Gu Chen hanyalah pemuda biasa yang keluarganya dihancurkan oleh kekuatan misterius. Namun, sebelum kematian menjemputnya, ia menemukan sebuah rahasia mengerikan: dunia tempatnya tinggal hanyalah papan permainan bagi makhluk-makhluk di luar pemahamannya.
Perang, kehancuran sekte, bahkan nasib para jenius ternyata telah diatur oleh tangan tersembunyi. Manusia hanyalah bidak, sementara para kultivator terkuat pun tidak lebih dari pion yang bisa dikorbankan kapan saja.
Gu Chen tidak memiliki bakat luar biasa ataupun kekuatan yang mampu mengguncang langit. Ia hanya memiliki kecerdasan, kesabaran, dan keberanian untuk menentang aturan permainan.
Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin mengerikan kebenaran yang ditemukannya.
Jika dunia ini adalah papan permainan, maka Gu Chen akan menemukan para pemainnya—dan membunuh mereka satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 — Gadis yang Membunuh Namanya Sendiri
Dunia runtuh tanpa suara.
Dinding, lantai, dan langit-langit ruangan berubah menjadi serpihan putih yang melayang di kehampaan. Gu Chen menarik anak perempuan itu mendekat, tetapi ketika tangannya menyentuh bahunya, ia merasakan sesuatu yang aneh. Tubuh gadis itu terasa nyata, namun bayangannya tidak lagi mengikuti gerakannya.
Di hadapan mereka, pria bertopeng berdiri tanpa bergerak. Retakan mulai menjalar pada topengnya, memperlihatkan kegelapan di balik permukaan yang seharusnya menyembunyikan wajah.
“Siapa yang mengizinkanmu mengingatnya?” tanyanya.
Anak perempuan itu tidak menjawab. Ia hanya menatap pria tersebut dengan mata hitam sepenuhnya.
Gu Chen berdiri di antara mereka.
“Sepertinya kau sudah mengajukan pertanyaan yang salah.”
Pria bertopeng mengalihkan pandangan kepadanya.
“Dan apa pertanyaan yang benar?”
“Kenapa kau begitu takut kepada seorang gadis yang bahkan tidak memiliki nama?”
Kehampaan di sekitar mereka bergetar.
Pria itu mengangkat tangan, tetapi sebelum ia sempat melakukan apa pun, anak perempuan tersebut berbicara.
“Karena aku bukan orang yang seharusnya dia takutkan.”
Suaranya kecil, tetapi terdengar jelas di seluruh kehampaan.
“Aku adalah orang yang membuatnya takut kepada dirinya sendiri.”
Gu Chen menoleh kepadanya. “Kau bisa menjelaskan tanpa membuat semuanya terdengar semakin rumit?”
Gadis itu menatapnya. Untuk sesaat, ekspresinya kembali seperti anak kecil yang pernah menyerahkan lonceng hitam kepadanya.
“Dahulu, aku memberimu nama.”
Ia menyentuh dada Gu Chen dengan satu jari.
“Bukan nama yang kau gunakan sekarang. Bukan pula nama yang pernah ditulis oleh para pemain. Aku memberimu nama yang bisa kau pilih sendiri, bahkan ketika seluruh dunia mencoba menentukan siapa dirimu.”
Gu Chen merasakan lonceng hitam di tangannya bergetar.
“Lalu kenapa kau mengatakan bahwa namamu adalah orang yang membunuhku?”
“Karena nama itu bukan milikku.”
Gadis tersebut menunduk.
“Ketika aku memberikan namaku kepadamu, aku kehilangan hak untuk memilikinya. Para pemain kemudian menggunakan nama itu untuk menciptakan sesuatu yang bisa mereka kendalikan. Mereka menyebutnya identitas pertama.”
Gu Chen terdiam.
Di kejauhan, pecahan-pecahan dunia berhenti bergerak. Setiap serpihan memperlihatkan potongan kejadian berbeda: kota yang terbakar, sembilan papan raksasa, ruangan putih, dan sosok berambut putih yang berlutut di hadapan para pemain.
Namun, kali ini Gu Chen melihat sesuatu yang belum pernah muncul sebelumnya.
Di tengah ruangan putih, seorang anak laki-laki berdiri di hadapan meja batu. Di atas meja terletak sebuah botol kaca kosong.
Seorang pria bertopeng menyerahkan botol itu kepadanya.
“Masukkan namamu ke dalamnya,” perintah pria tersebut.
Anak laki-laki itu menggeleng.
“Aku tidak ingin memberikan namaku.”
“Kalau begitu, kau tidak akan pernah diizinkan untuk hidup.”
Anak laki-laki itu terdiam lama. Kemudian ia mengambil sebuah pisau kecil dan menggoreskan sesuatu pada permukaan meja.
Bukan namanya.
Melainkan sembilan garis dan sebuah lingkaran kosong.
Setelah itu, ia berkata, “Kalau aku tidak bisa memiliki nama sendiri, aku akan menjadi orang yang menentukan siapa yang berhak memilikinya.”
Gambar itu menghilang.
Gu Chen mengusap wajahnya.
“Jadi, aku menciptakan identitas pertamaku sendiri?”
“Tidak,” jawab gadis itu. “Kau menciptakan alasan bagi mereka untuk takut kepadamu.”
“Perbedaannya?”
“Mereka bisa mengendalikan identitas. Namun, mereka tidak bisa mengendalikan alasan seseorang memilih untuk hidup.”
Pria bertopeng akhirnya bergerak.
“Cukup.”
Satu kata itu membuat seluruh serpihan di kehampaan berhenti.
“Gadis itu tidak memahami apa yang dikatakannya. Ingatannya telah rusak. Jika kau terus mendengarkannya, kau akan mengulangi kesalahan yang sama.”
Gu Chen memandang pria itu.
“Kau terus mengatakan bahwa aku akan mengulangi kesalahan. Kesalahan yang mana?”
Pria bertopeng terdiam.
Gu Chen tersenyum tipis.
“Benar. Kau tidak ingin memberitahuku. Karena begitu aku mengetahui kesalahannya, aku mungkin bisa memahami alasan seseorang melakukannya.”
Ia menoleh kepada gadis itu.
“Kalau kau memang mengetahui siapa diriku, katakan satu hal yang tidak diketahui orang lain.”
Gadis itu memandangnya lama.
Kemudian, ia mengangkat tangan dan menyentuh bagian bawah tulang rusuk kiri Gu Chen, tepat di tempat bekas luka yang pernah disebut Bai.
“Kau tidak pernah takut mati,” bisiknya. “Kau takut seseorang akan mengingatmu sebagai monster, padahal kau sudah lupa alasanmu menjadi monster.”
Gu Chen tidak bergerak.
Kalimat itu menembus pertahanannya lebih dalam daripada ancaman mana pun.
Gadis itu melanjutkan, “Pada hari Kota Wuming hancur, kau memiliki kesempatan untuk menyelamatkan semua orang. Namun, jika kau melakukannya, aku akan lenyap sepenuhnya. Tidak ada ingatan, tidak ada nama, bahkan tidak ada kemungkinan bagiku untuk dilahirkan.”
“Lalu aku memilih menyelamatkanmu?”
Gadis itu mengangguk.
“Ya.”
“Dan membiarkan kota itu hancur?”
Air matanya jatuh.
“Ya.”
Gu Chen memejamkan mata sejenak.
Ia sudah melihat catatan sejarah tentang penghancuran Kota Wuming. Ia sudah mendengar pengakuan identitas pertamanya. Namun, baru sekarang ia memahami bahwa pilihan tersebut bukan sekadar tindakan seorang pria yang kehilangan kendali.
Ia adalah keputusan yang dibuat dengan mengetahui akibatnya.
Keputusan yang mungkin akan dibuatnya lagi jika keadaan yang sama terulang.
“Siapa namamu?” tanya Gu Chen sekali lagi.
Gadis itu membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Pria bertopeng mengangkat tangannya.
“Jangan biarkan dia mengucapkannya!”
Sebuah rantai hitam muncul dari kehampaan, melilit tubuh gadis itu dan menariknya ke belakang. Gu Chen segera menghunus senjatanya, tetapi rantai tersebut tidak terhubung dengan apa pun yang bisa diputus oleh Pemutus Benang.
Tulisan merah muncul di hadapannya.
\[OBJEK TERDETEKSI: IDENTITAS YANG TIDAK PERNAH DILAHIRKAN.\]
\[PEMUTUS BENANG: TIDAK BERLAKU.\]
Gu Chen mengatupkan rahang.
“Selalu saja ada aturan yang tidak bisa kugunakan.”
Ia menyimpan senjatanya, kemudian meraih lonceng hitam.
Bai berteriak dari kejauhan, “Gu Chen, jangan bunyikan lonceng itu! Ia sudah membunyikannya tiga kali!”
“Aku tahu!”
“Kalau begitu, kenapa kau masih memegangnya seperti hendak melakukan sesuatu yang bodoh?”
“Karena aku sedang mempertimbangkan beberapa pilihan bodoh sekaligus!”
Gu Chen mengamati rantai hitam tersebut. Ia tidak mencoba memutus hubungan antara rantai dan gadis itu. Sebaliknya, ia memusatkan perhatian pada bagian rantai yang bersentuhan dengan tubuhnya.
Rantai itu tidak mengikat tubuh gadis tersebut.
Rantai itu mengikat kemungkinan bahwa ia pernah dilahirkan.
Gu Chen mengerti sekarang. Selama kemungkinan itu tetap dikunci, gadis tersebut tidak akan pernah memiliki nama yang bisa dipanggil.
Ia mengeluarkan cincin kayu dan menempelkannya pada rantai.
Tidak terjadi apa-apa.
Kemudian ia mengeluarkan serpihan putih bertuliskan CHEN.
Rantai itu bergetar.
Pria bertopeng mundur satu langkah.
“Jangan lakukan itu!”
Gu Chen tersenyum dingin.
“Akhirnya. Kalimat yang menunjukkan bahwa aku berada di jalur yang benar.”
Ia menempelkan serpihan putih pada cincin kayu.
Sembilan garis pada cincin menyala satu demi satu. Lingkaran kosong di tengahnya berubah menjadi cahaya keperakan, lalu membentuk sebuah pintu kecil di udara.
Dari balik pintu itu terdengar suara anak perempuan.
Bukan suara gadis yang sedang terikat rantai.
Suara seorang anak yang belum pernah dilahirkan.
“Apakah aku boleh datang ke dunia?”
Gu Chen menatap pintu tersebut.
Ia tidak tahu siapa yang sedang berbicara. Ia tidak tahu apakah membuka pintu itu akan menyelamatkan gadis di hadapannya atau justru menghancurkan sesuatu yang lebih besar.
Namun, ia memahami satu hal.
Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang tidak meminta untuk diselamatkan.
Ia hanya meminta izin untuk hidup.
Gu Chen mengulurkan tangan.
“Kalau kau ingin datang, datanglah.”
Pintu kecil itu terbuka.
Cahaya putih meledak memenuhi kehampaan.
Rantai hitam terputus bukan karena kekuatan Gu Chen, melainkan karena sesuatu yang selama ini tidak pernah diberikan kepadanya akhirnya memperoleh kesempatan untuk memilih.
Gadis itu jatuh ke dalam pelukannya.
Untuk beberapa saat, ia tidak bergerak.
Lalu ia membuka mata.
Mata keperakannya telah kembali.
“Terima kasih,” bisiknya.
Gu Chen menatapnya. “Sekarang, bisakah kau memberitahuku namamu?”
Gadis itu tersenyum.
“Namaku—”
Sebuah tangan muncul dari balik kehampaan dan mencengkeram leher pria bertopeng.
Semua orang membeku.
Sosok baru berdiri di belakang pria itu. Jubahnya hitam, rambutnya panjang, dan wajahnya tertutup topeng yang sama sekali berbeda. Pada topeng tersebut tidak terdapat mata, hidung, ataupun mulut.
Hanya satu tulisan kecil.
PENCIPTA AKHIR.
Pria bertopeng putih berusaha melepaskan diri, tetapi tubuhnya mulai berubah menjadi huruf-huruf hitam yang tersedot ke dalam telapak tangan sosok baru tersebut.
Sosok itu menoleh kepada Gu Chen.
“Jangan biarkan dia menyelesaikan namanya.”
Gu Chen berdiri sambil melindungi gadis itu.
“Siapa kau?”
Sosok bertopeng tanpa wajah tidak menjawab pertanyaan tersebut.
Ia hanya berkata, “Jika dia berhasil menyebutkan namanya, seluruh dunia akan mengetahui siapa yang sebenarnya membunuh identitas pertamamu.”
Gu Chen menatap gadis dalam pelukannya.
Gadis itu juga menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya, ia melihat ketakutan yang sesungguhnya di mata gadis tersebut.
Bukan takut kepada pria bertopeng.
Bukan takut kepada para pemain.
Melainkan takut kepada Gu Chen sendiri.
“Maafkan aku,” bisiknya.
Kemudian, sebelum Gu Chen sempat menghentikannya, gadis itu menyentuh lonceng hitam di tangan Gu Chen dan mengucapkan satu kata.
Sebuah nama yang tidak pernah tercatat dalam sejarah.
Sebuah nama yang membuat seluruh papan di luar kehampaan retak secara bersamaan.
Gu Chen tidak mendengarnya dengan jelas.
Namun, ia melihat reaksi Gu Yuan.
Ayahnya jatuh berlutut, wajahnya pucat pasi.
Bai menutup kedua telinganya.
Lin Yue kehilangan keseimbangan dan berpegangan pada dinding yang mulai memudar.
Bahkan sosok bertopeng tanpa wajah mundur satu langkah.
Di hadapan mereka, sebuah pesan muncul untuk pertama kalinya.
\[NAMA ASLI BERHASIL DIUCAPKAN.\]
\[PEMILIK IDENTITAS PERTAMA: TERKONFIRMASI.\]
\[PEMILIK IDENTITAS SAAT INI: TIDAK DIKENALI.\]
Lalu muncul satu baris terakhir.
\[PERINGATAN: GU CHEN BUKAN ORANG YANG DIBUNUH TIGA RIBU TAHUN LALU.\]
Gu Chen menatap tulisan itu, kemudian menatap gadis yang masih berada dalam pelukannya.
“Kalau aku bukan orang yang dibunuh,” bisiknya, “lalu siapa yang selama ini hidup di dalam tubuhku?”
Gadis itu tidak menjawab.
Ia hanya memeluk Gu Chen erat-erat, seolah takut pemuda itu akan menghilang jika ia melepaskannya.
Dan dari balik kehampaan, terdengar suara yang sangat tua.
Suara yang tidak berasal dari seorang pemain, pencipta, ataupun manusia.
“Akhirnya, wadahnya telah kembali.”
Bersamaan dengan suara itu, lonceng hitam di tangan Gu Chen kehilangan seluruh retakannya.
Bukan karena telah pulih.
Melainkan karena permukaannya mulai berubah menjadi sesuatu yang belum pernah dilihat siapa pun.
Sebuah wajah.
Wajah Gu Chen sendiri.
Dan di balik wajah itu, sepasang mata perlahan terbuka.