ya, Arif," kata Nadia.
"Sampai besok, Nadia. Jangan lupa topi, rambut kamu tadi miring lagi pas kerja," kata Arif.
Nadia betulkan ikat kuda nya.
"Iya!"
Malam jam tujuh, di mess putri, Nadia buka buku catatannya, tulis: "Foto kedua masuk grup WA. Foto pegang baju jam 8 malam. Tapi kali ini aku gak nangis. Aku gak takut. Ada Arif yang bela aku. Mbak Sari kasih teh kotak, Bu Lastri kasih gorengan. Orang-orang sudah gak benci aku lagi."
Di mess putra, Arif tulis di notes HP: "Foto kedua masuk grup WA. Foto jalan setapak gelap pegang baju. Tapi kali ini kami berdua gak takut. Pak Hendra bela kami. Laporan kami bagus, gak selisih. Besok kami lewat jalan depan yang terang."
Dua foto yang sama-sama jam 8 malam, foto pertama bikin satu pabrik benci, foto kedua bikin satu pabrik akhirnya ngerti, karena dua orang yang difoto sudah berani bilang yang sebenarnya, sudah tidak takut lagi.
Foto pertama, mereka masih jaga jarak karena perintah.
Foto kedua, mereka sudah kerja bareng tiap hari, di ruangan kecil yang dulu bocor, sekarang sudah dibenerin.
Dan minggu depan, Pak Hendra akan umumkan ada tamu dari pusat yang mau audit pabrik, dan tamu itu adalah mantan tunangan Nadia yang dulu batalin tunangan.
Badai yang lebih besar akan datang.
Bersambung
---